Menyelamatkan Kota Mati

Aku tenggelam diantara ribuan troli-troli penuh barang. Semua barang-barang ini harus berada di tempatnya satu jam lagi, sehingga mau tak mau setiap pegawai membawa dua troli sekaligus. Berada di lift yang menuju dua lantai diatas, aku dan lima orang bersama puluhan barang-barang bergumul dengan kesesakan, sesekali kami harus berebut oksigen agar tetap hidup. Cermin yang mengelilingi membuat pantulan berlapis-lapis, seolah-olah kami masing-masing mempunyai sepuluh orang kembaran dengan barang-barang yang jumlahnya berlipat ganda. Pemandangan yang membuat kepalaku pusing.

Pintu lift terbuka. Cahaya terang menyala di langit-langit tanpa lampu neon. Di tengah ruangan ini terdapat ribuan rak yang menanti untuk diisi. Aku membuka daftar yang tertera di troli pertama, tablet makanan. Di rak alumunium sepanjang sepuluh meter ini, berjajar kotak-kotak plastik tablet makanan berbagai merek dengan berbagai macam harga. Bisa kau dapati pizza dengan diameter sebesar itu berada di dalam tablet obat dan kau mampu memakannya dalam sekali hap. Walaupun tergiur, aku tak pernah membelinya. Aku dulu pernah tertipu. Aku membelinya dengan harga yang paling murah, dua puluh rupiah, tablet kacang tanah kualitas rendah. Aku merasa memakan kulitnya. Tablet makanan seperti ini benar-benar menipu. Karena kau tak bisa mencicipinya terlebih dahulu. Aku tak habis pikir mengapa banyak orang yang tertarik membelinya.

Obat dan vitamin yang mempunyai harga lebih mahal kian hari kian banyak peminatnya. Bahkan menurut data yang dikelola manajemen supermarket ini, tingkat penjualan obat dan vitamin lebih tinggi daripada tablet makanan. Jelas saja, orang lebih sering sakit karena mengkonsumsi tablet makanan yang penuh dengan bahan kimia.

Barang di troli pertama telah habis. Aku memutar arah menuju selatan, barang-barang di troli kedua menanti untuk dibagi. Ketika berada di ujung rak, aku mendapati tiga orang pegawai tengah berbincang-bincang dengan pandangan mata siaga satu, mengawasi gerak-gerik setiap orang yang berada di dekat mereka. Pembicaraan yang mencurigakan, sepertinya amat serius.

“Sudah ku bilang, itu cuma sampah. Lama-lama mereka juga akan membuangnya. Aku cuma minta satu lusin. Apa kau tak bisa memberikannya?”, tanya pria pendek yang botak kepalanya.

Wanita di sebelah pria itu, berambut merah dengan jerawat yang memenuhi wajahnya melihat-lihat sekeliling dengan tatapan setajam elang, “Kau sudah berjanji akan membawakannya”.

“A-aku tak p-pernah berj-janji seperti itu padamu ..”, wanita tua berkacamata itu menunduk, “.. aku kira kalian sudah tau kalau prosedurnya setiap barang keluar-masuk pasti dicatat oleh petugas. A-aku tak bisa”, ia membetulkan letak kacamatanya.

Pria pendek dan wanita berambut merah itu beradu pandang dan bersama-sama memalingkan wajah mereka dengan tatapan sadis ke arah wanita tua di hadapannya.

“Aku membutuhkan selusin kardus. Cuma selusin. Tapi jika kau tak memberikannya padaku minggu ini juga, aku akan melipatgandakan permintaanku”, ucapnya.

Kardus? Apa yang akan mereka lakukan dengan itu?

Ketika otakku tengah berpikir sampai mendidih, tiba-tiba ada sesosok pria di belakang mengagetkanku dengan menepukkan tangannya di bahu kananku. Aku menjerit reflek. Ketiga orang yang ku intip tadi berhamburan ke segala arah, mereka sudah ketahuan.

Dibalik punggungku, paman Igor tertawa terkekeh persis seperti pria musim dingin berbaju merah dengan perut gendut dan sekantung hadiah. Aku memandangnya kesal karena membuatku gagal menerkam ketiga buruanku.

“Sedang apa kau disitu?”, ia tak bisa berhenti menahan tawa. Ia pasti suka ketika melihat wajahku dengan tampang penuh ekspresi kekagetan setengah mati.

