Tenggelam

10 Besar Lomba Menulis Cerpen Mahasiswa se-Jawa Timur, Aksi Aksara Mahasiswa, Pameran Karya UKMP 2010, Unit Kegiatan Mahasiswa Penulis Universitas Negeri Malang.

Aku berdiri di tengah lapangan. Berdiri tepat di bawah tiang bendera setinggi tiga meter. Angin menderu-deru menerbangkan merah putih. Sesekali wajahku tertampar plastik-plastik yang berterbangan. Aku masih tetap berdiri disini walaupun tubuhku kaku menggigil terguyur air hujan. Hujan yang tak berhenti dari kemarin membuat genangan yang mencapai lutut. Terlihat rombongan beberapa pria dan anak-anak mereka. Dengan karung plastik di punggung, mereka berjalan menuju utara. Seorang pria berjambang melambaikan tangannya kepadaku.
“Mari ikut kami!”, teriaknya dari kejauhan.
Aku menggeleng tak mau.
Dengan guyuran hujan yang semakin deras, mereka melanjutkan perjalanan tanpaku. Aku terdiam di bawah tiang bendera sang merah putih. Memandang ke selatan.
“Aku masih menunggu Ayah”.

Terik matahari membuat keringat bercucuran dari kepala. Tengah hari yang paling panas seperti berada di neraka. Aku duduk di antara ribuan sampah yang ditimbun tak karuan di sekelilingku. Ada Ayah dan seorang kakek tua di depanku. Kami tengah memilah-milih sampah yang tergolong dalam sampah organik dan sampah anorganik. Tangan cekatan kakek tua itu mengalahkan kecepatan tangan Ayah, maklum kakek tua itu telah terbiasa dibandingkan kami. Ia telah lama tinggal disini, di tempat yang dipenuhi ribuan sampah. Tak heran, tubuhnya dipenuhi kutil dan nanah berdarah. Tubuhnya hitam legam terpapar cahaya matahari setiap hari. Ia kurus tak berdaging, seperti tulang terbalut kulit. Aku melirik Ayahku. Seorang pria tegap yang tegar. Wajah rupawannya jelas terlihat meskipun ia kotor.
Orang-orang di sekitar kami juga sibuk bekerja, sama seperti kami. Mereka mengangkut sampah-sampah di keranjang yang mereka pikul. Tak hanya laki-laki, perempuan, anak-anak, sampai yang tua sekalipun semuanya bekerja seperti ini. Mengumpulkan sampah, seperti pemulung.
Ayah memberikan segelas air kepadanya. Kakek tua itu meneguk airnya perlahan. Kemudian Ayah kembali ke kran berlumut sejauh lima meter dari tempat ia duduk, menuangkan air ke dalam gelasnya dan memberikannya kepadaku. Aku melihat gelas kotor dengan air keruh berbau. Ku pandangi bibir gelasnya, aku menduga bahwa disana terdapat berbagai macam bakteri dan virus yang dapat membuatku mati. Ku goyang-goyangkan isinya, sehingga air keruh di dalamnya berputar-putar.
Tiba-tiba kakek tua itu mengangkat wajahnya, melihatku dan Ayahku bergantian.
“Bagaimana kalian sampai berada di tempat ini?”, tanyanya.
Aku meminum air keruh itu. Baunya seperti air comberan. Air ini rasanya payau dengan beberapa kerikil yang ikut tertelan masuk ke dalam kerongkonganku. Ayah sejenak memandangku sebelum ia menjawab pertanyaan yang dilontarkan si kakek tua.

