Wish

Aku berlari mengejarnya, ia semakin menjauh. Entah apa yang salah denganku, denganmu, dengan kita. 

“Tunggu sebentar! “, ku gengam lengan kirinya dengan tangan kananku. Ia berhenti tapi tak mau menoleh. Bisa saja ia sangat marah padaku, bahkan untuk melihatku pun ia muak. 

“Jangan pergi. Aku ingin mengatakan sesuatu”, lengannya tak lagi menegang, tanda ia mau mendengarkan. Ku kalungkan lenganku, memeluknya. Punggungnya melekat pada dadaku, aku yakin ia tahu seberapa cepat detaknya beradu. 

“Han, kau kenapa? Kau bukan lagi Hani yang ku kenal. Telponku tak lagi kau pedulikan. Setelah sekian lama, apa yang terjadi padamu?”.

Hani diam saja, mematung dingin tak menjawabku. 

“Padahal aku ingin fokus kepadamu, bukan pada yang lain. Tapi jika kau seperti ini, lebih baik aku mundur saja”.

Hani melepas pelukanku, memutar badan. Kami berhadapan. Jantung kami berdegupan. Aku tak mampu melihat matanya. 

“Aku lelah, Vo. Aku siapamu? Aku tak berhak memilikimu, tak berhak cemburu, tak berhak menjadi prioritasmu.  Setelah sekian lama, kau bilang sekarang ingin fokus padaku. Jadi selama ini aku nomer ke berapamu? “.

Aku tertegun. Ia mengembalikan semua ucapanku. Apa yang harusnya ku jawab? Apa lebih baik aku diam saja? Berpura-pura menjadi patung. 

“Kenapa baru sekarang, Vo? Saat kau telah tergantikan, setelah hatiku tak lagi untukmu. Kau datang lalu menghilang. Aku coba melupakanmu. Kemudian kau datang lagi, minta dicintai lagi. Setelah sekian lama kau bilang: jangan terobesi, cinta tak selamanya harus memiliki, lalu kau menghilang. Tiba-tiba datang membawa harapan. Selalu seperti itu reinkarnasi cintamu padamu. Apa kau pikir tidak lelah mencintai dengan cara seperti itu? “.

Ia mengulurkan tangannya, aku menjabatnya. 

“Jika kau sadar seberapa penting aku dalam hidupmu, jadi prioritasmu, kembalilah untuk pulang. Jika bukan, kau bisa pergi selamanya”.

Aku tetap mematung. Melihatnya pergi meninggalkanku. Tidakkah membingungkan, seharusnya yang berada pada posisi marah adalah aku, tetapi mengapa aku jadi merasa bersalah padanya. 

Katakan Han, haruskah aku berlari mengejarmu? 

Akankah kau mau memaafkanku? 

Akankah kau mau menerimaku lagi dalam pelukanmu? 

–*

Vo, kau sangat menyebalkan. 

Backsong: DAY6 – Congratulations

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s