“A-aku ..”, aku mengintip ke arah tempat ketiga orang tadi berkumpul sepuluh detik yang lalu, “.. tak ada apa-apa”, lanjutku kemudian. Ku tengok lagi tempat itu, sepi.

Kedua bola matanya berputar, ia pasti tau kalau aku menyembunyikan sesuatu. Mulutnya terbuka sedikit lalu ditutup lagi, ia seperti ingin berbicara sesuatu namun tak jadi. Raut mukanya berubah.

“Rara ..”, ia memanggilku, “.. aku merindukannya”.

Paman Igor berjalan menuju dinding selatan, menempelkan tangannya ke jendela besar. Melihat ke bawah, lantai dasar dari gedung bertingkat ini, yang terlihat gelap sekali seperti tak berujung.

“Kalau saja ia mau bersabar sejenak menungguku pulang, ia pasti tak akan ..”, lehernya tercekat air ludahnya sendiri.

Lampu-lampu dinyalakan, pintu besar supermarket ini dibuka, terlihat tulisan berjalan mengucapkan kata selamat datang diiringi tulisan tanggal 19 Agustus 2033. Genap sepuluh tahun ia kehilangan Ega, anak semata wayangnya.

2023. Saat itu Ega masih berumur lima tahun. Ia tak sabar menanti kedatangan Ayahnya yang berjanji akan membawakan sesuatu untuk dimakan. Sudah sebulan lebih kota ini tak mendapat suplai makanan, orang-orang mati kelaparan bergelimpangan di pinggir-pinggir jalan. Ia tak mampu bersabar lagi kali ini, perutnya memanggil-manggil untuk diisi. Tetapi Ayahnya tak kunjung datang. Giginya bergetar hebat, ia memasukkan jari-jari ke dalam mulutnya untuk menahan getaran hebat itu. Ketika Paman Igor tiba dengan membawa sekantong makanan di tangan kanan dan ceceran darah segar mengalir dari sebilah pisau di tangan kirinya, ia mendapati anaknya mati dengan jari-jari tangan yang hilang.

Aku juga tak ingat persis bagaimana kejadiannya, tapi hal ini juga mengingatkanku pada Ibu. Aku dan Raka –kakak laki-lakiku– sepanjang hari selama seminggu lebih, duduk diam memandangi piring kosong di atas meja makan. Ibu gelisah tiada henti menunggu kedatangan Ayah. Terdengar suara gemeletuk dari dalam panci. Ibu mengaduk-aduk kuahnya, ia memberi sedikit taburan garam dan mencicipinya, “Sebentar lagi matang”.

Lima menit kemudian Ayah datang bersama Paman Igor. Mereka bertiga

bersama-sama masuk ke dalam kamar. Raka berlari ke dapur membuka tutup panci. Ia mendapati tiga buah batu dan air mendidih di dalam panci itu. Kami berpikir bahwa Ibu sudah mulai gila.

Setengah jam kemudian Paman Igor pulang dengan membawa kantung yang berbau anyir seperti darah. Ayah menuju dapur dan mulai memasak makanan untuk kami. Ketika makanannya telah siap, aku hanya mendapati Raka dan Ayah yang bersamaku di meja makan. Sejak saat itu aku tak pernah melihat Ibu lagi. Saat aku menyuap sesendok penuh ke dalam mulutku, aku merasakan aroma tubuh Ibu berada di semur daging itu.

Terlihat orang-orang berbondong-bondong masuk ke dalam supermarket ini. Mereka memenuhi keranjang belanja dengan tablet makanan berbagai merek. Paman Igor menyirami sebuah tanaman, satu-satunya tumbuhan hijau di tempat ini, yang bahkan tak ku ketahui apa namanya. Wajahnya terlihat bahagia. Warna hijau dan harum daunnya itu yang bisa membuat hati setiap orang yang memandangnya terasa nyaman.

“Istirahatlah, Ra”, kata Paman Igor.

Aku terdiam dengan pandangan kosong menatap daunnya yang bergoyang-goyang. Tiba-tiba aku merasakan hangatnya mentari pagi di tengah taman kota. Merasakan dinginnya tanah ketika ku injak tanpa memakai alas kaki. Merasakan butir-butir air sisa hujan yang terperangkap di sela-sela daun yang jatuh ketika Raka menggoyang-goyangkan batangnya. Merasakan bau hembusan angin yang beraroma seperti daun seledri.