Aku melihat Ayah tengah mengendap-endap menuju halaman belakang rumah kami. Halaman yang luasnya hanya 3m2. Tidak ada tanaman apapun disana, cuma sebidang tanah. Aku mengikutinya dari belakang. Ayah mengeluarkan sebuah alat dari sebuah koper besar. Sebuah alat semacam bor dengan model seperti bazoka. Alat itu ditancapkan vertikal ke tanah, setelah menekan tombol merah tiba-tiba air hitam keluar mengalir mengisi pipa plastiknya, tertampung dalam sebuah botol. Air didalamnya dikeluarkan, ada yang mengendap di bagian bawah botolnya, sesuatu yang bercahaya.
Tidak sampai sepuluh menit berselang, tiba-tiba terdengar suara sirine mobil. Mereka masuk dengan mendobrak pintu rumah kami. Beberapa senjata mengarah kepada Ayah. Mereka menangkapnya.
“Kalian berdua kami tangkap atas dasar pengambilan air tanah secara ilegal”, ucap salah satu polisi bersenjata.
“Berdua?”, tanya Ayah sambil memincingkan sudut matanya.
Ayah melihat ke belakang. Ia melihatku dengan kedua tangan dipegang oleh dua orang polisi di belakangku. Matanya berkaca-kaca.
“Ia tidak ada hubungannya dengan semua ini”, ucapnya lirih.
“Semua pembelaan silahkan anda utarakan di pengadilan”.
Mereka memborgol tangan Ayahku. Mengantarkan kami berdua masuk ke dalam mobil polisi. Ayah menunduk. Aku melihat setitik air di sudut matanya. Namun janggal, ia menarik separuh bibirnya, membuat sebuah senyuman licik di wajah rupawannya. Malam semakin larut dan malam pun tenggelam dengan bunyi sirine yang semakin meraung-raung memekakkan telinga.

Aku berdiri di sebuah gerbang besar. Gerbang besi setinggi sepuluh meter ini adalah gerbang pemisah antara duniaku dengan dunia luar, duniaku yang sebenarnya ada di balik gerbang ini. Dunia dimana aku bisa merasakan sakitnya tertusuk duri dari tanaman kaktus kesayanganku, dunia dimana aku bisa bermain dengan anjing robotku yang mungkin kini sudah mati karena tak pernah dialiri listrik. Dunia di dalam sini amat berbeda. Aku melihat di sekelilingku berjuta-juta timbunan sampah yang tak ada habisnya. Sejauh mata memandang tak ada seseuatu yang bernama pohon, yang ada hanyalah beton-beton dengan besi penyangga yang menguning dimakan waktu. Di jalanan tikus-tikus saling berlarian berebut makanan. Tak hanya itu, disini kecoak dan lalat pun menjadi sahabat terdekat manusia.
Aku melihat beberapa kamera pengawas bertengger di pojok atas gerbang tersebut. Setidaknya ada lima kamera yang mengintai arah selatan dengan sudut pandang masing-masing berselisih 250. Aku mengamati kelima kamera pengawas itu dan aku yakin kelima-limanya sedang mengamatiku. Apa yang tengah mereka pikirkan ketika melihatku? Aku melambaikan tangan kepadanya.
Ayah menepuk pundakku pelan.
“Jangan bermain-main dengan itu”, ucapnya.
Aku menghentikan lambaian tanganku.
Ia mengajakku pulang. Ku lihat sudah ada plastik besar di tangan sebelah kanan, ia sudah mendapatkan makanan ternyata. Dua karung sampah yang ia kumpulkan selama dua hari, dibayar sekantung penuh makanan yang bertahan tidak cukup untuk dua hari.
Sesampainya di sebuah tenda reyot yang terbuat dari kardus, kami masuk ke dalamnya. Tempat kakek tua itu tinggal. Aku melihatnya terbaring tak berdaya. Ia tak bisa bangun .Akhir-akhir ini ia menghabiskan waktu dengan tidur memandangi langit-langit rumah kardusnya yang hampir roboh terkena siraman air hujan. Ku amati tubuhnya yang semakin lemah. Kurasa kutilnya bertambah banyak.
Ayah mendekatkan sepiring makanan kepadanya. Kakek tua itu memakannya sedikit demi sedikit. Ayah memberikanku makanan di atas piring kotor berdebu. Ia keluar tenda dan kembali dengan membawa secangkir air payau.
“Ayah tidak makan?”, tanyaku menawarinya. Aku mau membagi makanan ini dengannya.
“Habiskan saja makanannya. Ayah tidak lapar”.
Aku melihat sorot matanya yang menunjukkan kebohongan.

