Layang-layang Pecah

Salah satu teenlit terbaik –menurut gue. Tapi ga pernah terbit di majalah. Apa mungkin terlalu lebai kali ya? Hhhmm. Tapi bagus kok. Enelan😉

LAYANG-LAYANG PECAH

“Aril, kata suster kamu memuntahkan obat lagi,” Ibu memandang Arila, marah.

Arila diam, duduk di ranjangnya. Memandangi setumpuk obat di laci kamarnya.

“Sekali lagi Ibu dengar suster bilang bahwa kamu memuntahkan obat atau menghilangkan obat juga tidak minum obat pada waktunya, maka Ibu tidak akan mengijinkan kamu untuk pergi ke rumah Nenek,” tegas Ibu. Arila terbelalak kaget.

“Tapi Bu?,” Arila mengajukan opininya.

“Turuti perintah Ibu!!,” Ibu kemudian keluar pergi, diikuti seorang suster yang amat dibenci Arila.

Tinggallah Arila sendirian di kamarnya. Memikirkan betapa menyenangkannya berlibur ke rumah Nenek, melihat hijaunya sawah, sejuknya hawa pegunungan, lucunya si Pony, kuda kecil milik Nenek. Tetapi kalau Ibu tidak mengijinkan, maka…

Arila pergi ke taman belakang, melihat dengan seksama sebuah rumah pohon yang indah berada di atas. Ia memanjat dan terus memanjatnya, meski ia tau kalau ia bakal kena marah akibat ulahnya ini. Ia memandang ke sekeliling rumah kecil itu, rumah indah yang mengingatkannya kepada Ayah tercinta. Rumah pohon inilah yang menjadi saksi bisu persahabatan Arila dengan keluarganya. Bahkan Ibu yang takut akan ketinggian dengan rela mau memanjat ke rumah pohon ini untuk berkumpul bersama Ayah dan Arila. Keluarga bahagia,… dulu.

Tetapi kecelakaan maut telah mengubah segalanya. 27 September tahun lalu merupakan hari yang tak terlupakan bagi Arila. Ayahnya meninggal karenanya, Arila mengalami penurunan fungsi pertahanan tubuh sehingga hidupnya kini harus bergantung kepada obat-obatan. Hanya Ibu yang yang terlihat tegar karena tak mengalami sakit secara fisik, tetapi hatinya amat pedih mengingat kejadian itu. Sehingga kini Ibu menjadi amat protektif kepada Arila, karena Arila adalah seseorang satu-satunya yang dimiliki Ibu.

Arila mengusap air matanya. Sudah terlalu lama ia berada di rumah pohon itu, ia takut dimarahi lagi oleh Ibu. Baru saja ia akan menuruni anak tangga, tiba-tiba ia mengurungkan niatnya. Ia kembali duduk di dalam rumah pohon itu.

“Lagi pula Ibu pasti belum pulang dari kantor,”.

Arila memandang luas ke arah langit biru yang jernih. Memandang sesuatu yang indah bergerak melayang-layang diatas kepalanya. Melihat indahnya layang-layang yang menari. Berbagai bentuk juga terdapat disana. Layang-layang kupu-kupu lah yang mencuri perhatian Arila.

“Duh… indah banget layang-layang itu. Kupu-kupu berwarna-warni terbang bebas di atas awan,” Arila membayangkan dirinyalah layang-layang kupu-kupu itu. Melintasi tujuh samudera, tujuh lapisan langit, dan tujuh keajaiban dunia.

“Aril!!!, turun!!!,” perintah Ibu yang tak dapat dilanggar membuat Arila kaget setengah mati.

***

Sore ini Arila lagi-lagi mempunyai kesempatan untuk menengok teman barunya, layang-layang kupu-kupu pelangi. Kini ia telah berada di rumah pohonnya, memandang ke belakang. Ia melihat sekumpulan anak-anak seusianya yang sedang memainkan layang-layang indah berwarna-warni.

“Andai saja Ayah berada di sini, pasti ia akan mengajakku melihat layang-layang itu,” Arila teringat akan janji Ayahnya yang akan membuatkan layang-layang indah untuk festival musim panas, tetapi kini festival itu telah lama berlangsung tanpa kehadiran Arila dan Ayahnya.

Arila tabah menghadapi nasibnya yang tak begitu bagus.

