Pada Suatu Hari Nanti

Pada suatu hari nanti. Jasadku tak akan ada lagi. Tapi dalam bait-bait sajak ini. Kau takkan kurelakan sendiri.

Pada suatu hari nanti. Suaraku tak terdengar lagi. Tapi di antara larik-larik sajak ini. Kau akan tetap kusiasati.

Pada suatu hari nanti. Impianku pun tak dikenal lagi. Namun di sela-sela huruf sajak ini. Kau takkan letih-letihnya kucari.

–*

Halaman 111

Hujan Bulan Juni

Sapardi Djoko Damono

Aku Ingin

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana: dengan kata yang tak sempat diucapkan kayu kepada api yang menjadikannya abu.

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana: dengan isyarat yang tak sempat disampaikan awan kepada hujan yang menjadikannya tiada.

–*

Halaman 105

Hujan Bulan Juni

Sapardi Djoko Damono

Hujan Bulan Juni

Tak ada yang lebih tabah dari hujan bulan juni. Dirahasiakannya rintik rindunya kepada pohon berbunga itu.

Tak ada yang lebih bijak dari hujan bulan juni. Dihapusnya jejak-jejak kakinya yang ragu-ragu di jalan itu.

Tak ada yang lebih arif dari hujan bulan juni. Dibiarkannya yang tak terucapkan diserap akar pohon bunga itu.

–*

Halaman 104

Hujan Bulan Juni

Sapardi Djoko Damono

Yang Fana Adalah Waktu

Yang fana adalah waktu. Kita abadi: memungut detik demi detik, merangkainya seperti bunga sampai pada suatu hari kita lupa untuk apa.

“Tapi, yang fana adalah waktu, bukan?” tanyamu. Kita abadi.

–*

Halaman 86

Hujan Bulan Juni

Sapardi Djoko Damono

Sonet: Y

Walau kita sering bertemu. Di antara orang-orang melawat ke kubur itu. Di sela-sela suara biru. Bencah-bencah kelabu dan ungu.

Walau kau sering kukenang. Di antara kata-kata yang tlah lama hilang. Terkunci dalam bayang-bayang. Dalam remang.

Walau aku sering kausapa. Di setiap simpang cuaca. Hijau menjelma merah menyala. Di pusing jantra.

: ku tak tahu kenapa merindu tergagap gugup di ruang tunggu.

–*

Halaman 34

Hujan Bulan Juni

Sapardi Djoko Damono

Cafe Muller

Katamu: “Ingatlah aku! Ingatlah aku! Tapi, ah! Lupakan takdirku!”

Tak pernah ada cara yang baik untuk mengingat saat yang meresap ke bawah pori dan tersesat dalam pembuluh.

Takdir, kekasih, adalah gunting yang memutus yang ada dan pernah ada. Dan dalam gelap itu kita akan lupa.

Jika saja aku tahu, kata-kata tak pernah pulang, takkan kubiarkan kamu memberikan ciuman terakhir itu.

–*

Halaman 149-150

Buku Tentang Ruang

Avianti Armand

Pintu

Setelah perjalanan yang menghabiskan satu hati, ia tahu: jalan keluar terdekat adalah menghindari pintu itu dan menetap di sini.

–*

Halaman 83

Buku Tentang Ruang

Avianti Armand