Ibu Bekerja

Barusan baca postingan di facebook teman, begini katanya:

Saat seorang wanita memilih menjadi Ibu Rumah Tangga. Ketika kawan kita yang lain memilih bekerja sebagai pegawai, kita bilang ia menggadaikan masa depan anak. Ternyata ia bangun lebih pagi dari kita, belajar lebih banyak dari kita, berbicara lebih lembut pada anaknya,dan berdoa lebih khusyuk memohon pada Tuhan untuk penjagaan anak-anaknya, sementara kita? Sibuk mencibir dia dengan segala pilihannya.

Tau banget deh, padahal yang posting tulisan itu laki-laki. Pengertian sekali dia. Memang, pengorbanan Ibu Bekerja tak pernah nampak oleh tetanggašŸ™‚

Saya memang meninggalkan anak untuk bekerja di luar. Saya menitipkan anak saya pada Mama, yang saya percaya karena pengalaman beliau mendidik saya dan adik-adik saya. Kami (saya dan suami) numpang di rumah Mama tapi kami punya dapur dan kamar mandi sendiri. Masak dan mencuci sendiri, agar pengeluaran biaya bulanan bisa terlihat jelas. Mama juga tidak pernah mempermasalahkan saya mau makan enak dan beliau tidak, tidak masalah. Selama saya cukup saya bisa memberi separuh dari makanan yang saya beli. Kami juga menerapkan sistem mengontrak disana, sekedar membayar kamar, air, dan listrik untuk meringankan beban Mama. Saya tidak pernah membebankan kebutuhan anak kepada Mama. Susu dan popok harus kami sediakan sendiri. Camilan, coklat, dan permen untuk Za. Walaupun terkadang dibelikan juga.

Saya mewajibkan diri saya sendiri dengan mengharuskan Za mandi sebelum saya berangkat kerja, atau sebelum saya serahkan ke Mama. Agar tidak merepotkan terutama, tapi lebih ke anak juga agar dia merasakan punya Ibu. Walau Ibunya tak pernah 24 jam bersamanya.

Mama juga menghormati waktu saya bersama Za. Ketika saya pulang, setelah mandi sore lebih tepatnya, Mama menyerahkan Za sepenuhnya pada saya, tidak ikut momong lagi. Benar-benar quality time antara kami.

Saya banyak belajar dari Mama soal mengurus anak. Seperti menerapkan peraturan-peraturan sederhana yang sangat berpengaruh pada kehidupan anak. Seperti jam tidur, Za harus tidur sebelum jam delapan malam dan bangun jam empat pagi.

Kadang banyak teman (sebagai orangtua) mengeluhkan bahkan memposting di sosial media bahwa anaknya belum tidur hingga tengah malam, atau memberitakan bahwa jam sembilan pagi anaknya tak kunjung bangun. Menurut saya itu tak patut diberitakanĀ seperti itu di media sosial.

Bersyukur sekali bahwa Za tidakĀ dididik seperti itu. Dari kecil jam tidur Za tak pernah telat, kadang saja kami harus berjuang membuka mata jika dia bangun lebih pagi dari kami. Tapi itulahĀ resiko orangtua, tanggung jawab ikut melek bersamanya. Jangan dibuat keluhan, karena kalian yang tidak bekerja diluar, tak pernah merasakan bagaimana rindunya kami kepada anak di jam-jam sibuk seperti ini. Hingga kami memaksa diri sendiri untuk bangun lebih pagi, menyiapkan segala kebutuhannya, pulang lebih cepat agar bisa bersamanya.

Ketahuilah bahwa tak mudah menjadi Ibu Bekerja. Ini pilihan kami dan kami tau segala resikonya. Jangan pernah membandingkan karena kita punya pilihan masing-masing.

–*
CurcolšŸ˜€
Thanks to Mama yang pengertian banget :*

2 thoughts on “Ibu Bekerja

  1. annisahavni berkata:

    Keren banget tulisannya, aku sebagai ibu rumah tangga selalu salut kok sama ibu2 yg kerja buat cari tambahan untuk keluarga terutama anak, karena jaman sekarang berasa banget bakalan susah kalo cuma ngandelin gaji suami doang, aku juga ibu rumah tangga walau belum punya anak tapi aku jg cari uang dr hasil online shop, kerjanya jd di rumah tp lumayanlah buat shopping-shopping kebutuhan pribadi jd ga melulu mesti minta2 sama suami heheheh..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s