Pizzalova

Masih dalam rangkaian acara seminggu FTV😉 Tonton kisah sebelumnya, cek di:

Cerita teenlit ini berbau tentang makanan, amat sangat gue suka. Karena sembari nulis juga bayangbayangin lezatnya pizza. Hhhmm. Yummy :9 Yuk ikutin cerita selengkapnya ..

PIZZALOVA

Dear Luna,

Ayah dan Bunda seminggu ini ada kerjaan di luar kota, Luna baik-baik ya di rumah.

Salam sayang selalu dari Ayah dan Bunda.

Note : Uang jajannya ada di laci kamar kamu. Kalo ada apa-apa telpon ya!

 

“Ih… selalu deh, keluar kota terus,” kata Luna setelah melihat catatan di white board. Ia berlari ke dapur, membuka lemari es berharap ada makanan cepat saji disana, tapi yang ada hanyalah buah dan sayur, bukan makanan cepat saji seperti snack atau semacamnya.

Luna kembali ke ruang tengah hanya dengan membawa sebuah apel.

“Ini sih namanya diet,” geram Luna yang menahan lapar.

Ting… tung…

Bel rumah berbunyi, Luna berlari ke depan rumah, membuka pintu, berharap ada seseorang yang mengantarkan makanan, karena saat ini Luna sangat lapar sekali.

“PIZZATE, Pizza Lezzate, silahkan menikmati,”.

Luna terkejut bukan kepalang melihat ada seseorang yang membawakan pizza untuknya.

“T-tapi s-saya ga pesen pizza, mas,” Luna kebingungan.

“Tetapi tadi ada seseorang yang memesan pizza ini,” terang sang pengantar pizza.

Tanpa berpikir panjang lagi Luna segera menyambar kotak pizza itu dan segera membukanya memakan sepotong pizza dengan sangat lahap.

‘Siapa sih orang baik yang memesan pizza selezat ini buat gue?,’ batin Luna.

“Maaf,” kata pengantar pizza membuat Luna memalingkan mukanya.

“Pizza itu belum dibayar,” tambahnya.

“Apa?,” Luna bersungut-sungut.

‘Kalo tau begini jadinya, ga gue makan,’ tetapi Luna telah berhasil menyapu bersih setengahnya. Mau tak mau ia harus membayarnya.

“Terima kasih. Selamat menikmati PIZZATE,” akhirnya sang pengantar pizza itu telah pergi.

Luna masih kesal dengan seseorang yang memesan pizza itu ke rumahnya. Tetapi karena ia sangat menikmati lezatnya pizza itu, bayangan orang yang memesan pizza salah alamat itu terhapus sudah dari ingatannya.

Ting… tung…

“Uh… siapa lagi sih?,” Lagi-lagi Luna membukakan pintu rumahnya. Tepat di depannya seorang cowok tinggi memasang muka marah ke arah Luna.

“Kembaliin pizza gue!,” tegasnya.

“Apa? Pizza elo?,” Luna tidak mengerti.

“Iya… pizza! Tadi ada pengantar pizza yang salah alamat, mampirnya ke rumah elo. Sekarang mana pizza itu?,” pertanyaan cowok itu membuat Luna tak bisa berkata-kata. Ia kembali ke ruang tengah melihat pizza yang tinggal sepotong.

‘Mati deh gue!,’ Luna kembali ke ruang depan sambil membawa sepotong pizza sisa.

“Hanya tinggal ini?,” cowok itu marah.

“Y-ya emang tinggal segini,” Luna sibuk mencari alasan.

“Pokoknya elo harus ganti pizza gue,”.

“What? Enak aja lo nyuruh gue ganti rugi. Nih pizza gue yang bayar, bukan elo,” Luna mulai terpancing emosinya.

“Tapi gue yang pesen. Seharusnya pizza ini tiba di rumah gue, bukannya rumah elo. Elo sendiri kan tau bahwa bukan elo yang pesen jadi seharusnya elo bisa nolak pizza ini,”.

“Kok nyalahin gue? Salahin aja tuh pengantar pizzanya, salah ngirim. Lagian gimana gue bisa nolak pizza selezat ini,” Luna memang sangat lapar saat itu.

“Pokoknya elo harus ganti rugi,”.

“Ga bisa gitu dong. Ini kan ga sengaja,”.

“Gue ga mau tau, mo sengaja kek, mo ga sengaja kek, ato lo pura-pura ga tau kek, itu masalah elo. Sekarang elo harus ganti nih pizza. Emangnya cuma elo yang laper?,”.

