Bukan FiksiMini

Terinspirasi dari ..

———- 2011 ———-

The Sweetest One

Ia pria paling polos sedunia. Ia tak tahu apa-apa tentang seks, tentang kondom, ataupun tentang ejakulasi. Ia tak tahu adat pacaran ataupun cara merayu. Ia tak tahu segalanya.

Ia selalu melakukan apa saja yang aku pinta. Aku minta ia memegang tanganku, ia lakukan dengan kelembutan. Aku minta ia mencumbuku, ia lakukan dengan mesra untukku. Aku minta ia membuatku orgasme, hingga membuat ranjang ini panas oleh kelakuannya. Ia bisa melakukan apapun seperti yang aku minta.

Ia pria yang sempurna. Hanya saja hidungnya selalu berubah setiap kali aku bertanya padanya.

“Apakah kau melakukan semuanya hanya untukku?”.
“Ya”, jawabnya. Ujung hidungnya bertambah satu sentimeter.

“Apakah kau pernah melakukan seks sebelumnya?”.
“Tidak”, jawabnya. Ujung hidungnya bertambah panjang.

“Apakah kau mencintaiku?”.
“Ya”, jawabnya. Hidungnya semakin bertambah panjang.

Namun harus ku akui, ia adalah pria termanis yang pernah ku kenal.

Jangan Ganggu Kami

Tak ada yang pernah menyangka sebelumnya. Aku akan hidup normal seperti orang-orang kebanyakan.

Sekolah hingga perguruan tinggi. Menikah dengan pria yang ku cintai. Mempunyai kedua buah hati yang amat ku sayangi. Keluarga kami hidup bahagia dan sejahtera.

Tidak ada yang kurang. Semua terlihat begitu sempurna.

Hingga akhirnya rumah kami dimasuki tanpa ijin oleh sebuah keluarga lain. Dengan lancangnya mereka masuk dan mengubah tatanan perabotan rumah kami.

Aku menahan amarah suamiku agar tak meninju muka mereka dengan tangan besarnya. Anak-anakku menangis ketakutan.

Seorang pria berjenggot putih dengan sorban di kepalanya tiba-tiba datang dan menuju ke ruang tengah. Ia duduk bersila dan mulai merapalkan mantra.

Amarahku menjadi ketika ku cium bau kemenyan. Begitu juga suami dan anak-anakku.

“Jangan ganggu kami!”, aku menjerit.

Manusia Hujan

Mereka menyebutku manusia hujan. Ya. Aku memang terbuat dari hujan. Aku hidup ketika hujan tiba. Aku mati ketika hujan berhenti.

Aku tak punya kawan. Karena aku tak pernah bisa menjabat tangan mereka dengan tangan hujanku. Aku punya banyak musuh. Petani bawang, petani garam, bahkan anak sekolah. Semuanya membenciku. Mereka berkata bahwa aku hanya merepotkan mereka kalau aku ada.

Kenyataannya aku tak berguna bagi mereka. Aku sedih mendengarnya. Aku akhirnya pergi dan bersembunyi. Aku tak mau bertemu dengan mereka lagi. Hujan pun berhenti, kemudian aku mati.

Musim panas ini lebih lama dari biasanya, penduduk kehilangan sawah mereka. Semua sawah mati karena kekurangan air. Ibu-ibu kebingungan mencuci pakaian keluarga mereka karena sungai mulai mengering. Begitu pula ikan-ikan yang kehilangan habitatnya.

Penduduk berkumpul ramai di tengah lapangan. Mereka mulai berdoa dan melakukan tarian-tarian memanggil hujan.

Tapi aku terlanjur sakit hati. Aku tak mau datang lagi.

Gadis Sedih

Rumahnya berada di seberang jalan dari rumahku. Aku tak mengenal gadis itu. Tapi aku selalu tahu apa yang ia lakukan.

Gadis itu selalu bersedih. Ia selalu menangis memegang pipinya yang lebam kemerahan di setiap pagi. Ia sering memangku tangan di dagunya ketika malam tiba dari balik jendela kamarnya.

Gadis itu tak pernah keluar dari rumahnya. Namun di suatu malam aku menemukan dia berada di depan pintu rumahku, raut wajahnya dingin menatapku. Matanya menerawang. Sepuluh detik kemudian ia pergi menuju utara.

Ia mungkin tak tahu jalan. Jadi aku terus mengikuti kemana ia akan pergi. Nanti aku akan mengantarkannya pulang kembali.

Gadis itu menuju sebuah taman tak berpenghuni. Sepi. Kemudian ia duduk di sebuah ayunan tua hampir koyak. “Maukah kau mendorongnya untukku?”, tanyanya padaku.

Entah berapa lama kami berada disana. Yang aku tahu, dibalik raut wajah dinginnya ia terus saja tersenyum sepanjang malam.

Pagi harinya aku melihat bendera warna hijau dengan dua garis putih yang berpotongan berada di depan rumah gadis itu.

Perempuan dan Cinta

Hari senin pagi, ia datang dengan membawa sebentuk hati. Ia bertanya, “Apakah kau mencintaiku?”. Aku menggeleng. Selasa siangnya, ia datang lagi dan memberiku sebuah pelukan. Ia bertanya lagi, “Apakah kau mencintaiku?”. Aku menggeleng.

Rabu sore, ia mendaratkan sebuah kecupan di keningku. Ia bertanya, “Apakah kau mencintaiku?”. Aku menggeleng. Hari kamis siang, pipiku terasa panas oleh kecupannya. Ia bertanya, “Apakah kau mencintaiku?”. Lagi-lagi aku menggeleng.

Jum’at malam, bibirku yang beku dan dingin tiba-tiba terasa hangat ketika ia sentuh dengan bibirnya. Ia bertanya, “Apakah kau mencintaiku?”. Aku tetap menggeleng.

Pagi-pagi buta di hari sabtu, ia datang tanpa pakaian dan menggauliku sepanjang hari. Sore harinya ia bertanya, “Apakah kau mencintaiku?”. Dan aku menggeleng.

Perempuan itu hampir setiap hari datang padaku. Menawarkan cintanya yang tulus hanya untukku. Tapi aku selalu menolaknya.

Akhir minggu ia datang dengan membawa seorang perempuan lain. Ia bertanya, “Apakah kau mencintainya?”. Aku menggeleng.

“Aku mencintai laki-laki”, kataku.

Pria Sedunia

Suamiku pria paling tampan sedunia. Suamiku juga pria paling perkasa sedunia. Cintaku padanya melebihi cintaku pada diriku sendiri. Aku tak sanggup hidup tanpa dirinya.

Aku tahu ada yang aneh pada dirinya. Namun karena aku sudah mengenalnya dari dulu. Aku selalu menganggap hal ini biasa saja. Ya. Biasa saja.

Biasa saja ketika aku mencuci pakaiannya yang sering kali beraroma seperti perempuan.

Biasa saja ketika aku menemukan usapan bibir di sudut telinga bagian dalamnya.

Biasa saja ketika aku tak menemukannya di ranjang ketika tengah malam.

Biasa saja ketika aku menemukan cairan kental seperti cairan vaginaku pada celana dalamnya.

Biasa saja ketika ia selalu pergi meninggalkanku seusai menjawab telepon dari orang yang bersuara mirip perempuan.

Karena suamiku adalah pria sedunia. Maka biasa saja ketika ia tak hanya jadi milikku, ia juga dimiliki oleh siapapun di dunia ini.

