Hari Ini, Mungkin ..

<< Sebelumnya

Hari ini, mungkin kau akan datang.

Jam menunjukkan pukul sembilan. Mataku tertuju pada televisi yang berganti-ganti channel karena tombol remotenya ku tekan-lepas bergantian tak lebih dari dua detik. Adegan bahagia, berubah haru, kemudian kesal, akhirnya marah, kembali lagi berdansa, kemudian mati berdarah-darah. Mencari pelampiasan pikiran untuk menjauhkanmu dari otakku.

“Mengapa kau mencintaiku?”, tanyamu di sela-sela pertunjukan jazz gunung di Bromo.

Aku memutar kedua bola mataku, “Entahlah”.

“Kenapa harus menjawab ‘entahlah’?”.

“Karena tidak ada alasan. Aku mencintaimu tanpa rencana”.

Kau memasukkan tangan kananku ke dalam saku jaket dan menggenggamnya erat.

“Tapi kenapa harus aku? Kenapa kau memilih pria yang sudah berkeluarga sepertiku?”.

Dari genggaman itu, aku tahu bahwa engkau gelisah. Gelisah dengan jawabanku, gelisah dengan pertanyaanmu.

Ku tatap wajahnya yang berwarna jingga terkena pantulan nyala obor.

“Apa kau pikir aku bisa memilih? Lalu bagaimana denganmu, mengapa kau mencintaiku? Sedangkan empat bulan lagi aku akan segera menikah. Bahkan keluargamu dengan setia menunggu di rumah”.

Kau mengangkat pundak tanda tak tahu.

“Itulah cinta. Ia datang pada waktu yang tak pernah kita sadari. Dan kita tidak bisa memilih dengan siapa kita jatuh hati”.

Kau diam mengangguk tanda setuju.

“Lalu?”, tanyamu.

“Lalu apa?”, aku berbalik tanya.

“Lalu bagaimana kelanjutan hubungan ini?”.

Gantian aku yang mengangkat bahu, tanda tak tahu sekaligus pasrah.

“Yang jelas sampai kapan pun aku selalu mencintaimu”, ucapmu tanpa memandangku.

Hari ini, mungkin kau tak akan datang.

Kau tengah hangat berada di tengah-tengah keluarga, pesta, dan dansa. Merayakan penambahan usia secara eksklusif dengan orang-orang yang menyayangimu, tanpa aku.

Bagaimana mungkin kau akan meninggalkan sebuah pesta kejutan yang ditujukan hanya untukmu? Bagaimana mungkin kau meninggalkan pesta hanya demi menemaniku? Bagaimana mungkin?

Tidak mungkin. Aku membatin.

Tapi bisa saja hari ini, mungkin kau akan datang.

Kita berada di pantry yang sepi, ketika semua orang pergi keluar kantor untuk mencari makan siang. Aku mendekap dua cup mi instan, sedangkan kau sibuk mengaduk cangkir kopi yang tak ada ampasnya.

“Lusa besok apa kau tidak sibuk?”, tanyaku sembari membuka penutup cup. Asapnya mengepul.

“Sedikit. Kenapa?”.

“Maukah kau habiskan malam spesialmu denganku?”, ajakku.

Kau menyeruput kopi pelan-pelan.

“Mau sekali. Apakah kau akan memakai lingerie untukku?”.

Bibirku mengerucut, kau tertawa terbahak-bahak.

“Tidak lucu! Sama sekali tidak lucu”, kataku ketus.

Tangan kananmu menyentuh pipiku, hangat. Bekas pegangan secangkir kopi.

“Aku ingin menghabiskan waktu denganmu, seluruh waktuku bahkan. Tapi untuk kali ini aku tidak bisa berlama-lama. Karena orang rumah berencana merayakannya juga”.

Kau menyebut istri dan anak-anakmu sebagai “orang rumah”. Aku tersenyum tipis. Bagaimanapun aku tak berhak memintamu untuk selalu berada di sisiku.

“Tidak apa-apa, kan?”, tanyamu khawatir.

Aku tersenyum dan tak ingin berkata-kata. Terlalu pedih. Ku makan mi instan itu panas-panas.

“Bagaimana jika besok? Kita bisa merayakannya bersama besok. Satu hari sebelumnya. Bagaimana?”.

Tawaranmu begitu menjanjikan.

Tak peduli seberapa serunya aku menikmati hari kemarin bersamamu, tapi tak ada yang seindah hari ini jika kau bisa hadir untuk melengkapi kesempurnaan usiamu bersamaku.

Hari ini, mungkin kau akan datang. Mungkin tidak. Bisa jadi kau akan menyempatkan waktu untuk datang. Bisa jadi tidak. Mungkin ..

Jam sepuluh lebih tiga puluh menit. Ku tiup nyala lilin di atas kue tart yang ku beli siang tadi. Tiga puluh satu. Cerminan usia kedewasaan. “Selamat ulang tahun, sayang”.

Membaringkan diri di sofa, dengan televisi menyala tanpa suara. Air mata ini tak berhenti mengalir dan aku terpejam untuk memendam perihnya luka.

Aku tersentak dari tidurku, mendapati pipi yang hangat oleh bekas kecupanmu.

“Bukankah kau telah berjanji untuk tidak lagi menangis karenaku?”.

Kau mengusap-usap rambutku. Aku bangun dari tidurku.

“Bagaimana bisa .. ?”, tanyaku terputus setelah kau mengeluarkan sebuah kunci.

“Kunci kamar kosmu telah aku gandakan”, kau tertawa nakal.

Ku tengok jam dinding. Kurang satu menit lagi maka kau akan berusia tiga puluh satu tahun lebih satu hari. Ku nyalakan pematik api. Menyodorkan kue tart padamu. Aku tak mau kehilangan waktu.

“Make a wish!”.

Kau memejamkan mata selama lima detik. Kemudian meniup lilin.

Teng .. teng .. teng ..

Tepat pukul dua belas tengah malam.

“Apa permohonanmu?”, tanyaku penasaran.

Kau tersenyum penuh arti, “Aku meminta pada Tuhan, semoga kita berdua bahagia”.

Aku memeluknya erat. Sangat erat.

Bahagia. Bukan berarti selalu bersama. Begitu kah?

Masih berada di dalam pelukanmu, aku menangis. Lagi.

#DAN

Iklan

5 thoughts on “Hari Ini, Mungkin ..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s