Ia terus saja asyik menikmati keindahan layang-layang kupu-kupunya yang bergerak tak tentu arah terkena hembusan angin. Kesana kemari membuat pola irama yang indah.

“Aril!!!,” sekali lagi Ibu memergokinya berada di rumah pohon.

Arila turun dengan hati-hati. Ibu mencengkeram tangan Arila begitu ia sampai di bawah.

“Ibu, sakit,” Arila meronta. Tetapi Ibu tak melepaskannya. Ibu membawa Arila masuk ke dalam kamarnya.

“Ibu tidak mau melihatmu lagi bermain di rumah pohon,” kata Ibu sebelum ia mengunci pintu dari luar. Tanpa sengaja Arila melihat seberkas air mata yang jatuh dari mata Ibunya.

Arila terdiam dalam lamunannya. Ia merasa bersalah karena telah banyak melanggar perintah Ibunya. Ia tau bahwa Ibu sangat sayang kepadanya, dan tak ingin kejadian seperti waktu itu terulang lagi kepadanya. Kini Arila berjanji, ia tak akan lagi datang lagi ke rumah pohon itu lagi. Meski ia tau bahwa ia tak akan bisa melihat temannya lagi, layang-layang kupu-kupu.

Arila mengambil beberapa obat di atas laci, menelannya, dan segera terlelap tidur.

***

Ternyata Arila benar-benar menepati janjinya. Seharian ini ia menjadi anak baik dan penurut untuk Ibunya. Pagi-pagi benar ia membangunkan suster yang merawatnya agar mau menyiapkan sarapan pagi untuknya. Sesegera mungkin ia menelan obat yang rutin ia minum. Begitu juga dengan siang harinya, kali ini ia dengan senang hati merelakan jam nonton tvnya, diganti dengan jam tidur siang. Sungguh aneh kebiasaannya kali ini. Begitu juga dengan sore harinya, Arila menahan dirinya agar tidak mengunjungi rumah pohonnya. Ia mondar-mandir dengan gelisah di kamarnya, mencoba untuk tidak lagi melanggar perintah Ibunya.

Karena sudah tidak tahan lagi, akhirnya Arila dengan nekat menuju taman belakang. Ia memandangi birunya langit yang kosong tanpa ada satu layang-layang pun.

“Terlambat…,” Arila menyesal karena hari ini ia tidak menemukan layang-layang kupu-kupunya.

Hampir saja ia terjatuh karena terantuk sesuatu. Sedari tadi ia hanya melihat ke atas, tak melihat ke bawah. Betapa senangnya Arila begitu mengetahui layang-layang kupu-kupu itu mampir ke taman belakang rumahnya. Ia membawa masuk layang-layang itu, tetapi tali pengikatnya hampir saja merusak keutuhan layang-layang itu. Arila meraih tali itu dan menariknya pelan-pelan. Dan tanpa diduga ia menemukan selembar kertas lusuh dibagian akhir tali tersebut. Kertas itu terikat pada ujung talinya. Arila membuka kertas lusuh itu dan menemukan sebuah tulisan yang terlihat serabutan tidak rapi, sepertinya ditulis terburu-buru. Kemudian ia membacanya dengan hati-hati.

Maaf karena layang-layangku telah memasuki halaman rumahmu tanpa izin. Itu karena tali layang-layangku putus, dan layang-layang itu terbang tertiup angin, berlari hingga sampai di halaman rumahmu. Kalau boleh, aku meminta layang-layang ini kembali, karena hari festival ini masih belum selesai. Jika festival ini sudah berakhir, kamu boleh memintanya kembali dariku. Akan kuambil layang-layangku ini besok sore, di pagar belakang rumahmu. Terima kasih.

Betapa senang hati Arila setelah membaca surat itu, sang pemilik layang-layang kupu-kupu itu mau mengunjunginya. Arila tak dapat membayangkan betapa senangnya ia besok, karena ada seseorang yang mau menjadi temannya, sang pangeran kupu-kupu dan layang-layangnya, begitulah Arila menjulukinya.

Arila segera membawa masuk layang-layang besar itu, menempatkannya di samping tempat tidurnya, dan berharap agar segera bertemu dengan pangeran kupu-kupu secepatnya.

***

Arila memandangi layang-layang kupu-kupu itu seharian. Bolak-balik ia melihat jam dinding yang masih saja menunjukkan angka dua belas.

