229

Saking padatnya rutinitas jalanjalan, gue sampe lupa kalo kemarin itu ternyata tanggal 22. Ada cerita apa di tanggal 22?

Gue dulu pas esem’a pernah bikin cerpen sebagai hadiah buat sobat gue yang pacaran sama sobat gue juga. Sobat ketemu sobat. Akhirnya cinta sobat berubah menjadi sepasang kekasih T-T Bahagia bercampur sedih. Karena sobat gue akhirnya menemukan pasangan dan belum ada yang mau sama gue T-T *serbetin ingus*

Namanya juga cerita pendek yang dibuat pas esem’a, ya begitu itu, ababil dan penuh dengan ejaan yang aneh. Gue sendiri males ngedit. Biarlah seperti itu. Karena gue yakini bahwa ejaan yang salah itu telah membuat pelajaran yang berharga bagi kehidupan kepenulisan gue saat ini dan kelak nanti.

Well. Inilah 229. Cerita cinta yang berdasarkan kisah nyata, chist dan dika.

Arila berjalan tergesa-gesa. Jam di tangannya menunjukkan pukul 07.15. Ia terburu-buru berlari ke ruang Z, segera masuk ke dalam kelas. Dilihatnya ruangan kelas masih dibersihkan oleh sekelompok siswa yang piket di hari itu, tetapi ternyata Ibu Mita sudah berada disana, duduk manis di bangkunya.

“Selamat pagi, Bu. Maaf, saya terlambat,” kata Arila ketika berada di depan Ibu Mita. Ia pun segera menuju tempat duduk yang kosong.

“Eh, siapa yang menyuruh kamu duduk?,” jawab Ibu Mita. Arila terdiam sejenak.

“Loh kok malah diem, ayo sana ambil surat keterangan di TU,” perintahnya.

“Tapi Bu,”.

“Berani melawan kamu? mau Ibu hukum!!!,”.

Arila segera keluar dari kelas secepatnya, sebelum ia mendapatkan hukuman tambahan.

Setibanya di TU, Arila cuma mondar-mandir saja, sesekali membalas senyuman dari guru-guru yang lewat. Artis kalee…

“Kenapa, Mbak?,” tiba-tiba guru TU bertanya kepadanya.

“Oh, itu Bu, saya mau meminta surat keterangan,”.

“Tapi guru piketnya masih belum datang,” jawab Ibu muda itu.

“Emangnya siapa sih guru piketnya, Bu?,”.

“Ooo itu Mas Arif,” jawabnya sekali lagi.

“Ooo orang itu ternyata. Pantesan aja belum dateng,” Arila ngedumel sendiri ga karuan.

“Lebih baik tunggu di dalem sini aja, banyak temannya,” tunjuk guru TU ke arah sekelompok anak yang duduk di ruang tunggu TU.

‘Gile bener yang terlambat banyak banget nih’, batin Arila melihat kursi yang penuh dari ujung sampe ujung yang satunya. ‘Mau duduk dimana gue??’.

Arila terlihat kelelahan duduk di ujung kursi itu.

“Busyet dah, duduk gini bikin capek, mana tempatnya sedikit lagi, ga bebas duduk,” Arila manyun.

Selama dua jam pelajaran, guru piket yang ditunggu tak kunjung datang juga. Siswa-siswi yang berada disana sudah bosan menunggu. Guru TU sepertinya mengerti penderitaan siswanya maka beliau mengijinkan semua anak kembali ke dalam kelas untuk mengikuti pelajaran selanjutnya.

**

“Lo darimana aja sih, Ril?,” tanya Risti.

“Ya dari TU. Darimana lagi coba?,” Arila menaruh tasnya dan duduk disamping Risti.

“Iya gue tau, tapi kenapa lo tadi ga balik-balik? Eh malah sekarang baliknya. Memanfaatkan keadaan lo”.

“Salah sendiri Ibu Mita nyuruh gue ke TU. Guru piketnya ga ada lagi, dasar orang itu… pecat aja kenapa sih, guru kok datengnya terlambat,”.

“Emang siapa tuh orang? Nyebelin banget,”.

“Arifin Ilham,” Arila menekan semua kata-katanya.

“Mas Arif to!! Waduh gue cabut kata-kata gue tadi,” Risti tersenyum girang.

“Perlu dipecat tuh orang,”.

