Musik

Acara rutin sabtu siang adalah makan di warung. Bukan karena masakannya enak, toh aku cuma makan mi instan. Lebih kepada aku butuh keramaian dan butuh teman ngobrol. Terlebih ketika tak ada seorangpun yang connect denganku ketika di cafe. Karena aku terbiasa makan cepat dan makan tanpa diselingi bicara, orang pikir aku sombong tapi aku benar-benar kelaparan dan ingin segera menghabiskan makan siangku. 
Ketika di warung ada sebuah mini player seperti radio dan terhubung dengan sound speaker di kedua ujung warung. Biasanya mereka memutar musik orkes dan dangdut koplo. 

Warung dalam keadaan sepi dan aku coba colokkan kabelnya ke hapeku yang isinya lagu korea tanpa terjemahan. Yang terjadi adalah: aku merasa seperti alien ketika segelintir orang memandang ke arahku seakan bilang: lagu apa ini?

Aku memang tak tahu artinya, kau mungkin tak berselera mendengarkannya, tapi bukankah musik adalah bahasa universal yang tanpa kau tahu artinya sekalipun ia membawa suasana dan perasaan. 

Lalu mengapa kau memilah milah jenis musik apa dan penyanyinya siapa untuk didengarkan? 

Aku dengan sengaja mengisi hapeku dengan ribuan lagu dengan bahasa yang aku sendiri tak pernah tau artinya. Aku hanya butuh beat tanpa mengikutkan hatiku pada setiap baitnya. 

Karena.. Aku benci lagu cinta. 

Lengkapnya Sepi

Kini terasa menyakitkan. Kamu hadir untuk kuingat seperti datang hanya untuk pamit. 

.. Kemudian mendarat di entah pangkuan siapa. 

Zarry Hendrik. 

Mata

Sepasang mata yang ku buat basah, maaf. Kau terlalu berharga bagiku, makanya aku tak pernah bisa memilikimu. 

Sepasang mata yang ku buat berasap karena api, maaf. Kau terlalu panas bagiku, aku tak mampu memadamkanmu. 

Sepasang mata yang ku buat mati, sejak aku memilih pergi. Kau terlalu.. Sangat terlalu. 

Maaf. 

Monokrom

Quote

Eyes, Nose, Lips

Akan ku panggil kau sebagai kenangan. 

If You

Aku menatapnya semakin jauh.

Dia menjadi sebuah titik kecil dan kemudian menghilang. 

Apakah ini akan hilang setelah berjalannya waktu? 

Bagaimana denganmu? 

Apakah sebenarnya kau baik-baik saja?