SURYA

Orang-orang berbondong-bondong masuk ke dalam rumah mereka masing-masing. Menutup setiap jendela, menyibakkan tirai-tirai berdebu, dan mengunci pintu dengan rapat. Mereka tak akan membiarkan surya masuk ke dalam rumah mereka. Namun Surya terduduk di trotoar. Dengan kacamata tebal dan sebuah tongkat tua, setia menanti datangnya surya.

Masih jam sembilan pagi surya memancarkan cahayanya terik sekali. Penjual es keliling dagangannya habis diserbu pembeli yang menggila karena kepanasan dan kehausan. Di tengah keramaian pasar, Surya sibuk memikul berkarung-karung beras. Keringat bercucuran dari dahinya. Tangan hitam legam terbakar itu dipenuhi otot-otot besi. Sudah sembilan kali ia bolak-balik dari truk pengangkut menuju toko majikannya.

Lima puluh rupiah upahnya. Alis Surya mengkerut.

“Tak ada tambahan lagi, bos?”, tanyanya.

“Ku potong hutangmu minggu lalu. Sudahlah terima saja”, majikannya melengos menghitung rincian kredit di dalam pembukuan. Ia sama sekali tak memandang wajah Surya.

Surya mendengus kesal. Mulutnya komat-kamit mengucapkan sumpah serapah yang tak terdengar oleh telinga manusia. Melati tersenyum melihatnya. Surya salah tingkah. Keringat hampir saja masuk ke dalam mulutnya. Surya hanya bisa nyengir kuda. Kalau saja tak ada Melati di toko ini, Surya pasti tak akan mau bekerja untuk majikannya yang pelit itu.

“Aku menunggumu di lapangan jam dua belas tepat”, ucap Surya diiringi anggukan lembut Melati. Hatinya tenang, ia bisa tersenyum sekarang.

Ia keluar dari toko. Mengelilingi pasar, mencari makanan yang dapat dibeli dengan uang sesedikit itu. Sesaat ia melihat cahaya kemerahan di sekelilingnya. Anak kecil penjual koran berteriak sengau, “Surya akan menghilang! Surya akan menghilang ditelan bulan!”.

Surya menengadah. Melihat surya yang sesekali mengeluarkan cahaya kemerahan dari intinya yang panas. Peluhnya jatuh. Ia merasa surya semakin mendekat padanya. Surya semakin membesar dan semakin panas. Bajunya basah.

Surya masih terduduk di pinggir jalanan yang sepi dari lalu-lalang kendaraan. Ia tak berhenti mengetuk-ngetukkan ujung tongkatnya ke aspal. Surya tak dapat mengendalikan tangan tuanya. Sesekali ia membetulkan letak kacamata yang terkadang melorot dari batang hidungnya. Kedua bola matanya berputar. Kadang ke kiri kadang ke kanan, tak pernah bersamaan.

Detik yang berada pada arloji yang melingkar di pergelangan tangan kiri berputar dengan cepat. “Sebentar lagi”, ujarnya menenangkan diri. Ia bahkan tak dapat melihat jam tangannya sendiri.

Surya melihatnya dengan mata kepalanya sendiri. Tepat tengah hari ia melihat surya menghilang ditelan bulan. Bulan memakan rakus surya sampai ia hanya menyisakan sedikit keliling lingkaran luar surya yang masih ditempatkan di langit yang sama. Saking rakusnya bulan bahkan tak memberikan awan tempat untuk tinggal. Awan juga menghilang tepat ketika surya ditelan oleh bulan.

Jam dua belas lewat lima belas menit. Suasana di sekitar Surya berubah menjadi hitam gelap kemerahan. Awalnya. Namun lama kelamaan ia tak bisa melihat sekeliling, tak bisa melihat bagian tubuhnya sendiri. Hitam. Surya berbaur dengan kegelapan.

Surya berlari menuju rumah. Berlari amat kencang menyamai kecepatan cahaya. Napasnya hampir habis ketika berada di ambang pintu.

“Kenapa kau berlari-lari kesetanan?”, tanya Ibunya yang sibuk menjahit.

Surya masih sibuk mengatur napas. Ibunya berdiri, mengambilkan segelas air putih untuknya. Sesekali mengelus punggung Surya ketika ia tersengal tak bisa mengatur tenggorokan ataukah kerongkongannya yang lebih dahulu bekerja.

“Surya …”, katanya sambil menunjuk surya yang berada di langit ditemani segerombolan awan putih,” … ia akan menghilang hari ini”.

Ibunya mengerutkan dahi.

“Kata orang-orang di pasar, surya akan ditelan bulan. Tak akan ada lagi cahaya terang, tak akan ada lagi kehangatan, tak akan ada lagi … aku”, ia menunjuk dirinya sendiri.

Glek! Surya menelan air ludahnya, “Kiamat!”.

Ibunya mengerutkan dahi sekali lagi tanda benar-benar tak mengerti dengan ucapan Surya. Ibu takut anaknya mulai gila.

“Aku harus melamarnya sekarang!”, ujarnya tiba-tiba. Melesat bagai peluru. Baru saja sampai di rumah, Surya langsung pergi lagi. Ia bahkan tak peduli dengan teriakan Ibunya di belakang.

“Surya! Bayarkan hutang Ibu sebelum kiamat datang!”.

Keduanya berbaring di lembutnya rumput hijau bukit desa. Surya menyibakkan rambut Melati yang sesekali tertiup hembusan angin. Ia menyematkan sekumtum mawar merah pada sela rambut Melati.

