Mandarinia

Aku terlahir di sebuah koloni pemakan sesama. Tinggal di sebuah rumah yang beranggotakan selusin jutaan makhluk yang berbentuk sama sepertiku. Badan bercorak hitam kuning sepanjang delapan sentimeter. Dengan kepakan sayap kuat dan rahang bawah bagaikan cakar-cakar yang tajam. Mereka menyebut kami mandarinia, koloni lebah raksasa.

mandarinia

 Berjalan berlandaskan monarki kerajaan dimana setiap anggota memiliki strata sosial yang tak bisa diubah akibat sejarah nenek moyang. Tunduk dalam setiap peraturan yang tak pernah adil bagi kami. Memiliki banyak kewajiban namun tak punya hak.

Begitu banyak anggota koloni ini, kami hanya punya satu ratu. Ratu Mona, ratu lebah yang terhormat. Ratu lebah yang kami cintai. Ratu lebah yang terus memberi keturunan pada koloni mandarinia. Lihatlah ukuran badannya yang lebih besar dari anggota koloni lainnya, berjalan anggun melewati kami, kedipan mata majemuknya sungguh memikat hati. Lebah mana yang tak jatuh hati padanya. Semua rela untuk berbagi cinta pada Ratu Mona.

Geofani, salah satu pengawas dari koloni mandarinia memakan telur temuannya dengan lahap. Telur ketiga yang ia temukan hari ini, telur ilegal. Setiap telur yang ditanam di dinding lubang segi enam yang bukan kepunyaan ratu, maka dianggap ilegal. Tiga mandarinia betina yang kedapatan menyembunyikan telur-telur mereka akan dieksekusi mati hari ini. Salah satunya Lea, teman baikku.

Lea menatapku. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya. Ku balas tatapan matanya lewat mata majemukku. Sudah ku katakan padanya, betina sepertinya tak punya hak untuk bertelur. Kami semua adalah budak yang harus menaati perintah ratu. Di tengah keributan para mandarinia yang berlalu-lalang keluar masuk sarang dan di tengah bisingnya suara kepakan-kepakan sayap jutaan mandarinia, aku melihat Lea terjatuh ke bawah setelah disengat beberapa kali oleh sekelompok mandarinia pengeksekusi. Aku melihat tubuhnya tergulung ke dalam, jatuh, dan kering. Ia tak bernyawa.

Tak ada bedanya antara mati hari ini atau hidup selamanya jika kau tak punya hak untuk melakukan apa saja semaumu.

Di dalam sarang setinggi dua setengah meter dari permukaan air laut, larva-larva lebah mengeruk sarang-sarang mereka dengan mulut-mulut rakus. Seperti bayi merengek minta susu. Sekawanan larva lebah menggeliat kelaparan minta makan. Sebagian mandarinia sebagai petugas pemberi makan bayi-bayi lebah itu  memasukkan bongkahan-bongkahan daging yang dibentuk seperti bulatan pada lubang-lubang segi enam yang berjajar beraturan.

“Persediaan hampir habis”, ujar petugas pemberi makan padaku. Ini saatnya tim kami yang bertindak. Prajurit Mandarinia.

Satu jam yang lalu Neal telah mengintai koloni lebah madu yang berada di koordinat lima puluh tujuh derajat di sebelah tenggara dari sini dan kami akan segera berangkat.

Membawa pasukan sebanyak tiga puluh personel dengan kecepatan melebihi kecepatan cahaya kami melesat menuju tempat kejadian perkara. Akan terjadi pembantaian besar-besaran disini. Tak ada tempat bersembunyi. Kalian akan mati.

Dengan tubuh lima kali lebih besar, kami dapat mengalahkan koloni mereka. Rahang bawah mengoyak-ngoyak tubuh kecilnya. Meleparkan ke udara dan mendarat dengan keras di atas dedaunan kering. Melewati labirin-labirin yang sempit. Menyerbu ke dalam dan membunuh sang ratu. Membunuh adalah pekerjaan yang menyenangkan. Kau perlu mencobanya.

Keheningan sayap-sayap ganas dari ketiga puluh personel pasukan mampu memusnahkan 30.000 lebah madu yang berjaga di pintu depan. Membunuh semua keturunannya. Membajak semua hasil madunya tak bersisa. Bahkan menjilatinya dari bangkai lebah-lebah yang mati.

Kami adalah Mandarinia, koloni lebah raksasa. Koloni lebah madu adalah lawan yang bisa dan siap untuk kami kalahkan. Dan kami menang hari ini.

Pulang ke sarang dengan membawa berjuta-juta daging dan madu. Persediaan makanan menumpuk di sudut. Lebih dari cukup untuk melewati musim dingin tahun ini. Aku berdiri di depan pintu. Dengan sayap terkepak, perut membusung, dan tengah menjilati sisa madu yang terciprat di tubuhku.

Semusim telah berlalu, larva-larva kini telah menjadi mandarinia yang perkasa, yang siap untuk mempertahankan singgasana ratu hingga akhir hayat. Sarang bertambah besar seiring dengan bertambahnya larva-larva baru di dalam bilik-bilik berbentuk segienam.

Pertahanan terbaik adalah mengenali musuhmu. Sekarang waktuku untuk melakukan pengintaian. Mengenali siapa mangsa selanjutnya.

Letaknya tiga puluh derajat ke arah barat daya. Sekelompok kecil Melifera. Lebah madu eropa. Banyak feromon yang bisa dikeruk paksa. Aku tertawa-tawa dalam hati. Kemudian menghentikan kepakan sayap dan mengintip ke dalam lubang sarangnya.

Tiba-tiba mereka menyerangku. Lebah cerana. Senjata rahasia mereka yaitu menyerang bergerombol. Kepakan dan gemeretaknya tak berhenti. Menghujamiku dengan bius-biusnya. Menghancurkan sistem saraf. Dan aku berubah menjadi potongan-potongan kecil.

Mengorbankan diri.

*Terinspirasi dari National Geographic Channel

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s