Jikapun Harus Jujur

Sebut saja aku pendusta. Karena tak bisa memandangi wajahmu walau hanya sepuluh detik. Aku bisa saja terpesona oleh kedipan, tapi dari semua kebohonganku untuk tak ingin bertemu denganmu adalah aku takut kau dapat membaca mataku. Tak hanya ada kau disana, tapi semuamu yang tak semuanya punyaku. Kau dan segala cerita tentang pria tukang tambal ban membuatku ingin mendengar setiap episodenya. Apa yang terjadi denganmu dan dengannya, apa yang sebenarnya di dalam hatimu dan hatinya, hingga kau tak pernah merasakan apa yang kurasa padamu.

Sebut saja aku pendusta. Ingin kau mati saja dan menghilang dari dunia ini. Sebab keberadaanmu yang membuat aku membeku seperti cuilan es kutub selatan. Menyejukkan namun membuat kehilangan arah. Sebab bersamamu aku tak pernah bisa membedakan antara utara dan selatan, barat dan timur, kebenaran dan kebohongan, jalan sesat dan arah pulang.

Sebut saja aku pembohong. Tak ingin melihatmu, menyentuhmu, memelukmu. Sebab ada atau tiada kau seperti bantal guling dalam kamar tidurku. Kau ada, aku tertidur memelukmu. Kau tiada, aku tetap tertidur, merasakan lenganmu menjangkau pelukku.

Jikapun harus jujur, aku membutuhkanmu. Sebenarnya. Namun urung ku ucap karena dia tengah memegang tanganku erat. Jikapun harus jujur, aku ingin dia adalah kau. Setidaknya aku ingin kau membelah diri, sisakan satu yang seperti dirimu untukku.

–*
Dan, jikapun harus berdusta .. katakan kau cinta aku.

5 thoughts on “Jikapun Harus Jujur

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s