Sempat

Sempatlah mengenang kita. Tentang semangkok bakso di jalan  panjang, kecupan di bilik kamar mandi, dan guyuran hujan yang datang tiba-tiba. Bahwa kita pernah menari di bawahnya, bahwa kita sempat menjadi kita.

Luangkan waktu untuk mengenang kita. Waktu lima belas detik dalam jabatan tangan, tatapan mata, dan sekumpulan kupu-kupu menari-nari dalam perut. Bahwa ada yang lebih dekat dari nadi dan arteri. Bahwa ada yang lebih jauh dari hati dan perasaan.

Kenanglah kita dalam patah. Seperti ujung-ujung pensil yang digemeratakkan papan tulis. Kecil, rapuh, dan tak berarti karena ujungnya bisa diraut kembali. Bukan cinta namanya jika tidak dikatakan cinta sebelum patah. Bukan cinta namanya jika tidak disebut sebagai kasih tanpa termiliki.

Aku mengenangmu dalam ingatan fana jangka pendek. Rambut ikal berminyak, kacamata buram kehitaman, serta seberkas luka dari mata hingga siku. Kecupan rasa permen cokelat, sentuhan rasa kembang kapas, lembut dan begitu menggoda.

Sempatlah mengenang aku. Yang ada untuk telinga dan keluhmu. Yang khawatir tentang tubuh ringkih dan lukamu. Yang kagum melihat caramu mencintainya.

Maka sempatlah untuk mengenang kita, tapi tidak selalu. Karena tak pernah ada kata selalu. Selalu adalah kata yang digunakan orang untuk mengingkar. Dan kita tak ingin saling mengingkar, melupakan janji, untuk saling melengkapi dan berbagi hati.

Sempatlah menoleh barang sejenak. Agar haus rinduku terbayar dan aku tak harus bermimpi buruk karena kehilangan senyumanmu.

One thought on “Sempat

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s