Hanya Satu

Semua wanita ingin menjadi seperti dirinya. Wanita itu punya segalanya yang bisa membuat wanita lain iri kepadanya. Wajah paruh baya yang memukau, harta yang melimpah ruah, dan jabatan tertinggi di perusahaan terbesar di ibukota.

Anak-anaknya sukses menjalani tantangan kehidupan. Anak sulungnya telah menjadi dokter spesialis dan memiliki hak kepemilikan tiga rumah sakit swasta. Anak bungsunya telah menjadi sarjana arsitek dengan IPK tertinggi di kampusnya, kini menetap di luar negeri untuk studi lanjutan. Wanita itu sukses mendidik anak-anaknya menjadi manusia-manusia yang pintar.

Di istananya yang besar, wanita itu selalu sendirian. Setiap hari bahkan hari libur tiba. Rumahnya sepi, hanya ada ia seorang.

Wajah paruh baya yang memukau, harta yang melimpah ruah, dan jabatan tertinggi di perusahaan terbesar di ibukota. Anak-anaknya yang tak pernah datang berkunjung, bahkan suaminya jarang pulang ke rumah. Meskipun begitu ia tetap menganggap kehidupannya begitu sempurna. Kecuali satu.

Hanya satu yang tak ia suka dari kehidupannya. Yaitu saat di depan cermin dan ia menemukan sebuah kerutan di bawah matanya. Ia takut menjadi tua.

Semur Daging

Pasar dibuat ribut dengan stok daging yang terus berkurang dan itu menyebabkan harga daging yang semakin hari semakin melonjak.

Semua pedagang dibuat kebingungan, tak terkecuali Ayah.

Hari ini Ayah pulang tanpa membawa makanan, bahkan tanpa membawa uang sepeser pun. Ibu melontarkan caci maki yang diiringi raungan perutku.

Aku berlari ke dapur dan membuka tutup panci. Aku mendapati lima buah batu dan air mendidih di dalam panci itu. Kurasa Ibu sudah mulai gila. Aku tertidur dengan menahan tangis juga menahan lapar.

Aku terbangun karena mencium aroma sedap dari dapur. Ku tengok Ayah sedang memasak disana.

“Sebentar lagi matang”, Ayah tersenyum padaku.

Ketika makanannya telah siap, aku hanya mendapati Ayah yang bersamaku di meja makan. Saat aku menyuap sesendok penuh ke dalam mulutku, aku merasakan aroma tubuh Ibu berada di semur daging itu.

Penantian

Pria itu tertunduk lesu dengan menghadap secangkir kopi yang ia teguk setengahnya, ketika aku meninggalkannya.

Lima tahun kemudian.

Pria itu masih duduk disana, di sebuah meja cafe paling barat. Dengan wajah sumringah ia menyambut kedatanganku. “Apakah kau berubah pikiran?”, tanyanya tanpa basa-basi. Aku bahkan belum sempat duduk.

“Aku .. aku tak bisa”.
Wajahnya mengkerut, “Sudah terlalu lama aku menantimu. Apakah ini jawaban yang pantas aku terima?”.

“Maaf aku tak bisa”.
Aku meninggalkannya lagi. Ia tertunduk lesu dengan menghadap secangkir kopi yang belum diteguknya sama sekali.

Delapan tahun kemudian.

Seorang pelayan cafe mendatangi meja di sudut paling barat, “Maaf, Bapak mau pesan apa lagi?”.

Setengah berbisik pelayan di sebelahnya bertanya, “Kau berbicara dengan siapa? Tak ada siapa-siapa disana”.

Terkejut

Dita adalah orang yang tidak pernah terkejut. Aku selalu gagal membuat kejutan untuknya.

Ketika ku kagetkan ia pada tengah malam tepat di hari ulang tahunnya yang ketujuh belas. Ketika di persimpangan jalan sepedanya hampir ku tabrak dengan mobilku. Ketika aku berkata padanya bahwa ia adalah anak hasil perselingkuhan Ibunya dengan Ayahku.

Dita tak terkejut. Ia tak pernah terkejut.

Di suatu malam, aku nekat masuk ke dalam kamarnya melalui jendela. Ku kagetkan dia segera.

“Lihat! Kau memandang detak jantungmu sendiri!”.

Dita masih terus terpejam. Ia tak melihat segumpal daging yang ku bawa. Dadanya terbuka dengan beberapa tulang rusuk yang sengaja kupatahkan.

Darah merahnya berlumuran memenuhi ranjang. Jantung yang ku bawa berhenti berdetak. Dita tetap terpejam dan diam.

Sial.
Aku tak pernah bisa membuat Dita terkejut.

Ibu Baru

Aku adalah anak paling beruntung di dunia. Mengapa tidak, aku akan mempunyai Ibu. Ayahku mempunyai istri baru setelah sekian lama ditinggal mati oleh orang yang melahirkanku.

Seorang Ibu baru untukku. Ibu yang baik hati. Ia sangat baik hati.

Ibu selalu membangunkan Ayah dan membangunkanku di setiap pagi agar kami tak telat berangkat ke kantor.

Ibu selalu membuatkan sarapan paling istimewa untuk Ayah dan untukku. Tak jarang ia juga membuatkan bekal untuk makan siang kami.

Ibu selalu mencuci pakaian Ayah dan pakaianku. Sehingga ketika kami berangkat ke kantor, pakaian yang kami kenakan sangat rapi dan wangi, tidak lusuh seperti hari-hari kemarin.

Ibu selalu mengajarkanku hal-hal yang baru dan belum pernah ku ketahui. Misalnya saja malam ini ketika Ayah tak pulang ke rumah karena lembur. Di ranjang Ayah, Ibu mengajarkanku bagaimana cara bercinta dengan wanita.

Cincin Untuk Istriku

Wanita sangat suka perhiasan. Entah perhiasan yang terbuat dari emas, mutiara, perak, monel, ataupun imitasi sekalipun. Mereka tetap suka. Yang penting perhiasan itu bagus dan gratis.

Hari ini aku ingin membelikan perhiasan untuk istriku. Tak hanya cinta, aku ingin menghiasi istriku dengan kemewahan.

Apa yang sebaiknya aku pilih?
Sebuah kalung, gelang, ataukah cincin?

Wanita sangat suka dengan perhiasan yang mudah terlihat oleh orang lain. Entah bersikap menghargai pemberian suami ataukah bermaksud pamer kepada teman-temannya.

Ketika makan malam, ku keluarkan sebuah kotak dari saku kananku. Istriku terkejut senang bukan kepalang. Dipasangnya cincin itu di jarinya. Tidak muat.

Setelah lima tahun menikah, badannya terus membesar begitu pula jemarinya. Dari jempol sampai kelingking. Ia terus memaksakan agar cincinnya muat.

Aku tersadar. Ku keluarkan sebuah kotak dari saku kiriku. Ku berikan padanya, “Maaf sayang, cincin itu ku berikan untuk kekasihku yang lain. Cincin ini yang pas dengan ukuranmu”.

Wanita Pilihan

Aku adalah kembang desa. Aku pandai memasak, aku pintar mengaji, dan aku ahli mengurus rumah. Aku serba bisa. Banyak pria di desa ini yang memperebutkanku. Tapi Bapak selalu menolak mereka, alasannya mereka kurang kaya.

Tio memilihku sebagai wanita pilihannya. Ia memberikanku segalanya, ia memberikanku kebahagiaan, ia memberikan keluargaku kekayaan. Ia telah bertemu dengan kedua orang tuaku. Dan mereka menyetujuinya.

Betapa indah hidup ini ketika aku dibawa ke kota untuk tinggal satu rumah dengannya. Tinggal bersamanya untuk selamanya.

