Dendam

Bintang, seorang siswa kelas 5 SD Negeri Pelangi baru saja dianugerahi gelar dokter cilik oleh kepala sekolahnya. Karena Bintang selalu menjaga UKS, mengingatkan teman-teman betapa pentingnya cuci tangan, serta selalu membuang sampah pada tempatnya.

Pada suatu hari datanglah Dea ke tempat UKS, sambil membawa keranjang kecil berisi kucing-kucing kecil.

“Kak Bintang, aku menemukan kucing-kucing ini di dekat tempat parkir sepeda. Kasihan mereka kak, mungkin mereka kedinginan”, ujar Dea dengan mata sayu.

“Tenang saja, ada aku!”, ucap Bintang bangga sambil mengangkat kucing-kucing itu di atas meja.

Bintang sangat terampil memainkan gunting dan perban untuk menutupi luka-luka kucing-kucing tersebut.

“Kak Bintang. Mengapa kucing-kucing ini tidak dimandikan terlebih dahulu?”, tanya Dea.

Belum sempat Bintang menjawab, Dea bertanya lagi, “Sepertinya kita harus menaburkan bedak di badannya agar mereka wangi”.

“Oia kak, darimana kakak tau bahwa kucing-kucing ini tidak membutuhkan obat-obat lain? Apa kakak tau penyakit kucing ini?”.

Bintang merasa geram mendengar Dea yang mulai mengoceh. Dilemparkannya keranjang kosong itu ke pojok ruang UKS.

Dongen

“DEA! Kamu tau kan kalau aku adalah dokter sekolah! Tidak udah tanya-tanya yang aneh-aneh, kalau aku jawab kamu pasti tidak akan tau. Kamu masih kelas 3!”, teriak Bintang.

Dea tersentak. Matanya basah, ia menangis. Dea keluar UKS meninggalkan kucing-kucing temuannya.

Bintang mendengus kesal. Kepintarannya akan gelar dokter sekolah dipertanyakan oleh pertanyaan Dea yang terlontar tadi. Dibuangnya kucing-kucing itu keluar.

Sejak saat itu Bintang tak pernah menyapa Dea lagi. Dea juga masih takut atas bentakan Bintang sehingga Dea juga tidak menyapa Bintang. Bahkan jika keduanya bertemu di kantin sekolah, mereka sama-sama memalingkan muka tak saling kenal.

Untuk apa aku gubris pertanyaan dari anak kecil itu, huh! Batin Bintang mendendam.

Setelah menyelesaikan semua pekerjaannya di UKS, Bintang bersiap-siap untuk pulang. Ia menunggu Ibu menjemput.

Kenapa Ibu lama sekali? Bintang melihat jam tangan merah jambunya menunjukkan jam empat sore.

Dari ujung jalan terlihat seorang Ibu tengah menggandeng anak kecil.

“Ibu!”, panggil Bintang.

Ibu tersenyum mencium kening Bintang.

“Kenapa Ibu lama sekali? Apakah Ibu berjalan kaki kesini?”, tanya Bintang.

“Iya Bintang. Maaf ya telah membuatmu menunggu lama. Ibu mengajari adikmu berjalan”, senyum Ibu berpaling pada Bulan, adik Bintang yang berusia 9 bulan.

Bintang berjalan lambat dibelakang Ibu yang tengah menggandeng Bulan. Bulan sesekali diam tak mau berjalan. Kadang kala mundur dan berbelok. Jika seperti ini terus, kapan sampainya? Bintang semakin jengkel.

“Ibu, tidak bisakah Bulan berjalan lebih cepat dari ini? Bukankah Ibu telah mengajarinya setiap hari? Apa Ibu tidak lelah mengajari anak kecil yang belum bisa berbicara? Ia tak akan tau maksud Ibu”, kata Bintang ketus.

Ibu tersenyum.

“Bintang. Ketahuilah bahwa ketika kamu kecil, kamu juga seperti ini. Belajar merangkak, belajar berjalan, belajar berbicara. Setiap manusia pasti pernah mengalami proses belajar. Belajar tentang apapun. Ibu tidak lelah mengajarimu segala hal, meskipun kadang-kadang pertanyaan-pertanyaanmu melebihi apa yang bisa Ibu jawab”.

“Dan melakukan kesalahan adalah proses belajar juga. Tidak perlu marah karena Bulan belum bisa berjalan mandiri meskipun sering dilatih. Ia masih kecil, sayang. Tidak seharusnya kamu kesal seperti itu. Ajari apa yang ia tidak ketahui, jawablah apa yang ia tanya, perbaikilah apa yang disalahkannya. Sesuai pengetahuanmu, sesuai ilmu yang kamu peroleh dari sekolah dan keluarga”.

Jantung Bintang berdegup. Ia teringat Dea. Dea yang didendamnya.

Dea masih kecil, ia belum tau bagaimana cara mengobati luka-luka kucing, ia belum tau apa saja penyakit-penyakit yang bisa diderita oleh kucing, bahkan ia tidak tau bahayanya memandikan kucing. Ia bertanya bukan karena sok tau, bukan karena merendahkan, juga bukan ingin mengetes kepandaianku sebagai dokter sekolah. Tapi karena ia benar-benar tidak tau. Bintang menjadi sedih.

“Bintang kenapa bersedih? Maafkan Ibu ya, kamu pasti capek berjalan kaki. Ayo kita naik becak saja”, ajak Ibu.

Bintang seketika tersenyum, lalu menggeleng.

“Tidak Ibu. Aku ingin menemani adik belajar berjalan”.

Kemudian Bintang menggandeng tangan kiri Bulan. Bulan melihat Bintang di sisi kirinya, Ibu di sisi kanannya, kemudian ia tersenyum lucu.

Aku akan menjadi kakak yang baik untukmu. Aku akan mengajarimu segalanya yang aku tau. Bintang bernapas lega.

Dea, maaf ya. Besok akan ku ajari semuanya, agar kamu tau dan bisa menjadi dokter sekolah seperti aku. Bintang berjalan dengan riang menuju rumah dan tak sabar menanti mentari pagi datang esok hari.

2 thoughts on “Dendam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s