Di Bawah Atap Bus Kota

Di bawah atap bus kota, aku bergelantungan sendiri ditampar angin panas dari jendela yang terbuka. Panasnya kian terasa karena sang surya tengah berada di ubun-ubun, terletak satu sentimeter dari atas atap bus kota. Sopir mempercepat laju kendaraan diatas normal, ia seperti kesetanan dikejar waktu.

Di bawah atap bus kota, aku melihat seorang kakek tua yang duduk di barisan ketiga dari depan. Berkali-kali mengusap peluh di dahinya yang penuh dengan kerutan. Kopyah hitam bulukan itu dikipas-kipaskan ke tubuhnya. Ia mendekap tas plastik hitam di dadanya. Buah tangan yang akan ia berikan kepada cucu tersayang. Cucu dari anaknya tak tak kunjung pulang ke rumah. Sesekali ia melongok ke jendela, melihat suasana di luar, apakah ia sudah sampai di tempat tujuan atau malah tersesat di tempat antah berantah. Karena usia yang menjelang senja, daya ingatnya tentu berkurang. Setengah ingat setengah lupa dimana alamat anaknya tinggal. Yang tersisa hanyalah kenangan manis lima tahun lalu, hari dimana ia berkumpul dengan anak-anak dan cucu-cucunya di hari lebaran. Lebaran terakhirnya.

Di bawah atap bus kota, terdengar suara tangisan di bangku belakang. Seorang Ibu tengah menggendong bayinya yang terus saja menangis. Menangis karena kehausan, menangis karena kepanasan. Si Ibu terlihat repot mengatasi bayinya yang menangis. Ia tak pernah mengeluh betapa rewelnya anaknya saat itu. Saat terjaga di tengah malam karena suara tangisan bayinya, saat membersihkan pantat anaknya yang sehabis buang air besar, sampai saat menyusui ketika dirinya letih diantara kesibukan pekerjaan. Si kakak merengek minta pulang. Kepalanya pusing tak tahan dengan suasana di dalam bus kota. Ia mual-mual. Si Ibu menyuruh kakak menyandarkan kepalanya di pangkuan Ibu. Si Ibu tak bisa lagi kembali pada keluarga barunya, keluarga yang ia bentuk dengan suaminya. Karena suami tercintanya kini telah menghianati hati dengan pergi bersama wanita simpanan. Si Ibu mengusap dada, ingin segera pergi dari kota ini. Melupakan segala kenangan buruk yang menimpa dirinya. Semoga di kehidupan esok, aku bisa mendapatinya tersenyum bersama anak-anak dan keluarga barunya.

Di bawah atap bus kota, seorang wanita cantik yang duduk di barisan tengah kini menjadi pusat perhatian semua orang karena paras dan keelokan tubuhnya. Ditanya orang disebelahnya, ia mengaku seorang mahasiswi di sebuah universitas terkenal di kota ini. Siapa yang tak suka, selain cantik dan molek ternyata ia pandai. Sesekali seorang lelaki di bangku yang berseberangan mencuri-curi kesempatan untuk memandangnya. Berharap bahwa si gadis molek itu bisa menjadi menantunya atau malah menjadi istri barunya. Mereka tak tahu bahwa gadis itu hanyalah seorang perempuan yang sengaja dijual seksualitasnya oleh orang tua untuk penyambung hidup keluarga. Tak ada yang tahu. Karena dia tak akan memberitahu kebusukan dari keluarganya sendiri. Siapa yang patut disalahkan? Tak ada yang salah. Dia tidak salah. Keluarganya juga tidak. Mereka hanya mendapatkan nasib sial.

Di bawah atap bus kota, seorang pria katrok duduk di bangku paling depan. Rambut panjang klimis dan tipe wajah yang mudah dibohongi. Menatap jalanan yang sama dengan yang ditatap sopir bus. Ia hanyalah seorang sarjana muda dengan IPK pas-pasan dan masa kuliah dua kali lebih lama dari teman-teman seangkatannya. Celana kain cingkrang bekas sekolah jaman dahulu kala dan sepasang sepatu disikat hitam mengkilap. Ia hanya seorang pria yang tengah sibuk mencari alasan untuk tidak menjawab pertanyaan tetangga-tetangganya yang sering bertanya, kapankah ia akan masuk kerja atau kapankah ia akan menghadiahkan ibunya seorang cucu. Kemeja kotak-kotak licin itu menandakan bahwa telah disetrika Ibunya berulang-ulang kali. Ibu yang selalu berharap agar anaknya cepat mendapatkan pekerjaan. Surat lamaran kerja di dalam amplop dipegangnya erat. Seakan-akan ingin segera memulai setiap harinya dengan berangkat kerja ke kantor baru! Sesekali membetulkan letak dasi yang tak serasi dengan kemejanya, otak pemuda itu dipenuhi sebuah pertanyaan, apa yang bisa dilakukan seorang sarjana tanpa pengalaman kerja seperti aku?