“Kurang tiga jam lagi,” Arila tak sabar menanti datangnya sore hari.

Ia kemudian mengintip dari balik pintu kamarnya, mengawasi Ibu yang masih menonton tv di ruang tengah. Arila bingung, ia takut untuk meminta izin kepada Ibu agar memperbolehkannya bermain di taman belakang.

Ia kembali ke tempat tidurnya, sekali lagi memandangi layang-layang kupu-kupu indah itu.

“Mungkin engkau tercipta hanya untuk menemaniku,” Arila hampir saja berpikiran untuk tidak mengembalikan layang-layang kupu-kupu itu kepada pemiliknya.

“Aku tidak rela melepaskan engkau layang-layang,” katanya memelas.

Akhirnya Arila mengumpulkan keberanian untuk meminta izin kepada Ibu.

“Ibu?,” Arila duduk mendekat kepada Ibu.

“Ada apa?,” tanya Ibu sabar.

“B-bolehkah aku sore ini bermain di taman belakang?,”.

Ibu menghela napas panjang.

“Sudah Ibu katakan, kamu jangan bermain lagi disana,” Ibu mengambil majalah dan membacanya, mencoba untuk tidak memperhatikan Arila yang duduk di dekatnya.

“Tapi Bu?,”.

Ibu diam saja tak menjawab pertanyaan Arila. Dengan sibuk Ibu membolak-balikkan majalah yang ia baca.

“Kamu sekarang tinggal pilih, berlibur ke rumah Nenek, atau berlibur hanya di taman belakang rumah kita,” Ibu memberikan pilihan yang sulit untuk dijawab Arila.

Arila berlari ke kamar, menangis. Ia tak tau apa yang harus ia perbuat sekarang. Kedua pilihan itu amatlah sangat berharga bagi Arila. Ia tak akan melewatkan kesempatan untuk berlibur ke rumah Nenek, karena hanya itulah satu-satunya jalan dimana Arila dapat pergi keluar rumah. Karena selain pergi ke rumah Nenek, Ibu tak akan mengijinkan Arila untuk pergi meninggalkan rumah.

Dan jika ia tidak pergi keluar menuju halaman belakang sore hari ini maka Arila tak akan bisa mendapatkan teman seperti pangeran kupu-kupu dan layang-layangnya itu. Karena hanya mereka berdua yang menjadi teman Arila saat ini.

Arila membenamkan kepalanya yang pusing ke dalam bantal. Mencari cara agar ia dapat melakukan kedua pilihan itu, berlibur ke rumah Nenek sekaligus bermain ke taman belakang. Ia memandang jam yang terus berputar di angka dua.

“Kurang satu jam lagi,” Arila sungguh-sungguh tak memiliki satupun ide.

Ia melihat lacinya yang terbuka. Disana terdapat berbagai macam obat dengan merk yang berbeda-beda. Dan seketika itu Arila mendapatkan ide. Sesegera mungkin ia membawa semua obat botolnya. Mengendap-endap menuju taman belakang. Melihat tingginya pagar belakang, dan ia melemparkan obat botol itu satu per satu melewati pagar belakang. Sehingga terdengarlah bunyi botol yang pecah, hampir beberapa kali. Obat botol yang berada di tangan Arila kini sudah habis, karena telah ia buang keluar melewati pagar belakang. Arila tersenyum, dan ia segera masuk ke dalam rumah.

Jam tiga tepat, bel berbunyi. Suster masuk ke dalam kamar Arila. Arila tau bahwa tepat pukul tiga sore ini saatnya ia minum obat. Tetapi betapa terkejutnya suster ketika mendapati laci itu kosong, tak ada obat sama sekali.

Suster berlari keluar kamar, dan segera memasuki kamar bersama Ibu.

“Aril, mengapa obat-obat itu habis?,” tanya Ibu marah.

Arila diam saja. Ia tau bahwa ia harus tutup mulut atas perbuatannya.

Ibu juga tau, Arila tak akan semudah itu menjawab pertanyaan Ibu.

“Ibu tak mau berbasa-basi lagi denganmu. Jam minum obat sudah lewat, Ibu harus segera membeli obat yang baru,” Ibu keluar kamar bersama suster. Terdengar suara mobil melaju. Arila terdiam dalam senyumnya. Dan ia segera berlari menuju halaman belakang bersama layang-layang kupu-kupu. Ia masih berharap dapat bertemu dengan pangeran kupu-kupu meskipun ia tau, kalau ia sudah terlambat lima belas menit.

