Sentuhan

<< Sebelumnya.

Sentuhan

Ku tengok laju detik pada jam tangan yang tak bergeming. Waktu berjalan lebih lambat dari rinai hujan. Bus kota berhenti di depanku, beberapa ada yang masuk dan sebagian ada yang keluar. Tapi tak ada seorang pun yang menjelma menjadi sosokmu.

Kau akan datang jam berapa? Percuma mengecek ponsel. Tak ada pesan ataupun panggilan darimu. Pulsa sekarat dan aku harus menunggumu lebih lama lagi.

Ponsel tiba-tiba berdering.

“Kedinginan?”, tanyamu.

“Kau di mana?”, celingak-celinguk aku mencarimu.

Suara di seberang telepon tertawa kecil.

“Serius! Kau di mana sekarang?”, aku mulai kesal.

Bus kota pun melaju membawa segelintir manusia untuk pulang ke rumah. Dan aku menemukan sosok itu dengan ponsel di dekat telinga, sorot mata sayu dibalik kacamata, memandangku dari seberang jalan.

“Ayo ikut aku”, katamu sembari menutup percakapan pada ponsel.

Bibirku mengerucut. Antara sebal dan senang. Akhirnya aku menemukan jemputan. Bukan darimu, tapi orang lain.

Kau memutar balik arah motor dan berdiri di hadapanku. Aku pun masuk dalam jas hujanmu yang bersayap.

“Ia tak datang?”, tanyamu.

“Tanpa perlu ku jawab, kau pasti sudah tau”, jawabku kesal.

Kau tertawa. Kemudian bernyanyi-nyanyi kecil untuk menutup percakapan yang tak tau harus dimulai darimana. Aku juga ikut terdiam.

Di dalam jas hujan bersayapmu, aku tak bisa melihat apa-apa kecuali sepatuku yang sesekali terkena cipratan air yang menggenang di jalan. Mendekatkan hidungku ke bahumu. Wangi itu mengingatkanku akan sesuatu. Akan cinta yang tak bisa dimiliki.

Tiba-tiba motor terjerembab karena kau tak melihat ada lubang yang tertutupi air hujan di jalan, hidungku membentur bahumu.

“Aduh!”, aku kesakitan, mengelus-elus hidung yang jadi semakin kecil karena tertatap.

“Eh, maaf”, katamu.

“Tidak apa-apa”, kataku sambil mengatur posisi duduk, menjauhimu sedikit ke belakang.

Tangan kirimu kemudian bergerak ke belakang, mencari tangan kiriku. Setelah mendapatkannya, lalu kau mendekapnya di perutmu. Dalam sekejab, dadaku menyentuh punggungmu.

“Aku kedinginan. Bisakah kau memelukku?”, ucapmu.

Wajahku memerah. Diiringi rintik hujan yang semakin deras, aku merasa sangat gerah bersembunyi di balik sayap jas hujanmu.

Di pelataran parkir bawah tanah, dengan bangganya kau meletakkan motor di tengah-tengah barisan mobil. Aku tertawa.

“Kau kemanakan mobilmu?”.

“Aku simpan. Ku gunakan untuk acara-acara lain”, jawabmu singkat.

“Sejak kapan kau bisa meninggalkan tungganganmu itu? Yang kau sebut sebagai kawan setia?”, godaku padanya. Karena yang ku tau, mobil adalah transportasi pertama yang bisa dikendarainya.

Ia menggenggam tanganku, “Sejak aku bisa membuktikan teorimu, bahwa naik motor lebih romantis”.

Pintu lift tertutup. Hanya kita berdua yang berada di dalamnya. Kau masih menggenggam tanganku erat.

Aku melemparkan jas kerjaku di sofa. Merasakan dingin AC meresap ke pori-pori kulitku. Membaringkan kepala di pangkuanmu. Kau sibuk mengganti channel televisi.

“Apakah kau masih merindukannya?”, tanyamu pelan.

“Apa?”, tanyaku bingung.

“Dalam suasana seperti ini, hanya ada aku dan kamu, apakah kau masih merindukannya?”.

“Bagaimana denganmu?”, ku putar balik pertanyaannya. Ia terdiam.

Aku melemparkan pandanganku pada pigora besar di tengah ruangan ini. Kau, istri, dan kedua anakmu.

“Aku tak lagi merindukannya”, kau tertawa kecil.

“Ini yang kau sebut sebagai pria baik-baik? Dasar nakal!”, aku mencubit hidungnya. Ia tergelak.

“Lalu, bagaimana denganmu?”, tanyanya belum puas.

Aku menutup mata, “Ya. Aku merindukannya. Bagaimanapun dia adalah tunanganku”. Dadaku bergetar hebat. Mencoba menyembunyikan fakta. Bagaimana mungkin aku harus jujur bahwa semenjak ada dirimu, posisinya telah kau geser. Karena hanya kau lah yang mengisi hati dan pikiranku saat ini.

Kau mendengus kesal. Memang bukan seperti itu jawaban yang ingin kau dengar. Tapi aku harus berbohong. Demi keselamatanmu. Jangan terlalu mencintaiku. Karena itu akan melukai perasaanmu, perasaanku, perasaan kita.

Aku beranjak dari tidurku. Menuju jendela, mengamati lalu-lalang kendaraan dari lantai lima di apartemenmu. Macet dan ruwet. Sama seperti hubungan kita.

Kau mengikuti. Melingkarkan tangan dari belakang pada pinggangku. Kau mendaratkan bibir di bahuku, hangat.

Ponselku berbunyi, pesanmu datang. Kau ada dimana? Maaf aku terlambat, jadwal pesawatku mundur. Setengah jam lagi aku akan kesana. Nino.

Ku matikan ponselku. Melepaskan pelukanmu, lalu membalikkan badan. Kini mata kita saling bertautan. Ku lingkarkan pelukan di bahumu.

“Itu tandanya, kau masih punya waktu setengah jam denganku”, katamu.

Ku kecup bibirnya.

#DAN

3 thoughts on “Sentuhan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s