Kehilangan Sejarah

Seandainya aku bisa kembali ke masa lalu, akan ku ubah dunia ini menjadi seperti yang ku inginkan.

Aku menutup telingaku dengan bantal. Suara-suara itu tetap saja menggangguku. Malam-malam begini apa yang dilakukannya? Mengganggu tetangga saja. Ku tutup buku matematika setebal kamus itu dan membiarkannya tetap di lantai. Ku buka pintu losmenku. Ku lihat nyala kemerah-merahan di bawah pintu yang berasal dari ruangan si pembuat onar yang tepat di depan kamar losmenku.

“Dasar losmen tua murahan!”, ku maki tempat buruk ini. Dan ku kutuk diriku sendiri yang tak mampu menyewa losmen yang lebih mahal. Lihat saja cat dindingnya yang sudah terkelupas berwarna kecoklatan, sengaja tak dirawat karena pemiliknya tahu bahwa losmen ini tak pantas dirawat. Suara-suara itu apalagi. Membuatku tak bisa hidup tenang selamanya. Ku tutup pintu sekeras-kerasnya. Semoga saja ia mendengar kekesalanku yang mungkin tak akan didengarnya karena suara-suara berisik itu mampu bertahan di tengah sepinya malam.

Sial. Selalu saja begini. Tak bisa tidur dengan lelap dan terbangun dikala matahari bersinar terlalu terang seakan mengejekku yang lagi-lagi terlambat berangkat ke sekolah. Ku masukkan dengan paksa buku-buku ke dalam tak ranselku yang bulukan.

Selalu saja begini. Setiap pagi. Ku hentikan langkahku ketika mendapati pintu didepanku terbuka walau cuma setengah. Tak ada tanda-tanda keributan di dalamnya. Suara-suara berisik itu seketika hilang bersamaan dengan munculnya mentari. Aku maju selangkah.

Mengintip lebih teliti lagi apa yang sebenarnya yang dilakukan pemilik ruangan ini. Kertas-kertas yang berserakan, papan-papan tulis yang dipenuhi angka-angka dan rumus-rumus yang membuatku pusing. Di pojok ruangan terdapat sebuah alat aneh seperti kursi sofa dan baling-baling besar melingkarinya. Buku-buku besar berjajar di dinding ruangan dan …

Betapa kagetnya aku. Sepasang mata tiba-tiba muncul melototiku dari balik pintu. Dengan jambang yang tak terurus, mampu membuatku lari ketakutan dan tak berani menoleh lagi kebelakang.

Dio dan kawan-kawannya mendatangiku. Beradu badan denganku yang super kerempeng ini. Tak ayal, aku terguling kesana kemari bagaikan bola disepak para petinju. Baru sedetik ku injakkan kaki di sekolah, mereka sudah memperlakukanku seperti ini. apa jadinya rupaku ketika jam istirahat nanti?

“Ega!”, teriakan Rea yang ku hafal.

Ku lemparkan senyum terindahku pada bidadari itu. Seseorang yang membuatku selalu bersemangat untuk pergi ke sekolah. Seperti biasa ia sibuk mengoceh, menceritakan padaku apa saja yang ia lakukan kemarin.

Aku dengan setia mendengarkannya, walau sampai akhir hayat aku mau terus mendengarkan ceritanya, aku mau selalu berada disampingnya.

Jam sekolah telah usai sejam yang lalu. Tetapi Rea masih saja duduk di halte depan sekolah. Aku mendekatinya. Sebelum ia berbicara padaku, aku tahu apa yang akan dikatakannya.

“Dio lagi-lagi lupa menjemputku”, ia berbicara persis seperti yang ku bayangkan sebelumnya.

Kasihan Rea.

“Akan ku antar kau pulang”, kataku diiringi anggukan dan senyuman indahnya.

Apa yang ku takutkan sepanjang perjalanan tadi akhirnya terjadi juga. Dio dan kawan-kawannya berdiri mengintariku dan menjauhkan Rea dariku.

“Sudah berapa kali ku ingatkan. Jauhi Rea! Apa kau masih tak mengerti juga, Hah?!”, bentak Dio.

“Dio. Sudah”, pinta Rea.

Aku memang tak akan menyerah untuk mendapatkan Rea, teman masa kecilku yang kini tengah tumbuh menjadi sosok bidadari tercantik sedunia. Walaupun harus berhadapan dengan pria dihadapanku yang paling ku benci.

Dio mendekatiku. “Jangan pernah bermimpi untuk mendapatkan Rea, karena aku akan menghancurkan semua mimpi-mimpimu”, bisiknya di telinga kiriku, sebelum menghajarku habis-habisan. Mereka berlima dengan mudahnya membuatku babak belur. Ku dengar samar-samar Rea berteriak-teriak untuk membuat Dio berhenti membuat wajahku lebam.
Sampai akhirnya mereka puas memukuliku dan meninggalkanku sendirian dalam keadaan terluka. Mereka membawa Rea bersamanya.

