Tante Mia

Ceritanya itu gue dulu kan tomboy setomboytomboynya –tapi masih doyan cowok ganteng bro, tapi ga punya pacaaar (meratapi nasib). Trus rencananya nanti kalo udah punya pacar itu yang mau nerima ketomboian gue dan ga maksa gue untuk pake rok dan eyeliner.

Tapi mana ada sih cowok suka cewek ganteng?
Kan mereka enggak mau tersaingi kegantengannya.
Oalah. Pantes aja dulu ga lakulaku:/

Dan akhirnya terciptalah cerpen berikut ini. Yang dibuat berdasarkan keinginan gue untuk punya mertua baik hati dan mau nerima katomboian gue. NGIMPI😀 Huahahaha~

Tante Mia

“Feminine? No way!,” pekik Luna.

“Ayolah Lun, sekali ini aja,” ajak Alan.

“Ga, pokoknya ga,”.

“Gue ga ngerti kenapa sih kamu keras kepala banget. Diajak berubah kok ga mau,”.

“Kamu yang keras kepala, kamu maunya menuruti kehendak kamu aja, kamu ga pernah minta pendapat aku dulu. Aku belum siap untuk ketemu ama Mami kamu,”.

Habis sudah kesabaran Alan.

“Ya udah kalo ga mau, aku bisa ajak orang lain,”.

Hati Luna mendidih.

“Ajak aja semua mantan-mantan kamu. Ya kalo gitu,… pertemuan hari Sabtu batal!!!,”.

***

Luna melemparkan tasnya begitu saja ke pojok kamar, menempatkan bola basketnya di samping tempat tidur, kemudian ia berdiri di depan cermin, mengamati keadaan dirinya. Sesosok tubuh kucel, rambut pendek yang berantakan, pakaian basket yang basah oleh keringat, plus kaos kaki yang belum sempat dicopot.

“Gue ga bisa jadi feminine,” katanya pelan.

Kemudian Luna berlalu mengambil handuknya dan berlari ke kamar mandi.

***

“Seger banget nih yang habis mandi,” kata seseorang yang melihat Luna keluar dari kamar mandi.

Luna tersenyum melihat sesosok ibu-ibu gemuk yang tak ia kenal duduk di kursi dapur, sedang membuat kue bersama Bunda.

“Luna, kenalin nih Tante Mia,” Bunda mengenalkannya kepada Luna.

“Malem, Tante,” sapa Luna.

“Malem juga, sayang. Kenapa mandinya kok malem-malem, ga takut kena rematik? Penyakit orang tua gitu,” canda Tante Mia.

“Sore tadi Luna habis dari latihan basket, Tante,” jawabnya.

Tante Mia masih mengaduk-aduk adonan berwarna hijau segar. Sedangkan Bunda menimbang tepung terigu. Luna kemudian menemukan sepucuk surat undangan berwarna merah mencolok di atas meja.

“Pernikahan siapa nih, Bun?,” Luna membolak-balikkan surat undangan tersebut.

“Ooo.. Bu Surya mau dapet menantu anaknya direktur,” jawab Bunda.

“Mbak Veni ya, Bun?,” Luna bertanya.

“Iya, cewek doyan shopping itu,” gosip Bunda.

“Waduh Jeng, bisa diporotin tuh suaminya, kasihan,” tambah Tante Mia.

Luna pun ikut membantu Bunda membuat kue.

“Omong-omong resepsinya dimana to, Jeng?,” tanya Tante Mia.

“Di Gedung Raya,”.

“Gedung dekat Pendopo Kabupaten itu to, Jeng. Wah itu kan gedung mahal, biayanya pasti berjuta-juta,”.

Was wes wos…, kebiasaan para ibu-ibu yang lagi ngumpul sukanya nggosipin orang. Luna cuma diem aja ga komentar ngeliatin Bunda ama Tante Mia yang mulai nyerocos ga karuan. Apalagi mereka berdua berbicara soal pernikahan, mengingatkan Luna pada ajakan Alan kemarin untuk makan malam dengan orang tuanya.

‘Apakah pada waktu makan malam nanti kami akan membicarakan tentang pernikahan?,’ tanya Luna dalam hati. Hati Luna sangat berdebar mengingat rencana pernikahannya dengan Alan yang mungkin akan dibicarakan pada waktu makan malam nanti. Namun sayang, Luna menolak ajakan Alan dengan alasan yang tidak logis, Luna belum siap untuk bertemu dengan orang tua Alan.

