30 Hari Bercerita: Identitas

Kali ini aku membiarkan kamu mencuci piring, bahan-bahan yang terbuat dari plastik kau beri sabun cuci. Kadang kala kamu membantu menata gelas dan piring. Tidak jarang pula kita memasak jelly bersama-sama.

Bersama kamu menyenangkan, di mana pun tempatnya. Bahkan di dapur, tempat yang melekat dengan identitas perempuan. Akan tetapi kamu harus tahu bahwa semua pekerjaan dapur bukan hanya tugas perempuan.

Laki-laki seperti kamu boleh membuat kue, boleh memasak, mencuci piring atau baju, menyapu dan mengepel, boleh. Aku tidak melarang. Setidaknya kamu harus bisa melakukannya sendiri, saat tak ada aku, saat jauh dariku.

Terima kasih telah menjadi anak baik yang suka membantu. Walau niatmu membantu hanya karena ingin semua pekerjaanku selesai lebih cepat dan segera dapat main bersama. Kadang kamu juga berpikir bahwa hanya dengan membantuku seperti ini kita dapat bersama-sama menghabiskan waktu yang menyenangkan.

Kuharap kebaikan yang kamu lakukan saat ini dapat menjadi kebiasaan untuk membantu siapa pun, di mana pun.

#30haribercerita #30haribaik

#30hbc21 #30hbc2108

30 Hari Bercerita: Trauma

Semua anak suka main air, tetapi beberapa tidak suka berenang. Kamu salah satunya. Yang berhenti berenang karena trauma.

Kamu terlalu kecil untuk diajak berenang di kolam yang dalam, dan ayahmu mengira kamu akan baik-baik saja. Kami tidak punya bekal ilmu untuk mengajarkan teknik berenang melalui tahap-tahap yang membuat senang.

Hingga pada akhirnya kamu tidak dapat menikmati karya wisata bersama teman-teman hanya karena kamu takut tenggelam. Kolamnya bahkan tidak sedalam itu, hanya sebatas dadamu, tetapi trauma membungkus segala bahagia.

Lamat-lamat aku upayakan bagaimana cara agar membuat kamu berani, setidaknya kamu harus mencoba walau hanya sekali. Memang tidak mudah, tetapi aku yakin bahwa kamu bisa–kita bisa.

Aku membeli baju renang yang dapat membuatmu mengapung, latihan menggunakan ban pelampung di kolam renang dekat rumah seminggu tiga kali, sampai-sampai penjaga kolamnya hafal dengan kita yang berkunjung ke sana dua jam sebelum gerbang ditutup.

Pegang tanganku, kataku. Jangan melepaskan tanganku, ucapmu. Mari kita bersenang-senang dan mengalahkan rasa takut yang ada.

Ketakutan bahkan ada di setiap diri manusia, apa pun bentuknya. Tidak perlu berkecil hati karena saat ini kamu belum dapat melakukannya. Aku di sini mencoba membantumu sebisaku semampumu. Jika tidak berhasil hari ini, maka bisa kita coba esok hari. Jangan menyerah, kita pasti bisa.

Upayaku dan usahamu membuahkan hasil. Kamu berani berenang sendiri, dengan gembira. Melawan rasa takut tak ubahnya melawan diri sendiri, sejauh mana kita dapat melangkah daripada berdiam diri. 

Untuk saat ini, aku dapat membersamaimu melawan ketakutan. Jika suatu hari nanti aku tidak ada, ingatlah bahwa kita masih berpegangan tangan. Aku selalu ada di hatimu, menggenggam erat jiwamu, memberimu semangat melawan trauma.

Aku yakin kamu bisa 😘

#30haribercerita

#30hbc21 #30hbc2107

30 Hari Bercerita: Laki-laki

Saat itu usiamu baru menginjak tiga tahun dan kamu BARU TAHU KALAU laki-laki dan perempuan berbeda. Kamu menyadarinya saat melihatku jongkok ketika buang air kecil: bunda, perempuan itu kalau pipis lewat pantat ya?

Sejak saat itu, aku tidak lagi mengajak kamu mandi bersama. Mulai menjelaskan bagian-bagian tubuh mana yang tidak boleh dipegang dan memegang orang lain. Memberi tahu batas-batas bagian tubuh mana yang tidak boleh dilihat orang lain. Dengan alasan: malu karena sudah besar.

Mungkin aku tidak akan sanggup menjelaskan perbedaan laki-laki dan perempuan berdasarkan kromosom, akan tetapi pertanyaanmu kemarin menyadarkan aku tentang sesuatu.

: bunda, mengapa aku laki-laki?

Kamu berada dalam posisi tengah memahami kehidupan. Terbentuknya kamu dan mengapa kamu. Kamu mungkin belum mengenal takdir, apa yang telah tertulis di hari pertama Tuhan menitip nyawa pada tiap manusia. Akan tetapi kamu mengenal cinta dan kasih sayang, yang coba aku dekati berlahan-lahan.