Aku menyandarkan badan di sofa tua yang bulukan. Letih setelah menaiki tangga dengan tertatih-tatih menuju kamar losmenku. Ku rasakan juga darah-darah yang mengalir keluar dari wajah dan badanku.

Suara hentakan kaki berjalan cepat menuju kamarku. Rea berada di pintu losmenku yang terbuka. Ia duduk disampingku dan membuka tas kecilnya yang berisi obat-obatan.

Diusapnya cairan dingin itu ke wajahku.

“Aw”, rintihku.

Rea masih saja mengusapkan cairan itu pada wajah dan tanganku.
Ia berada dekat disampingku. Tapi ia tak akan pernah jadi milikku. Ku pandangi ia lekat-lekat.

“Rea …”.

Ia diam saja, tangannya masih bergerak-gerak membersihkan lukaku.

“Aku mencintaimu, Rea”.

Ia berhenti mengusap lukaku, ia memasukkan barang-barangnya ke dalam tas kecilnya.

Ku genggam tangannya saat ia akan beranjak pergi, “Aku benar-benar mencintaimu”, ucapku sekali lagi.

Rea melihat wajahku yang memelas. Matanya berkaca-kaca.

“Aku .. aku tak bisa mengubah sejarah, Ega. Aku tidak bisa”, ia melepas genggaman tanganku, berlari keluar diiringi isakan tangis.

Kembali teringat dikala itu, ketika teman kecilku tiba-tiba mendadak menjadi yatim piatu karena kedua orang tuanya meninggal dalam kecelakaan. Kemudian ia diasuh oleh kedua orang tua barunya yang ku ketahui kedua orang itu adalah kedua orang tua Dio.

Rea telah berada dalam kehidupan keluarga Dio sejak lama dan tak bisa dipungkiri bahwa Dio pasti menginginkan untuk tinggal bersama Rea selamanya. Ya. Selamanya. Dan Dio tak akan melepaskan Rea sedetik pun padaku, meskipun bidadari cantik itu menginginkannya.

Aku tau itu. Kami tak bisa mengubah sejarah.

Ledakan besar mengguncangkan tubuhku yang tengah tertidur, asap hitam membumbung dari luar kamarku. Ada apa ini sebenarnya?

Ku terkejut melihat orang berjambang tak karuan itu menerobos sekumpulan asap hitam, dan mengguncang-guncangkan tubuhku seraya berkata, “Aku berhasil, aku berhasil membuatnya. Aku bisa mengubah dunia. Hahaha”. Ia pergi menuruni tangga dan meninggalkanku sendiri diselimuti asap yang lama kelamaan menghilang.

Pintu losmennya terbuka. Aku masuk saja, toh orang stres itu pasti keluar lama.

Ruangan yang sama berantakannya ketika kemarin tak sengaja ku lihat. Kertas-kertas yang berserakan, papan-papan tulis yang dipenuhi angka-angka dan rumus-rumus yang membuatku pusing. Di pojok ruangan terdapat sebuah alat aneh seperti kursi sofa dan baling-baling besar melingkarinya. Buku-buku besar berjajar di dinding ruangan dan … foto pernikahan yang dipajang di dalam akuarium lumutan.

Ku ambil dan ku kibas-kibaskan dari air yang menempel. Tertulis di sisi belakang, Mereka mengambilnya dariku. Apa maksudnya?

Ku kembalikan foto yang hampir hancur itu ke dalam akuarium. Ku pandangi sekeliling ruangan yang sama sempitnya dengan kamarku.

Aku duduk di kursi sofa itu. Memandang aneh pada baling-baling yang melingkarinya. Untuk apa baling-baling ini ditaruh disini, tidak ada fungsinya. Ku lihat benda semacam kalkulator dengan layar besar bertuliskan angka 5. Ku tekan tombol merah besar dibawahnya, baling-baling itu mulai berputar. Aku tak bisa keluar dari kursi ini, karena baling-baling itu semakin berputar amat cepat sekali, kalau ku paksakan keluar aku akan mati tercabik hempasan baling-baling raksasa itu.

“Apa yang kau lakukan?”, pria berjambang itu muncul tiba-tiba di depan pintu. Ia mencoba mendekatiku namun hembusan angin yang tercipta dari baling-baling itu tak dapat ditembusnya.

“Hentikan!”, teriaknya.

“Aku tak bisa”, aku mencoba mengutak atik kalkulator itu. angka dalam kalkulator mulai bertambah sampai akhirnya menunjukkan angka 25.