“Jangan dong… nanti aku ga bisa liat dia lagi gimana?,”.

“Tau. Emang dia penting buat gue?! Males,”.

“Ga penting sih bagi elo. Tapi tuh orang berarti banget buat gue,” Risti memandang keatas, mengedip-ngedipkan mata centilnya.

“Udah ganteng, baik, wibawa, perhatian, …,”.

“Waduh, mulai lagi nih anak,” Arila menutup kedua kupingnya, bosan mendengar cerita Risti tentang sang pujaan hati, Arifin.

Risti yang sedari tadi banyak bicara kini terdiam, karena melihat Arila tak mendengarkan ucapannya, ia jadi tak enak hati.

“Sori deh ril, gue kebanyakan bicara, hehehe…,” Risti tersenyum.

“Sebagai sobat lo, gue bisa maklum kok,” Arila menepuk pundak Risti keras-keras.

“Duh, sakit nih,” Risti mengelus-elus pundaknya yang sakit.

“Sori pren,”.

“Oia, lo tadi kenapa kok telat?? Tumben banget. Tapi … keseringan juga sih,” ujar Risti jujur. Arila menjawabnya dengan manyun.

“Lo kok diem aja sih, cerita dong!!!,” pinta Risti.

“Gue tadi telat gara-gara gebetan lo itu,” jawab Arila sinis.

“Arif?,”.

“Ya siapa lagi coba?,”.

“Lo kenapa nyalahin dia?,” Risti marah.

“Lo jangan marah gitu dong. Emang dia yang bikin gue telat,”.

“Kok bisa?,”.

“Gue memata-matai dia,”.

“Kenapa lo belagak jadi detektif gitu sih?… apa jangan-jangan lo suka juga ya ama Arif?,” mata Risti mulai berkaca-kaca.

“Plis dong ah, kayak ga ada cowok lagi di dunia ini. Lo jangan berburuk sangka dulu,”.

Risti terlihat serius mendengarkan cerita Arila.

“Gue tadi pagi pas mo berangkat sekolah ketemu ama Arif jelek itu,”.

“Kan dia mo berangkat ke sekolah juga,” bela Risti.

“Lo ga tau sih ceritanya. Pertama sih gue pikir gitu, dia pasti mau berangkat ke sekolah tapi dia ga pake baju seragam guru gitu, pake baju bebas. Warna apa ya??,” Arila mengingat-ingat sesuatu.

“Pasti warna ungu, dia kan terong,” jawab Risti bersemangat.

“Iya, kemeja warna ungu,” sahut Arila.

“Lo kok tau?,” tanya Arila sekali lagi.

“Apa sih yang ga gue ketahui tentang dia? Gue tau semuanya. Alamat rumah? Tau, TTLnya dia juga gue tau, nomer hpnya pun gue sampe hafal,” jawab Risti.

“Berarti lo ketinggalan 1 hal penting dong?”.

“Apa’an?,”.

“Tadi pagi dia njemput seseorang gitu, kayaknya mo kemana gitu, gue ga tau,”.

“Pasti dia adeknya, Arif pernah cerita gitu ama gue,” Risti masih saja terlihat sumringah.

“Lo salah, dia tuh njemput ceweknya alias pacarnya. Lo tau ga? Pasti ga kan? Lo tau ga sapa ceweknya? Nitaw ,Ris,… Nitaw. Musuh lo!!!,” ujar Arila panjang lebar.

“Ga … ga mungkin,” Risti berusaha tegar. Tangisnya tumpah seketika.

“Sebaiknya lo ga usah deh berurusan lagi sama Arif, bikin sakit hati aja. Udahlah, Ris, ga usah lo pikirin,” hibur Arila.

“T-tapi dia …,” Risti bahkan tak sanggup meneruskan kalimatnya. Ia tertunduk diam.

Arila tak mau mengganggunya, biar saja untuk kali ini Risti ditinggal sendirian, dia akan punya ruang untuk menenangkan diri.

Sayup-sayup Arila mendengar senandung yang dinyanyikan Risti,…

ini begitu salah tapi ini juga

begitu benar untuk aku yg dilanda

cintamu yg terus membakar aku

cintamu yg akhirnya membunuhku …

**

Waktu istirahat ternyata sudah habis, Arila kembali ke kelas, melihat keadaan Risti. Apakah dia akan baik-baik saja?

