Anugerah

<< Sebelumnya

“Tidakkah terlalu siang kita kesini?”, tanyaku melihat suasana di sekeliling sepi. Hamparan permadani yang tak ada warna lain selain hijau kekuningan ditimpa matahari. Ku kira musim bunga bermekaran dimulai minggu ini, ternyata tidak.

Kau sejenak melihat sekitar kemudian menggelar tikar, merebahkan tubuh disana. “Uh, capeknya”. Kau mulai menggeliat manja layaknya kucing ingin disentuh.

Kami harus melewati perjalanan yang panjang untuk menuju tempat ini. Sebuah taman yang tak seindah taman kota memang, tapi tempat ini sangat cocok untuk kami berdua. Tempat untuk melarikan diri. Melarikan diri dari kehidupan normal membosankan yang kami jalani.

Aku tersenyum mendekat, meletakkan keranjang bekal dan mulai membuka tutup-tutupnya.

“Mana dulu yang ingin kau makan?”, tawarku.

“Aku ingin memakanmu terlebih dahulu”, kau mengecup bibirku secepat kilat. Aku mengernyitkan hidung, kau tergelak.

Lalu kau merebahkan kepalamu di pangkuanku. Mulai membaca buku yang kau bawa. Ku tekan tombol play pada mp3 player.

“Hei, ini lagu kita”, kau tersentak.

Aku mengangguk. Lagu All I Have to Give milik Backstreet Boys, menemani kesyahduan kami berdua di tempat rahasia ini.

But my love is all I have to give. Without you I don’t think I could live. I wish I could give the world to you. But love is all I have to give. –BackstreetBoys

“Bagaimana jika aku tak memiliki apapun?”, tanyamu tiba-tiba.

“Kau masih memilikiku”, jawabku penuh cinta.

“Serius lah”, wajahmu cemberut, “Bagaimana jika aku bangkrut? Bagaimana jika aku tak punya uang sepeser pun? Bagaimana aku bisa memberimu segalanya?”.

Aku mengusap pipinya lembut, “Apakah aku mendekatimu karena uang? Apakah aku sayang padamu karena harta yang kau punya?”.

Kau diam berpikir.

“Aku tak butuh dunia. Cukup berikan hatimu. Itu sudah cukup untukku”, ku belai rambutnya yang mulai panjang, “Walau ragamu tak akan bisa ku miliki”.

Kau menatapku dengan tatapan iba sekaligus bersalah. Bukan salahmu jika aku tak bisa memilikimu, bukan salahmu jika kau telah dimiliki oleh orang lain, juga bukan salahmu karena telah mengajakku masuk ke dalam kehidupan kalian.

“Cobalah ini”, ku dekatkan sandwich isi ikan tuna ke mulut manisnya, agar suasana mencair. Aku tak ingin kehilangan moment saat-saat indah bersamanya.

“Kalau kau bilang tak enak, aku tak akan membuatkan makanan lagi untukmu”, kataku sambil menjulurkan lidah.

Kau mengunyahnya perlahan, “Enak, tapi sedikit asin. Sedikiiiit”, katamu sambil mengisyaratkan telunjuk dan ibu jari yang berjarak tak sampai lima milimeter.

Ku masukkan sesuap, ternyata memang asin. Lalu kau memandangku, kemudian tergelak.

“Sedikit asin, bukan?”.

Buru-buru ku teguk air mineral. Benar-benar asin ternyata. Wajahku memerah, akhirnya kau tahu bahwa aku tak pandai memasak.

“Kau ada untukku, itu sudah cukup sayang. Memasak adalah hal yang bisa dikembangkan. Rajin berlatih setiap hari, seminggu saja kau pasti menjadi chef terbaik di seluruh dunia”, dikecupnya keningku.

Namun tetap saja kau habiskan sandwich yang keasinan itu dengan mata yang masih setia tertuju pada buku yang kau baca. Sesekali kau mengubah posisi kacamata.

“Mencintai kamu menyenangkan. Dicintai kamu menyempurnakan”, kau membacakannya sebait.

“Mencintai kamu adalah pilihan. Dicintai olehmu adalah anugerah”, aku menimpali.

Kemudian mata kami bertemu. Lama, cukup lama. Aku rasa tatapannya telah merasuk ke dalam sukma. Rasa ini benar-benar anugerah yang tak terkira. Aku bersyukur telah mengenalmu, aku beruntung telah memilikimu, walau hanya sekejab mata.

Mata kami mulai menyipit, matahari membangunkan kami dari lamunan panjang. Indah namun semu.

“Sudah siang ternyata. Ayo kita pulang”, ajakmu sembari membereskan keranjang bekal yang telah habis isinya.

“Pulang?”, aku cemberut, aku tidak mau pulang sekarang.

Kau mengusap pipiku lembut, “Bukan untuk pulang ke rumah. Ayo kita cari tempat lain. Jika disini terlalu lama, aku khawatir nanti kita akan menjadi ikan asin”.

Aku tertawa. Matahari bersinar tepat di ubun-ubun. Aku mengiyakan ajakannya.

“Mau kemana kita?”, tanyaku.

Kau melihat jam tangan. Kurang empat setengah jam waktu yang kami punya. Pukul lima kami harus berada di rumah masing-masing, agar istrinya dan tunanganku tidak mengetahui bahwa hari ini kami telah membolos kerja untuk menghabiskan waktu bersama.

“Pantai?”.

Aku mengangguk.

Tiba-tiba kau memelukku. Erat. Lama.

Aku memejamkan mata. Tidak bisakah engkau untuk selalu berada di sisiku?

#DAN

Aku mencintaimu terlalu banyak dalam waktu yang terlalu sedikit –HilbramDunar

#DAN

3 thoughts on “Anugerah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s