“Ra!”.

“Oh iya, Paman. Ada apa?”, lamunanku buyar.

Paman Igor menggeleng-geleng, “Istirahatlah, kelihatannya kau kelelahan sampai-sampai tak menyimak perkataanku tadi. Aku tak tega mempekerjakan keponakanku sendiri sama seperti pekerja lainnya”.

Aku tak enak hati karena merasa dispesialkan. Tapi mau bagaimana lagi, aku harus bekerja pada Paman karena aku tak punya pekerjaan lain. Apa yang dapat dilakukan oleh seorang lulusan sarjana satu biologi seperti aku? Saat ini dunia membutuhkan lulusan sarjana tiga. Lagi pula hal ini juga membantu paman Igor yang tak punya siapa-siapa di dunia ini selain aku dan Raka, “Baik, Paman”, aku menuruti nasehatnya.

Masih jam sepuluh, masih lima belas menit supermarket ini buka, dan aku harus meninggalkan pekerjaanku. Kalau dipikir-pikir selama dua tahun aku bekerja disini, setiap harinya aku cuma bekerja selama setengah jam dan aku tetap mendapatkan gaji utuh, makan gaji buta lebih tepatnya. Ya mau bagaimana lagi, pemilik supermarket ini adalah pamanku sendiri. Sudah 88 tahun Indonesia merdeka, praktik KKN masih menjalar dan mendarah daging pada setiap warganya. Jujur, aku mulai menyukainya.

Aku pergi meninggalkan Paman Igor yang masih menyirami tanaman hijaunya, turun satu lantai ke bawah melalui lift. Mengganti seragam berwarna merah darah ini dengan kaos hijau seperti warna daun tanaman itu. Lalu turun ke lantai dasar. Terasa sepi dan amat mencekam karena tak ada seorang pun disana ketika aku membuka pintu di lantai dasar. Yang terdengar hanyalah rintik hujan yang menghujam keras membentur lantai beton jalanan. Aku memakai payung hitamku dan berjalan ke timur.

Percaya atau tidak, kota ini telah menjadi kota dengan perlakuan kasta terburuk sepanjang sejarah. Masyarakat menengah ke atas tak mau dan tak akan pernah untuk menginjakkan kakinya di lantai paling dasar, lantai yang paling dekat dengan inti bumi. Mereka tinggal di atas sana, di dalam bangunan paling atas sendiri, tempat dimana kau bisa memegang awan jika kau mau. Sedangkan masyarakat menengah ke bawah meskipun mau tapi mereka tak diperbolehkan naik ataupun sekedar melihat bagaimana suasana tempat para dewa bersemayam. Manusia berubah seperti kacang, lupa pada kulitnya.

Cahaya lampu menyala redup, sesekali mati lalu hidup kembali. Sinar matahari tak mampu menjangkau tempat ini karena bangunan-bangunan berjajar rapat yang dibangun terlalu tinggi mencapai awan di langit sana. Bahkan udara terasa panas walaupun sekarang hujan tengah mengguyur. Cuaca berubah drastis akibat pemanasan global.

Tirai toko-toko terbuka dengan tulisan tutup di depan pintunya. Aku berdiri memandangi televisi berbentuk kubus berjajar, ditumpuk-tumpuk, dan dibiarkan menyala di balik kaca toko yang kusam. Siaran televisi yang dapat kau nikmati sesuka hatimu. Ku amati layarnya, headline news tentang ribuan mahasiswa melakukan aksi unjuk rasa di depan gedung pemerintahan di Palangkaraya.

            ‘Demonstran yang menamai dirinya sebagai Kesatuan Aksi Mahasiswa Nasional telah memadati tempat ini sejak dua hari yang lalu. Selain berdemonstrasi dengan melakukan orasi lisan, mereka juga melakukan aksi bakar pohon sebagai luapan kekecewaan atas apa yang di lakukan pemerintah selama ini. Sejak pemindahan ibukota negara yang dilakukan bertahun-tahun yang lalu, Jakarta mengalami penurunan perkembangan kota amat drastis. Mulai dari perekonomian sampai lapangan pekerjaan. Karena semuanya kini berpusat pada Palangkaraya. Jakarta yang dipenuhi lautan manusia dan tak berpotensi lagi menjadi ajang bisnis kini mulai ditinggalkan. …’, reporter melaporkan berita yang sama seperti yang ku dengar dihari-hari sebelumnya.

