Bukan Seperti Dulu

Aku akan tetap menulis, sama seperti dulu. Walau hatiku tak lagi untukmu. Akan ada kisah cinta kita dalam ceritaku, tapi bukan lagi tentangmu. Tak perlu membawa perasaan karena perasaanmu kan telah mati sejak dulu.

Hei, tak usah bersedih. Ini bukan salam perpisahan. Kita hanya tumbuh dewasa dan mengerti bahwa cerita kita memang salah. Sadarilah bahwa tak perlu ada tangis dan air mata, nikmati saja dan sesapi rasa sakitnya. Lambat laun kau akan lupa akan segalanya, akan aku, akan kita. 

Sesungguhnya daripada membiarkanmu terlarut dalam kebohongan bahwa aku tidak lagi mencintaimu, lebih baik membiarkanmu menelan kepalan rasa sakit yang menyelimuti dada. 

Tak perlu merasa bersalah, walaupun memang semua ini adalah salahmu seutuhnya. Aku hanya berpikir rasional. Tentang hidup, bernapas, memberi, menerima. Bahwa tak akan pernah ada cinta yang tidak menuntut untuk tidak dibalas, semuanya ingin dan harusnya memang terbalas. Menjadi prioritas, menjadi segalanya, menjadi semuaku. 

Imajinasi. 

Mari kita kembali pada realita bahwa kau tak pernah ada untukku, maka aku tak mau lagi menunggumu. Maaf. Aku bukan pilihan dan aku punya pilihan. Selamat tinggal cinta, kau berubah dan aku telah tumbuh dewasa. 

–*

Sebuah kisah di taman bermain anak-anak, jam tujuh malam. 

Iklan

4 thoughts on “Bukan Seperti Dulu

  1. Nuhid berkata:

    Aku pilihan. Kau pilihan. Kita semua pilihan.
    Aku ada. Kau ada. Kita ada.
    Kendati hakekat keberadaan adalah ketiadaan.
    Kau berusaha menutup luka masa lalu. Padahal sesungguhnya kau tengah mengorek-ngoreknya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s