Memasak makanan lezat untuknya, menyeterika bajunya sampai harum, membuat lantai rumahnya licin mengkilat, dan membuatnya kepanasan di atas ranjang.

Dua hari kemudian, kami kedatangan seorang tamu. Seorang wanita muda dengan dua anaknya. Ia masuk ke dalam rumah dan melihatku tengah mencuci piring di dapur.

Ia memandangku curiga, “Mas, siapa wanita ini?”.

“Dia pembantu baru kita, sayang”.

Nilai Merah

Ia datang tergesa-gesa menuju ruang kerjaku. Setengah menggebrak meja, ia tunjukkan nilai merahnya padaku. “Saya tidak terima. Pokoknya saya tidak terima!”.

Lagi-lagi ia datang mencari masalah. Aku mendengus kesal. Melirik belahan dadanya dan nilai merahnya. “Terserah apa maumu. Keputusan tetap berada di tangan saya”.

“Katamu kau berjanji untuk mengubah nilaiku. Aku sudah melakukan apa yang kau minta”.

Masih teringat di kepala, minggu lalu di ruangan ini. Kecupannya, bentuk tubuhnya, dan desahannya yang sangat mirip dengan wanita yang ku kenal.

“Tapi nyatanya … Kau benar-benar …”, ia mengacungkan telunjuknya di ujung hidungku, tepat di tengah-tengah kedua bola mata.

“Akan ku laporkan kau pada jurusan. Biar mereka memecatmu!”, ia berbalik menuju pintu. Sebelum keluar, ia mengacungkan jari tengahnya padaku, “Dasar dosen biadab!”.

Aku tidak suka Ibumu dan aku benci padamu. Jadi jangan salahkan aku jika aku tetap tak mau mengubah nilai merahmu.

74bL@y 4L@y

Bu4T 3L0, 3L0, d4N 3L0. Gu3 b3R1t@u y4. 74n94n p3RN@h p3Rc4y4 4m@ c0WoK. 74N9@N $4mP3 k3M4k4N r@yu4NnY4. c0Wok iTu bu4Ya. duLu 9u3 pUnY4 c0Wok c4K3P, t471R, d4N puNy@ s394L@nY4 d3H. @Mp3 b1k!N iR1 $3mu4 c3W3K y4N9 4d4 d! duN14 1Ni. D4n mun9k1N L0 7u94 b4k4L 1R! 4m4 9u3. t@p1 iTu duLu. c@T3t ! iTu duLu.

h1n994 5u4Tu $aaT p45 9u3 L@91 cH3K-0uT d4R1 hOt3L b4r3N9 0M d0N1 y4n9 b4Ru t194 74M 9u3 k3N4L. 9u3 m3Nd4p4t1 c0w0K 9u3 L@91 53L1n9kuH 4m@ $0b4T 9u3. 50b4T 9u3 y4n9 p4L1n9 d3K3T t3G@ n93h14n4t!N 9u3.
$4k1T h4T1 t@u 94 $iH r4$@nY4 d1kHi4N@t1N. 5uMp4H d3H L0. $374k iTu 9u3 94 m4u L@91 p3Rc4Y4 4m4 y@N9 n4m@nY4 c0w0k d4N 7u94 50b4T. $3mu4nY@ buLL5h1T !

K3t1k4 9u3 m4$uk k3 k4M4R h0t3L m3R3k4 d3N9@N p4k54, 9u3 m3Nd4p4T1 m3R3k4 b3Rdu@ s3T3n94h t3L4n74n9 d1 4T45 r4n7@n9. 94 t4n99un9-t4n99ung, 9u3 94mP4R d4N 9u3 m4k1-m4k1 m3r3k4 b3rdu@.

“3L0 … 9u3 … 3nD !”, t3R14k 9u3.

unTun9 474 0M d0n1 y4n9 b154 n3n4n91n 9u3. 9u3 d147@k cH3k-1n L491 b14R 5u454N@ h4T1 9u3 74d1 t3n4n9.

Prince Charming

Sang putri terduduk di pojok sebuah ruangan kecil di puncak menara kastil. Sesekali memandangi indah bulan purnama dengan awan berarak ke selatan. Ia menanti bintang jatuh lagi. Bintang jatuh yang ke sepuluh.

Terdengar deru langkah kaki kuda mendekat. Sang putri menegoknya melalui jendela. Ia memandang ke bawah, sebuah kuda putih dengan seorang pangeran berbaju besi.

Sang putri menanti dengan was-was. Berharap dibalik pintu ia menemukan seorang pangeran tampan impiannya. Ini pangeran yang kesepuluh yang berusaha menyelamatkan sang putri. Kesembilan pangeran lainnya, yang tak berwajah rupawan, disimpan sang putri di dalam kamarnya untuk ia makan setiap malam.

Begitu pintu dibuka, sang putri terkejut. Ia terkejut karena melihat sang pangeran begitu tampan dan rupawan.

Sang pangeran rupawan lebih terkejut lagi. Ia menemukan sang putri yang diselamatkannya ternyata buruk rupa, kudisan dengan kutil di seluruh tubuhnya karena jarang mandi.

Pangeran menutup lagi pintunya. Membiarkan sang putri tetap terkunci di dalam untuk selamanya.

Peri

Anak kecil pasti percaya adanya peri. Namun Chila yang berumur delapan tahun tidak percaya adanya Peri. Di Sekolah Dasar sekolahnya, ia selalu berdebat bahwa Peri itu tidak ada.

Kata Nana, Peri itu cantik dan baik hati. Menggunakan gaun panjang berwarna pink dengan tongkat bintang menyala yang dapat mengabulkan semua permohonanmu.

Kata Fero lain lagi, Peri itu laki-laki tampan. Dapat terbang dan menggunakan serbuk ajaib untuk mengabulkan semua keinginanmu.

Ketika berumur lima tahun, Ayah bertanya pada Chila, “Apakah kau percaya adanya Peri?”.
“Iya, Chila percaya bahwa Peri itu ada dan Peri itu baik hati”.
“Ayah akan mendatangkan Peri untukmu”.
“Benarkah Ayah? Asyiiik …”.
“Iya. Ayah akan mengenalkan Ibu Peri kepadamu. Pengganti Ibumu yang dulu. Apakah kau senang?”.
“Ya! Aku senang sekali Ayah. Ibu Peri itu pasti baik hati dan selalu menolong Chila”.

Chila percaya adanya peri. Tapi itu dulu. Sebelum Ibu Perinya yang baik hati membuat kulitnya lebam-lebam di sekujur tubuh.

Atheis

Aku seorang atheis. Aku tidak percaya adanya Tuhan. Aku hanya percaya bahwa manusia dan alam semesta tercipta secara spontan melalui proses fluktuasi kuantum.

Tidak ada yang namanya surga dan neraka. Tidak ada kehidupan setelah mati ataupun surga. Semua itu cuma dongeng bagi orang-orang yang takut akan kegelapan.

Ketika aku pulang kerja di jum’at dini hari. Aku mengemudikan mobil dengan setengah mengantuk. Sekejap ku lihat sebuah truk nyelonong ke arahku dari arah berlawanan. Langsung ku banting setir ke arah kiri. Truk itu berhenti mendadak, membuat tubuhnya oleng dan tergeletak dengan barang-barang bawaan berceceran di jalan.

Mobilku keluar lintasan. Menabrak palang pembatas dan aku masuk jurang. Mobilku jatuh berguling-guling, suaranya berdebam lebam menggebuk-gebuk dada.

Di dasar jurang, mobilku rusak berat dan aku keluar dengan darah di sekujur tubuh. Ku lihat cahaya terang berpendar di atas sana.

