Bahagia

<< Sebelumnya.

Pantry

Pintu pantry terbuka seperti mesin waktu yang membawaku kembali ke suatu masa. Dimana aku dan kamu bersama dalam satu waktu, satu tempat, satu rasa.

Seperti biasanya, seperti keadaan yang kita tahu bahwa pantry tengah kosong ketika jam makan siang. Aku masuk dengan ogah-ogahan. Ingin tidak masuk tapi lidah ini kelu tanpa secangkir kopi. Ingin masuk tapi hati ini kelu tanpa kehadiranmu.

“Hani akan menikah! Kau tahu itu?”, tanya Edi pagi tadi.

“Ya. Aku juga mendapatkan undangannya”, jawabku ringan.

“Ah. Aku tidak sabar untuk menghadiri pernikahannya. Pasti Hani akan terlihat cantik seperti Cinderella”, ujar Edi.

Tidak. Ia seperti bidadari.

“Apakah kau tahu seperti apa calon mempelai prianya? Aku rasa akulah yang lebih pantas mendampingi Hani. Aku tampan, baik hati, walau tidak begitu kaya tapi aku bisa menghidupinya”, timpal Edi.

Ada yang lebih pantas untukknya .. aku.

“Mengapa dia menikah sekarang? Tidak menungguku saja. Ah. Sepertinya aku patah hati”, kelakar Edi.

Bukan hanya patah, hati ini hancur lebur bagai debu.

Akhirnya ku putuskan untuk mengambil cangkir, menuangkan kopi dan air hangat. Asapnya mengepul membuat barisan awan berjajar di kacamataku. Memburamkan pandanganku tentang sosoknya yang begitu sempurna.

Duduk menghadap pintu sambil mengelap kacamata dengan kertas tisu, mengharapkanmu datang kesini menemaniku seperti dulu.

“Apakah benar kau menyukaiku?”, tanyamu penuh selidik.

Aku mengangguk, meminum sedikit kopi hitam pekat. “Hani, tidak lelahkah kau menanyakan hal itu padaku? Sudah sejuta kali kalimat tanya itu terlontar darimu”.

“Maaf, aku hanya ingin memperkuat hatiku. Sebab aku tak mau jatuh cinta seorang diri”.

Kemudian kau merebahkan kepalamu di pundakku. Ku cium pelan-pelan wangi rambut yang selalu membuatku rindu.

“Apakah kau akan selalu berada di sisiku?”.

Pertanyaan lain yang lebih dari sejuta kali ia tanyakan lagi. Hatinya mungkin tengah bimbang diantara aku dan orang lain, tunangannya. Lebih tepatnya akulah si orang lain itu.

“Aku akan menjadi rekan kerja, kakak laki-laki, sahabat, kekasih, aku akan menjadi apapun asalkan bisa selalu bersamamu”.

Hani memelukku dan mendaratkan seberkas kecupan di kemeja kerjaku, tepat di bahu tempat ia bersandar tadi.

Kembali ke meja kerja. Aku memilih menikmati secangkir kopi yang mulai mendingin ini di luar pantry, memilih keluar dari kehidupanmu. Ku tengok kubikel meja kerjamu, kau tak berada disana untuk tidur siang sambil menelungkupkan wajah dengan earphone yang memutar lagu All I Have to Give berulang-ulang kali, lagu kita.

Mungkin kau tengah berada di cafe depan kantor. Mengobrol dengan kawan-kawan membahas tentang baju pernikahan atau mungkin kau berada di apartemen sebelah tengah asyik berduaan dengan dia.

Aku mendengus kesal. Kopi ini terlihat semakin menyebalkan untuk disentuh. Ku teguk. Aku tersedak sesaat setelah merasakan kopi pahit bercampur garam di lidahku.

Apa-apa’an ini?

Aku kembali ke pantry. Kembali untuk mengganti kopi, bukan untuk kembali mengingatmu dan mengingat cinta kita. Tidak. Aku yang memilih. Bukan kau. Bukan juga cinta.

Aku putuskan untuk bahagia tanpamu.

Begitu pintu pantry terbuka, ku lihat kau duduk disana. Apakah kau menungguku, cinta?

Enam bulan yang lalu.

“Hai. Aku Dani”.

“Aku Hani”.

“Sepertinya kita berjodoh. Pengucapan nama kita hampir sama”.

“Bisa jadi”, kau terbahak.

“Apakah kau sudah punya pacar?”.

“Aku sudah bertunangan”, katamu sambil menunjukkan cincin.

“Ah, aku patah hati”, candaku.

Kau tertawa, “Dan kau?”.

“Aku punya seorang istri dan dua orang anak”.

“Oh. Aku kira kau punya seorang anak dan dua orang istri”.

“Bisa jadi kalau kau mau jadi yang kedua”.

“Boleh saja kalau kau menginginkannya”.

Aku terdiam. Candamu, senyummu, bahagiamu membuatku rindu.

#DAN

One thought on “Bahagia

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s