“Ya ampyur, Ris, banyak banget loh nangisnya? Lihat tuh mata lo jadi sembab, kebanyakan nangis sih,” Arila menyodorkan cermin berbentuk kupu-kupu biru kepada Risti.

“Hah? Kenapa jadi gini? Aku nangisnya ga parah banget kok, mata gue yang lebar jadi kelihatan bengkak banget. Duh jadi ga cantik lagi wes,” Risti memandangi matanya lewat cermin, sekali-sekali menata poninya yang berantakan.

Arila sebetulnya merasa senang dengan keadaan Risti saat ini yang berubah drastis, perubahan besar hanya dilakukan dalam 15 menit, hebat… hebat….

“Makanya lo ga usah lagi buat masalah macem-macem,” Arila segera duduk mendampingi Risti.

Risti tak menjawab, kini ia lagi merasa kesal kepada semua orang.

**

Sudah 30 menit Arila mendengarkan ceramahan Pak Tosa.

“Capegue ndengerin dia mulu,”.

Arila melihat ke meja Risti, tak satu huruf pun yang ia catat. Ia masih saja memikirkan kejadian tadi. Pandangan Arila tertuju ke meja Tia yang berada di sebelah kirinya.

“Busyet nih anak rajin bener, gue pinjem aja catetannya ah, daripada minjem ke Risti, dia malah lebih parah ketimbang aku,” Arila memberi kode kepada Tia agar ia mau meminjamkan buku catatannya.

Tia mengangguk-angguk menjawabnya.

“Hoah…,” Arila menguap karena kecapekan, sesekali ia mengucek-ucek matanya yang kelelahan, tidur-tiduran di bangkunya, sungguh tak ada niatan untuk sekolah hari ini.

Tiba-tiba Arila merasakan dirinya dicolek oleh seseorang yang berada disampingnya, dilihatnya Risti ternyata tidak, mungkin saja Tia, ternyata benar.

“Apa’an sih, Ti?,” Arila merasa sebal karena ada yang mengganggu tidurnya.

“Itu…,” Tia menunjuk-nunjuk seseorang yang duduk di barisan yang sama dengannya.

Arila menoleh, dilihatnya seorang cowok yang berada tepat disamping Risti, hanya saja bangku mereka tak berdekatan, terpisah beberapa langkah. Dilihatnya lagi secara seksama.

“Emang kenapa si Luka? Wajar aja kan kalo dia lagi ngelamun, pasti ada sesuatu yang mengganjal di hatinya,” kata Arila.

“Lo kurang detail liatnya, liat lagi deh sono,” pinta Tia.

“Ogah. Ngapain juga gue liat-liat dia, dikira gue apa’an,” Arila menolak permintaan Tia.

Tia mendengus kesal, ia menuliskan catatan kecil dibelakang bukunya dan memberikannya kepada Arila. Arila kemudian membacanya, ia tersenyum. Dilihatnya Luka sekali lagi untuk membuktikan kebenaran kata-kata Tia. Arila tertawa-tawa kecil diiringi Tia yang menemani tawanya.

Risti yang sedari tadi terdiam, merasakan orang-orang yang berada disampingnya tertawa-tawa sendiri.

“Kalian ngomong apa’an sih?,” tanya Risti yang tak mengerti.

“Enggak ngomong apa-apa kok,” Arila ngeles.

“Ga, pasti ada yang disembunyiin dari aku, iya kan?,” tanya Risti ngambek.

Arila menoleh kepada Tia, Tia mengangguk pelan. Disodorkannya buku itu kepada Risti, Risti menerimanya dengan penuh tanda tanya di kepalanya. Ia membacanya berlahan, seketika itu wajah Risti memerah karena malu, sambil malu-malu dilihatnya Luka yang berada disampingnya.

Luka terkejut. Ia kemudian memalingkan mukanya, mencoba mencari-cari alasan agar ia tidak ketahuan karena sebenarnya ia sedang diam melamun sambil memandangi wajah Risti.

Tambah merah saja wajah kedua orang ini. Arila yang mengetahuinya merasa sakit di perutnya karena tak bisa menahan tawanya.

“Arila!!! Dari tadi kamu tidak mendengarkan pelajaran yang bapak terangkan!!! Sekarang malah enak-enakan tertawa sendiri!!! Keluar sana, cepat!!!,” perintah Pak Tosa diiringi gelak tawa anak-anak sekelas.

