Prompt #12: Konde

Aku terkejut saat aku secara tak sengaja menyenggol sesuatu yang besar dan menyembul. 

Astaga! Konde? Tapi, siapa yang pakai konde di rumah ini?

Gambar Model Sanggul Tradisional

credit

Kata Ibu, konde itu milik Mbak Nita, mbakyuku yang akan melangsungkan pernikahannya dengan Mas Fajar. Yang ku tahu bukankah Mbak Nita mengambil tema eropa untuk pernikahannya? Aku yang mengantar ketika Mbak Nita fitting white dressnya yang berkilauan permata. Mengapa sekarang malah ada konde di rumah ini?

“Ganti tema, nduk. Keluarga Mas Fajar ndak setuju”, jelas Ibu.

Kemudian Ibu menyuruhku mengantarkan konde ini ke rumah Mbok Sumi. Konde ini belum sempurna, kata Ibu.

Mbok Sumi adalah penjahit tertua di desa kami. Ia bisa menjahit, menyulam, bahkan membuat konde. Konde-konde buatannya tidak banyak, orang bilang limited edition, hanya orang-orang tertentu yang bisa mendapatkan konde buatan Mbok Sumi. Padahal konde yang dibuatnya biasa saja, konde tradisional tanpa ada sentuhan kreatifitas era modern seperti saat ini, akan tetapi mengapa ada daya tarik istimewa ketika konde itu ku pegang. Apalagi orang yang memakai konde ini pasti akan sangat menawan. Mbak Nita pasti menjadi wanita tercantik di dunia.

“Sopo iku?”, teriakan Mbok Sumi dari dalam rumah memecah lamunanku. Ia tertatih membuka pintu yang berderik seram seperti rumah hantu.

Ku lihat sekeliling, rumah Mbok Sumi memang rumah hantu. Tak ada satupun jendela yang dibuka, cahaya-cahaya matahari masuk dari genteng-genteng rumah yang berlubang. Kain perca sisa jahitan yang tak pernah disapu dan tumpukan-tumpukan rambut berceceran di sudut ruangan.

Bulu kudukku merinding ketika mengingat cerita teman-teman bahwa konde dibuat dari rambut yang berasal dari rambut orang mati.

Aku pun memberikan konde itu untuk dipermak sempurna oleh Mbok Sumi dan ingin segera pergi dari sini, secepatnya!

“Kate nangdi kowe, cah ayu?”.

“Kulo .. kulo badhe wang-wangsul mbok”.

Aku bergegas pergi ke arah aku masuk tadi. Pintu itu tak bisa dibuka, kuncinya hilang!

Mbok Sumi terkekeh-kekeh.

Perasaanku semakin tak karuan saat mendengar derikan tongkat Mbok Sumi yang semakin mendekat dan berlahan mendekat.

Seketika itu bumi menjadi gelap gulita.

Sebulan yang lalu.

“Masak kowe ndak tahu? Yang namanya priyayi selalu menikah lebih dari satu istri. Dan kowe tahu, nduk, yang dinikahi itu biasanya masih satu saudara dengan istrinya sendiri. Bisa jadi Mas Fajar ndak hanya menginginkanmu jadi istrinya, tapi juga adikmu, Mira!”.

Nita tertegun di sofa. Niatnya menikah adalah untuk membuktikan pada keluarganya bahwa ia lebih cantik dari Mira, lebih pintar dari Mira, dan lebih beruntung dari Mira karena bisa mendapatkan suami kaya, terkenal, dan masih ada hubungan darah dengan keluarga keraton.

“Lalu bagaimana a-aku bisa mencegahnya?”, tanya Nita sedikit tercekat.

“Gampang itu, nduk. Kowe tau Mbok Sumi? Coba kowe pikir bagaimana konde-konde Mbok Sumi bisa laris dibeli sama orang-orang keraton? Mbok Sumi punya resep rahasianya”.

“Apa rahasianya?”.

“Kowe bawa adikmu, si Mira itu kesana, ke rumah Mbok Sumi. Pasrahkan saja wes pada Mbok Sumi. Yang kowe tahu hanyalah pernikahanmu dengan Mas Fajar bakal langgeng dunia akherat”.

