Peluk

RectoversoHatimu tahu, seperti hatiku pun tahu. Nadi kita mendenyutkan pesan-pesan yang tahunan sudah menanti untuk bersuara. Inilah keindahan yang kumaksud. Kejujuran tanpa suara yang tak menyisakan ruang untuk dusta. Sakit ini tak terobati dan bukan untuk diobati. Dan itu jugalah keindahan yang kumaksud. Rasakan semua, demikian pinta sang hati. Amarah atau asmara, kasih atau pedih, segalanya indah jika memang tepat pada waktunya. Dan inilah hatiku, pada dini hari yang hening. Bening. Apa adanya.

Menahun, ku tunggu kata-kata yang merangkum semua. Dan kini ku harap ku dimengerti. Walau sekali saja pelukku.

Tiada yang tersembunyi. Tak perlu mengingkari. Rasa sakitmu. Rasa sakitku. Tiada lagi alasan. Inilah kejujuran. Pedih adanya. Namun ini jawabnya.

Lepaskanku segenap jiwamu. Tanpa harus ku berdusta. Karena kaulah satu yang kusayang. Dan tak layak kau didera.

Sadari diriku pun kan sendiri. Di dini hari yang sepi. Tetapi apalah arti bersama, berdua. Namun semu semata.

Tiada yang terobati. Di dalam peluk ini. Tapi rasakan semua. Sebelum kau kulepas selamanya. Tak juga kupaksakan setitik pengertian. Bahwa ini adanya. Cinta yang tak lagi sama.

Lepaskanku segenap jiwamu. Tanpa harus ku berdusta. Karena kaulah satu yang kusayang. Dan tak layak kau didera.

Dan kini ku berharap ku dimengerti. Walau sekali saja pelukku.

 #Rectoverso #Dee

2 thoughts on “Peluk

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s