“Y-ya kalo lo mau, nih ada sisanya,” Luna menyerahkan sepotong pizza kepadanya.

“Elo kira gue ayam, makan makanan sisa!,”.

“Ya udah kalo ga mau,” Luna amat sebal pada cowok ini.

“Ga bisa pokoknya…,”.

‘BRAK!,’

Belum selesai cowok itu meneruskan kalimatnya, Luna sudah menutup pintu rumahnya. Luna mendengar sayup-sayup teriakan dan makian cowok yang berada di balik pintu. Luna kembali ke ruang tengah, tak tahan dengan omelan cowok itu.

“Orang baik yang mesenin pizza lezat buat gue? Oh tidak, gue cabut kata-kata gue tadi,” sepotong pizza sisa langsung masuk ke dalam mulut Luna yang terbuka lebar.

***

Ga kemarin, ga sekarang, sama laparnya. Luna yang baru pulang les masih sibuk mencari makanan di dapur. Mencari kesana-kemari tak ada yang ia temukan kecuali kotak bekas sisa pizza kemarin.

“PIZZATE?? Uhm… sepertinya itu rencana yang tepat,”.

Luna mengambil telephonenya dan mulai memencet angka yang tertera di bagian luar kotak tersebut. Setelah itu Luna menunggu, menunggu dan terus menunggu. Jam menunjukkan angka 8 malam.

“Pizza apa’an nih, lama banget nunggunya, pake telat segala,” Luna menelepon toko PIZZATE untuk memastikan pizza yang di pesannya sudah diantar atau belum.

“Selamat malam. PIZZATE disini, ada yang bisa saya bantu?,” tanya seseorang di tempat yang jauh.

“Selamat malam, em… maaf, tadi saya memesan pizza disini, tetapi mengapa sampai saat ini pizzanya kok belum datang juga ya?,” tanya Luna hati-hati.

“Boleh saya tau alamat anda?,”.

“Lavender street nomor tiga puluh satu,”.

“Lavender street nomor tiga puluh satu,… maaf, kami sudah mengantarnya setengah jam yang lalu,”.

“Setengah jam yang lalu? tetapi saya tidak menerima pizza itu,” Luna kebingungan.

“Pegawai kami sudah mengantarkannya, dan pizza itu sudah diterima oleh seseorang. Bahkan kami sudah menerima tanda buktinya,” terang penjual pizza panjang lebar.

“Oh ya sudah kalau begitu. Terima kasih,”.

“Terima kasih kembali,”.

Luna memutuskan sambungan telephone. Berbaring di kursi ruang tengah, mengelus-elus perutnya yang berbunyi.

‘Pasti tertinggal di luar,’ pikirnya. Dengan perut yang melilit sakit Luna pergi keluar berharap ada sekotak pizza tertinggal di luar. Menengok kesana-kemari, mencari-cari sesuatu, sambil mengendus.

“Latihan jadi anjing pelacak ya?,” tanya seseorang yang setengah berteriak.

Luna menoleh kepadanya, ‘Dasar cowok pizza,’ karena kejadian kemarin, Luna menamakan cowok itu sebagai cowok pizza.

Sehabis itu Luna tak menghiraukannya lagi, ketika Luna berbalik kembali menuju pintu rumahnya, si cowok pizza kembali memanggil-manggil.

‘Apa sih maunya anak ini?,’ ketus Luna.

“Cari ini, non?,” cowok pizza mengangkat kotak PIZZATE tinggi-tinggi.

“Jadi elo?,” hati dan perut Luna pun berduet menentang si cowok pizza.

“Kembaliin!,” perintah Luna.

Si cowok pizza diam saja tak mendengarkan kata-kata Luna, ia malah asyik duduk-duduk di trotoar depan rumahnya dan mulai memakan PIZZATE.

“Elo!!!,” pekik Luna. Dan ia berjalan mendekati si cowok pizza.

“Balas dendam?? Gitu ceritanya??,” tanya Luna tak sabar.

“Ngapain juga gue balas dendam ama elo, lo kira gue Nyi Pelet pake dendam-dendam segala?? Palingan elo yang sirik, iri bercampur dengki ama gue, iya kan??,” si cowok pizza menghabiskan setengah pizza itu.

Luna diam saja, tubuhnya terlalu lemas untuk memulai pertengkaran dengan si cowok pizza. Yang ada ia cuma bisa menelan ludah, lapar, membayangkan betapa lezatnya pizza itu.

