Sendiri di Perahu Kecil

Sendiri di atas perhau kecil. Di tengah samudera yang kubuat sendiri. Yang terbuat dari cerita panjang.

Tentang senangku kenal dirimu. Ini aku.

Di hukum terlunta-lunta. Sebab berontak untuk. Mengalah beri hatimu pada. Yang lain. Masih sendiri.

Berhari-hari mengambang. Aku coba kuatkan hati.

Bintang-bintang menahan geli. Ombak tabrak perahu kecil. Aku hampir jatuh keluar. Lautan kata berkedalaman. Cinta.

Walaupun jadinya susah. Aku tidak menyesal. Sendiri. Diombang-ambing angin yang kembali ribut. “angin tolong jangan paksa aku! Aku tidak bisa ikut denganmu! Cinta dia aku mengaku!”

Badai pun usai. Syukurlah. Mereda. Dan tetiba sepi.

Burung-burung membisu. Awan tak anggap ku ada. Lelah juga. Yang kubisa hanyalah kangen.

Angin seret perahuku — perlahan aku terheran.

Sejauh apa tempat tuk perahu ini boleh berlabuh dan aku terbebas dari rindu akan kekasih orang?

Yang kubisa hanyalah kangen.

Angin seret perahuku — perlahan aku terheran. Sejauh apa tempat tuk perahu ini boleh berlabuh dan aku terbebas dari rindu akan kekasih orang?

–*

Halaman 57.

Sekarangku.

Zarry Hendrik.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s