Rasa

<< Sebelumnya

Berjingkat sesekali ketika ombak berusaha membelai kaki kecil. Rok putih naik turun dikecup genit sang angin. Tangan melambai-lambai, menari bersama bayangan. Indah.

Lalu kau menoleh.

“Kenapa harus di belakang? Berjalanlah di sampingku”, ajakmu.

Aku masih dapat melihatmu dari sini. Aku masih dapat merasakan kebahagiaanmu dari tempatku berdiri. Aku masih dapat mencumbui senyumanmu yang hangat ditimpa matahari senja seperti ini. Aku masih bisa, walau tak berada di sampingmu, walau tak bisa selalu denganmu. Walau berjarak. Jauh darimu.

Kau berjalan mendekat. Menggenggam tangan sekaligus hatiku, erat. Sanggupkah aku bertahan tanpa ikatanmu?

“Tidak bisakah kita menikmati keindahan matahari senja ini, sayang?”.

Kau menatap matahari jingga keemasan setengah lingkaran dibatasi samudera biru berkilat-kilat. Matamu memantulkan keindahannya.

Aku ingin menikmatinya, namun sunset kali ini telah membuatku terluka. Terluka atas keputusanku, terluka atas pilihanmu, terluka atas takdir kita. Lantas haruskah aku menikmati luka ini?

Kau mencubit kulit untuk membentuk senyuman di pipiku.

“Tersenyumlah sedikit saja”.

Aku masih menatap matanya. Sendu.

“Berbahagialah”.

Aku masih menatap senyumannya. Palsu. Kau mencoba berpura-pura untuk bahagia. Demi aku.

“Aku akan baik-baik saja”.

Aku tahu itu. Dia pasti bisa menjagamu, menyayangimu, merindukanmu lebih dari aku.

“Aku akan tetap menyayangimu”, ucapku setelah sekian lama terdiam memandangnya.

Bulir air mata menetes diam-diam. Aku mengusap pipimu yang telah mendingin, seperti sebongkah hati ini.

“Apakah kita masih bisa bersama?”, air matamu mulai deras mengalir, “.. Seperti saat ini?”.

Ku dekap tubuhnya. Tangisnya menjadi. Dadanya naik turun tak dapat menahan pedihnya hati.

“Percayalah. Aku akan selalu menyayangimu”.

Tangismu tak mereda. Mataku tiba-tiba basah.

Hari telah berakhir. Matahari hilang dimakan debur ombak samudera. Bulan bintang di angkasa bergelayut rendah, memeluk kami. Seakan mereka tahu bahwa kesedihan datang bersama senja.

Senja dimana aku harus berpisah dengan cinta, berakhir denganmu. Menenggelamkan segala kenangan tentang kita. Aku akan merindu. Mungkin kau juga. Mungkin tidak.

Aku berharap, dia tak terlalu banyak memberikanmu cinta, agar kau bisa rindu padaku. Ah, tapi doa ini terlalu jahat. Aku tak bisa melarangnya untuk tak mencintaimu. Kau terlalu indah untuk ditinggalkan.

Tapi selembar kertas undangan pesta pernikahan itu adalah pertanda bagiku untuk meninggalkanmu. Meninggalkanmu sementara? Ataukah selama-lamanya?

Namun rasa itu masih ada.

Ada cinta yang harus berakhir walau masih terasa. Ada cinta yang harus terus bersama walau sudah kehilangan rasa –HilbramDunar

#DAN

Iklan

One thought on “Rasa

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s