“Kepingin ya? duh kacian!,”.

“Elo kira di dunia ini makanannya cuma pizza doang??,”. Luna menatap penuh amarah kepada cowok pizza itu.

Teng… teng… teng…

Luna mendengar bel gerobak bakso berbunyi, ia memanggil si abang tukang bakso untuk mampir di depan rumahnya. Si abang bakso menyerahkan semangkok bakso kepada Luna, Luna mulai memakannya dengan lahap. Apalagi perut Luna sudah siap menampung semua yang masuk ke dalam mulut. Satu mangkok, dua mangkok, tiga mangkok, empat mangkok,… Luna dapat menghabiskannya.

Si cowok pizza cuma bisa menonton dengan heran di seberang jalan, mulutnya ternganga lebar, seakan tak percaya akan apa yang dilihatnya saat ini.

“Tambah satu lagi, Bang!,” pinta Luna sambil menyerahkan mangkok kosong itu kepada si abang bakso.

Karena kesalnya Luna tak sadar menambahkan lima sendok cabe ke dalam mangkok baksonya. Luna mulai memakannya dengan lahap.

‘Sreng…,’ efek cabe itu mulai terasa di tenggorokan Luna. Panas!!!

‘Mati deh gue,’.

***

“Plis dong, Lun!!!,” kata seseorang di balik telephone.

“Aduh,… kayaknya ga bisa deh, Ri,” jawab Luna kesakitan.

“Kamu tega…,”.

“Bukannya gitu, gue emang lagi sakit,” Luna meremas-remas perutnya.

“Gue ultah di tahun 2007 nih cuma sekali. Masak elo sebagai sobat gue ga mau dateng,” pinta Puri memelas.

“Keadaannya lain, Ri,” Luna kini meringkuk di atas tempat tidurnya.

“Ayolah Lun,”.

Setelah lama dibujuk, akhirnya Luna meng-iya-kan permintaan Puri.

“Otret deh, gue akan dateng,”.

“Makasih ya Lun, gue bakalan menanti kedatangan elo,”.

Tit…

Sambungan telephone terputus, Luna buru-buru pergi ke kamar mandi, panggilan alam untuk perutnya tiba-tiba datang mendesak.

***

“Luna!!! Akhirnya elo dateng juga,”.

Luna menerima cipika-cipiki dari Puri, setelah memberikan kado lalu Luna segera mengambil tempat duduk, mengantisipasi agar perutnya tak bertindak macam-macam lagi.

“Luna, kenapa kamu diem aja disini? Ga ikut makan-makan? Mau gue ambilin sesuatu?,” tanya Puri yang mengambil duduk disamping Luna.

“Ga perlu repot-repot, makasih. Gue lagi ga enak badan aja,” Luna mengubah posisi duduknya.

“Oia Lun, gue mau ngenalin seseorang nih,”.

“Emangnya harus sekarang ya? siapa sih dia?,”.

“Dia sodara gue, tapi katanya dia tetanggaan ama elo,”.

“Tetangga? Kayaknya ga ada deh,” Luna mencoba mengingat-ingat seseorang.

“Aduh Luna pelupa banget sih, tapi emang sih dia belom sempat kenalan ama elo. Nah itu dia orangnya,… Alan!! Kesini!,” Puri menggandeng seseorang yang dikenalnya.

“Cowok pizza?,”.

“Nona rakus?,”.

“Eh enak aja lo panggil gue nona rakus,” Luna mulai marah lagi.

“Masih kurang lima mangkok baksonya?,” tanya Alan si cowok pizza, Puri yang tidak tau apa-apa terdiam keheranan. Luna mulai terpancing emosinya.

“Untuk kali ini lo bisa diem ga sih? Gue lagi ga mood untuk bertengkar ama lo? Apa sih mau lo?,” teriakan Luna terdengar ke seluruh penjuru ruangan.

“Gue sebenernya ga mau memperbanyak masalah dengan elo, tapi karena elo udah bentak-bentak gue di depan umum kayak gini, mau ga mau gue harus nantangin elo!,” ajak Alan.

“Apa tantangannya?,” tanya Luna.

“Karena kita sama-sama suka pizza, maka gue akan tantang lo untuk ngabisin PIZZATE ini,”.

“Oke! Siapa takut!,” seru Luna.

“Tapi Lun, elo kan lagi sakit,” kata Puri.

“Elo sakit?,” tanya Alan yang tiba-tiba care ama Luna.

