Setengah Porsi Nasi Rawon

“Kau mau makan apa?”.

Aku melemparkan pandangan pada daftar menu di pojok kedai warung sederhana ini. “Nasi rawon”, jawabku.

rawon-nasi

“Nasi rawonnya dua, bu”.

“Tapi nasinya separuh ya?”, aku teringat bahwa aku sudah memakan bekal roti yang ku bawa dari rumah sepuluh menit yang lalu.

“Nasinya separuh, bu”, katamu menimpali perkataanku.

Dan aku mengikutimu menuju tempat duduk di sudut ruangan, menutup hidung untuk tak membaui asap mengepul yang keluar dari moncong berkumis dari sisi kanan-kiri jalan yang kau lewati.

Setengah porsi nasi rawon kita telah tersaji di meja. Kau menyuapkan setengah sendok ke dalam mulut dengan ogah-ogahan.

“Sebenarnya aku sudah makan tadi, tapi ..”, kau menyuapkan sesendok lagi.

“Tapi apa?”, kataku sambil menyingkirkan sambal yang mulai mengkontaminasi nasiku.

“Tapi kau tak akan mau makan jika aku tidak makan. Jadi ya akhirnya aku harus makan juga”.

Aku tersenyum, “Kau harus banyak makan. Lihat lah tubuhmu”.

Aku melihat pria berjaket di sampingku, tubuhnya tinggi tapi ringkih. Pergelangan tangannya sama kecilnya dengan pergelangan tanganku.

“Oke”, jawabmu singkat karena tak mau mendengarkan omelanku tentang makanan dan kesehatan.

Tak sampai lima belas menit, kau menyesap minumanmu lalu mengeluarkan pematik, “Apakah kau tahan terhadap asap?”.

Aku menoleh, merampas sebungkus rokok yang masih baru itu sebelum kau membakar paru-parumu.

“Katanya mengurangi?”, tanyaku ketus.

“Mengurangi belum tentu berhenti”, kau memasukkan lagi pematik ke dalam jaketmu. Memandang sendu rokok yang ku sita, kemudian menyesap sisa es teh. Aku tersenyum puas.

“Aku hampir saja kehilangan pekerjaanku. Kau tau kan? Entahlah atasan tau dari mana soal aku mengambil tugas yang bukan tugasku”, kau mulai berkeluh kesah tentang pekerjaanmu, yang juga pernah menjadi pekerjaanku sebelumnya.

“Aku hanya tidak tau bagaimana ia mengerjakan laporan yang menurutku hasilnya tidak valid”.

Aku mengaduk-aduk sisa gula yang mengendap di gelas paling bawah dari es jerukku. Sesekali mencuri pandang terhadapmu, senyummu, dan matamu.

Tiba-tiba kau berhenti berbicara, “Ah, kenapa kita jadinya membicarakan masalah pekerjaan disini?”.

“Lalu mau bicara apa lagi?”, tanyaku.

“Apa?”, ia memandangku.

“Apa?”, aku balas memandangnya.

Aku melemparkan pandangan padanya, pada daftar menu, padanya lagi, pada minuman yang berjajar dalam rak, padanya lagi. Mata sayu dibalik kacamata itu terus memandangku. Ah sial. Aku tidak kuat menatap matanya.

Aku mengalihkan pandanganku pada nasi rawon yang telah habis dihadapanku. Dan berharap ia tak melihat wajahku mulai memerah karena ulahnya.

Aku merogoh saku, rokoknya masih terdapat disana. Ku keluarkan untuk ku kembalikan padanya.

“Satu bungkus rokok ini bisa kau habiskan berapa hari?”, tanyaku.

“Paling-paling satu minggu”.

“Ah masak?”, aku tidak percaya.

“Sebelum opname kemarin sih biasanya satu kotak habis untuk dua hari”.

“Dan karena sakit itu akhirnya kau berhenti?”.

“Mengurangi, bukan berhenti”.

Aku melengos, di saat seperti ini juga ia masih mau berdebat denganku.

“Sejak kapan kau mulai merokok?”, tanyaku.

“Sejak masuk sini”, ia mengartikan kata ‘sini’ sebagai tempat kerja kami.

“Itu berarti kau baru ..”, aku menghitung dengan jari, “.. sekitar empat bulanan ini?”.

Ia mengangguk.

“Apa keluargamu tidak curiga?”.

