Januari 22, 2016

Pulang

oleh aldilalala

image

Aku ingin kembali. Menuju sebuah pintu terkunci yang di antaranya terdapat daun-daun hijau segar, alas bertuliskan selamat datang, dan ketika rintik hujan mulai membasahi.

Aku ingin kembali. Pada sofa ruang tengah yang nyaman sambil bersadar, tertawa berbagi cerita, dan terdiam ketika bibir mulai bergelayutan.

Aku ingin kembali. Pada pelukan sehangat cerobong asap, pada bahu nyaman untuk bersandar, pada dada untuk terlelap hingga fajar datang.

Aku ingin kembali. Bukan pulang. Namun hanya sejenak tinggal. Biar kecewaku hilang, biar sedihku pudar, dan biarlah waktuku buang. Boleh saja kau sebut dengan pelarian, walau menujumu aku tak sempat berlari lebih tepatnya aku tak mampu berlari. Pedih yang ku rasa hingga ke ujung kaki, aku memaksakan kakiku melangkah menujumu .. ke tempatmu sekarang berdiri.

Sebuah pintu terkunci dan aku punya kuncinya. Sebaiknya aku gunakan atau ku dobrak saja pintumu hingga roboh. Karena aku tak yakin bahwa aku diijinkan memasukinya .. lagi.

Aku tak tau harus kemana untuk pulang, selain kepadamu.

–*
Dan, temani aku.

Tag:
Januari 19, 2016

Teori

oleh aldilalala

image

But it’s not so bad.
You’re only the best I ever had.
You don’t need me back.
I don’t want you back.
You’re just the best I ever had.

Kau dan segala teori tentang pria patah hati dan pelajaran bagaimana seharusnya menjadi wanita. Yang ternyaman belum tentu yang selalu membuat rindu. Yang sering perhatian belum tentu juga disayang.

Teori aksi reaksi tak pernah berlaku disini. Mengharap kehadiran dan cerita-ceritamu, yang ku temui hanya sesosok punggung bisu. Menjadi yang selalu memperhatikanmu, perhatianmu kau bagi dengan yang lain. Menjadi yang selalu menyayangimu, sayangmu hanya sebatas peluk dan cumbu.

Kau ingin tinggal tapi tak ingin menetap. Kau ingin cinta tapi kau buatku patah hati.

Kau tak ingin aku kembali, menjadi yang bukan seharusnya wanita dan mematahkan teori pria patah hati. Kau takut aku kembali, agar tak ada teori wanita patah hati dan pelajaran bagaimana menjadi seorang pria. Sebenarnya aku yang tak mau kau kembali.

–*
Pergilah, Han. Cintamu membunuhku.

Tag:
Januari 8, 2016

Ellie

oleh aldilalala

image

I wanna be with you.
We could be in love.
Thinking of you.
All I have to give.
A man who can’t be moved.

–*
Lagu untuk mengenang Ellie dan Tuan Fredikson.

Tag:
Januari 4, 2016

Kita Kesana

oleh aldilalala

image

Tahun ini tidak akan pernah jauh berbeda dari kemarin. Masih ada hati yang selalu merindui bayangmu. Masih ada yang menanti ceritamu. Masih ada dekap yang menghangatkanmu.

Kita mungkin bisa berbeda dari kita yang dulu. Tapi cerita tentang kita akan selalu baru dan berbumbu. Hanya ada satu kesempatan untuk pelarian. Menuju ke suatu tempat dimana hanya ada aku dan kamu.

Biarlah sejenak menjadi mimpi. Jika diingat hanya membuat pedih. Rasakan jaraknya. Jauh dekat tak pernah terasa jika di hatimu aku. Kadang yang merindu tak selalu dirindu. Kadang yang didekap tak selalu mendekap. Lepaslah dari belenggumu. Ada aku yang buatmu sanggup menunggu.

Selamat tahun baru. Selamat menjadi aku yang baru, kamu yang baru. Bersama kita berbahagia. Bersama dia.

Maka .. mendekatlah. Simpan keluhmu, tawamu, kecupmu. Kita pasti akan bertemu di suatu waktu. Dimana angin tak henti berhembus. Dimana bau garam menempeli aromamu. Dimana matahari tenggelam meninggalkan seberkas kedipan ucap selamat tidur.

Kita kesana.

–*
Lain kali, Dan. Deburnya memanggil kita melepas penat disana.