“TIDAK!!”, teriakan pria berjambang itu menusuk telingaku, baling-baling itu berputar semakin cepat dan dunia seakan-akan ikut berputar. Mataku tak kuat melihat cahaya putih yang mendekat padaku tiba-tiba.

BLAST.

Ku dapati diriku berada di ruangan pria berjambang tadi. Namun, ruangan ini begitu berbeda, tak ada tulisan-tulisan aneh di papan tulis, bahkan ruangan ini lebih rapi dari ruangan yang ku lihat sebelumnya.

Aku bersembunyi di balik lemari, ketika seorang pria memasuki ruangan itu. bukankah itu adalah si pria berjambang? Tanyaku dalam hati. Namun aku masih tak mempercayainya, karena ia begitu terlihat menawan dengan setelan jas kerjanya.

Tiba-tiba dari belakang, seorang wanita cantik menghampiri pria berjambang itu. Pria itu memeluk wanitanya dengan mesra dan mengelus-elus perut wanita yang mulai membuncit.

Dalam selang waktu lima detik, orang orang berbadan besar masuk dan membawa wanita itu keluar. Begitu si pria berjambang itu akan melawan, pria berbadan besar itu memukul tengkuknya dan ia terjatuh tak berdaya.

Di dalam lemari, aku tak menyangka aku bisa kembali ke masa lalu dan melihat bagaimana orang-orang jahat itu membawa pergi istri si pria berjambang.

Kalau aku bisa kembali ke masa lalu dan mengubah sedikit jalan cerita kehidupan, akankah aku bisa mengubah sejarah?

Aku berlari keluar, mengendap-endap mengikuti pria-pria besar yang menawan wanita tadi. Di dalam sebuah rumah besar yang ku kenal, muncul seorang pria gendut tertawa terbaha-bahak melihat istri si pria berjambang berada tepat di depannya. Wanita itu menangis dan tak bisa berbuat apa-apa.

Sepertinya aku mengenal pria gendut itu. Ya, dia adalah ayah Dio. Aku tersadar, jika dia adalah ayah Dio, maka wanita dari si pria berjambang itu adalah ibu Dio. Apa yang sebenarnya terjadi? Ayah Dio merampas Ibu Dio dari si pria berjambang itu? Sungguh keterlaluan.
Pria berjambang, aku berjanji akan mengembalikan wanita itu di sampingmu lagi.

Sesuai dengan yang ku rencanakan, malam ini aku akan menyelamatkannya. Tak mudah menemukan ruangan tempat wanita itu ditahan di dalam rumah sebesar istana.

“Siapa kau?”, tanya wanita itu.

“Kau tak perlu tau siapa aku, aku hanya ingin mengubah sejarah”, ku tarik tangan wanita itu dan ku ajak ia berlari keluar dari neraka dunia ini. Kami terus berlari dan terus berlari mencari pintu keluar.

Aku melihat pria gendut itu menampar seorang wanita lain ketika kami melewati sebuah koridor di dalam rumah besar ini.

“Kau harus bertanggung jawab”, rintih wanita itu.

“Enak saja, aku tidak mau. Aku tidak pernah melakukannya. Untuk apa aku bertanggung jawab”.

Suara hentakan kaki pria-pria besar di belakang, memaksa kami untuk melanjutkan perjalanan. Istri wanita berjambang itu menarik tanganku kuat-kuat.

“Kita sudah ketahuan, ayo percepatlah langkah kakimu”, ajaknya.

Ku toleh kedua orang yang tengah saling bertengkar itu. pria gendut itu benar-benar jahat sekali. Benar yang dikatakan pepatah, buah jatuh tak akan jauh dari pohonnya, Dio mewarisi sifat kejamnya.

Aku terjatuh. Badanku terperosok ke lantai keramik keras itu, kedua orang yang tengah bertengkar tadi menoleh ke arahku. Jantungku berdegup kencang, aku melihat wajah ibuku yang dipenuhi dengan tetesan air mata, berada tepat di depan pria gendut itu.

Aku berhasil. Berhasil menepati janjiku. Aku mengembalikan wanita itu ke samping si pria berjambang.

“Siapa kau?”, tanya pria berjambang itu yang berwajah mempesona itu.

“Aku .. aku ..”, aku tak mungkin mengatakan bahwa aku adalah tetangganya di masa yang akan datang dan mencuri mesin waktunya.

Ku ambil kalkulator yang berada di atas meja itu, segera berlari agar tidak ketahuan. Dan pria berjambang itu masih saja meneriakiku.