“Ya Tuhan. Aku selamat”, gumamku.

Berdoa

Hari ini aku berdoa pada Tuhan lebih lama dari biasanya. Aku berdoa dengan sepenuh hatiku. Berharap agar Tuhan mengampuni segala kesalahan-kesalahan yang pernah ku perbuat.

Hanya satu doaku untuk hari ini, aku tak ingin dipenjara. Ya. Hari ini adalah hari dimana aku akan dieksekusi. Diadili di depan hakim dan jaksa penuntut. Aku berharap pengacara yang ku sewa dengan mahal dapat membual hebat sehingga mereka dapat membebaskan aku.

Aku tak melakukan kesalahan besar, Tuhan. Aku hanya ikut-ikutan mengambil paksa koper berisi uang gajian dari koperasi di desaku. Aku hanya membantu untuk memecahkan kaca mobilnya. Aku hanya membantu memenggal tangan ketika mereka tak mau melepaskan koper itu. Ya Tuhan. Aku ingin bebas.

Pengacara masuk ke dalam, dia berbisik di telingaku, “Mereka setuju dengan uang yang kita berikan. Kau dibebaskan”.

Aku menanggalkan pakaian yang ku gunakan untuk berdoa. Menutup kitab suci berdebu yang sudah lama tak pernah ku baca dan memasukkannya ke dalam tas.

“Ya Tuhan, semoga aksiku malam ini tak lagi ketahuan”.

Hari yang Sibuk

Si Istri kebingungan melihat tingkah laku suaminya. Hari yang sibuk. Suaminya berjalan seliweran di depannya. Mungkin suaminya lagi repot dengan urusannya di kantor, batin sang istri.

Siang harinya. Si istri melihat suaminya sibuk menelepon dari ponsel dan telepon rumah. Bahkan ponsel si istri pun di pinjamnya. Bunyi telepon berdering-dering bergantian dari telepon rumah, ponsel suami, juga ponsel istri. Sang istri yang kebingungan dengan kesibukan suaminya tak mau repot ikut campur urusannya, akhirnya ia masuk kamar dan tidur siang.

Ketika terbangun di sore hari, si istri bingung perabotan rumahnya banyak yang hilang. Terutama kursi dan meja.

“Kau kemanakan barang-barang kita, Pak?”.
“Memindahkannya sebentar ke rumah tetangga”.

Kemudian sang suami menata tikar di seluruh rumah dan menyuruh istrinya memasak makanan yang banyak. Sang istri kebingungan dengan apa yang terjadi pada suaminya yang sibuk.

“Mau ada acara apa sih, Pak?”.
“Bapak berinisiatif ingin mengadakan pengajian mendadak malam ini. Kami para bapak-bapak ingin mendoakan agar operasi payudara implan Melinda Dee berjalan dengan lancar”.

Rahasia Menjadi Cantik

Kata orang-orang aku cantik. Sangat cantik. Aku bahkan tak tahu apa definisi dari sebuah kecantikan. Ada yang suka dan ada yang tidak suka. Yang suka, jelas suami sahabatku yang kini jadi selingkuhanku. Yang tidak suka, banyak. Semua orang, terutama teman-teman kerjaku.

Ada yang menggunjing bahwa aku melakukan operasi plastik untuk membuatku tetap muda dan bertambah cantik. Ada yang bilang bahwa aku memakai susuk dari dukun Banyuwangi, agar aku selalu terlihat menawan dan menarik hati setiap lelaki apalagi suami orang.

Mereka selalu bertanya padaku, apa rahasianya?.
Aku tak punya rahasia. Tak ada rahasia untuk menjadi cantik.
Kau pasti tak ingin memberitahukannya kepada orang lain agar kau tak punya saingan, kan?!, kata mereka setengah megejek.
Aku tak butuh saingan untuk jadi pemenang.

Ayolah, katakan saja apa rahasianya? Kami tak akan membocorkan rahasiamu, pinta mereka.
Aku hanya rajin minum air putih.
Tak mungkin hanya itu saja. Kau pasti berbohong, kata mereka.

Aku tidak berbohong. Aku selalu rajin minum air putih setiap hari. Aku meminum air putih yang sebelumnya ku kencingi.

Wanita bertato

Jika menemukan pria bertato, sudah wajar dan lumrah di dunia ini. Namun jika menemukan wanita bertato, sudah tentu mengundang perhatian setiap pria untuk menatapnya.

Apalagi ia terbilang masih kecil, masih duduk di sekolah menengah atas. Muridku sendiri. Karena tak di perbolehkah oleh sekolah, ia menutupi tatonya dengan jilbab dan pakaian panjang yang setiap hari dipakainya.

Tidak untukku. Aku tak pernah melarangnya untuk menutupinya. Ia bebas melepas jilbabnya kapanpun ia mau. Bahkan pakaiannya.

Telanjang bulat ia berbaring di sofa ruang televisiku. Ku pandangi tubuhnya yang beranjak dewasa. Ku sentuh setiap tato yang tersebar di kulit mulusnya. Ia menggeliat manja.

Satu, dua, tiga, empat, lima.
Tatonya di setiap minggu bertambah satu. Kurasa ia kecanduan.

“Kenapa kau suka sekali menato tubuhmu?”.

“Aku hanya ingin menutupi bekas luka yang selalu Ayah berikan padaku”.

Sidik Jari

Aku dianugerahi kekuatan oleh Tuhan. Seperti sebuah mukjizat, aku mampu melihat sidik jari dimanapun ia berada. Bahkan aku mampu untuk mengingat dan menebak milik siapa sidik jari tersebut.

Tak jarang aku menyalahgunakan kemampuanku. Lima tahun lalu, aku membunuh suamiku dengan tanganku sendiri. Namun aku mampu menghapus sidik jariku dari pisau yang ku gunakan. Ayah mertuaku lalu ditangkap polisi karena dianggap sebagai pelaku pembunuhan. Yang sebelumnya ku taruh sidik jarinya di tempat kejadian perkara.

Salah siapa membuatku marah seperti itu. Suami yang selalu jajan di luar dan tak pernah pulang ke rumah. Suka memukul dan memaki tanpa sebab. Ayah mertua yang doyan mabuk juga bejat karena ulahnya hingga aku melahirkan anak laki-laki.

Namun semua itu sudah berlalu. Kini aku hidup bahagia. Dengan anak laki-lakiku dan suami baruku yang selalu menjaga kami dengan baik.

Akhir-akhir ini ku lihat anak laki-lakiku lebih banyak diam. Ia tak seaktif biasanya. Mungkin ia sedang sakit. Ku periksa badannya dan aku menemukan sidik jari suamiku di bagian pantat dan selangkangannya.

Karena Dia

Terbangun jam enam pagi oleh suara pertengkaran pria dan wanita dari tetangga sebelah. Tanpa sarapan, tanpa mandi, juga telat berangkat kerja.

Sesampainya di kantor, diomelin atasan gara-gara kerjaan tidak rapi. Menghabiskan makan siang dengan merokok di toilet. Melanjutkan kerja dengan rasa malas. Pulang sebelum jam kerja habis.

Dengan pakaian kerja yang masih melekat, pergi ke kafe untuk cuci mata. Dilanjutkan dugem sampai mabuk.

Pulang tengah malam. Tanpa ganti baju, tanpa mandi, langsung membaringkan diri di ranjang. Tertidur dengan pintu rumah yang masih terbuka.

Setiap hari selalu seperti itu.

