Padang Pasir Bromo

Setelah meninggalkan jejak kaki di ranu pane (baca: sebelumnya) gue menuju ke .. utara-selatan-barat-timur .. gue enggak tau tepatnya ke arah mana, yang jelas enggak balik lagi lewat hutan yang penuh misteri itu, hhiii, gue pun pulang lewat probolinggo. Muterin padang pasir bromo.

Seumurumur gue enggak pernah ke bromo. Berkunjung ke pura yang berada di tengah lautan pasir itu, bahkan naik seribu anak tangga pun ga pernah. Rencananya sih tadi mencoba kesana, dengan peralatan seadanya.

Padang Pasir Bromo, Probolinggo, Jawa Timur, Indonesia

Ya tau sendiri kan kalo mau ke gunung kudu pake jaket lapis tiga, celana lapis dua, syal, sarung tangan, masker, sepatu dengan sol baja, dan kaos kaki hello kitty. Eh kami malah pake sendal jepit. Payah. Benarbenar payah.

Mengintari perbukitan tapi tidak seseram hutan sebelumnya, karena disini kami bisa menikmati hangat matahari. Bergosonggosong ria lah kami disini. Namun, selelah apapun gue, ga akan berasa kalo udah sampe.

Masih di perbukitan. Lu bisa ngeliat padang pasir bromo yang luuuuuuuuaaaaaaaas buuuuuaaaannnnngggggeeeeeetttt. Jalanannya kalo diliat dari atas kayak jalan semut. Orangorangnya jadi upil berjalan :O

Setibanya kami disana. UWOOOOW :O *gue terkejut*

Bagus banget pemandangannya. Banyak bukitbukit hijau, meski tandus, tapi tetap indah. Mirip bukit TELETABIS. Berpelukaaan ..

Rame. Ternyata ada lomba off road untuk motor tril gitu. Balapan. Jadilah gue penonton setia dan penikmat debudebu yang berterbangan akibat kekencangan motor tril yang melintas.

Aneh tapi nyata.

Di tempat setandus itu, serame itu, tapi ramenya cuman karena banyak motor tril lewat, enggak ada penontonnya. Lah kok .. ADA ABANG TUKANG BAKSO. Nih orang sarap apa ya?

Abang Tukang Bakso di Padang Pasir Bromo, Probolinggo, Jawa Timur, Indonesia

Dasar gila. Ke bromo biasanya naek truk ato mobil jeep gitu kan tangguh dalam berbagai macam keadaan. Eh. Kami malah uji nyali di jalanan berpasir dengan motor honda beat. Ajegile. Gue sesekali harus turun ngedorong motor biar ga dihisep pasir. Kadang kala ban motornya bergoyanggoyang ga kuasa menahan kencangnya angin yang melintas. Udah tau gitu, masih aja diterusin. Lah mau gimana lagi. Daripada lewat hutan serem tadi –apalagi ini udah hampir malem, gue mending jalan kaki di padang pasir bromo. Toh turisturis asing juga pada joging ajojing disono.

Cek keAUTISAN kami di video berikut ini,

Ngendarain motor di padang pasir bromo tuh berasa nge-dance oppa gangnam style diseruduk banteng :O

Mobil bahkan truk aja ga kuat lewat jalanan berpasir ini. Apalagi motor matic. Ihwow. Gue harus ngacungin jempol pada mas willy yang nekat ngebuat motornya bermandikan debu seperti lima taun enggak dicuci untuk melewati luasnya padang pasir. Gue yakin, sekarang mas willy lagi pijet akupuntur di rumahnya😀 *capek ya, bang, dorong motor?*

Sebegitu lamanya berada di padang pasir, gue jadi ogah naikin seribu tangga di gunung bromo. Capeknyaaa .. aduhai sekaliii. Ga hanya motor, debudebu pun masuk ke dalem jaket, helm, saku celana, dan lubang idung. Besok dipastikan upil yang dihasilkan jauh lebih gede daripada hari ini.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Oleholeh dari bromo yaitu BUNGA EDELWEIS

Anaphalis javanica, yang dikenal secara populer sebagai Edelweiss jawa (Javanese edelweiss), adalah tumbuhan endemik zona alpina/montana di berbagai pegunungan tinggiNusantara.[1] Tumbuhan ini dapat mencapai ketinggian 8 m dan dapat memiliki batang sebesar kaki manusia walaupun umumnya tidak melebihi 1 m. Tumbuhan ini sekarang dikategorikan sebagai langka.

Edelweis merupakan tumbuhan pelopor bagi tanah vulkanik muda di hutan pegunungan dan mampu mempertahankan kelangsungan hidupnya di atas tanah yang tandus, karena mampu membentuk mikoriza dengan jamur tanah tertentu yang secara efektif memperluas kawasan yang dijangkau oleh akar-akarnya dan meningkatkan efisiensi dalam mencari zat hara. Bunga-bunganya, yang biasanya muncul di antara bulan April dan Agustus[1] , sangat disukai oleh serangga, lebih dari 300 jenis serangga seperti kutu, tirip, kupu-kupulalat,tabuhan, dan lebah terlihat mengunjunginya.

Jika tumbuhan ini cabang-cabangnya dibiarkan tumbuh cukup kokoh, edelweis dapat menjadi tempat bersarang bagi burung tiung batu licik Myophonus glaucinus. Bagian-bagian edelweis sering dipetik dan dibawa turun dari gunung untuk alasan-alasan estetis dan spiritual, atau sekedar kenang-kenangan oleh para pendaki. Pada bulan Februari hingga Oktober 1988, terdapat 636 batang yang tercatat telah diambil dari Taman Nasional Gunung Gede Pangrango, yang merupakan salah satu tempat perlindungan terakhir tumbuhan ini. Dalam batas tertentu dan sepanjang hanya potongan-potongan kecil yang dipetik, tekanan ini dapat ditoleransi. Di Taman Nasional Bromo Tengger Semeru, tumbuhan ini dinyatakan punah.[2]

Diiyakan pula oleh bang alamendah dalam postingannya TIGA TAHUN YANG LALU dan gue baru tau sekarang. Ajegile bang! (baca: Edelweis Bunga Abadi).

Udah terlanjur beli. Yaudah .. dipajang aja sekalian😉 Ada mitos juga katanya kalo ngasih bunga edelweis ini maka cintanya akan abadi. Icikiprit. Pretpretpret. Masak ssiihh?

Padang Pasir Bromo, Probolinggo, Jawa Timur, Indonesia apa bukan?

Ini yang cantik bunganya apa orangnya ya😉 *kalo jawabannya bener, dapat hadiah* Tapi bromo kan padang pasir, lah ini kok banyak tumbuhan ijoijonya. Dimana ya kirakira?

Tunggu cerita selanjutnya.

3 thoughts on “Padang Pasir Bromo

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s