Di Dalam Dunia Kecoak

Sebelum pencemaran lingkungan mengubah alam beserta isinya, jaga dan rawat bumi kita sekarang juga.

Nino mendesah perlahan. Di bilik kamar mandi sekolah ia mengurung diri, lari dari mata pelajaran matematika yang tak disukainya.

Di dalam bilik yang kotor, di toilet duduk yang beralaskan buku paket matematika dengan ujung-ujung bukunya terlipat berwarna cokelat, ia duduk memainkan rol tisu yang telah habis isinya.

Di lantai yang basah oleh air, kecoak-kecoak berlari-lari mengintari sepatu Nino. Nino mengangkat kaki dan menghujami kecoak-kecoak itu dengan hentakan sepatunya. Satu dua kecoak mati, ada beberapa yang sekarat tak bisa berlari. Nino tertawa puas.

Tanpa sadar, ia menekan tombol yang berada di toilet itu. Bbyyuurr … air keluar, menyiram isi toilet yang tak ada kotorannya.

Seketika itu jarum jam tangan di pergelangan tangan kiri Nino berputar amat cepat. Jarum menitnya berulang-ulang kali melewati angka dua belas.

Nino kaget. Ia langsung berdiri, sempoyongan. Ia merasa dunia seakan-akan berputar terbalik. Ia terdiam beberapa saat sampai air dalam toilet itu berhenti bersuara.

Kepalanya keluar dari dalam bilik. Celingak-celinguk mengawasi situasi yang tak ada bedanya seperti keadaan semula ketika ia baru pertama datang lima menit yang lalu.
Kemudian ia menutup lagi pintu itu, kembali duduk diatas buku paket matematika dan memainkan rol tisu yang tak ada isinya. Lantai masih saja tetap basah. Kecoak-kecoak itu tak lagi tampak dalam pandangan Nino. Ia mengintip jam di pergelangan tangannya yang berputar semakin cepat.

Suara pintu terbuka diiringi derap langkah kaki yang lebih dari sepasang sepatu memasuki toilet. Nino terdiam, ia tak lagi memainkan rol tisu itu. Sepasang telinganya menguping.

Sseerr …
Terdengar suara air keluar dari kran wastafel.

“Kau dengar apa yang dikatakan Pak Dedi tadi?”, tanya orang pertama.
“Ya”.
“Dan kau masih akan tetap meneruskannya?”.
“Iya”, jawab orang kedua itu dengan lantang.
“Bodoh!”.

Suara aliran air berhenti, suasana hening merasuk ke seluruh ruangan yang hanya dihuni oleh tiga makhluk hidup itu.
“Jangan-jangan kau takut jika ketahuan? Begitukah? Dasar pengecut”.
“Ini bukan masalah siapa yang jadi pengecut, tapi ini masalah serius yang bisa mengeluarkan kita dari sekolah ini. Atau bahkan yang lebih parah, kita bisa masuk penjara”.

Di balik bilik kamar mandi, Nino meneguk keras ludahnya sendiri. Ia tak tau apa yang sedang dikatakan kedua orang itu.

“Itu resiko kita”, jawab orang kedua.
“Kita? Itu ide mu, bung”.
“Dan kau ikut andil dalam masalah ini kan?”.
Orang pertama itu diam. Nino mendengar langkah kaki yang digeser menjauhi biliknya. Nino yakin, salah satu dari kedua orang itu sedang menuju pintu untuk melihat situasi.
“Pabrik menginginkan bahan-bahan kimia itu lebih banyak lagi”.
“Pak Dedi sudah tidak memproduksinya lagi, kau mau mencuri dari siapa lagi? Semua ini gara-gara ulah mu”.
“Kenapa kau jadi menyalahkan aku?”.

Orang pertama itu tertawa keras-keras.
“Kau pikir apa yang menyebabkan Pak Dedi berhenti bereksperimen? Koran kota sudah memberitakan tentang masalah itu. Sisa bahan kimia yang kau buang sembarangan, meracuni sumber air kita”.
“Lalu apa hubungannya? Toh jika kita teruskan, uang akan mengalir deras masuk kantong kita”.
“Satu-satunya sumber air yang kita miliki terancam musnah dan kau tenang-tenang saja?! Kau pikir itu bukan salahmu? Sudah ku katakan, jangan buang sampah itu dalam toilet, kau tak mendengarkannya. Kau tahu, semua saluran pembuangan berakhir di penampungan terakhir yang akan dinetralisir lagi masuk ke dalam sumber air”.

Ia berhenti sejenak untuk mengambil napas panjang.
“Kita sudah diwanti-wanti Pak Dedi, kalau bahan kimia itu tidak bisa terurai dengan baik”.
“Aku tidak percaya. Bagaimana bisa semua itu terjadi hanya karena aku membuangnya sembarangan”.
“Tunggu sampai antenamu tak bisa berdiri lagi, kau baru akan percaya”.

Antena? Apa yang sedang mereka bicarakan? Tanya Nino dalam hati. Ia masih berada dalam bilik kotor itu.

“Antenaku baik-baik saja”.
“Kita lihat seminggu lagi, apa yang akan terjadi pada wajahmu. Wajahmu akan menyerupai wajah nenek moyang kita, manusia. Dengan hidung aneh seperti itu. Hahaha”.

Nino semakin penasaran. Ia naik di atas toilet duduk itu, ingin melihat kedua orang itu secara nyata.
Betapa terkejutnya Nino setelah mengetahui kedua orang itu ternyata mempunyai rupa seperti kecoak dengan pakaian seragam putih abu-abu.

Jantungnya berdegup dengan cepat. Dilihat jarum jamnya yang berputar semakin cepat saja. Ketika ia melangkahkan kakinya mundur, buku matematika usangnya terjatuh. Kedua orang diluar berhenti tertawa. Suara langkah kaki mereka semakin mendekat menuju bilik Nino.

Pintu bilik itu dibuka paksa.
AARRGGHH !!

Ketiganya saling berteriak ketika saling melihat. Nino melihat kedua kecoak sebesar dirinya berteriak tepat dihadapannya. Keduanya lari tunggang langgang melihat Nino yang bersembunyi di dalam bilik toilet.

Degupan kencang jantung Nino belum berhenti. Ia tak tahu apakah sekarang ia tengah berada dalam mimpi ataukah ini memang realita. Yang jelas kini ia tengah berada di dalam dunia kecoak.

Ketika melewati cermin besar di ujung toilet itu, Nino melihat dengan jelas sepasang antena keluar dari kepalanya. Ia merasa wajahnya mulai berubah semakin mirip dengan kedua makhluk tadi.
Kecoak.

Selesai.

4 thoughts on “Di Dalam Dunia Kecoak

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s