Tapi tidak untuk hari ini. Sejak dia ada di meja depan berseberangan dengan meja kerjaku. Ku rasa aku harus mandi dan menjaga asupan makan. Lalu berangkat kerja lebih pagi. Menyelesaikan tugas dengan rajin dan baik. Memperbanyak lembur, pulang ke rumah tanpa mampir kemana-mana lagi. Sepertinya aku harus tidur lebih cepat agar bisa segera bertemu dengannya esok hari.

Bulan Juni

Aku tak suka bulan Juni.

Bulan Juni, bulan dimana kecelakaan mobil menewaskan kedua orang tuaku. Dan aku harus masuk panti asuhan khusus laki-laki dengan anak-anak nakal yang tak pernah berbaik hati padaku.

Bulan Juni, bulan dimana aku dipungut seorang janda kaya yang mengidap kelainan seksual. Aku menjadi budaknya selama bertahun-tahun.

Bulan Juni, bulan dimana aku ditolak mentah-mentah oleh lelaki pujaanku. Dia dan teman-temannya menghajarku habis-habisan sampai seluruh tubuhku hancur. Dokter bilang kemaluanku harus dipotong.

Bulan Juni, bulan dimana aku dipindahkan ke rumah tahanan untuk seumur hidup karena membunuh seorang janda dan memutilasi sekelompok pria dengan memakan tubuh mereka hidup-hidup. Mereka bilang aku psikopat.

Bulan Juni, bulan dimana aku harus dipendam karena mayatku membusuk di kolong sel tahanan.

Aku benar-benar tak suka bulan Juni.

Tekan

Disaat kantor sepi, aku membaringkannya di meja kerjaku. Membuka baju yang menutupi tubuhnya. Aku menyukai warna putihnya.

Ku raba tato di punggungnya. Dingin dan datar. Sedikit ada benjolan-benjolan kecil disana. Tak masalah. Aku tetap menganggapnya mulus.

Ku sentuh bagian vitalnya, ia meraung. Badannya panas. Wajahnya yang lesu mendadak terpancar cerah dan menyinariku dengan kehangatannya.

Ku masukkan sesuatu yang berwarna cokelat dan mempunyai ujung persegi panjang ke dalam salah satu lubangnya. Ia meraung-raung.

Aku menekan setiap inci dari tubuhnya.

Tekan. Tekan. Tekan. Tekan.
Tekan. Tekan. Tekan.
Tekan. Tekan.
Tekan.

Hanya dua bagian yang tidak bisa ditekan.
Huruf we dan angka sembilan dari keyboardnya.

Jatuh Cinta

Ia selalu berada di taman ini setiap sore. Entah bermain bersama kawan-kawannya ataupun sekedar berjalan-jalan menikmati segarnya udara sore hari.

Aku selalu berada di taman ini setiap sore. Entah ingin menikmati sisa usiaku ataupun sekedar memandangnya dari kejauhan.

Aku suka melihatnya tersenyum. Aku suka poninya. Aku suka kunciran rambutnya. Aku suka rok merahnya. Aku suka semua dari dirinya.

Tak sekalipun aku menemuinya. Sore ini sore terakhirku untuk menikmati hidup. Aku harus tahu siapa namanya.

Hai. Siapa namamu?.
Adel.

Tiba-tiba Ibunya datang dan mengajaknya dengan paksa untuk pergi dariku. “Jangan berbicara dengan orang yang tidak dikenal. Apalagi dengan kakek tua itu. Mengerti?”.

Gadis kecil berumur lima tahun itu mengangguk pelan.

Adel. Nama yang indah. Oh Tuhan, aku jatuh cinta.

Frankenstein

Kecelakaan sepuluh hari yang lalu, menyebabkan aku dirawat di rumah sakit. Aku melihat jahitan melingkar di kepala. Kepalaku terasa enteng. Sepertinya kepalaku tak berotak.

Aku mengenal seorang gadis tanpa nama. Ia hampir setiap hari lewat di depan kamar tempat aku dirawat. Pura-pura tidak memperhatikan tetapi matanya terus menyorot ke dalam kamar.

Suatu ketika ia memberanikan diri masuk ke kamar dan mengatakan bahwa ia mencintaiku.

Aku tak sempurna.
Aku tak peduli. Aku tetap mencintaimu apa adanya.

Kami akhirnya menikah. Aku berharap, semoga kehidupan yang akan kami jalani berakhir dengan bahagia.

Malam pun tiba, ku buka pakaian. Ia menjerit pingsan ketika melihat dadaku berlubang tanpa jantung dan paru-paru.

Keputusan

Dua keluarga besar tengah berkumpul di ruang keluarga. Keluargaku dan keluarga calon suamiku. Ada yang asyik tidur, ada yang asyik makan, dan ada yang asyik mengobrol sendiri-sendiri. Sesekali ricuh seperti suasana rapat di ruang DPR MPR.

“Bagaimana keputusanmu?”, tanyaku.
“Ya. Tidak masalah. Aku setuju”. Jawabannya diiringi kebahagiaan, kesedihan, dan berjuta-juta cibiran orang.

Itu sepuluh tahun tahun yang lalu. Kini, kami berkumpul kembali di ruang keluarga.

“Bagaimana keputusanmu?”, tanyaku.
Kau diam tak berani bicara. Ibumu menyuruhmu untuk menceraikanku dan menikahi gadis yang bisa memberimu keturunan. Ayahmu menyuruhmu agar meninggalkanku karena kau hanya menghambur-hamburkan uangmu untuk biaya pengobatanku.

Sepuluh tahun yang lalu kau dan keluargamu rela menerimaku yang telah divonis menderita kanker payudara dan kanker serviks.

Sudah ku katakan sejak dulu. Aku tak ingin punya anak.

Barter

Bani terdiam di pojok kamarnya. Di sekitarnya berserakan uang berwarna merah menyala. Merobeki gambar Bung Karno sehingga terpisah dengan Bung Hatta.

Ia tak peduli dengan uang. Ia tak peduli tentang orang. Ia tak peduli dengan dunia. Ia kembali merobeki berlembar-lembar uang merah di dalam koper yang bukan miliknya.

Satu jam yang lalu Bani datang ke rumah Santi. Dengan membawa mobil dan sekoper uang, Bani ingin membarternya untuk dapat meminang Santi.

Ia akhirnya pulang dengan membawa kembali mobil, sekoper uang, dan ditambah gambar tangan memerah di pipi.

Tiga jam yang lalu Bani pulang ke rumahnya. Merampas sekoper uang milik orang tuanya, melepaskan peluru tepat di dada Ayahnya, dan membawa kabur uang-uang dalam koper. Bani membarter sekoper uang dengan nyawa Ayahnya.

Bani masih terdiam di pojok kamarnya. Tak ada selembar uang pun disana yang bisa disobek lagi. Akhirnya ia merobek urat nadinya sendiri.

Bani membarter kegagalan dengan nyawanya.

Pohon Kelapa

Akarnya mencengkeram erat bagai pasak bumi. Urat-uratnya keras berkumpul di pusat bumi.

Batangnya sekokoh baja. Terlihat lentur jika dilihat dari jauh, namun amat sangat keras jika dilihat dari dekat.

Nyiurnya melambai mendayu-dayu. Menari dibelai dengan lembut, kadang terbang karena ditampar angin kejam. Ulat-ulatnya senantiasa tinggal berdiam disana, menggerogoti daunnya sedikit demi sedikit hingga habis tak bersisa.

Buahnya yang bermanfaat dapat mengobati segala penyakit. Tunas yang sangat mudah tumbuh menyebabkan pohon kelapa dapat berkembang dimana-mana.