“Tinggal makan permen setelahnya, beres”.

“Bukan itu, maksudku bau rokok yang menempel pada baju dan kulitmu. kan tidak serta merta hilang begitu saja, apalagi diobati dengan permen. Iya kan?”.

“Tinggal bilang saja, teman-temanku yang merokok”, kau tersenyum puas.

Aku menggeleng-gelengkan kepala, “Kau itu ..”.

“Apa?”.

“Jangan marah tapi ya?”, aku mengerling.

Ia mengangguk.

“Kau terlihat sangat fasih berbohong. Berbohong tentang rokok ini dan hubungan kita”.

“Memang, apa hubungan kita?”.

Aku mendelik, aku juga tidak tau tentang hubungan ini dan aku tidak ingin malu karena ia menjawab pertanyaanku dengan pertanyaan yang sulit dijawab seperti itu.

“Hubungan kita .. rekan kerja”.

Kau tertawa dan aku kembali menyeruput sisa es jeruk. Aku tak berani melihat wajahnya. Ia pasti tau, wajahku memerah lagi.

Aku, dia, bahkan mungkin Tuhan, tak pernah tau apa arti hubungan kami.

Hubungan kami seperti setengah nasi rawon di meja yang telah kami habiskan. Setengah nasi rawonku bukan setengahnya dari nasi rawon miliknya. Setengah nasi rawon miliknya juga bukan setengah dari nasi rawon milikku. Jadi jika setengah nasi rawon kami dicampurkan menjadi satu dalam satu piring, maka itu bukan lagi disebut sebagai satu porsi nasi rawon. Tapi tetap sebagai setengah nasi rawon milikku dan setengah nasi rawon miliknya.

“Ayo kita kembali”, ajakmu setelah melihat jarum panjang dari jam tangan menunjuk ke angka empat.

Duduk berboncengan denganmu pun aku masih memikirkan arti dari hubungan ini, setengah nasi rawon.

Kapan kau akan memelukku setiap kali kita berboncengan? Adalah pertanyaan yang ku ingat dari pesanmu semalam. Walau kau tak mengucapkannya langsung, tapi aku tau bahwa itulah yang sedang kau pikirkan saat ini.

Memelukmu, tidak memelukmu, bisa saja memelukmu sebentar saja, ah .. sebaiknya tidak memelukmu, tapi aku ingin memelukmu, tapi tidak boleh! Aku melengos kesal. Pikiran itu terus saja berkecamuk dalam hati.

Hei! Apa kau tidak ingat setengah bagian dari nasi rawonmu masih berada di rumah? Ya. Setengah nasi rawon itu yang membuat nasi rawonmu menjadi satu bagian utuh adalah istri dan anak-anakmu. Setengah nasi rawonku yang membuat utuh adalah tunanganku. Dan apa yang terjadi jika setengah nasi rawon kita yang disatukan dalam satu piring? Apakah menjadi satu bagian utuh? Tidak. Mungkin bisa saja terjadi seperti itu, tapi apakah bisa menjadi satu bagian yang sempurna? Jadi sesulit inilah jawabanku atas pertanyaanmu tadi, setengah nasi rawon.

Sesampainya di kantor, kita berjalan berbeda arah untuk menuju satu ruangan yang sama.

“Pekerjaan menanti!”, teriak Edi setengah berlari datang ke mejaku dengan setumpuk dokumen.

“Darimana saja kalian? Apa kalian keluar bersama?”, tanyanya melihatku dan Dani.

“Tidak”, jawab kami kompak.

Aku mengerling, Dani tersenyum. Kemudian kami tenggelam dalam kubikel meja kerja kami masing-masing.

Besok siang akan ku culik lagi kau dari sini. Pesan singkat dari Dani. Aku tersipu.

“E-e-e. Ada apa kok senyum-senyum sendiri?”, tanya Lisa mengamatiku, rekan kerja yang mejanya bersebelahan dengan mejaku.

“Tidak ada apa-apa. Tunanganku akan segera pulang”, jawabku bohong.

Aku melihat angka sembilan dilingkari spidol merah di kalender bulan ini. Aku bahkan hampir saja lupa bahwa aku akan segera menikah.

Culik aku kapan pun engkau mau. Jawabku atas pesan singkatnya.

#DAN

7 thoughts on “Setengah Porsi Nasi Rawon

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s