Curhat buat Sahabat

Sahabatku, usai tawa ini. Izinkan aku bercerita:

Telah jauh, kumendaki. Sesak udara di atas puncak khayalan. Jangan sampai kau di sana.

Telah jauh ku terjatuh. Pedihnya luka di dasar jurang kecewa. Dan kini sampailah, aku di sini …

Yang cuma ingin diam, duduk di tempatku. Menanti seorang yang biasa saja. Segelas air di tangannya, kala ku terbaring … sakit. Yang sudi dekat, mendekap tanganku. Mencari teduhnya dalam mataku. Dan berbisik: “Pandang aku, kau tak sendiri, oh, dewiku …”. Dan demi Tuhan, hanya itulah yang. Itu saja kuinginkan.

Telah lama, kumenanti. Satu malam sunyi untuk kuakhiri. Dan usai tangis ini, aku kan berjanji …

Untuk diam, duduk di tempatku. Menanti seorang yang biasa saja. Segelas air di tangannya, kala ku terbaring … sakit. Menentang malam, tanpa bimbang lagi. Demi satu dewi yang lelah bermimpi. Dan berbisik: “Selamat tidur, tak perlu bermimpi bersamaku …”.

Wahai Tuhan, jangan bilang lagi itu terlalu tinggi.

Rectoverso. Dee.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s