Ayah sebenarnya orang yang jujur, namun ia juga banyak merahasiakan sesuatu dariku hingga ku sebut ia sebagai pembohong. Ia pernah mengatakan bahwa Ibu meninggal ketika melahirkanku, tahun 2017 hari dimana aku bernapas untuk pertama kalinya di dunia ini. Aku tau bahwa aku tak punya sosok Ibu. Aku hanyalah makhluk kloning yang dipelihara Ayah. Aku mengetahui semua ini dari berkas-berkas yang ku baca tanpa ijin di ruang kerjanya.
Ayah pernah mengatakan bahwa pekerjaannya hanyalah seorang apoteker. Tapi aku tau, dia adalah seorang profesor yang bergerak di bidang hidrogeologi. Ia mengatakan bahwa tak ada yang bisa dibanggakan dari dirinya. Tapi aku tau, ia pernah mendapatkan nobel atas ciptaan teknologi desalinasi yang mengubah air laut menjadi air tawar. Ayah merahasiakan semua kebohongannya. Dan aku juga merahasiakan apa yang ku ketahui tentangnya. Apakah aku juga dapat disebut sebagai pembohong? Namun, aku tetap mempercayai Ayahku.

Aku terbangun di tengah malam. Kerongkonganku tercekat, kering. Di pojok kamar, ku lihat anjing robotku tidur dengan listrik menancap di tubuhnya. Aku berjalan menuju dapur, mengambil segelas air. Ketika melewati ruang kerja Ayah, ku lihat Ayah tertidur di atas meja, pintunya terbuka. Komputer jinjingnya menyala dan mengeluarkan suara-suara aneh. Aku mendekat.
“Apa kau masih ada disana?”, suara wanita yang keluar dari speaker.
“Selamat atas penghargaan nobel yang kau terima minggu lalu. Maaf aku tak dapat menghadiri penobatanmu”, suara itu diam sejenak. “Disini juga terjadi krisis air. Pembangunan yang tak sesuai tata ruang, maraknya alih fungsi lahan menjadi pusat perbelanjaan, dan .. umm .. kau tau sendiri kan, pengambilan air tanah secara ilegal”.
Suara itu hilang dan tiba-tiba televisi di sebelahnya menyala.
“Pengambilan air tanah dalam di semua wilayah harus dihentikan karena tanah kita tidak stabil. Kota San Francisco telah membuat komitmen Deklarasi Kota Hijau pada 2005 yang menyebutkan akan menghentikan penyedotan air tanah pada 2012. Namun, 2022 saat ini masih banyak orang-orang yang melakukan pengambilan air tanah. Jika semua ini tak bisa dihentikan, akan berakibat menurunnya permukaan tanah”.
Suara televisi itu berubah.
“Penggunaan air bawah tanah harus dikurangi dan jika bisa dihentikan secara total. Untuk itu diperlukan cara baru untuk mencari sumber air baku. Jika seluruh kebutuhan air minum hanya boleh dicukupi dengan air permukaan, berarti kita akan mengandalkan air sungai. Sungai di Indonesia begitu tercemar, hanya memenuhi kriteria mutu air kelas III dan IV. Padahal, bahan baku air minum seharusnya air permukaan kelas I. Air dari curah hujan yang tinggi seharusnya bisa dimanfaatkan guna menambah cadangan air baku ataupun simpanan air bawah tanah. Penurunan curah hujan merupakan dampak perpindahan awan karena perubahan arah angin serta perubahan iklim. Butuh proses dan waktu yang panjang untuk mengubah air hujan menjadi air tanah. Namun tidak tersedianya tanah resapan mengakibatkan penyimpanan air di dalam tanah tidak bisa dilakukan.
Suara televisi itu lagi-lagi berubah, lebih berat.
“Pengendalian dalam pengambilan air tanah perlu dilakukan untuk mencegah terjadinya intrusi air laut hingga amblesan tanah. Desalinasi bisa menjadi salah satu alternatif solusi guna memenuhi kebutuhan akan air bersih bagi masyarakat. Sekarang adalah saatnya untuk membuat kebijakan guna menghentikan eksploitasi air tanah. Reverse osmosis atau osmosis terbalik merupakan proses yang ditempuh secara umum untuk mengubah air laut menjadi air tawar. Caranya dengan mendesakkan air laut melewati membran-membran semipermeable untuk menyaring kandungan garamnya. Kandungan garam yang tersaring disisihkan. Sebagian air laut digunakan untuk melarutkannya. Pemasukan air hujan ataupun limbah pemanfaatan air bersih merupakan upaya untuk menurunkan kadar garam air payau tersebut. Dengan demikian, diharapkan proses osmosis terbalik menjadi lebih ringan dengan air baku yang rendah kadar garamnya. Hal ini ada kaitannya dengan usia produktif dari teknologi desalinasi ini. Desalinasi sebagai jawaban teknologi atas tuntutan penghentian pengambilan air tanah telah ditemukan ,dan dengan teknologi canggih yang telah diperbarui pada tahun 2020 oleh Profesor Erlangga”.
Nama Ayahku disebut.
“Kau sudah melihat semua beritanya, kan?”, suara wanita itu kembali muncul. “Tapi kau tak tau, semua itu hanya akal-akalan pemerintah untuk mencari laba”.
Aku menelan ludah. Apa maksudnya?
“Penelitian yang ku bicarakan kemarin ternyata membuahkan hasil. Kau tau? Air tanah yang kita miliki ternyata 30% airnya mengandung emas”.
“Apa yang kau katakan?”, suara ribut itu membuat Ayah terbangun. Ia membelalakkan matanya yang setengah tertutup.
Aku menunduk, bersembunyi. Ku harap Ayah tak melihatku disini, di dalam ruang kerjanya tanpa permisi.
“Emas?”, tanya Ayah sekali lagi, diiringi dengan degupan jantung dan tetesan keringat dinginku.
“Aku tak percaya”, kata Ayah.
Wanita itu tertawa, “Coba saja”. ia terdiam, “Tapi kau tau kan apa konsekuensinya?”.
“Ya”, jawab Ayah. “Mengambil air tanah secara ilegal. Aku akan masuk ke dalam penjara kota sampah. Kota dimana aku tak bisa melihat pepohonan dan bangunan, hanya sampah”.
Kota yang hanya dipenuhi jutaan sampah? Aku termenung.

