Cafe Muller

Katamu: “Ingatlah aku! Ingatlah aku! Tapi, ah! Lupakan takdirku!”

Tak pernah ada cara yang baik untuk mengingat saat yang meresap ke bawah pori dan tersesat dalam pembuluh.

Takdir, kekasih, adalah gunting yang memutus yang ada dan pernah ada. Dan dalam gelap itu kita akan lupa.

Jika saja aku tahu, kata-kata tak pernah pulang, takkan kubiarkan kamu memberikan ciuman terakhir itu.

–*

Halaman 149-150

Buku Tentang Ruang

Avianti Armand

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s