Gambar di televisi menunjukkan bagaimana anarkisnya mahasiswa jaman sekarang menanggapi permasalahan negara seperti ini. Ku dekati kaca kusam pembatas antara aku dan televisi-televisi itu, seseorang seperti yang ku kenal berada di dalamnya. Raka. Ia berada di depan barisan, membawa pengeras suara. Dengan tali merah pengikat kepala, ia mengepalkan tangan meninju udara dan urat di lehernya terlihat menonjol keluar saat ia berbicara.

Apa yang ia lakukan disana?

Mencoba menjadi pahlawan? Mungkin ia sedang bermimpi untuk menjadi seorang penyelamat bangsa. Menjadi leader demonstrasi, berbicara penuh keegoisan seakan-akan ia adalah orang terpilih yang mempunyai tugas mulia untuk melindungi rakyat. Ingin menyelamatkan kota, bukan seperti itu caranya. Kalau seperti itu semua orang juga bisa, hanya bermodal mulut.

Raka bodoh. Ku kutuk kakakku sendiri. Tiga hari yang lalu ia pamit kepada paman untuk pergi keluar Jakarta. Ketika paman bertanya untuk apa dia pergi, Raka menjawab bahwa ia akan melakukan tugas mulia.

“Kapan kau kembali?”, tanyaku ketika ia sampai di depan pintu lift.

Ia berbicara memunggungiku, “Sampai aku bisa menyelamatkan kota ini”. Raka masuk ke dalam lift, naik ke lantai paling atas dari gedung ini.

Aku berjalan menyusuri jalanan yang becek. Aliran airnya masuk ke dalam jalan besar yang tertutupi ribuan liter air dan kini berubah menjadi sungai dengan atap mobil yang terlihat seakan-akan mengapung di atasnya. Sungai dengan tumpahan minyak kotor yang menghitam. Datar. Tak ada arus di dalam alirannya. Hanya bekas rintikan hujan yang terlihat membuat riak kecil di sungai itu. Terdapat beberapa lampu jalan yang menerangi lingkungan disekitarnya. Tiangnya berwarna kuning terkena korosi hujan asam.

Aku mendapati sebuah toko yang buka ketika yang lainnya tutup. Plang besi di atas pintunya bertuliskan Sumber Makmur sejak tahun 2000. Ku langkahkan kaki memasuki halamannya, melihat barang apa yang mereka jual. Setumpuk kardus seperti yang ku temui di dalam gudang supermarket, dalam jumlah yang sangat banyak tersimpan rapi di ujung ruangan.

Aku dikejutkan oleh seorang bocah keturunan Cina bermata lebar yang berada di sampingku sejak aku memasuki toko. Anak itu menatapku lekat-lekat seperti memergoki maling ayam, kedua tangannya dikepalkan, sudah siap untuk meninjuku. Aku diam di tempat dengan mulut menganga akibat reaksi kaget yang berlebihan, aku tak berkutik. Memutar otak, berpikir bagaimana cara untuk menyelamatkan diri.

“Duduklah”, seorang pria tua dengan rambut memutih menyuruhku duduk di sebelahnya. Ia memberi isyarat pada anak kecil itu untuk masuk ke dalam rumah. Aku melangkah mendekatinya, duduk di kursi kayu yang lapuk. Semoga tidak roboh.

“Hanya itu yang bisa ku selamatkan”, ia menunjuk tumpukan kardus.

Aku tak mengerti apa yang dipikirkannya tentang kardus itu. Apa manfaatnya menyelamatkan kardus? Cuma sampah tak berguna.

“Kau tau ..”, pria tua itu melinting kumis putihnya yang panjang, “.. cuma itu yang tersisa dari hutan yang kita miliki. Tanaman yang tumbuh dengan media kardus bekas akan memiliki kualitas terbaik dibandingkan dengan tanaman yang tumbuh lewat media kultur jaringan. Ya .. kau pasti tau karena serat-serat kardus diperoleh dari hasil kayu yang saat ini sangat langka dan banyak dicari”.

Pantas saja kedua pegawai di supermarket tadi menginginkan kardus-kardus bekas itu. Nilai jualnya lebih tinggi daripada barang elektronik. Mungkin kekayaan yang dimiliki Paman Igor bukan dari hasil penjualan barang-barang di supermarketnya, tetapi dari hasil penjualan kardus-kardus itu. Mungkin.