Setelah semua adonan jadi, Bunda meletakkannya ke dalam oven. Setelah menyelesaikan tugasnya dengan baik, Luna kemudian meninggalkan mereka berdua menuju ke ruang tengah untuk melihat acara kesukaannya. Sedangkan Bunda masih saja terus menggosip dengan Tante Mia.

Belum beberapa lama, kemudian terjadi keributan kecil di dapur diiringi dengan bau-bauan yang khas. Luna berlari menuju dapur, memperhatikan apa yang sedang ia lihat. Tante Mia kemudian memperlihatkan tampilan akhir kue yangtelah ia buat. Warna hijau yang cerah kini berubah warna menjadi hitam sehangus arang.

***

Hari Selasa tak banyak berubah, Luna masih saja marahan dengan Alan, bahkan kini Luna tak tau akan keadaan Alan sekarang.

Namun sepertinya kejadian kemarin tidak menjadikan Tante Mia kapok. Hari ini ia tetap mau datang ke rumah Luna untuk belajar membuat kue yang seenak kue buatan Bunda.

“Buat apa lagi, Tante Mia?,” tanya Luna.

“Masih buat kue yang sama ama yang kemarin. Kata Bunda kamu, kemarin Tante ga lulus ujian jadi bahan buat tesnya masih sama, ga bisa naik satu level,”.

Luna tersenyum mendengar candaan Tante Mia.

“Emangnya ada apa kok Tante ngebet banget pengen bisa buat kue?,” tanya Luna yang SKSD.

“Ada acara keluarga Sabtu besok,”.

“Ooo…,” Luna langsung teringat akan Alan. Luna merasa bersalah kepada Alan tentang kejadian Senin lalu.

“Kok bengong aja Lun? Bantuin Tante dong!,” ajak Tante Mia.

‘Heran? Kenapa sekarang acara nggosipnya ga tayang?,’ tanya Luna dalam hati. Lucu juga melihat Luna yang kini rindu akan gosipan dari Bunda dan Tante Mia.

“Wah,… sudah jadi,” Bunda mengeluarkan kue dari oven dengan hati-hati.

“Lebih bagus dari yang kemarin loh, Tante,” Luna memberi semangat pada Tante Mia.

“Jadi, Tante lulus dong?,” goda Tante Mia.

Mereka tertawa terbahak-bahak.

“Cobain nih, Lun,” Tante Mia memotong 1/8 bagian kue itu. Luna mencobanya, tetapi Luna merasakan sesuatu yang aneh dilidahnya.

“Enak ga, Lun?,” tanya Tante Mia berapi-api.

Luna hanya tersenyum kecut merasakan kue buatan Tante Mia.

“Kayaknya… Tante belum bisa lulus ujian deh…,”.

***

“Hari ini Tante Mia ga kesini, Bun?,” Luna kemudian duduk di kursi ruang tengah, disamping Bunda.

“Katanya sih hari ini libur dulu,” jawab Bunda.

“Ooo…,”.

“Kamu ga ada pekerjaan kan, Lun? Tolong beliin bahan-bahan kue buat besok ya,”.

“Ok deh Bunda,” Luna mengambil uang yang Bunda kasih, ia langsung saja pergi keluar.

“Luna,… ganti baju dulu…,” teriakan Bunda tak didengar oleh Luna yang terus berlari, Bunda hanya geleng-geleng kepala melihat Luna pergi dengan memakai celana pendek dan kaos kedodoran.

***

“Tante Mia?!?,”.

“Luna?!?,”.

Luna dan Tante Mia sangat kaget karena bertemu secara tidak sengaja di sebuah minimarket.

“Belanja apa’an, Lun?,” Tante Mia melihat keranjang Luna penuh dengan barang-barang belanjaan.

“Biasalah Tante, bahan-bahan kue,”.

“Pasti disuruh Bunda kamu ya?,”.

Luna tersenyum.

“Bunda kamu pinter banget ya bikin kue?,”.

“Ya ga juga sih Tante, dulunya juga gagal,”.

“Kayak Tante dong?,”.

“Ya bisa dibilang begitu,” Luna tersenyum.

“Kalo Tante belanja apa?,”.