Aku tak tahu harus bagaimana lagi setelah ini. aku bahkan tak tahu bagaimana cara menggunakan alat ini, sedangkan kursi sofa dengan baling-baling itu entah berada dimana. Bagaimana caranya aku kembali?

Sebelum aku bisa menjawab semua pertanyaanku, tiba-tiba ku rasakan pening disekitar kepalaku. Tengkukku dipukul oleh benda tumpul, ku lihat samar-samar pria-pria besar itu tertawa puas.

Aku berada di kursi sofa dengan baling-baling yang mengintarinya. Aku telah menemukannya, namun dimana kalkulator itu? Dan tanganku .. tanganku diikat erat di pengangan kursi sofa ini.

Pintu terbuka, ibuku!

Wanita itu membukakan ikatan tali.

“Pergilah”, suruhnya.

Ketika aku akan keluar, tiba-tiba pria gendut tadi datang dengan beberapa anak buahnya.

“Mau kemana kau? Kau akan bisa pergi dari sini. Kecuali kau sudah tak bernyawa lagi. Hahaha”, pria gendut yang sangat licik.

Dengan senjata di tangannya, ia siap untuk membidikku. Ku lihat ibuku membawa semacam remote yang mirip dengan kalkulator pria berjambang itu. ku ambil paksa dari tangan ibuku, dan menekan tombol merahnya.

“Aarrgghh”, letusan pistol terdengar beberapa kali sebelum pria gendut itu mati terkena sabetan baling-baling yang mulai berputar. ku dorong Ibuku agar tak terkena pelurunya. Kepalanya terantuk lantai.

Aw, kaki kiriku.

Aku berjalan tertatih-tatih menuju kursi sofa itu, berhati-hati agar tidak terkena hembusan angin dari baling-baling itu.

Ku lihat samar-samar wajah ibuku yang cantik. Maafkan aku, Ibu. Cahaya putih itu semakin mendekat dan lebih mendekat. Sinarnya menusuk mataku sakit sekali, sesakit aku menahan peluru yang seakan-akan mematahkan tulang kakiku.

Aku terbangun di suatu pagi yang cerah. Di sebuah ranjang mahal yang tak pernah ku miliki sebelumnya. Aku beranjak dari tempat tidur, ku lihat kakiku yang masih bisa berjalan.

Ku pandangi foto-foto di dinding. Wajah si pria berjambang dan wanitanya. Akhirnya mereka bisa bersatu. Aku tak percaya aku bisa mengubah sejarah.

Namun yang ku herankan, ada foto Dio disana. Bukankah aku telah membunuh ayahnya? Kalau dilogika, pastinya Dio tak akan terlahir ke dunia ini. Karena wanita itu tak jadi dinikahi pria gendut kejam itu.

Tetapi, jangan-jangan … apakah Dio sebenarnya adalah anak si pria berjambang?

Aku berlari keluar, menuju kamar losmenku yang tepat berada di depan kamar si pria berjambang.

Hatiku terasa lega ketika mengetahui Rea sedang tertidur lelap dalam ranjang. Aku tak percaya, aku bisa mendapatkannya.

Tiba-tiba Dio masuk ke dalam kamar.

“Apa yang kau lakukan disini?”, tanyaku ketus. Namun ia tak merespon pertanyaanku. Dengan wajah tersenyum bahagia, ia berjalan menuju ke arahku, lebih tepatnya melewatiku. Bagai sebuah angin, ia mampu menerobosku, aku tak terlihat olehnya.

Diciumnya kening Rea, “Selamat pagi, istriku”.

Aku bingung apa yang terjadi padaku? Aku sudah mengubah sejarah namun kenyataannya aku masih tak bisa mendapatkan apa yang ku inginkan. Bahkan aku tak tampak oleh keduanya.

Pria berjambang dan istrinya muncul dari balik pintu, membawa kue cantik dengan lilin 27 di atasnya. Keduanya melewatiku dan tak menyadari bahwa aku ada disana.

22 April. Ulang tahun Rea. Ia dikejutkan oleh kedatangan Dio, si pria berjambang dan istrinya. Ia juga tak merasakan kehadiranku disini.
Jika Dio adalah janin yang dikandung oleh istri si pria berjambang itu, lalu anak dari pria gendut itu siapa? Aku kembali teringat pada ibuku dan pria gendut itu. Apakah aku adalah anaknya?

Aku merasakan tanganku yang mulai berubah menjadi transparan karena terkena cahaya matahari yang masuk melalui jendela.

Aku telah kehilangan sejarah, karena aku telah mengubahnya. Dan sebenarnya aku tak pernah terlahir ke dunia.

Dengan diiringi nyanyian “Selamat Ulang Tahun” untuk Rea, aku menghilang.

2 thoughts on “Kehilangan Sejarah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s