Tomorrow

Sebelumnya

image

Kau berada di tengah ilalang. Hijau, kuning, bunga dan rumput menemani keindahanmu. Menatap langit luas, katamu. Kau ingin menjadi awan karena aku adalah mataharimu. Berarak kesana kemari. Membentuk senyuman untuk menemani hariku. Membentuk gambar hati agar aku tau bahwa kau selalu mencintaiku.

Aku tau, Hani.

image

Kau berada di tengah kelopak mawar merah yang telah ku sebar di rerumputan. Harummu dan harumnya mengisi rongga dadaku. Hingga aku tak mau menghembuskan napas karena aku takut kau dan keharumanmu akan hilang ketika ku lepas napas.

Jangan takut, katamu. Bernapaslah.

Aku tau bahwa kau telah hinggap di relung sukmaku. Tak akan pernah kehilanganmu, tak akan pernah kehilangan harummu.

Aku tau, Hani. Aku selalu tau dari apa yang kau tau.

image

Aku membaringkan tubuh ke kanan, memejam. Membaringkan ke kiri, memejam. Masih jam dua pagi, Hani. Aku masih tak bisa tidur. Setiap ku pejamkan mata, selalu ada bayangmu. Bayangmu yang terus melekat dalam ingatanku. Bayangmu yang terus melekat dalam kelopak mataku.

Yang aku inginkan hanyalah sesegera mungkin bertemu dengan hari esok, bertemu denganmu. Hari esok, esoknya lagi, esok dari keesokan harinya lagi.

Tak bisakah aku selalu melihatmu setiap hari, Hani? Menjadi yang terakhir ketika ku pejamkan mata. Menjadi yang pertama membangunkanku dengan kecup hangatmu.

Aku mencintai setiap hari setiap aku dapat bertemu denganmu. Semua hari kecuali hari minggu. Dan hari ini adalah minggu dini hari. Aku harus berjuang melewati dua puluh empat jam, bahkan lebih, hanya untuk melihat senyummu esok hari.

Pintu berderit. Dibuka kemudian ditutup perlahan. Langkah kakinya menuju ranjangku dengan hati-hati. Membaringkan tubuhnya di belakangku. Tangannya terulur memeluk. Tangan istriku yang terbangun di dini hari setelah menidurkan anak-anak dan kemudian tertidur di ranjang bersama mereka.

“Belum tidur?”, tanyanya.
“Belum”, jawabku.
Ia tau napasku berhembus tak teratur.
“Ada yang kau risaukan?”.
“Ya”.
“Apapun masalahnya, kau pikirkan nanti saja. Sekarang tidurlah”, ucapnya sayang.

Hani. Tidak bisakah ku pinjam hatimu? Risauku tak bisa tenang hanya dengan tidur semalam. Aku harus melewati tiga puluh jam untuk sampai di pelukanmu. Tiga puluh jam.

Haruskah ku hitung mundur waktu untuk hilangkan risauku?

108000 detik, 107999 detik, 107998 detik, …

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s