Anak kecil itu datang menuju tempat kami, membawa dua cangkir kecil teh hijau.

“Minumlah”, pria tua itu meneguk minumannya.

Aku mengambil cangkirku, melihat daun berenang mengambang di dalamnya. Aku jadi heran, mengapa tanaman seperti ini dihargai sangat mahal di pasaran. Apa karena Indonesia, lebih tepatnya Jakarta, tak punya tanah lapang untuk ditanami sesuatu? Apakah Raka berdemonstrasi mati-matian untuk menyelamatkan lingkungan yang semakin hari semakin rusak? Apakah benar bahwa tak ada lagi tanaman hijau yang tumbuh alami di tanah lapang? Dan kalau semua itu benar-benar terjadi, lalu apakah besok benar-benar merupakan hari kiamat?

Setelah menghabiskan teh hijau ini, aku berpamitan dengan si pria tua, meminta ijin untuk pergi. Anak kecil itu masih menatapku curiga.

Dengan payung hitam yang masih ku pakai, aku menyandarkan punggung di tembok bekas halte bus. Mengamati dindingnya yang dipenuhi oleh lumut, melihat ke dalam sungai yang berwarna hitam legam, menatap langit mencari-cari cahaya matahari. Mungkin aku dapat menemukan awan. Bagaimana bentuknya? Aku sudah lupa.

Aku telah sampai disini. Di dalam gang sempit dengan banyak tikus kotor yang rakus, berkejar-kejaran saling mendahului, yang tercepat sampai di ujung dialah yang berhak mendapatkan makanan, sama seperti manusia.

“Siapa yang tau ibukota negara Indonesia?”, suaranya menggema ke seluruh penjuru ruangan.

“Saya, saya, saya!”, beberapa anak kecil mengacungkan tangan, berharap dia yang ditunjuk oleh sang guru.

“Palangkaraya”, jawab seorang anak dengan kutil besar di pipi sebelah kanan.

Sang guru mengangguk senang.

“Pulau manakah di Indonesia yang mempunyai hutan terluas?”.

“Saya, saya, saya!”, mereka masih berebut menjawab.

Rio menunjuk seorang perempuan yang berdiri paling belakang.

“Kalimantan”, jawabku.

Semua anak berlari menuju arahku, memelukku. Tubuh mereka kasar, sebagian besar dihinggapi penyakit kulit. Efek samping lingkungan karena tak ada sumber air bersih lagi di Jakarta. Rio tersenyum melihatku. Dialah guru segala macam pengetahuan. Seumur hidupnya didedikasikan untuk anak-anak ini.

“Ayo kak kita belajar tari jaipong lagi!”, ajak salah seorang anak sambil menarik tanganku ke tengah ruangan.

Ku keluarkan radio tape kecil dari dalam tas ku. Memutar musiknya dan membiarkan anak-anak itu menari jaipong sepuasnya. Senyum kecil mereka merupakan cahaya matahari bagi kami. Karena mereka mampu menerangi hati kami yang terpuruk oleh lingkungan dan keadaan kota yang tak lagi bersahabat. Kota mati di tahun 2033 itu berada di ambang kehancuran akibat pemindahan kekuasaan, dirampasnya lapangan pekerjaan oleh pihak asing, hilangnya hutan lindung, pengaruh globalisasi, pencemaran lingkungan, dan yang pasti .. pemanasan global.

Tak ada yang bisa kami lakukan untuk menyelamatkan Jakarta, selain mengajarkan kebaikan, ilmu yang bermanfaat, dan kebudayaan Indonesia kepada generasi penerus bangsa. Semoga mereka mampu menyelamatkan kota ini lebih baik daripada yang bisa ku lakukan sekarang.

Tiba-tiba bumi bergetar hebat, bangunan-bangunan yang berdiri di atasnya roboh satu persatu seperti susunan domino yang jatuh bertahap. Hujan turun begitu lebat. Sungai meluap, air hitamnya tumpah ke jalanan. Semua orang berteriak, termasuk anak-anak kecil ini. Aku berlari keluar, melihat langit yang semakin lama semakin terang. Apakah itu matahari?

Tanpa ku sadari, bocah keturunan Cina itu sudah berada di sampingku. Mata lebarnya menatapku lekat, “Apakah ini kiamat?”.

One thought on “Menyelamatkan Kota Mati

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s