Aku terbangun di ruangan pengap dan gelap. Ku raba di sekelilingku yang berbau anyir darah. Sebuah jasad. Ah! Dua, tiga, .. banyak! Aku ketakutan dan mencoba berlari mencari pintu. Jasad-jasad itu ku injak-injak dan sesekali aku terjatuh tepat mencium hidungnya. Beribu kali aku memutari ruangan itu, meraba-raba dindingnya. Tapi aku tak dapat menemukan jalan keluarnya.

Aku menunduk, menangis sejadi-jadinya. Mengapa kepalaku menjadi terasa ringan? Ku raba kepalaku. Rambut panjangku menghilang.

#MondayFlashFiction

Arti kata bahasa jawa :

  • Nduk = Panggilan untuk anak perempuan
  • Mbakyu = Panggilan untuk kakak perempuan
  • Sopo iku = Siapa itu
  • Kate nangdi kowe, cah ayu = Mau kemana kamu, anak cantik
  • Kulo badhe wangsul, mbok = Saya mau pulang, mbah
  • Kowe = Kamu
  • Priyayi = Keturunan bangsawan

21 thoughts on “Prompt #12: Konde

  1. ajenn08 berkata:

    kerennnn!
    Tetapi lebih bagus kalau awalnya ga pake POV orang pertama, Mbak biar berasa aja gitu pas ganti POV ke orang ketiga..
    Salam

  2. tuaffi berkata:

    Hiii.. seremm😦 jadi gag bisa tidur.
    ohya, setuju sama komentar di atas, yang minta ke mbok sumi itu ibunya ya? bukan anak kandung jangan2. waahhh.. seru!😀

  3. istiadzah berkata:

    wow, keren mba ceritanya… aku pikir si Mira mati dibunuh mbok sumi. serem, untung saya bacanya pagi2 :p eh iya, itu jasad2nya yg udh pada mati, emang ga kecium bau busuknya sampe keluar rumah ya?
    tapi rada mbingungin pas ganti POV, soalnya ceritanya udah ngalir enak tau2 jadi harus meraba2 lagi dari awal. khusus untuk cerita ini ya.

  4. yusrizal berkata:

    Sebenarnya ceritanya seru😀
    Tapi yang ga masuk di pemikiran itu,
    Siapa yang ngomong ama Nita? Yang nganjurin Nita agar membawa Mira ke Mbok Sumi itu lho:mrgreen:
    Lalu, keluarga kok kaya’ bukan keluarga gitu.
    Begitu teganya Ibu maupun si Nita untuk menyingkirkan si Mira, bahkan walaupun taruhannya nyawa.
    Atau jangan-jangan ini seperti kisah Bawang Merah dan Bawang Putih? Kasihan banget si Mira yang ga dianggap anak dan saudara:mrgreen:

  5. andiahzahroh berkata:

    Hwaaa..sereem.. Jangan-jangan itu di bunker bawah tanah rumah mbok Sumi ya, ga ada pintu keluarnya, hehehee…
    Setting seremnya dapet mbak. Ngebayangin rumah model jadul, lantainya dari semen yang berdebu, bagian luarnya belum ditembok masih bata merah, model rumah kayak pendopo gitu *malah jadi ngelantur kemana2 :p

  6. octanh berkata:

    Cerita ini punya potensi sangat menyeramkan (dan menghantui saya kalo tiap kali liat konde). Tapi, ada yang rada ganjel buat saya: kenapa buat rambut aja kudu ngebunuh orang? Itu mayar dikumpulin di rumahnya? Seharusnya kalo ada pola seperti ini (konde didapat dari ngebunuh orang), masyarakat sekitar bakalan tahu. Salah satu tokoh di FF ini juga tahu dan dia malah nyuruh orang buat ngejadiin adiknya tumbal? Ebusyeeeeeet~! >.<

    Tapi, idenya oke. ^____^

    Eh, salam kenal. Itu tagline blognya menu'uk hati saya: saya juga suka dibilang cacingan. T____T

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s