Pohon kelapa. Dari bawah sampai atas semuanya bermanfaat untuk manusia dan juga untukku.

Aku bukan siapa-siapanya dari pohon kelapa ini. Tak bermanfaat untuknya juga untukmu.

Aku hanya seorang beruk yang hanya mendapatkan makan dari hasil memanjat.

———- 2012 ———-

Berbagi

Dua wanita bergamis. Selalu bersama-sama. Dalam kegiatan kajian, kegiatan kampus, kegiatan amal, bahkan acara memasak sekalipun.

Mereka adalah sahabat akrab. Tak ada yang melebihi kedekatan mereka bahkan jiwa dan raga sekalipun.

Mereka suka berbagi. Berbagi makanan, pakaian, buku, dan ilmu. Betapa indahnya berbagi. Berbagi kebahagiaan dan berbagi kesedihan.

Suatu ketika salah satunya menikah dengan pria beragama. Pintar berceramah dan merupakan sosok terpelajar di kampungnya. Menjadi panutan masyarakat karena kebaikan hatinya.

Hari ini tiba-tiba si istri menangis diiringi hujan yang baru saja turun ke bumi. Seperti guntur ia marah, berteriak, dan melaknat suami sendiri. Suami memandang sang istri iba.

Katamu kau mencintaiku karena Tuhanmu. Lalu mengapa tak kau izinkan aku menikahi wanita lain yang juga mencintaiku karena Tuhannya? Bukankah kau suka berbagi dengan sahabatmu sendiri.

Mesin Waktu

Pria itu terkesima. Melihat seorang wanita cantik keluar dari tabung raksasa yang terpancar cahaya dan asap-asap putih nan dingin. Ia berhasil menghidupkan kekasih hatinya yang jiwanya telah lama pergi.

Kali ini ia tak akan pernah menyiakan waktu. Ia akan selalu bersama dan selalu ada untuk wanita itu. Tak akan pernah mematahkan hatinya untuk kedua kali.

Wanita itu berdandan cantik sekali. Disana, tepat di seberang jalan sang pria menunggu dengan hati gembira. Ketika menyeberang tiba-tiba tubuhnya terbawa moncong bus sekolah. Potongan tubuh si wanita berada tepat di meja hadapan kekasihnya.

Orang-orang berhamburan layaknya putik yang ditiup angin. Semua berteriak. Pria itu diam. Tak berteriak karena ketakutan juga tak berteriak karena kehilangan kekasihnya lagi.

Karena ia tersadar, bahwa tak ada yang mampu merubah takdir Sang Pencipta Kehidupan.

Zombie

Kau tau apa itu zombie? Masih termasuk dalam golongan manusia yang beraga namun tak punya jiwa. Ya. Sama seperti dia. Dia adalah zombie.

Ya. Wanita itu. Bukan yang memakai topi mahal dengan lipstik merah murahan. Bukan juga yang berkerudung dengan pakaian ketat seperti telanjang. Bukan juga yang merokok dengan asap mengepul seperti pria. Itu yang paling utara. Siapa lagi yang berdiri di sebelah sana dengan wajah pucat dan pakaian lusuh. Tanpa make up dan kilauan permata. Tak ada yang menarik dari dirinya.

Cara berjalannya seperti robot. Ia bahkan tak punya lekuk tubuh. Ku rasa ia tak punya otot untuk digerakkan. Ia kaku sekali. Sama kakunya dengan rambut yang tak pernah disisr. Keriting tak karuan seperti sarang burung berjalan.

Wajahnya selalu muram. Matanya tak pernah terpancar kebahagiaan. Hatinya membeku tak lagi terjamah. Ia tak pernah tersenyum. Benar-benar tak pernah menyunggingkan bibirnya. Pernah sekali aku melihatnya tersenyum tulus dari hati, itu sebelum aku mati dan membuatnya jadi seperti ini.

Lebih Dari Ini

Dan akhirnya engkau berbalik. Setelah melepasku dengan pelukan. Kau berjalan menjauhiku yang tengah mematung melihatmu menggenggam tangannya.

Aku dapat mencintaimu lebih dari ini. Kau tau?

Tapi kau tak akan pernah mau tau. Tau apa kau dengan penderitaannku?

Terlambat, katamu. Aku tau bahwa semua ini terlambat. Terlambat untuk mengejar cintanya dan terlambat untuk kembali ke pelukanmu.

Lalu aku harus apa ketika tak ada seorangpun yang mau mengaku sebagai ayah dari bayi ini?

Menghindar

Aku berlari ke hutan. Bersembunyi di balik pepohonan. Bersembunyi di balik kelamnya awan. Bersembunyi di balik hawa manusia kejam.

Tapi kau menemukanku.
Aku harus menghindarimu.

Aku berlari ke pantai. Menuju kerasnya ombak. Bersembunyi di balik batu karang. Bersembunyi di balik birunya laut. Bersembunyi di balik putri duyung.

Namun kau tetap menemukanku.
Aku tetap harus menghindarimu.

Kau tau? Tak ada pembunuh yang lebih kejam darimu. Diam-diam mengikuti tanpa pernah ku sadari. Lalu kau tikam tepat di jantungku. Membuatku jatuh dan hanyut ke dalam arus cintamu.

Bahkan ketika aku sampai ke hilir, disana ada kau yang siap menantiku. Merentangkan kedua tanganmu, hingga aku terjatuh dalam pelukan samudera kasihmu.

Adakah jalan lain untuk menghindarimu?
Tapi kau tak mau melepaskan pelukanmu.

Hati yang Tersakiti

Aku dapat memaafkan segala sikap kasarmu padaku. Aku dapat melupakan kesalahan janjimu yang tak pernah kau tepati. Namun aku tak dapat memaafkan segala keingkaran yang kau pendam selama ini. Aku dengan tulus menyayangimu. Kau begitu sempurna di mataku. Dewasa dan bijaksana, tanpa ku tau kekurangan padamu. Bayang semu. Aku benarbenar dibutakan oleh cinta.

Aku tak pernah menyangka akan terjadi seperti ini. Ketika kau katakan bahwa ada dua cinta dalam hatimu. Bukankah salah satunya sudah kau buang jauh dalam anganmu? Mengapa kau lagilagi bandingkan aku dengannya?

Salahku yang tak benarbenar mengenalmu. Ternyata kau orang yang kejam. Begitu pula dengannya. Mengapa kalian berdua masuk dalam kehidupanku? Mengapa aku yang harus jadi korban? Jika kau lebih mencintainya, mengapa kau harus menyakiti aku? Salah apa sampai aku harus menanggung kepedihan yang mendalam.

Kau pikir dengan mengatakan semuanya, lalu aku akan memaafkanmu begitu saja? Tidak. Kau harus membayar semuanya. Kembalikan hatiku, kembalikan jiwaku, kembalikan keperawananku.

Kembalikan .. kembalikan semuanya .. atau .. pematik ini yang akan menjawabnya.

Dikabarkan dalam sebuah surat kabar, seorang bisu nekat membakar habis kelamin seorang pria beristri lima.

Warisat

Untuk: Gina

Aku tak menyalahkanmu, yang telah masuk dalam kehidupan kami. Namun aku belum bisa melupakan semuanya bahkan memaafkannya. Tapi banyak hikmah yang bisa ku ambil dari peristiwa ini. Bahwa hati manusia tak sebagus kelihatannya. Bahkan hatinya lebih busuk hingga baunya sampai mengganngu oranglain. Manusia berhak untuk berencana, tapi Tuhan yang menentukan. bahkan Ia yang akan membalas apa yang kita perbuat di masa lalu.

Untuk: Brian

Aku menyayangimu, namun cintamu telah membunuhku. Aku berjanji dalam hati bahwa malam ini terakhir kalinya aku menangis karenamu. Tak usah lagi bimbang dalam memilih. Aku keluar dari permainan ini. Ku relakan kau pergi bersamanya. Bukannya aku menyerah, namun aku tak mampu lagi untuk bertahan. Daripada melukai diri lebih baik kita akhiri sampai disini. Terimakasih atas segalanya. Terimakasih karena telah mendewasakanku hingga saat ini. Aku akan berusaha menjadi yang lebih baik lagi, tapi bukan untukmu. Selamat jalan kekasih. Semoga Tuhan selalu melindungi jalanmu bersamanya.

Untuk: Dito

Meskipun kau bukan keluargaku, tapi aku sangat berterimakasih karena telah menganggapku sebagai kakak perempuanmu. Namun sampai kapanpun aku akan tetap menjadi kakak perempuanmu, jika kau mau. Tolong sampaikan kepada ayah dan ibu, terimakasih karena telah menganggapku sebagai anak perempuannya. Terimakasih terimakasih terimakasih.

Dari:

Akbar

*Warisat (dalam bahasa planet) =wasiat seorang waria

Karma

Pria yang kucintai, jatuh ke pelukan seorang janda beranak dua. Ia tega meninggalkanku dan ketiga anakku. Si bungsu terus saja menangisi ayahnya yang tak kunjung pulang. Si sulung selalu pulang malam, dan sempat ku cium bau alkohol di mulutnya. Si tengah yang trauma .. tak bisa mencintai lelaki.

Pukulan demi pukulan kerap kali ku terima jika aku melakukan kesalahan. Salah memasak, salah menata meja kerjanya, ataupun salah mengatur posisi tubuhku ketika bersetubuh dengannya.

Lima tahun lalu, aku mencuri sesuatu dari sahabatku. Sesuatu yang amat berharga, melebihi dunia ini .. melebihi apapun di alam semesta. Hingga sahabatku mati bunuh diri dengan menenggelamkan dirinya ke laut. Aku hanya mengambil lelakinya.

Si bungsu berteriak ketakutan melihatku berlumuran darah dengan kepala hampir terlepas dari badan. Tanpa sadar aku gorokkan pisau ke leherku, ketika ku lihat si tengah berpelukan dengan arwah sahabatku.

Orang jahat

Ia termasuk orang jahat. Seringkali menampar anak terkecilnya untuk melampiaskan kemarahan pada suaminya.

Ia termasuk orang jahat. Selalu mengumpat tak jelas, meludahi, dan mengencingi setelah ia menghabisi nyawa musuhnya.

Ia termasuk orang jahat. Terbiasa untuk berbohong pada istrinya bahwa masakannya enak.

Ia termasuk orang jahat. Tak pernah lupa untuk menyisipkan sedikit hasil korupsi pada uang yang berikannya kepada pengemis kecil.

Ia termasuk orang jahat. Ketika di dalam bus tak pernah mengalah untuk memberikan tempat duduk kepada wanita tua renta.

Ia termasuk orang jahat. Di depan ia terlihat manis dengan hijabnya, namun tak ada yang tau bahwa ia menjadi istri simpanan seorang polisi.

Aku?

Aku juga termasuk orang jahat. Kau lihat diseberang sana, seorang wanita dengan pakaian putihnya dengan tangan dan kaki dirantai besi. Aku telah melenyapkan akal sehatnya dengan menolak, ketika ia datang padaku meminta pertanggung jawaban atas bayi yang dikandungnya.

Jatuh Patah Cinta

Seperti apa rasanya jatuh cinta?

Segalanya. Aku dapat merasakan desiran darah mengalir hangat memenuhi relung sukmaku. Serasa dada menjadi penuh dan kelebihan muatan, berimbas pada senyum yang tanpa sengaja ku pancarkan setiap saat. Seperti kupukupu yang terbang di dalam perutku, perasaan bercampur aduk yang membuatku kegelian. Memandang segala sesuatunya secara lebih baik, bahkan keburukanmu pun tak dapat ku lihat.

Aku dibutakan oleh cinta.

Seperti apa rasanya patah hati?

Segalanya. Ketika kau berdusta dan membuat janji diatas ingkar. Serasa ditikam berkalikali oleh gelegar petir. Hingga membuat kondisi tubuh memburuk dan tak berkesudahan, berimbas pada sepasang mata yang dibanjiri kecewa hingga memancarkan kehampaan semesta dan ketiadaan api. Dingin dan membeku. Semua amarah berkumpul dalam dada, membuatku sulit bernapas. Bahkan untuk memandang masa depan pun aku tak sanggup. Aku tenggelam dalam nista kemunafikan dunia.

Tapi Tuhan selalu ada. Ia membukakan mata hatiku ketika indera penglihatanku basah dan terluka.

———- 2013 ———-

Nota

Masyarakat dikejutkan atas meninggalnya seorang ustadz yang namanya tersohor di seluruh penjuru desa. Ustadz Qidin meninggal di tengah-tengah ceramahnya. Subhanallah.

Orang-orang meninggalkan sawah-sawahnya, berhenti sejenak untuk mengantarkan Ustadz Qidin menuju liang lahat, menuju rumah terakhirnya. Berbondong-bondong mereka ikut mendoakan Ustadz Qidin agar amal ibadahnya diganjar setimpal dan diterima di sisi Allah SWT.

Ustadz Qidin terbangun di sebuah ruangan luas berwarna putih. Saking putihnya, ia seakan-akan tak menapak. Ia mulai berjalan, kesana-kemari dan tak menemukan ujungnya.

Ketika Ustadz Qidin mulai kelelahan, ia melihat sebuah gulungan putih yang berada di kakinya. Diambilnya gulungan itu. Sebuah gulungan nota. Dibacanya satu persatu kalimat-kalimat yang tersusun panjang.

Amalan sedekah. Dikurangi rasa sombong dan riya’.

Amalan berhaji tiga kali. Dikurangi tindakan korupsi dari sumbangan uang musholla.

Amalan berceramah dan mengatakan hal-hal baik. Dikurangi janji yang tidak pernah ditepati.

Dengan jantung berdegup kencang, ia terus membacanya sampai akhir.

Terkejutlah Ustadz Qidin ketika melihat kesimpulan di akhir tulisan. Nota Ibadah, NEGATIF.

Konde

Aku terkejut saat aku secara tak sengaja menyenggol sesuatu yang besar dan menyembul. 

Astaga! Konde? Tapi, siapa yang pakai konde di rumah ini?

Kata Ibu, konde itu milik Mbak Nita, mbakyuku yang akan melangsungkan pernikahannya dengan Mas Fajar. Yang ku tahu bukankah Mbak Nita mengambil tema eropa untuk pernikahannya? Aku yang mengantar ketika Mbak Nita fitting white dressnya yang berkilauan permata. Mengapa sekarang malah ada konde di rumah ini?

“Ganti tema, nduk. Keluarga Mas Fajar ndak setuju”, jelas Ibu.

Kemudian Ibu menyuruhku mengantarkan konde ini ke rumah Mbok Sumi. Konde ini belum sempurna, kata Ibu.

Mbok Sumi adalah penjahit tertua di desa kami. Ia bisa menjahit, menyulam, bahkan membuat konde. Konde-konde buatannya tidak banyak, orang bilang limited edition, hanya orang-orang tertentu yang bisa mendapatkan konde buatan Mbok Sumi. Padahal konde yang dibuatnya biasa saja, konde tradisional tanpa ada sentuhan kreatifitas era modern seperti saat ini, akan tetapi mengapa ada daya tarik istimewa ketika konde itu ku pegang. Apalagi orang yang memakai konde ini pasti akan sangat menawan. Mbak Nita pasti menjadi wanita tercantik di dunia.