“Busyet dah,”.

**

“Makanya lain kali kalo punya rahasia jangan ditutupin dari gue, pake ada acara tertawa lagi, sukurin lo,” kata Risti yang berjalan berlahan disamping Arila.

“Duh… kenapa gue hari ini?? Mungkin hari ini hari sial gue barangkali ya??,” tanya Arila.

“Ga ada yang namanya hari sial, Ril, kalo hari keberuntungan sih kayaknya ada,”.

“Elo maunya untung terus sih, ga mau rugian dikit,”.

“Keberuntungan kan lebih enak daripada dapat kesialan,”.

“Iya bagi lo yang beruntung, bagi gue sih sial banget hari ini,” Arila manyun.

Risti cuma diam tersenyum tak bicara, mungkin saja Risti masih memikirkan catatan kecil yang ia baca tadi.

**

‘Moga aja hari ini hari yang indah buat gue,’ pinta Arila.

Dilihatnya Risti yang sedang menulis catatan yang ia salin dari papan tulis, tak sengaja dilihatnya juga Luka yang lagi-lagi melamun memandangi wajah Risti. Arila menyenggol tangan Risti.

“Duh apa’an sih, Ril, tulisanku jadi jelek wes,” Risti merasa terganggu.

“Sori pren, itu tuh…,” Arila memberi isyarat agar Risti menoleh ke bangku sebelah kanannya. Sekali lagi dilihatnya Luka yang terkejut mendapati Risti yang menatapnya.

Risti kembali menulis, ia tak banyak berkomentar.

Tapi Arila dapat melihat suatu perasaan yang timbul di dalam hati Risti, dilihatnya warna merah yang menghiasi rona wajah Risti.

“Ril…,” panggil Risti.

“Apa?,” Arila tak menanggapinya dengan serius.

“Gue… gue…,”.

“Ada apa sih? Cerita aja deh sama gue,”.

“Em… soal … soal Luka, Ril,” kata Risti terbata-bata.

“Lo suka ama dia?,” Arila melongo heran.

“Y-ya… ya… it-itu kan gara-gara lo,”.

“Kok jadi gue yang disalahin? Kan lo yang jatuh cinta?,”.

“Iya kan gara-gara lo… yang kemaren itu lo, Ril,” Risti mencoba mengingatkan.

“Ooo yang itu. Eh itu bukan kesalahan gue, salahin aja Tia lawong dia dulu yang ngasih tau gue. Lagian kan Luka beneran liatin kamu kemaren. Kamu tau sendiri kan?,”.

Wajah Risti memerah.

“Iya gue tau. Tapi kalo itu bohongan gimana?,” tanya Risti tak percaya.

“Bohongan gimana maksud lo? Lo kan tau sendiri kalo Luka bener-bener ngelamun sambil liatin elo. Lo masih ga percaya juga?,”.

“Percaya sih percaya, tapi gue nanti dibilangnya kege’eran lagi,”.

“Masak sih ge’er ga boleh?,”.

“Boleh sih tapi,… aku takut sakit hati lagi, Ril,” Risti mengingat masa lalunya dengan Arif.

“Arif lagi Arif lagi. Emangnya sapa suruh lo suka ama cowok tua kayak dia? Gue dari dulu sih ga ngerestuin lo suka ama dia, untung aja lo belum jadian ama dia, kalo udah wah… sakit hati lagi lo, Ris. Lagian Luka bisa-bisa aja jadian ama elo,”.

“Iya juga sih. Meskipun dia cool, tapi tuh cowok rada cuek gitu, iya kan?,”.

“Iya sih. Apalagi dia kayaknya ga termasuk ketua kelas yang baik deh. Liat aja sikapnya yang otoriter gitu,”.

“Mungkin aja bapaknya dulu seorang tentara, Ril,”.

“Bisa juga. Eh kita kok jadinya malah nggosip gitu sih,”.

Arila dan Risti tertawa bersamaan.

**

‘Bosen banget sih nungguin fotocopy lamaaaaa banget,’ Arila mengomel.

“Ril,” tiba-tiba ada seseorang yang memanggil Arila.

“Siapa sih?,” Arila menoleh. Tak menyangka ia akan bertemu Luka disini.