Sesampainya di halaman belakang, Arila duduk di bawah rumah pohonnya. Berteduh dari terik matahari dan juga untuk menanti datangnya sang pangeran kupu-kupu. Entah apa yang dipikirkannya saat ini, Arila begitu berdebar-debar menanti datangnya sang pangeran kupu-kupu.

Sampai akhirnya matahari telah tenggelam di ufuk barat, lampu-lampu taman mulai menyala, langit yang gelap bermandikan bintang-bintang telah menandakan malam sudah tiba. Namun sang pangeran kupu-kupu tak kunjung datang juga. Arila telah menanti begitu lama, sampai-sampai ia merasakan pening di kepalanya.

Yang Arila tau bahwa saat ini ternyata ia telah berada di dalam kamarnya. Melihat infus yang tertancap di lengan kirinya. Suster terlihat kelelahan tertidur di sampingnya. Ia mencari-cari layang-layang kupu-kupunya yang hilang, hilang bersama sang pangeran kupu-kupu yang tidak menepati janjinya. Ataukah karena Arila yang telah datang terlambat? Arila meremas selembar kertas lusuh itu, memejamkan mata berharap semua akan kembali baik seperti semula.

***

Sudah seminggu ini Arila tidak diijinkan keluar rumah oleh Ibunya. Dan setiap kali Arila bertanya kepada Ibu soal layang-layang kupu-kupu itu, Ibu selalu saja bilang,” Ibu tidak tau apa-apa tentang layang-layang itu,” selalu saja ia menjawabnya begitu, membuat Arila semakin bingung karenanya.

Hari ini hari yang amat menyenangkan untuk Arila, karena ia akan berlibur ke rumah Nenek. Berarti ia dapat melakukan apa saja yang ia mau. Tetapi sebelum pergi ke rumah Nenek, Arila meneyempatkan diri untuk keluar sebentar dari rumahnya.

Ia berlari menuju lapangan luas yang berada di belakang rumahnya. Arila ingin mengingat masa lalu, dimana ia mendapatkan teman baru, sebuah layang-layang indah dan pangeran kupu-kupu yang belum pernah ia temui. Arila mendekat ke pagar belakang rumahnya, berharap pangeran kupu-kupu berada disampingnya, mengajaknya bermain.

“Jangan kesana!,” teriakan seseorang mengagetkan Arila.

Arila segera menjauh dari pagar belakang rumahnya, ia menoleh ke belakang. Dan ia mendapati seseorang yang berdiri agak pincang dibelakangnya.

“S-siapa kamu?,” tanya Arila.

“Kamu tidak perlu tau siapa aku. Aku hanya menyarankan kepadamu agar kamu tidak bermain-main di belakang rumah ini,” laki-laki itu menunjuk ke sebuah rumah, yang sebenarnya adalah rumah Arila.

“K-kenapa?,” Arila tau bahwa laki-laki itu tidak tau siapa pemilik rumah ini sebenarnya.

“Sudah kukatakan, aku hanya memperingatkanmu,” katanya ketus.

Arila diam mendengar kata-kata laki-laki pincang itu.

“Sori, aku ga bermaksud untuk melarang kamu. Ini bukan perintah tapi ini anjuran,” si laki-laki itu mungkin telah menyadari bahwa ia salah telah membentak Arila.

“Tapi, kenapa kamu berada disini?,” tanya laki-laki pincang itu.

“A-aku… aku ingin mengingat seseorang,” kata Arila terbata-bata.

“Mengingat seseorang? Di tempat seperti ini?,”.

“Ya… seseorang yang tak pernah aku tau dan tak pernah kukenal,”.

“Aku semakin bingung dengan kata-katamu,”.

“Sebenarnya aku sedang mencari seseorang,”.

“Untuk apa?,”.

“Untuk… meminta maaf,”.

“Mengapa kamu meminta maaf kepada seseorang yang belum pernah kamu kenal?,”.

“Karena dulu aku pernah berjanji untuk menjaga layang-layangnya yang terjatuh di halaman rumahku,”.

“Jadi… kamu pemilik rumah ini?,”.

“Bagaimana kamu tau?,”.