Di bawah atap bus kota, sekelompok pengamen jalanan masuk ke dalam bus ketika berhenti di perempatan jalan tadi. Sepatah dua patah kata mereka ucapkan untuk memulai pendahuluan sebelum menyanyi. Sangat singkat karena bisa dibilang mereka tak pandai berbicara karena rata-rata mereka tak mengenyam pendidikan yang layak. Tidak seperti wakil rakyat dengan gelar berderet-deret di belakang nama mereka yang malah kebanyakan bicara tentang pendahuluan. Tiga pengamen dengan latar belakang berbeda. Lelaki yang tinggi itu tak pernah berharap untuk menjadi pengamen. Namun ia harus menikahi pacarnya yang tengah hamil lima bulan, sehingga ia harus mengamen agar dapat mengumpulkan modal kawin dan membiayai keluarga barunya dengan layak. Lelaki yang buncit itu juga tak berkeinginan untuk menjadi pengamen. Kalau disuruh memilih, ia ingin menjadi pemilik restoran nasi padang. Yang terakhir si pemegang okulele, lelaki yang paling muda diantara kedua pria itu. Ia berkeinginan mengamen karena ia ingin mencari keluarganya yang dulu pernah meninggalkannya sebatang kara di jalanan. Setiap mengamen ia selalu berdoa agar bertemu dengan salah seorang dari keluarganya lalu mengajaknya pulang. Kembali ke rumah.

Tiga buah lagu telah selesai didendangkan. Saat si pemegang okulele berkeliling dengan topi berisi uang recehan, si gadis bertubuh molek menjerit membuat terkejut orang-orang di dalam bus. Dompetnya hilang. Semua mata tak terkecuali, tertuju pada ketiga pengamen itu. Siapa yang patut dicurigai selain mereka yang bertampang berandalan dan tak pernah mandi. Orang-orang berpikir bahwa pengamen itulah yang berpeluang untuk mencopet. Alasannya dari tuntutan ekonomi jelas pengamenlah pelakunya. Apalagi jika pengamen itu membutuhkan uang untuk main judi dan mabuk-mabukan, belum lagi untuk main perempuan. Ah. Kasihan sekali pengamen-pengamen itu. Mereka mengaku tidak mencuri. Tapi dunia telah mengecap mereka sebagai orang jahat, orang tak berpendidikan, dan patut untuk disalahkan dalam kondisi apapun. Untuk menghindari amuk massa, sopir pun membelokkan bus menuju kantor polisi.

Di bawah atap bus kota, si sopir mengomel karena busnya tak dapat melaju sesuai jadwal. Akhirnya bus melaju tanpa mengangkut pengamen dan si gadis karena mereka sengaja ditinggalkan di kantor polisi, menyelesaikan masalah mereka. Seorang tersangka, pria yang mencuri dompet si gadis itu masih berada disana. Punggungnya bersandar santai, duduk dengan tenang. Seperti tak pernah terjadi sesuatu. Seperti tangannya tak mengaku telah berbuat dosa. Pemuda itu biasa saja, malah terkesan seperti pria baik-baik. Dengan baju koko putih dan peci di kepala, siapa yang menyangka ia adalah pencuri. Tak akan ada yang menganggapnya orang jahat meskipun berulang kali ia mencuri, meskipun sesekali ia menghamili anak perawan, meskipun ia naik haji dengan uang hasil korupsi. Tidak ada. Orang-orang selalu melihat individu dari penampilan tanpa memperhatikan isinya. Kualitas tidak lagi menjadi sifat yang penting.

Di bawah atap bus kota, si kakak terbangun dari mimpi indahnya ketika ia bertemu dengan Ayah. Mual mengaduk-adul isi perutnya. Pria berpeci langsung berdiri dari duduknya, menarikku kasar dan memberikannya kepada perempuan kecil itu. Badanku dipenuhi segala jenis sisa makanan yang sempat tercerna di dalam lambungnya. Tanganku diikat kuat oleh si Ibu dan kemudian membuangku melalui jendela.

Di jalanan aspal berdebu, aku terjatuh. Menggelinding tertiup angin dan terinjak roda mobil sehingga membuat isinya yang berwarna cokelat pucat menyembur kemana-mana.

Di jalanan aspal berdebu, aku hanyalah sebuah kantung plastik hitam tengah tertidur dengan ditemani percikan muntahan anak perempuan yang merindukan Ayahnya.

Iklan

4 thoughts on “Di Bawah Atap Bus Kota

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s