Tag:
Desember 31, 2015

2016

oleh aldilalala

Selamat tinggal 2015
Selamat datang 2016

image

☆ Kesehatan
Semoga sinusnya ga kambuh ya.
☆ Asmara
Semoga tambah mesra. Tambah lama .. hubungannya langgeng begitu.
☆ Karir
Semoga bisa nyupir trailer. Forklift sudah lumayan oke.
☆ Cita-cita
Semoga bisa jadi ibu yang sempurna buat Za dan istri yang tak ada duanya.

The last but not least. Semoga tambah rajin nulis baik ngeblog ato ngelanjutin novel yang tertunda.

Desember 28, 2015

The One

oleh aldilalala

If you’re not the one then why does my soul feel glad today?

image

Ayo naik itu!
Kau menunjuk lingkaran berhias warna-warni, berputar tiga ratus enam puluh derajat berlawanan arah jarum jam.
Berapa umurmu?, tanyaku.
Dua puluh enam tahun, jawabmu sambil nyengir. Tidak terlalu tua, bukan? Bapak tiga puluh tiga tahun yang sudah punya dua anak?
Gantian aku yang nyengir.
Ayolah, mainan ini seru. Ajakmu.
Rok bunga-bungamu terkipas-kipas angin ketika kau berjalan, sambil memeluk boneka hijau beruang hasil tembakanku tepat mengenai sasaran bidik di meja tukang judi keliling.
Jadikan naik ini?
Kau merajuk. Aku tau itu. Poni dan bando mutiara berkilau ditempa matahari. Rambut sebahu berkibar diterbangkan angin, yang selalu aku belai ketika kau berada dibahuku.

Aku mengangguk diiringi senyum riangmu. Kau raih tanganku untuk masuk ke sangkar jeruji gantung.
Mainan ini mulai berputar. Matamu yang indah melirik kesana-kemari melihat pemandangan di bawah.
Indah bukan?
Ya. Apalagi denganmu.
Kau tersenyum lagi. Senyum manis yang membuatku jatuh dan terjatuh lagi dalam hangatnya hatimu.
Kurasa tempat ini mirip bilik penjara. Tak ada ruang bagi kaki panjangku. Lutut kita berhadapan saling bersentuhan.

Apakah kau senang hari ini?
Bukan hanya senang, sangaaaat senang.
Aku selalu suka caramu mengungkapkan kata yang berlebihan seperti itu. Kata orang, itu termasuk alay. Lucu sih lebih tepatnya. Karena kau selalu menggambarkan semuanya secara berlebihan. Tentang masalahmu dengannya atau juga tentang cintaku padamu. Kurasa kau terlalu berlebihan tentang perasaanku padamu sebab tak ada sesuatu yang bisa menggambarkan besarnya rasaku padamu saat ini. Sedalam samudera ataukah seluas jagad raya? Lebih dari itu, Han.
Aku menggeser tempat dudukku ke sebelahmu. Sangkar ini bergerak, miring.
Hati-hati, Dan. Sangkarnya berat sebelah. Nanti kita jatuh. Jeritmu ketakutan.

Hati kita ada di dalam sangkar di atas roda yang berayun-ayun. Kau di sisi kanan dan aku di sisi kiri. Jika aku berpindah ke kanan, kedua hati kita akan jatuh. Begitu pula jika kau berpindah ke kiri, sama-sama akan jatuh kemudian retak dan hancur berkeping-keping. Lalu bagaimana caranya agar sangkar ini tetap seimbang? Hanya ada satu dan satunya cara, kau tetap disana dengannya dan aku tetap disini dengan dirinya. Kita akan tetap bisa .. setidaknya, walaupun tak bisa bersama selamanya.

Aku duduk bersimpuh, meraih keningmu, mengecupnya. Sangkar ini berhenti berputar tepat ketika kami berada di puncaknya.
Aku sayang kamu, Han.
Aku juga sayang kamu, Dan.
Selalu.
Ya. Selalu.
Selamanya.
Pasti. Selamanya.

Boneka beruang hijau menutupi sinar-sinar mentari yang mulai meredup dimakan bumi. Menutupi janggut dan bibir kami yang saling berpagutan. Sinarnya hangat, begitu pula hatimu.

‘Cause I love you, whether it’s wrong or right and though I can’t be with you tonight, you know my heart is by your side.

–*
Teruntukmu Daniku, terima kasih untuk segalanya.

Tag:
%d blogger menyukai ini: