Surat Untuk Nenek Moyang

Ku tulis surat ini hanya untukmu. Karena engkaulah
yang menjadi sumber penyebab semua ini.

Teruntuk Nenek Moyangku,

Salam kenal. Namaku XYZ31. Kita mungkin tak pernah bertemu namun aku yakin, surat ini akan sampai padamu dan akan kau baca sampai selesai.
Sebenarnya aku tengah bingung dengan duniaku. Dunia dimana aku lahir tak tahu siapa orang tuaku, bagaimana asal usulku. Yang aku tahu, aku terlahir dari sebuah embrio yang dibeli majikanku di pusat perbelanjaan. Kata mereka, aku dibelinya amat murah sekali karena memang saat itu harga embrio tengah menurun drastis.
Mereka memberiku sebuah bilik kecil untuk tinggal. Disini ada yang namanya tempat tidur, lemari pakaian dan beberapa perabot rumah tangga. Aku menyukainya.
Namun yang ku sedihkan, disini aku tidak punya teman. Teman sepertiku lebih tepatnya. Aku sesekali saja bertemu dengan mereka jika majikanku membawaku ke taman untuk bermain.
Aku tinggal disini untuk menemani putri kecil mereka. Putri kecil dengan wajah menyeramkan. Begitu pula kedua orang tuanya.
Aku tak pernah makan banyak, karena aku tidak bisa memakan makanan seperti itu. kapsul yang berwarna-warni itu, kata majikanku itu adalah makanan yang paling murah. Karena majikanku tak mau membelikanku makanan mahal, seperti daging dan sayuran. Katanya makanan itu hanya diperuntukkan untuk orang-orang seperti majikanku. Sesekali aku pernah mencuri makanannya dari lemari pendingin, sangat lezat sekali rasanya. Dan jika kau merasakan makanan yang bernama ‘air’ kau pasti akan menyukainya. Ya, itulah makanan favoritku yang hanya bisa ku makan jika majikanku tak berada di rumah.
Aku tak pernah keluar rumah kecuali jika aku diajaknya ke taman. Karena jika keluar rumah, aku merasa dada ini sesak dan tak bisa bernafas. Pernah suatu kali ku coba pergi keluar, aku pingsan dan hampir mati kekurangan oksigen. Setiap rumah disini mempunyai cadangan oksigen masing-masing, karena pohon-pohon tak lagi ada disini. Kata majikanku, itu akibat dari pemanasan global. Aku sendiri tak tahu apa itu pemanasan global, karena aku tak pernah diijinkan untuk membaca buku.
Pernah suatu kali ku mengendap-endap menuju perpustakaan dan membaca tentang sejarah dunia. Berabad-abad yang lalu, dunia sungguh hijau dengan banyak tanaman yang menghiasinya. Dari tumbuh-tumbuhan itulah oksigen tak akan habis. Dengan air yang melimpah, mampu memberi pasokan daging dan tumbuhan. Apakah duniamu dulu seperti itu? Aku ingin merasakan bagaimana hidup di duniamu.
Ada isu yang beredar, katanya oksigen akan habis taun depan. Kata majikanku, di masa itulah dunia akan berakhir. Apakah itu benar?
Aku tidak tahu mau percaya pada siapa. Aku tak punya teman yang bisa ku percaya. Aku hanya punya majikan yang tak kusukai karena mereka tak mau memberiku sayuran dan air, hanya kapsul-kapsul makanan yang tak ada rasanya.
Aku takut, aku akan diusir. Karena umurku sudah 20 tahun. Umur yang paling tua. Karena kata majikanku, sebentar lagi aku akan digantinya dengan yang lebih muda. Mereka mungkin bosan denganku. Karena aku yang tak menuruti perintah mereka. Mereka menginginkan yang lebih penurut.
Lalu aku akan kemana? Keluar rumah dan mati kekurangan oksigen? Aku tidak mau. Ataukah menjual diri untuk menjadi bahan bakar pembuat oksigen? Bahkan bisa saja aku tercabik-cabik di tempat pemotongan.
Nenek moyangku,
Apakah duniamu seperti duniaku? Dunia seperti yang ku ceritakan ini?

Belum ku tulis namanku disana, tiba-tiba ia datang dan merobek-robek suratku itu.
Dengan tangan besar berbulu, ia mengangkatku keluar ruanganku. “Ayo kita jalan-jalan”, ajaknya.
Aku diam saja, karena aku memang tak bisa bicara. Aku menuruti saja kemauan putri kecil majikanku. Kami keluar rumah dengan menggunakan pakaian yang lebih mirip pakaian astronot dengan tabung oksigen dibelakangnya.
Ku lihat disekitar, semuanya memakai pakaian seperti itu. Ada yang berjalan dengan empat kaki, dua kaki, melata, melompat, dan ada yang terbang juga. Ku lihat wajah majikanku yang semakin menyeramkan saja, dengan bulu-bulu yang mulai tumbuh ditubuhnya. Kenyataannya, mereka termasuk hewan primata dengan pakaian lengkap dan bisa berbicara.
Di dalam toko ku lihat beberapa makhluk sepertiku, manusia, berada dalam bilik-bilik kaca yang siap dibeli.
Nenek moyangku, apakah kau bisa merasakan apa yang ku rasakan sekarang?

Selesai.

3 thoughts on “Surat Untuk Nenek Moyang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s