Rumah

home

Izinkan aku menitipkan sebuah cerita tentang rumah.

Rumah pertama sunyi, dingin, dan kelam. Hanya ada air mata dan keraguan. Namun aku tak dapat meninggalkan rumah itu. Keluar darinya sama saja dengan bunuh diri. Karena segala kenangan masih terkubur disana. Melebur menjadi satu di hatiku.

Rumah kedua seperti matahari. Seperti senyuman. Seperti kecupan dalam gerimis. Hangat dan nyaman. Segala kejujuran tercurahkan disana. Hanya saja rumah itu bukan milikku. Tapi aku tak dapat meninggalkannya. Karena di dalamnya aku merasa hidup, nyawaku sempurna. detak keindahan seakan-akan menciptakan kebahagiaan yang tak berkesudahan. Meskipun aku hanya menjadi bayang-bayang.

Bagaimana mungkin aku mengatakan bahwa “Keluar darinya sama saja dengan bunuh diri” padahal aku menuju rumah kedua adalah dengan keluar darinya?

Dan bagaimana mungkin aku megatakan bahwa “Aku hanya menjadi bayang-bayang” padahal aku merasa hangat dan nyaman di rumah kedua?

Seharusnya aku tak menuliskannya, bukan?

Kawan. Jika aku berada di suatu persimpangan dan kau berada di tengah-tengahnya, menjadi dewa diantara ilalang, melihatku dengan tatapan nanar dan iba karena kebingungan. Maka izinkan aku mendengarkan petuah darimu, rumah manakah yang harus aku tempati? Bukan hanya untuk duduk singgah. Tapi untuk bernafas bersamanya.

Kemungkinan yang terjadi jika aku memilih rumah pertama adalah seumur hidup aku akan meragu. Jika aku memilih rumah kedua adalah seumur hidup aku akan menjadi bayang-bayang.

Ataukah aku tak memilih keduanya? Kabur ke alam liar dan tak akan pulang ke rumah. Rumah siapapun juga.

Mengapa kau tersenyum, kawan? Hanya menengadahkan kepala, melihat rasi bintang yang tak berbentuk di angkasa.

Jawab pertanyaanku!

Sayapmu terbentang. Cahaya keluar dari atas kepala. Kaki-kakimu bergelayutan tak menapak tanah.

Kau mau pergi kemana? Jangan tinggalkan aku sendirian disini.

Tanganmu terulur padaku. Dengan sebuah senyuman, ku iyakan ajakanmu. Ku raih tanganmu. Sayapmu terkepak pelan. Dituntun cahaya, kami menuju angkasa.

Rumah Tuhan. Aku akan kembali ke rumah Tuhan. Rumah dimana aku menemukan kedamaian. Tak lagi meragu dan tak akan menjadi bayang-bayang.

Tuhan, tunggu aku di rumah-Mu.

Samar-samar, ku lihat cahaya itu mendekat dan semakin mendekat.

Surabaya –di suatu persimpangan, 8 Agustus 2013.

 

Iklan

One thought on “Rumah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s