“Kalo gitu, dibatalin aja tantangan ini,” Alan menambahkan.

“Ga…, ga bisa, tantangan ini harus berjalan,” Luna yang mempunyai gengsi tinggi tak mau menghentikan pertandingan ini.

“Tapi kan…,”.

Luna tak mendengarkan perintah Alan, langsung saja mengambil tempat, bersiap-siap memulai perlombaan. Alan cuma bisa menghela napasnya.

“Kalo ini mau lo, terserah…,” Alan mengambil posisi berhadapan dengan Luna. Di depan mereka terdapat setumpuk PIZZATE yang siap untuk disantap.

Yup…, pertandingan sudah dimulai, terlihat baik Alan maupun Luna sudah menghabiskan satu lingkaran pizza. Kedudukan kini dipegang oleh Luna, ia menghabiskan satu persatu potongan pizza itu, mengalahkan Alan yang terlihat kekenyangan.

Baru beberapa menit berlalu tiba-tiba suasana dikejutkan oleh teriakan Puri yang melengking karena mengetahui bahwa tubuh sobatnya itu tiba-tiba terjatuh, tak berdaya. Luna terbaring di lantai, sambil memegang sepotong pizza yang belum sempat dimakannya.

***

“Luna sayang, akhirnya kamu sadar juga,” Bunda mengecup pipi Luna dengan lembut.

“Aku dimana, Bunda?,” Luna keheranan dengan ruangan serba putih yang ditempatinya kini.

“Di Rumah Sakit, sayang,” kata Bunda pelan.

“Rumah Sakit, emangnya aku sakit apa?,”.

“Seharusnya Bunda yang harus tanya kamu,”.

Luna terdiam melihat Bunda mondar-mandir.

“Kamu ga menjaga pola makan kamu ya?,” tanya Bunda.

Luna mengingat-ingat apa yang dimakannya selama tiga hari ini. Ia ingat bahwa hari pertama ia mendapatkan makanan dari cowok pizza itu, hari kedua,… Luna masih bisa merasakan panasnya cabe yang melewati tenggorokannya. Kemarin,… ia menerima tantangan Alan untuk menghabiskan PIZZATE secepat mungkin dan akhirnya ia berada di ruangan kecil ini.

“Kamu harus inget kesehatan kamu, Lun,” Bunda melihat Luna tersenyum kecil.

“Untung aja ada Alan yang mau ngejaga kamu,” tambah Bunda.

“Alan dan Puri yang menghubungi Bunda, jadi Bunda bisa pulang duluan dari kerjaan, Ayah besok datengnya,” Bunda sibuk membereskan selimut.

“Seharian Alan jaga kamu, dia ga mau pulang sampe Bunda paksa dia. Anak yang baik,” Bunda tersenyum.

‘Alan si cowok pizza itu mau nolongin aku?,’ tanya Luna dalam hati.

“Oia Lun, sebelum Alan pulang, tadi dia nitipin sesuatu sama Bunda,” Bunda menyerahkan kotak PIZZATE di atas meja kepada Luna.

“Loh? kok kosong? ga ada isinya,” tanya Luna. Bunda tertawa.

“Salah Alan sih kok pake ngasih kamu pizza segala. Kata dokter, kamu ga boleh makan pizza dulu. Daripada mubazir, ya… Bunda makan deh,”.

Luna tertawa mengetahui Bundanya yang ternyata juga menyukai pizza. Kemudian ia membalikkan kotak itu, dan menemukan sebuah kertas kecil berisikan sebuah pesan.

 

Dear Luna,

Gimana nih keadaan elo sekarang? Mendingan kan? Sori banget gue ga bisa menghentikan tantangan waktu itu, meskipun gue tau kalo sebenernya elo lagi sakit, tapi gue takut kena omelan elo, jadinya… ya gitu deh, elo sekarang ada di Rumah Sakit. Em… kapan-kapan kalo elo udah sembuh jangan lupa nraktir gue ya, pesenin PIZZATE, biar kita bisa bertengkar lagi, kan seru tuh.

Em… kayaknya gue bakalan punya cerita cinta yang paling berkesan deh. Antara elo dan gue, tentang sebuah pizza… PIZZALOVA.

 

Luna tersenyum setelah membaca sebuah catatan kecil dari si cowok pizza. Bunda yang ternyata ikutan nimbrung, terdiam kebingungan.

“PIZZALOVA?? Model makanan pizza kayak apa itu??,”.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s