“Cintaku seperti surya. Terang benderang menerangimu. Menghangatkanmu dengan kasihku. Cintaku seperti surya. Tetap abadi sampai surya berhenti bersinar lagi”.

Melati tersenyum, “Terima kasih mas. Karena telah memberikan sebagian cahayamu kepadaku”.

Mereka melihat awan-awan berarak ke selatan.

“Besok ada pertunjukan tari topeng dari desa sebelah yang kabarnya akan pentas di pasar. Maukah kau menemaniku melihatnya?”, tanya Melati.

“Ya. Aku menantimu besok di lapangan”, jawab Surya.

“Jangan terlambat. Jika kiamat tiba, aku tak mau menantimu”, kelakar Surya diiringi tawa riang Melati.

Lima belas menit sebelum tengah hari, Surya telah tiba di lapangan belakang pasar tempat ia bekerja. Menunggu kedatangan Melati.

“Mengapa kau tak bersembunyi, kawan?”, tanya seorang penggembala dengan dua kambingnya yang sedang menuju rumah. Hendak bersembunyi.

“Bersembunyi dari apa?”.

“Bersembunyi dari langit”.

“Untuk apa bersembunyi?”.

“Langit sedang marah. Surya terlalu sombong dengan segala kehebatannya. Makanya bulan akan datang untuk menelan kesombongannya itu”, ucap penggembala tak berpendidikan itu.

Surya tersenyum kecut. Ia tak percaya. Jangankan percaya dengan manusia, dengan Tuhan pun ia tak percaya. Merasa kata-katanya tak didengar, gembala itu meninggalkan Surya sendirian disana.

Menatap langit yang cerah. Surya melihat Melati dengan jarik lusuhnya datang dari utara. Ia sangat cantik, gumam Surya.

“Menikahlah denganku”.

Melati tertegun mendengar pernyataan Surya.

“Apa yang kau ucapkan?”.

“Menikah. Menikahlah denganku”, ucap Surya sekali lagi.

Melati masih tertegun. Terdiam dan tak bisa berpikir. Ia memandang Surya.

“Ada apa Melati? Jawablah sekarang. Maukah kau menikah denganku?”.

“Surya …”, Melati mulai membuka mulut, Surya memincingkan mata dan pendengarannya. Ia tak mau melewatkan peristiwa ini.

Melati tiba-tiba menunjuk ke langit. Surya menoleh. Mereka berdua melihat bulan datang menuju surya. Melati berteriak menutup mata dengan kedua telapak tangannya. Surya terdiam tak berkedip.

Selain menelan surya, ternyata bulan telah membutakan mata Surya. Ia masih bisa berkedip namun ia tak merasakan perubahan apapun, kecuali bola matanya yang mengering saat ia mencoba tak berkedip sama sekali. Terdengar Ibunya dan Melati terisak disampingnya.

“Aku tidak apa-apa”, ucap Surya, “Penglihatanku akan kembali ketika surya bersinar lagi”.

Satu hari, satu minggu, satu bulan, satu tahun. Bulan tak meludahkan surya dari mulutnya. Langit masih gelap sama seperti dulu. Surya tak bersinar, begitu pula penglihatan Surya yang tak kunjung membaik. Ia tetap tak bisa melihat.

Melati akan setia menanti Surya bersinar kembali. Awalnya. Ketika mengetahui bahwa surya akan keluar dari mulut bulan satu dasawarsa lagi, Melati pun mundur. Tiga tahun setelahnya ia menerima pinangan pria pilihan orang tuanya. Apalagi Ibunya tak bisa menerima menantu buta yang tak bisa apa-apa seperti Surya.

Mau tak mau Surya harus menerima kenyataan pahit ini. Ia bertekad akan menanti surya keluar dari mulut bulan. Berharap ia akan mendapatkan Melati kembali seiring dengan sang surya yang bersinar lagi. Walaupun semua itu akan menghabiskan satu dasawarsa dalam hidupnya.

Hangat. Surya telah kembali. Surya bergumam dalam hati. Ia berdiri dibantu tongkat tuanya. Merentangkan kedua tangan untuk mendapatkan kehangatan surya yang dirindukannya. Surya maju selangkah demi selangkah. Mencoba merengkuh suryanya yang telah lama hilang.

Suara-suara aneh datang bergiliran masuk ke telinga kanan dan telinga kirinya. Mendekat dan semakin merapat padanya. Aku mendapatkan suryaku, aku mendapatkan penglihatanku, aku mendapatkan Melatiku. Ia berteriak dalam hati.

Brak!

Orang-orang membuka jendela dan pintu mereka, keluar dan mencari tahu apa yang sedang terjadi. Mereka mendapati tubuh Surya teronggok jatuh. Darah segar mengalir di bawah tubuhnya yang meringkuk di jalan.

“Sudah ku bilang pria buta ini jangan sembarangan menyeberang. Sekarang lihat saja apa akibatnya!”, umpat lelaki muda yang mobilnya menabrak Surya.

“Sudahlah jangan pedulikan orang gila ini. Semasa hidup ia tak berguna, mati pun tak akan ada yang mencarinya”, ujar wanita di dalam mobil.

Surya yang gila karena setengah mati mencintai Melati, wanita yang tak pernah mencintainya. Surya yang buta karena dilempari katak beracun di wajahnya oleh gembala yang tak suka karena Surya meremehkan kata-katanya. Surya yang merindukan surya yang tenggelam selama satu dasawarsa itu pun tak akan bersinar lagi untuk selamanya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s