“Ngapain lo kesini?,” tanya Arila.

“Fotocopy dong, ngapain lagi coba?,”.

“Hehehe…,”.

“Oia gue mo minta bantuan nih,” kata Luka.

‘Hah!! Luka mo minta bantuan? Bantuan apa’an? Pasti dia minta gue buat nyomblangin dia ama Risti. Gue ga nyangka dia beneran suka ama Risti. Cinta lo ga bakalan bertepuk sebelah tangan, Ris.’ batin Arila menebak.

“Kenapa lo senyam-senyum gitu?,” tanya Luka heran melihat tingkah laku Arila.

“E… ga papa kok. Oia bantuan seperti apa sih?,”.

“Gue… gue…,”.

‘Pasti si Luka rada gengsi ngomongnya ke gue. Ayo cepet bilang lo sebenernya suka ama Risti kan?,’ batin Arila yang mengada-ada.

“Gue mo pinjem duit, Ril,” katanya berbisik.

“What? Pinjem duit?,” suara Arila membahana ke seluruh ruangan.

“Jangan keras-keras dong ngomongnya, gue jadi malu nih,” Luka menjaga imejnya.

“Dasar!! Kirain apa’an? Gue pikir lo mo gue bantu lo tuk jadi comblang lo ama Risti,” kata Arila bersungut-sungut.

“Apa?,” Luka tak mendengar perkataan Arila.

“Eh ga, ga kok, ga apa-apa. Emang lo mo pinjem berapa?,”.

“10 ribu ada?,”.

“Nih,” Arila menyerahkan uangnya kepada Luka.

“Thanks,” Luka akhirnya meninggalkan Arila sendiri di tempat fotocopian itu.

“Mbak-mbak,” mas penjaga fotocopy memanggil.

Arila menoleh kepadanya.

“Semuanya 10 ribu, Mbak,” katanya sekali lagi.

Arila merogoh sakunya mencari-cari sisa uangnya. Tak selembarpun uang yang dapat ia temukan. Sampai akhirnya ia ingat akan sesuatu.

“Busyet dah, uang gue kan dipinjam ama si Luka. Trus gimana caranya gue bisa bayar fotocopian ini??,”.

**

Hari ini sepertinya sama saja dengan hari-hari kemarin, yang berbeda hanyalah hati Risti yang sedang berbunga-bunga. Mungkin ia merasakan yang namanya jatuh cinta.

Tapi yang Arila herankan, sampai sekarang pun Luka tak pernah sekalipun pedekate ke Risti.

‘Tuh anak suka beneran apa ga sih?,’.

Herannya lagi anak-anak satu kelas kini mengetahui kalo Risti menyukai Luka. Bukannya Luka duluan yang suka Risti?? Tau deh.

“Gue nanti dikira apa’an, Ril?,” kata Risti takut.

“Ya sepengetahuan gue sih, Luka dulu yang suka ama elo. Kayaknya sih gitu,”.

“Tapi anak-anak lain taunya gue duluan yang suka ama dia, gimana nih?,”.

“Emangnya ga boleh ta cewek duluan yang suka ama cowok?,”.

“Boleh-boleh aja sih. Tapi kan kebenarannya ga gitu, Ril,”.

“Ya itulah gossip. Kadang benar, kadang salah. Ya… yang tabah aja deh, Ris,”.

Risti malah manyun.

**

Siang ini Arila terlihat sendirian, karena Risti ternyata sudah pulang duluan karena ia akan menyiapkan kepulangan kakaknya dari luar negeri.

Ia berjalan tenang menuju gerbang depan. Ia melihat Luka dengan sepeda motornya, sepertinya Luka sedang bersama seseorang.

Arila mencoba melihatnya dari dekat. Luka terlihat berbincang-bincang dengan seorang cewek yang sepertinya amat dikenalnya. Kemudian cewek itu naik ke sepeda motor Luka, ya… Luka akan memboncengnya. Tapi kenapa tuh cewek pake nyabuk segala. Genit amat.

Semakin dekat Arila melihatnya, semakin jelas siapa cewek yang Luka bonceng.

**

Pagi-pagi sekali Arila sudah tiba di sekolah. Jarang-jarang ia datang pagi buta seperti saat ini, ia sepertinya akan menemui seseorang.

BRAK!!