: saat itu bunda hanya ingin diberi anak yang sehat, laki-laki atau perempuan sama saja, bunda menyayangi keduanya. Lalu Tuhan memilih kamu menjadi laki-laki, yang sehat dan tidak kekurangan suatu apa pun.

Aku bahagia memiliki kamu, laki-laki kesayanganku. Menjadi laki-laki tentu tidak mudah, ketika kamu dituntut untuk selalu kuat dan dianggap cengeng ketika menangis.

Menangislah, Sayang. Keluarkan beban di dadamu lewat air mata. Tidak masalah menangis hari ini, yang penting besok kamu tidak menangis lagi karena alasan yang sama. Itu namanya anak yang kuat.

#30haribercerita #30hbc21barutau

#30hbc21 #30hbc2106

30 Hari Bercerita: Cita-cita

Cita-citamu berubah lagi. Setelah hampir beberapa tahun kamu menyukai kereta api dan ingin menjadi masinis. Kali ini layang-layang yang menjadi kesukaanmu pun menjadi kiblat cita-cita yang baru.

Aku ingin bersekolah di sekolah layangan, ucapmu suatu ketika yang diiringi gelak tawaku. Mana ada sekolah layangan, sekolah penerbangan tentu ada. Tetapi bukan menerbangkan layangan, tetapi menerbangkan pesawat. Kamu bersikeras bahwa bukan pesawat, tetapi layang-layang yang terbuat dari sepasang buluh dan kertas, berbentuk segi empat.

Keinginanmu itu bukan hanya sekali dua kali dikatakan, tetapi berkali-kali pun kepada orang lain juga. Dan tentu saja jawabannya tetap sama: tidak ada sekolah layang-layang.

Akan tetapi kamu juga bertahan di satu pernyataan yang sama: jika tidak ada, maka aku akan membuat sekolah layang-layang sendiri.

Ah. Orang tua seperti kami sepertinya memang perlu belajar lagi. Tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini, seperti cita-citamu. 

Kami, barangkali, orang pertama yang mendukung sekaligus menyangkal atas semua cita-cita. Terlebih lagi mengarahkan cita-cita yang tidak sesuai dengan pilihan. Alih-alih mendukung kamu mengembangkan sayap, aku malah mematahkannya.

Aku memeluk sekaligus mengusap-usap punggungmu, mencoba merekatkan kembali sayapmu yang patah.

Terbanglah, Sayang. Bersama layang-layangmu, setinggi yang kamu bisa. Aku di sini akan mendukung sepenuh hatiku, dengan memegang tali senar mempertahankan terbangmu ketika angin kencang sewaktu-waktu datang menerpa membuatmu goyah.

Jadi, tolong jangan menyerah ya 😘

#30haribercerita

#30hbc21 #30hbc2105

@30haribercerita

30 Hari Bercerita: Kepemilikan

Kamu belum mengenal mata uang. Masih tidak tahu harga mainan, mana yang mahal mana yang dua ribuan. Melegakan aku atas pengeluaran bulanan.

Yang kamu tahu hanya menabung di celengan. Berapa pun nominalnya, tetapi kamu menyukai recehan daripada uang kertas hanya karena lebih mudah dimasukkan.

Setiap ada kembalian lima ratusan, aku berikan padamu untuk dimasukkan celengan. Tak jarang kita mencongkelnya setiap akhir bulan untuk membeli coklat dan permen kesukaan.

Di suatu waktu, ada iklan melintas di story WhatsApp dari lapak langgananku bahwa mereka menerima pembayaran dengan uang recehan. Tanpa berpikir panjang, aku menguras celengan untuk ditukarkan dengan nugget kesukaan. Dan setibanya di rumah, kamu memakannya dengan lahap.

Tiba-tiba kamu bertanya, mengapa celenganmu terasa lebih ringan. Telah aku tukar dengan makanan kesukaanmu, jawabku.

Kamu mendekatiku perlahan-lahan dan mengatakan: aku tidak marah jika bunda ambil uangku, tapi harusnya bunda bilang dulu.

Bagai tersambar petir, aku telah menyalahi sesuatu yang amat penting bagimu yaitu tentang kepemilikan. Aku melupakan batas-batas, walaupun uang itu dariku akan tetapi celengan itu milikmu. Seperti privasi yang telah aku langgar dengan sengaja.

Kupeluk kamu sambil mengucap kata maaf. Kamu menerima dengan tersenyum. Kamu bijaksana menanggapi hal ini, tidak marah-marah pun tidak menangis. Kamu mengatakan dengan terus terang membuat aku malu tak berkesudahan.

Dewasa sepertiku juga bisa melakukan kesalahan, diingatkan olehmu adalah sebuah keajaiban. Dari mana kamu mendapatkan hati lembut yang mudah memaafkan. Aku sungguh beruntung memiliki kamu.

#30haribercerita

#30hbc21 #30hbc2104