Guyuran air hujan tak kunjung reda. Kota ini banjir air yang dipenuhi sampah. Tingginya sekitar satu meter, membuatku dengan terpaksa memanjat tiang bendera agar tak tenggelam. Memandang ke selatan, Ayah belum datang.
Aku menggigil kedinginan. Merapatkan ikatan tanganku agar tak terjatuh karena licin terkena air hujan. Semakin banyak orang yang menuju utara, menuju gerbang utama, dimana kelima kamera pengawas telah mati karena listrik di kota ini tak berarus lagi. Sesekali mereka menawariku agar ikut dengan mereka, aku tetap tak mau. Aku masih menunggunya.

Pagi ini cuaca mendung berawan hitam. Tak ada hujan, namun petirnya sudah menyambar-nyambar. Aku masih berkutat dengan sampah-sampah disekitarku. Sesekali ku lihat Ayah melihat ke langit, pandangannya menerawang.
Berselang lima menit, kami diserbu jutaan butir air yang jatuh dari langit. Angin menerbangkannya dengan keras, menghujamiku dengan kasar. Aku, Ayah, dan beberapa orang berteduh di bawah beton dengan perasaan tak menentu. Langit semakin hitam, membuat jarak pandang menjadi terbatas, aku tak mampu melihat. Air mengalir melewati kakiku cepat, pertanda banjir akan segera tiba. Satu-dua orang berlari meninggalkan kami, menuju utara.
“Tetaplah disini”, kata Ayah.
“Ayah mau kemana?”, tanyaku, takut ditinggalnya.
“ … kakek tua …”, ucapnya.
Aku membayangkan kakek tua itu seorang diri dibawah rumah kardusnya, dengan hujan yang menghujaminya, ia pasti sudah merasakan aliran air yang mengaliri badannya, dingin.
“Pergilah ke tengah lapangan. Ayah akan menjemputmu disana”.
“Ayah janji akan kembali?”.
“Ya. Ayah akan kembali untukmu”.
Aku melihat punggung Ayah yang semakin menjauh dariku.