Dipukulnya meja bangku itu dihadapan Tia.

“Lo punya hubungan apa sama Luka?,” tanya Arila geram.

“Apa hubungannya sama lo? Kayaknya ga penting deh,” jawab Tia cuek.

“Lo tau sendiri kan kalo Risti suka ama Luka. Lo ga usah deh jadi pihak ketiga diantara mereka,” teriak Arila.

“What? Pihak ketiga? Apa gue ga salah denger? Kapan mereka jadian? Emangnya gue ga boleh deketin Luka?,”.

“Lucu banget sih lo. Kemaren itu bukannya lo yang bilang kalo Luka liatin Risti terus? Kenapa sekarang gantian lo yang jadi suka ama dia?,”.

“Siapa bilang kalo Risti duluan yang suka ama Luka? Gue, Ril… gue. Dari dulu gue memendam perasaan cinta gue ama Luka. Tapi… gue tau kalo sebenarnya Luka ga nyimpen perasaannya ke gue,”.

“Ya biarin aja, toh hati Luka ga bakalan buat elo. Kenapa lo mempermainkan hatinya Risti?,”.

“Biar Risti tau gimana rasanya menderita perasaan cinta tak terbalaskan sama seperti gue,”.

PLAK!!!

Tamparan Arila tak dapat terelakkan, dia begitu marah.

“Kalo lo mau mempermainkan hati seseorang, jangan Risti dong, sapa kek, gue juga boleh. Tapi jangan dia. Lo ga tau betapa menderitanya dia sebelum ini. Lo ga tau, Ti!!!,”.

Tia terdiam. Terlihat jelas gambaran tangan yang merah di pipi mulusnya.

“Tamparan ini ga begitu sakit dibandingkan remuknya hati Risti begitu ia tau kalo Luka ga pernah menyimpan perasaannya ke dia,”.

Kata-kata Tia tak Arila dengarkan, ia begitu marah. Ditinggalkannya Tia sendirian di dalam kelas, pergi keluar sebelum orang-orang menemukan bahwa ialah penyebab merahnya pipi Tia.

**

“Kenapa sih, Ril. Lo kok diam aja dari tadi,” tanya Risti sambil mencari tempat duduk di laboratorium kimia.

“Ris,…,”.

“Ya?,”.

“Lo beneran suka ama Luka?,”.

“Ya… gitu deh,” jawab Risti sambil tersenyum-senyum manja.

“Kalo dia ga suka ama elo, gimana?,”.

“Elo kok ngomong gitu sih?,”.

“Ya mungkin aja gitu. Trus lo nangis lagi deh, sakit hati lagi, gimana coba?,”.

“Y-ya mungkin aja gitu. Pasti sakit lah,”.

“Tapi lo harus tegar ya ,Ris,”.

“Gue ga ngerti maksud lo,”.

“Ya pokoknya gitu wes,” Arila berlalu keluar kelas, mencari udara segar diluar.

Sepuluh menit kemudian Arila kembali ke dalam kelasnya. Betapa terkejutnya ia mengetahui bahwa semua cewek di kelas itu menangis bersama-sama.

“Siapa yang meninggal sih?,” tanya Arila tak mengerti.

Apalagi Risti yang terlihat paling banyak menghabiskan tisu. Arila mendekati Risti.

“L-luka, Ril, Luka…,” kata Risti.

“Emangnya kenapa tuh anak,”.

“Dia mo p-pindah,” tangis Risti tak terbendung.

‘Luka pindah?,’ batin Arila seakan tak percaya.

“22 September ini, h-hati gue h-hancur, Ril,” katanya lagi.

Arila memandang Risti seakan tak percaya.

‘Apakah ini termasuk bagian dari rencana jahat Tia untuk menghancurkan  Risti? Sungguh kejam sekali dia,’.

Arila pergi mencari Tia, tak ketemu juga.

“Kemana sih tuh anak, pake ngilang segala, takut gue gampar lagi,” darah Arila mendidih.

“Lebih baik gue kembali ke kelas untuk menenangkan hati Risti,”.

Baru ditinggal sebentar keadaan kelas kini jadi porak poranda seperti kapal pecah, disana-sini berserakan tisu yang menggunung tinggi. Siapa coba yang mau membersihkannya, tisu sisa air mata dan ingus.