“Tante juga ga tau mo belanja apa, tadi Tante habis dari rumahnya Bu Bagyo, eh tau-tau kenapa Tante kok pingin banget masuk ke minimarket ini, ya Tante masuk aja meskipun ga kepikiran mau beli apa. Eh ga taunya malah ketemu kamu,”.

“Mungkin kita jodoh, Tante?,” goda Luna.

“Wah kebeneran kalo gitu,”.

“Kebeneran gimana, Tante?,”.

“Kebeneran kalo kamu Tante jodohin ama anak Tante,”.

“Ah Tante nih bisa aja,”.

“Serius Loh!,”.

Luna cuma bisa tersenyum mendengar pembicaraan Tante Mia yang mendekat pada pembicaraan tentang pernikahan, membuatnya semakin ingat Alan. Apalagi ketika Luna berjalan di dekat rak penuh permen, ingatan akan Alan semakin kuat saja.

“Kamu suka permen, Lun?,” tanya Tante Mia yang menyadari Luna yang terdiam melihat ke arah permen lollipop.

“Iya, Tante. Aku suka banget,” jawabnya.

‘Begitu juga dengan Alan,’ batinnya.

“Tante juga suka loh, apalagi nih permen yang imut-imut,” Tante Mia mengambil sebuah permen lollipop.

“Tante suka permen lollipop?,” Luna heran.

“Kaget ya? tua-tua gini juga masih suka ama yang manis-manis loh,” candaan Tante Mia.

“Apa lagi keripik ini juga kesukaan Tante,” Tante Mia mengambil keripik dari rak paling atas.

‘Kenapa kesukaannya Tante Mia tuh persis ama kesukaannya Alan?,’ tanya Luna dalam hati.

“Kamu juga suka, Lun?,” tanya Tante Mia tiba-tiba yang mengagetkan lamunan Luna.

“E… pacar saya juga suka keripik, tapi kalo saya lebih suka roti,” jawab Luna jujur.

“Sudah punya pacar ya? Tante kira belum, kalo belum kan kamu bisa sama anak Tante,” sekali lagi Tante Mia membahas hal yang sama.

‘Tante Mia nih ada-ada aja, nawarin anaknya segala. Tapi kalo ibunya kayak Tante Mia gini aku pasti mau ama anaknya,’ Luna tertawa dalam batinnya. Mengapa ia sampai memikirkan perkataan Tante Mia sejauh itu.

***

“Hari ini Tante ga boleh gagal ya!!!,” Luna memberi semangat pada Tante Mia.

Entah karena apa, kali ini Tante Mia terlihat begitu bersemangat untuk menyelesaikan ujian membuat kuenya. Luna yang tengah melihat keasyikan Tante Mia membuat kue dikejutkan oleh telephone dari Alan.

“Luna?,” kata seorang lelaki di telephone itu.

“Ya…,” jawab Luna mendesah.

“Sori,… kemarin aku emang salah ama kamu, aku udah maksa-maksa kamu, tapi makan malam itu ga bisa dibatalin, aku pingin banget kamu bisa dateng ke acara itu, ini acara special, Lun,”.

“Kamu masih mau mengharapkan kehadiranku di tengah keluargamu?,”.

“Aku butuh kamu, Lun,”.

Mereka sejenak terdiam.

“Aku ga akan maksa kamu untuk tampil feminine, aku sangat menghargai kamu apa adanya,… plis… dateng ya?,”.

Luna berpikir sejenak, ia tak akan melewatkan kesempatan ini. Akhirnya Luna meng-iya-kan tawaran Alan. Terdengar suara Alan yang gembira di balik telephone.

“Aku jemput kamu ya?,”

“E… gimana kalo aku dateng sendiri aja, aku mo bikin surprise buat kamu dan keluarga kamu, boleh?,”.

“… kalo itu mau kamu,… ya terserah kamu aja. Tapi, janji ya kamu dateng?,”.

“Aku pasti dateng,”.

Wajah Luna tersipu malu setelah Alan memberinya salam terakhir, tiga kata cinta. Luna meletakkan gagang telephone ke tempatnya dan berbalik ke arah dapur. Wajahnya masih berseri-seri sama berserinya dengan wajah Tante Mia yang ternyata telah dinyatakan lulus ujian membuat kue.

***

Hari Sabtu besok adalah hari yang mendebarkan untuk Luna. Maka dari itu, Luna sangat senang ketika diajak shopping bersama Tante Mia. Di Mal, Tante Mia masih sibuk memilih-milih baju. Luna malah bingung, tak tau apa yang akan ia beli.