“Sopo iku?”, teriakan Mbok Sumi dari dalam rumah memecah lamunanku. Ia tertatih membuka pintu yang berderik seram seperti rumah hantu.

Ku lihat sekeliling, rumah Mbok Sumi memang rumah hantu. Tak ada satupun jendela yang dibuka, cahaya-cahaya matahari masuk dari genteng-genteng rumah yang berlubang. Kain perca sisa jahitan yang tak pernah disapu dan tumpukan-tumpukan rambut berceceran di sudut ruangan.

Bulu kudukku merinding ketika mengingat cerita teman-teman bahwa konde dibuat dari rambut yang berasal dari rambut orang mati.

Aku pun memberikan konde itu untuk dipermak sempurna oleh Mbok Sumi dan ingin segera pergi dari sini, secepatnya!

“Kate nangdi kowe, cah ayu?”.

“Kulo .. kulo badhe wang-wangsul mbok”.

Aku bergegas pergi ke arah aku masuk tadi. Pintu itu tak bisa dibuka, kuncinya hilang!

Mbok Sumi terkekeh-kekeh.

Perasaanku semakin tak karuan saat mendengar derikan tongkat Mbok Sumi yang semakin mendekat dan berlahan mendekat.

Seketika itu bumi menjadi gelap gulita.

Sebulan yang lalu.

“Masak kowe ndak tahu? Yang namanya priyayi selalu menikah lebih dari satu istri. Dan kowe tahu, nduk, yang dinikahi itu biasanya masih satu saudara dengan istrinya sendiri. Bisa jadi Mas Fajar ndak hanya menginginkanmu jadi istrinya, tapi juga adikmu, Mira!”.

Nita tertegun di sofa. Niatnya menikah adalah untuk membuktikan pada keluarganya bahwa ia lebih cantik dari Mira, lebih pintar dari Mira, dan lebih beruntung dari Mira karena bisa mendapatkan suami kaya, terkenal, dan masih ada hubungan darah dengan keluarga keraton.

“Lalu bagaimana a-aku bisa mencegahnya?”, tanya Nita sedikit tercekat.

“Gampang itu, nduk. Kowe tau Mbok Sumi? Coba kowe pikir bagaimana konde-konde Mbok Sumi bisa laris dibeli sama orang-orang keraton? Mbok Sumi punya resep rahasianya”.

“Apa rahasianya?”.

“Kowe bawa adikmu, si Mira itu kesana, ke rumah Mbok Sumi. Pasrahkan saja wes pada Mbok Sumi. Yang kowe tahu hanyalah pernikahanmu dengan Mas Fajar bakal langgeng dunia akherat”.

Aku terbangun di ruangan pengap dan gelap. Ku raba di sekelilingku yang berbau anyir darah. Sebuah jasad. Ah! Dua, tiga, .. banyak! Aku ketakutan dan mencoba berlari mencari pintu. Jasad-jasad itu ku injak-injak dan sesekali aku terjatuh tepat mencium hidungnya. Beribu kali aku memutari ruangan itu, meraba-raba dindingnya. Tapi aku tak dapat menemukan jalan keluarnya.

Aku menunduk, menangis sejadi-jadinya. Mengapa kepalaku menjadi terasa ringan? Ku raba kepalaku. Rambut panjangku menghilang.

Arti kata bahasa jawa :

  • Nduk = Panggilan untuk anak perempuan
  • Mbakyu = Panggilan untuk kakak perempuan
  • Sopo iku = Siapa itu
  • Kate nangdi kowe, cah ayu = Mau kemana kamu, anak cantik
  • Kulo badhe wangsul, mbok = Saya mau pulang, mbah
  • Kowe = Kamu
  • Priyayi = Keturunan bangsawan

Operasi

“Pa, ayo kita balik arah!”.

“Untuk apa sih ma, jalan ini kan jaraknya paling dekat dengan rumah kita. Kalau muter apa ga tambah jauh, toh?”.

“Di depan ada operasi polisi, pa”.

“Papa bawa surat-surat lengkap kok. Mulai dari KTP, SIM, STNK, sampai buku nikah kita pun sudah papa bawa”.

“Enggak pa, ayo kita putar arah saja. Mama ingin jalan-jalan”.

“Jalan-jalan kemana sih, Ma? Solar juga hampir habis. Kita pulang saja”.

Sirine polisi meraung-raung membawa kami berdua, setelah mereka menemukan kepala putriku dari istri pertama yang menghilang seminggu yang lalu, tergeletak di bagasi mobil.

Istriku tersenyum.

Sial. Aku lupa menaruh pisau dapurnya disana!

Polisi Tidur

“Belok kiri saja, sayang. Apa kau tidak melihatnya?”.

“Melihat apa? Tidak ada papan penghalang jalan disini”.

“Tapi aku melihat gambar tengkorak tersilang di sisi jalan tadi. Kita tak boleh melewati jalan ini”.

“Kau salah lihat”.

“Tapi .. apakah kau tidak merasa aneh? Sepertinya terlalu banyak polisi tidur disini?”.

Pacarku berteriak ketika ku nyalakan lampu depan. Mayat-mayat bergelimpangan di jalanan.

“K-kita harus kembali. P-pergi dari s-sini. Ayo cepaaat!”.

“Kenapa harus terburu-buru?”. Taringku keluar.

Vanilla

DILARANG MAKAN ESKRIM! Kata ibu guru kepada kami berlima. Kemudian beliau pergi meninggalkan kelas dan membiarkan eskrim itu berdiri sendirian di tengah-tengah kerumunan kami. Telunjukku terlujur untuk mencoleknya.

Jangan! Nita menampik tanganku keras. Kata ibu guru tidak boleh.

Tapi aku ingin tau bagaimana rasanya, kataku sambil menelan ludah. Diiringi anggukan teman lainnya.

Telujuk Dion maju. Nita menghalanginya. Telunjuk Soni maju. Nita menghalanginya. Telunjuk Fajar maju. Nita menghalanginya.

Aku bilang TIDAK BOLEH! Kata Nita sambil berkaca pinggang memunggungi eskrim lezat itu.

Kami berempat bertatap muka lalu ramai-ramai menjulurkan telunjuk pada setangkup eskrim yang mulai meleleh itu.

JANGAN!

Nita terjatuh dan kakinya basah oleh eskrim. Kami berebut menjilatinya.

Rasa apa ini? Tanyaku.

Semacam kapas lembut yang tersentuh malaikat. Manis dan menggelora dalam lidah.

Vanila! Seru Fajar.

Ya. Ternyata eskrim rasa vanila itu memang enak.

Tak berhenti kami menjilatinya sampai ketika ibu guru datang, berteriak, lalu pingsan. Saat melihat Nita yang kehilangan sebagian kaki kanannya. Mulut kami belepotan darah.

14 thoughts on “Bukan FiksiMini

    • aldilalala berkata:

      ahaha😀 jadi alai harus teliti membaca setiap arti karakter per karakter. coba dibaca aja deh bang, pake kaca pembesar🙂

    • aldilalala berkata:

      Hehehe. Dokumen dari taun 2011 itu bang🙂 Nah itu dia kelemahan saya, ga bisa bikin POV selain dari orang pertama. Pernah nyoba, tapi ga berasa di hati *tsaaah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s