Aku tidak kuat. Bertahan di tiang bendera seperti ini. Menahan terpaan hujan badai yang mengikis badanku sedikit demi sedikit. Ingin ku lepaskan saja ikatan tangan ini. Namun seorang laki-laki dengan perahu rotan datang dari selatan menghampiriku. Ayah, ia datang untukku. Air telah mencapai lehernya.
“Naiklah”, ujarnya padaku.
Aku naik ke atas perahu itu. Melihat kakek tua terbaring disana. Ku dekap dadanya, tak bersuara. Ia mati.
Dikala orang-orang menyelamatkan diri menuju utara, Ayah membawa kami ke arah Barat.
“Mau kemana kita?”, tanyaku.
“Ke gerbang barat”.
“Bukankah gerbang itu menuju lautan lepas?”.
“Ya”.
“Untuk apa kita kesana?”.
“Seseorang akan menyelamatkan kita”.
“Siapa?”, tanyaku penasaran.
Ayah terdiam. Ia terus saja berjalan.
“Siapa orang itu Ayah?”, tanyaku sekali lagi.
Ia berhenti, kemudian memandangku lekat, “Ibumu”.
Jantungku berdegup kencang. Aliran darahku melebihi kecepatan normal. Aku bingung. Dulu ia berkata bahwa Ibu meninggal ketika melahirkanku. Aku tau ia berbohong. Bukankah aku adalah makhluk kloning yang tak mempunyai sepasang orang tua? Sekarang ia mengatakan bahwa ada seorang Ibu di ujung sana yang menyelamatkan kami. Darahku mendidih. Ia terlalu sering berbohong. Aku tak tau apa yang dikatakannya sekarang adalah perkataan yang jujur ataukah suatu kebohongan.
Aku melihat sebuah kayu mengapung di dekatku. Ku ambil, ku pukulkan keras tepat di kepala Ayahku. Ia terjatuh, tenggelam dan tak kembali.
“Pembohong”.
Ku gulingkan tubuh si kakek tua jatuh ka dalam air. Ku tinggalkan kedua tubuh yang mengapung itu. Aku menuju barat, menuju Ibu. Ku lihat kedua tangganku yang berdarah. Kayu dengan paku-paku berkarat itu melukaiku.

Sebuah helikopter terbang di atas gerbang barat, menungguku. Tangga bertalinya turun berlahan, aku memanjat ke atas. Perasaanku bercampur aduk, antara perasaan senang karena segera bertemu Ibu dan perasaan terluka karena Ayah dan Kakek tua telah mati. Setibanya di atas, aku tak menemukan siapa-siapa. Tubuhku ambruk, tiba-tiba kepalaku pusing. Tanganku yang berdarah, berdenyut-denyut. Gejala tetanus menyerangku.
Seseorang menemuiku, “Dimana Ayahmu?”.
Aku mengerjapkan mata, tak mampu melihatnya. “Siapa kau?”.
Ia tersenyum, “Kau pasti yang bernama Awan”.
“Siapa kau?”, tanyaku sekali lagi. Aku tak kuat berdiri.
“Aku Ibumu”.
Aku melihat seorang lelaki berjambang, mengaku sebagai Ibuku.
“Aku akan mencari Ayahmu, tetaplah disini”, ia menyelimutiku.
Aku tertatih menuju pintu keluar, menatap ke bawah. Sebuah kota yang akan hilang karena tersapu banjir. Sampahnya berceceran dimana-mana. Hujan deras dengan petir menyambar. Airnya semakin meninggi. Tanganku meraih-raih sesuatu yang abstrak di bawah, “Ayah”. Aku menangis.
Tanpa sadar tubuhku terjatuh ke bawah, menimbulan percikan air. Dapat ku rasakan bau sampah di dalamnya. Dan aku tenggelam.

One thought on “Tenggelam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s