Pelarian

Hitam dan kelam. Baju baja ini membungkus kulitku dan menyamarkannya dalam kegelapan. Dengan dibantu peralatan baja super yang ku punya, aku melacak seorang buronan. Aku membaui darah yang menetes di akar pohon yang melintang. Belum menggumpal. Padahal sejam yang lalu bisa ku pastikan ia tertembak peluruku di paha sebelah kanannya. Aku yakin ia tak mampu berlari jauh.

Sesekali ku arahkan seberkas sinar berkelebat melalui alat pengumpul cahaya rembulan di pergelangan tangan kiriku, mencari-cari sosok yang menghilang di tengah hutan tandus tak bernyawa. Aku meneruskan perjalananku. Ku rasa ia akan lumpuh dalam beberapa jam dan ia tak akan bisa melewati hutan ini dengan selamat.

Beruntung. Hujan datang terlalu cepat dari biasanya. Butirannya turun dengan deras. Tanah-tanah yang tandus yang tak dapat menyerap air dengan cepat, air mengalir turun dari dahan-dahan yang basah dan membanjiri bumi menuju pantai. Aku mendengar suara raungan kesakitan di arah utara, ku rasa ia berbalik arah. Karena sebelumnya ia menuju timur. Aku harus mengejarnya sebelum hujan reda.

Aku berlari terseok-seok dengan timah panas tertanam di dalam paha lima menit yang lalu. Akar pohon melintang di atas tanah membuatku terjatuh. Lebatnya dedaunan membuat suasana membaur dengan kegelapan. Hitam dan kelam. Aku bahkan tak bisa melihat merahnya darah yang mengucur membasahi celanaku.

Sesekali ku lihat seberkas sinar berkelebat dengan asal cahaya di belakang. Membuatku meningkatkan kecepatan langkah kaki, meskipun perih menyergap seluruh tubuh. Aku harus tetap berlari.

Terlambat. Butiran air turun terlalu cepat. Ku mohon hentikanlah sebentar. Tuhan bahkan tak mau mendengar doaku. Hujan turun semakin lebat. Aku berlari sambil meraung. Menahan segala kesakitan.

Dan kini aku tergeletak di depan pondok tak berpenghuni. Merayap masuk ke dalam rumah tak berpalang pintu, menghindar dari air yang turun dari langit. Serasa seluruh tubuh berdenyut-denyut karena luka yang semakin menusuk ulu hati. Luka timah panas yang masih bersarang di dalam tubuh serta perihnya butiran air dengan kadar asam lebih tinggi masuk perlahan-lahan melewati pori-pori.

Aku mengerang kesakitan. Suaranya beriringan dengan suara derasnya air hujan yang diprediksi tak akan reda sampai esok hari. Mataku terbelalak menahan luka ini. Tak cukup kuat. Aku pun terpejam.

Ketika membuka mata, aku mendapati diri tegeletak di pojok ruangan dengan tubuh menggulung seperti trenggiling. Matahari masuk melalui celah-celah atap yang koyak, menyinari tembok-tembok batu yang berlumut. Ia seperti tak bisa bernapas. Sama sepertiku, mencoba bernapas dengan sisa tenaga yang ku punya. Bahkan aku tak tahu apa aku masih punya tenaga untuk berdiri. Separuh kakiku tak bisa digerakkan, sarafnya mati.

Dengan tangan berpegangan pada kayu dan badan bersandar pada dinding, aku mencoba bangkit. Aku tersentak, hampir saja terjatuh, tiga manusia yang telah menjadi kerangka tertidur pulas di ranjang. Seorang pria dewasa dan seorang wanita, dapat ku tebak karena tulang pinggulnya lebih lebar, juga seorang anak perempuan kecil. Ku duga, karena ia memeluk boneka beruang usang dengan jemari yang tak berdaging. Mereka tengah tertidur dengan tenang di surga.

Bandul dengan motif yang amat ku kenal. Ku ambil kalung itu dari leher si tengkorak wanita. Menjejerkannya dengan punggung tangan kiriku. Dua crop circle yang sama dan sebangun. Ku kalungkan benda itu pada leherku, seraya meminta maaf karena aku mengambil barangnya tanpa ijin. Ini bukan mencuri. Toh, ia tak akan membutuhkan barang ini ketika di surga.

Ku belai punggung tangan kiriku. Membelai tonjolan daging yang membekas, aku masih dapat merasakan panas bara api kala makhluk-makhluk itu menjejalkannya dengan paksa padaku. Bangsat!

Aku keluar dari pondok itu dan melanjutkan perjalananku. Dengan kaki meja yang telah ku patahkan, aku berjalan terseok-seok melewati jalanan berbatu. Lebih terang dari sebelumnya karena matahari membantu lewat sinarnya. Aku dituntunnya ke arah cahaya.

s_Cinderella_Sister_12

Kemanakah aku akan pergi? Aku bertanya-tanya dalam hati.

To be continue ..

Iklan

15 thoughts on “Pelarian

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s