“Udahlah, Ris,” Arila tak mampu menenangkan hati Risti. Risti masih saja menangis, sama seperti yang lainnya. ‘Gue heran, kenapa coba mereka sampe nangis gitu kehilangan teman yang mo pindah? Sekeren apa sih Luka sampe bisa membuat banyak cewek bisa nangis gitu karenanya?,’ heran Arila.

Akhirnya yang ditunggu-tunggu telah datang, Luka masuk ke dalam kelas, berdiri di depan seakan-akan hari ini adalah hari terakhir bertemu dengannya. Arila cuma mendengus kesal.

“Gue mo minta maaf ama lo semuanya kalo-kalo gue punya banyak salah ama lo semua,” kata-kata terakhir dari Luka diiringi suara isak tangis dari Risti dan teman-teman lainnya.

“Kalo boleh gue mo minta pesan terakhir dari lo-lo semua,”.

Tak ada satupun yang menjawab, semuanya pada sibuk nangis.

Arila mengangkat tangannya, “Ka, sebelom lo pergi dari sini jangan lupa bayar dulu utang lo yang kemarin,”.

Luka cuma tersenyum kecut, “Iya gue masih ingat kok,”.

‘Kurang ajar banget nih cowok, mo pindah tapi lupa bayar utang, mo lari dari tanggung jawab ceritanya?,’ gerutu Arila.

“Tapi sebelum itu gue mo minta maaf ama lo semua, karena gue disini, pada hari ini, tanggal 22 September ini, pada jam ini, detik ini, gue… gue punya pesen buat seseorang. 22 September, 2.2.9, gue khususin pesen gue ini buat seseorang yang ada disini, yang punya nomer absen 2.2.9,”.

“2.2.9? absen siapa tuh?,” terdengar pertanyaan dari sana-sini.

“Jumlah aja ketiga bilangan itu,” katanya lagi.

“2+2+9? Berapa ya? 13,” jawab teman-teman serempak.

“Ya, gue mo ngomong sesuatu buat seseorang yang punya nomer absen 13, … I LOVE YOU,”.

Risti yang masih saja menangis, tak mengerti kalo dialah orang yang menerima pesan dari Luka.

Semua anak pergi keluar kelas, sambil menyeka air matanya. Tinggalah Risti yang masih menangis di dalam, dihampiri oleh Luka.

Arila menutup pintu pelan-pelan, tak ingin mengganggu dua sejoli yang berada di dalam.

“Gila tuh anak, pake acara mo pindah segala, eh ternyata mo nembak Risti, percuma gue ngabisin banyak air mata buat dia,” teriak salah satu dari siswi yang duduk-duduk di luar kelas, membincangkan kelakuan Luka yang kurang ajar membohongi semua anak.

“Untung aja gue ga sempet nangis, gengsi dong,”.

Arila diam-diam mendengar isak tangis seseorang di belakang ruang laboratorium.

‘Tia?,’.

Dikala semua teman sedang membincangkan kelakuan usil Luka, ternyata Tia masih saja menangis.

‘Tia menangis? Jadi semua ini bukan rencana jahat Tia? Ternyata ia termakan sendiri sikap jahatnya,’ Arila tersenyum senang. Namun ia merasa iba kepada Tia, ‘Kasihan juga nih anak, udah berapa kali sakit hati??,’. ‘Nanti gue ceritain ga ya ama Risti?,’.

BRUK!!

Tiba-tiba tubuh Arila terjatuh karena Risti membuka pintu yang berada dibelakang Arila.

“Busyet lo, Ris, sakit nih,” Risti membantu Arila berdiri.

“Sori,”.

“Kenapa lo keluar? Emang udah selesai nih ceritanya?,”.

“Belum, gue mo tanya?,”.

“Tanya apa’an?,”.

“Gimana pendapat lo? Gue terima apa ga ya?,”.

“Busyet dah nih anak, yang ditembak tuh sapa, kok jadinya lo tanya-tanya ke gue, aneh banget,”.

“Ayolah Ril, gue ga tau nih mo jawab apa,” Risti memelas.

“Udah deh sana masuk,” Arila mendorong Risti masuk ke kelas, sesegera mungkin menutup pintunya rapat-rapat.

‘Duh, gue jadi ga sabar nih, gimana ya keadaan di dalam sana? Menurut lo mereka jadian ga?,’.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s