“Idih-idih, nih anak gaya banget, udah kulitnya item, pake rok mini lagi, dandanannya menor banget, apalagi rambutnya,… aduh diwarna apaan sih,” Tante Mia menunjuk seorang cewek yang melintas di dekatnya.

Kemudian Tante Mia mengalihkan pandangannya menuju ke arah seorang cewek yang berambut cepak, T-shirt, celana jeans longgar, plus sepatu kets.

“Tante lebih suka gaya kamu, Lun,”.

Luna gembira mendengarnya, ‘Ternyata ada juga yang memuji penampilanku,… andai saja Maminya Alan seperti Tante Mia, pasti aku tak akan repot-repot seperti ini. Penampilan pertama untuk Maminya Alan pasti harus istimewa, tapi… aku takut kalo nanti Maminya Alan ga suka, duh gimana ya?… Kalo gini ceritanya, aku pengen banget punya mertua kayak Tante Mia,’ khayalan Luna mulai kumat.

“Luna,… sini!,” Tante Mia mengajak Luna menuju rak gaun-gaun indah berkilauan.

“Kamu suka gaun kayak gini?,” tanya Tante Mia sambil memamerkan gaun yang berbalut warna hijau ngejreng.

Luna menelan ludah. Tak bisa membayangkan bagaimana jadinya jika ia yang memakai gaun yang berwarna mencolok itu. Tante Mia tertawa terbahak-bahak.

“Ga mungkin lah Tante milihin baju kayak gini buat kamu. Tante lebih suka kamu tampil apa adanya,”.

“Tapi Tante, baju apa sih yang cocok buat makan malam?,” Luna bertanya dengan malu-malu.

Tante Mia memilih-milih gaun yang sekiranya cocok dengan Luna. Kemudian ia memperlihatkan sebuah gaun berwarna biru indah berbalut bulu-bulu yang lucu. Meskipun Luna agak tidak setuju dengan gaun pilihan Tante Mia, namun Tante Mia dapat meyakinkan Luna dengan segala macam trik yang dimilikinya. High heels juga turut menemani barang belanjaan Luna, tetapi dengan ukuran yang tidak terlalu tinggi sesuai dengan permintaan Luna, karena ia merasa kurang nyaman memakainya. Setelah melakukan perawatan di salon, kemudian mereka pulang.

“Kalo seandainya Sabtu besok kamu tidak ada acara, Tante ingin sekali agar kamu datang di acara keluarga Tante. Tante ingin sekali mempunyai menantu seperti kamu, Lun,” ajakan Tante Mia yang membuat hati Luna melayang, perasaan Luna luluh dibuatnya.

***

Luna telah siap di depan rumah Alan. Dengan memakai balutan baju biru dan sepasang sepatu cantik membuat Luna terlihat semakin anggun. Ditambah dengan aroma sedap yang berasal dari kotak bingkisan kue yang akan Luna berikan pada keluarga Alan.

Alan yang sangat kaget dengan perubahan yang Luna buat, ia segera mempersilahkan Luna masuk. Mereka pun menuju ruang makan. Luna sangat berhati-hati dalam menjaga penampilannya, kemudian ia tersenyum kepada semua anggota keluarga Alan, kedua adik perempuan, seorang kakak laki-laki, Papanya Alan juga ada, dan seorang ibu-ibu yang sangat dikenalnya,… Tante Mia!!!

Tante Mia yang juga terlihat sama kagetnya dengan Luna, tak menyangka hal ini bisa terjadi. Seketika itu Tante Mia mengajak Luna menuju dapur untuk berpura-pura akan mengambil makanan.

“Luna?… kamu cantik sekali. Kenapa kamu ga ngomong sama Tante kalo kamu pacarnya Alan?,” Tante Mia masih terpesona dengan penampilan Luna yang beda dari biasanya.

“A-aku juga tau, Tante,”.

“Kita memang berjodoh,” senyuman Tante Mia tak hilang-hilang dari wajah cerianya.

“Itu kue dari Bunda kamu?,”.

“Iya,…,”.

Kemudian Luna dan Tante Mia keluar dari dapur dengan wajah berseri-seri sambil membawa kue dari Bunda. Alan masih bingung mengapa Luna bisa seakrab itu dengan Maminya. Sstt… ini rahasia Luna, Tante Mia dan juga kamu…

***

One thought on “Tante Mia

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s