“Ya… aku hanya menduganya, karena banyak layang-layang yang putus dan terjatuh di halaman rumahmu. Karena rumahmu kan dekat dengan lapangan ini,” laki-laki itu terlihat ragu untuk meneruskan kata-katanya.

“Lalu?,” tanya laki-laki itu sekali lagi.

“Sebenarnya aku ingin sekali bertemu dengan pemilik layang-layang kupu-kupu itu, tetapi ia tidak menepati janjinya,”.

Laki-laki pincang itu terlihat geram.

“Pemilik layang-layang itu tidak berbohong, ia menepati janjinya,” laki-laki itu meyakinkan.

“Bagaimana kamu tau?,”.

“K-karena… karena… dia adalah sahabatku. Ia memintaku untuk menemaninya pada saat sore hari dimana ia telah menuliskan sebuah catatan kecil untukmu. Kamulah yang tidak menepati janji,” bentaknya.

“Itu bukan salahku, aku hanya terlambat lima belas menit dan dia tidak menungguku? Aku menunggunya lama, sangat lama, dan ia tak kunjung datang, sampai… sampai aku…,” Arila tak dapat meneruskan kata-katanya, ia terpancing emosi.

“Percuma saja kamu datang sekarang,… sudah terlambat,”.

“Mengapa?,”.

“Kau tau mengapa dia tidak menunggumu? Karena aku harus bersusah payah mengantarkannya ke rumah sakit,”.

“D-dia sakit?,” Arila menelan ludah.

“Sebaiknya kamu dan keluargamu menjaga kebersihan. Bersihkanlah sampah-sampah yang ada di belakang rumahmu. Jangan membuang sampah sembarangan, apalagi membuang sampah di belakang rumahmu. Kamu tau disini adalah lapangan. Tempat dimana orang-orang berkumpul,” laki-laki itu kemudian pergi meninggalkan Arila. Laki-laki pincang itu berjalan tertatih-tatih.

“Aku tak mengerti maksudmu,” teriak Arila sehingga laki-laki pincang itu mau berhenti untuk memalingkan mukanya. Dan laki-laki itu kembali berhadap-hadapan dengan Arila meskipun dari jarak yang tak begitu dekat.

“Kau tau!! mengapa dia sekarang tidak berada disini bersamaku? Karena dia telah meninggal akibat penyakit tetanus. Kau tau!! mengapa dia terkena penyakit tetanus? Karena kakinya terkena pecahan kaca yang ada di belakang rumahmu. Kau tau!! mengapa dia terkena pecahan kaca? Karena dia ingin bertemu denganmu. Kau tau!! mengapa dia sangat ingin bertemu denganmu? Karena dia ingin mengambil layang-layangnya kembali. Dan kau tau!! mengapa dia ingin mengambil layang-layangnya kembali? Karena… karena…,” laki-laki pincang itu tak meneruskan kata-katanya, ia terlihat menahan kepedihan yang amat mendalam atas kematian sahabatnya.

Arila berdiri kaku, memandangi pecahan kaca yang masih berada di belakang rumahnya. Matanya yang sayu mulai berkaca-kaca.

“Kau tau… , aku sangat ingin bertemu dengannya, dahulu… sekarang… dan untuk selamanya. Aku tau… aku sama sekali tidak mengenalnya, tapi… aku sangat berharap kepadanya, aku membutuhkannya sebagai teman… sahabat. Dan aku tidak tau… kalo sekarang dia tidak ada lagi di sini, dia… dia… m-meninggal… k-karena kesalahanku…”.

Laki-laki itu memandangi Arila dengan wajah yang dipenuhi banyak pertanyaan.

Arila tak mampu menahan derasnya air mata yang mengalir, sekali lagi ia menatap lekat-lekat bola mata laki-laki itu.

“Kau tau… mengapa sahabatmu meninggal? Semua itu karena kesalahanku. Kau tau… mengapa itu semua adalah ulahku? Karena akulah yang membuang botol obat ke belakang rumahku. Kau tau… mengapa aku membuang semua botol obatku? Karena aku ingin bertemu dengan dia. Kau tau… mengapa aku sangat ingin bertemu dengannya?… karena… karena aku…,”.

Arila seketika itu pingsan tak sadarkan diri begitu selesai mengucapkan beberapa alasannya. Alasan tentang layang-layang pecah…

***

2 thoughts on “Layang-layang Pecah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s