Pura Mandara Giri Semeru Agung dan Ranu Pane

Hari sabtu saatnya jalanjalan. Jalanjalan kemana yaaa? Dikala orang jawa pengen pergi ke bali, eh, orang bali malah datang ke lumajang. Ada apa sih di lumajang?

Untuk yang belum tau, lumajang punya salah satu pura tertua di nusantara. Tepatnya di desa Senduro. Banyak banget orang hindu yang sembahyang disana. Kebanyakan memang orang bali.

klik gambarPura ini merupakan pura yang paling dituakan oleh masyarakat Hindu. Hampir tiap hari ada masyarakat Bali yang berdoa di pura ini. Apalagi di hari-hari libur, berbondong-bondong masyarakat Bali berkunjung kesini. Puncaknya saat piodalan (ulang tahun Pura) sekitar bulan Juli, ribuan Masyarakat Bali membanjiri ke kawasan ini untuk berdoa dan menampilkan kesenian-kesenian Bali.

Pura Mandaragiri Semeru Agung (PMSA) dibangun pada tahun 1991 di Desa Senduro Kabupaten Lumajang. Latar belakang pemilihan lokasi PMSA di kaki Gunung Semeru berkaitan dengan mite pemindahan puncak Gunung Mahamèru dari India ke Jawa dengan maksud agar Pulau Jawa tidak jungkat-jungkit, sebagaimana dikisahkan dalam naskah Tantu Panggêlaran. Dengan demikian Gunung Semeru dianggap suci oleh masyarakat Jawa sejak dahulu.
Gaya, struktur dan komponen-komponen arsitekturnya mengikuti gaya arsitektur pura-pura di Bali, yaitu arsitektur trdisional Bali yang masih mengikuti gaya arsitektur zaman kerajaan Majapahit. Gaya arsitektur ini dipengaruhi oleh kebudayaan Hindu dengan dasar-dasar filsafat dalam ajaran agama Hindu. Landasan filosofis arsitektur terteliti dipaparkan dengan latar belakang alam pikiran keagamaan pemangkunya, yaitu agama Hindu, yang visualisasinya tergambarkan pada tata ruang (tata letak), bentuk bangunan dan bahan bangunan yang digunakannya.

Nah. Berangkatlah gue kesana. Jaraknya dari kota lumayan jauh, tapi ada kioskios bensin di tepi jalan kalo seandainya keabisan ato lu yang kehausan.

Ini kedua kalinya gue mengunjungin pura. Dulu pas kecil, enggak tau taun berapa itu, gue pernah masuk kesana. Harus pake kain ijoijo gitu. Cuman ga sampe masuk ke dalem. Kata mama, dulu pernah pura dibuka untuk umum. Hanya saja karena ada orang yang bunuh diri disana, jadi sekarang ditutup untuk umum. Yaiyalah. Pura kan tempat ibadah. Sudah selayaknya ga boleh dijadikan objek wisata selain wisata religi. Apalagi untuk bunuh diri *ihwow Jadi kali kedua kesana, cuman dapet foto luar pagernya aja udah seneng. Yaa .. kapan lagi bisa liat pura tertua di nusantara😀

Sebenernya sih tujuan utama jalanjalan kali ini bukan ke pura, tapi ke ranu pane. Ranu, dalam bahasa indonesia disebut danau. Jadi namanya danau pane. Begitu. Singgah sebentar di pura mandara giri agung buat beli bensin. Karena jarak perjalanan dari senduro ke ranu pane sangatlah jauh-jauh-jauh sekali dan ga ada kios bensin apalagi pertamina di dalem hutan, jadi harus sangu bensin dalem jirigen. Kalo bisa bawa aja tong yang sering dipake ngadul aspal. Biar bisa berendam sekalian di dalamnya😀

GUE HARUS BILANG WOW atas perjalanan yang melelahkan. Ajegile. Jalanannya sob. Udah sepi, kanan kiri hutan. Udah lama, mutermuter naikturun gunung ga karuan. Udah gitu jalannya ancur parah! Kalo perut ini ada isinya, kemungkinan KEGUGURAN deh gue -.-a *amitamit jabang bayi*

Gue berangkat berdua ama mas willy. Dia udah wantiwanti di jalan, jangan takut ya pas masuk hutan. Gue mah santaisantai aja. Gue cuman takut ama Tuhan dan bekicot.

Satu menit.

Lima menit.

Dua puluh menit.

Satu jam.

Satu jam tujuh menit.

AARRGGGHHH. KOK GA SAMPESAMPE SIH?!

Sebenernya ga ada masalah ketika ngelewatin hutan. Tapi begitu satu jam ga nyampenyampe, gue langsung takut. Ketakutan yang disebabkan oleh halusinasi diri sendiri inilah yang menyebabkan gue terus memandang lurus ke depan, ga sedetik pun melepas pelukan –takut jatuh pas ditinggal kabur, dan merapal mantra pengusir setan. Bulu kuduk, bulu idung, sampe bulu ketiak ikut merinding chuy. Gue ga nyangka, atmosfirnya mendadak berubah menjadi MENYERAMKAN. Gue serasa diikuti dari belakang, tapi dibelakang ga ada apaapa. Gue emang takut kalo ternyata ada preman yang ngikutin kami. Tapi gue lebih takut lagi kalo kami dikejar oleh sesuatu yang tidak bisa dilihat.

AARRRGGHHH. GUE PENGEN NGELIAT MANUSIA.

Sebegitu lamanya menanti dalam perjalanan, akhirnya kami bertemu –berpapasan dengan MANUSIA. Legaaaa bangeeet. Rasanya kayak kebelet pipis, ga nemu toilet, trus kencing di celana. Lima detik kemudian, ketakutan itu hinggap lagi. Apalagi ketika mas willy bilang, kok gue ngerasa ga enak ya?

AARRGGHH *tampar pipi mas willy*

GA USAH NGOMONG GITU KENAPA SIH?!

Akhirnya untuk menyelimurkan suasana hati yang sedang galau karena tak menemukan manusia, gue pun menyanyikan lagu. Lagu yang .. gue enggak tau itu lagu siapa. Yang jelas, gue terus menyanyikan lagu itu setiap melihat bukit berbunga.

Buuukit beerbungaaaaa ..

Teempat yang indaaah ..

Disana kita selalu datang beerduaaa ..

Di buuukit beerbungaaa ..

Repeat 6765367299 kali

Apalnya cuman bagian itu. Ya bagian itu aja yang dinyanyiin😛

Setelah menunggu dalam kegalauan yang teramat sangat panjang. Akhirnya tiba saatnya .. GUE MENEMUKAN TOILET. Yuhuuu!

Tepatnya di ranu pane. Ranu pane termasuk ke dalam wisata Taman Nasional Bromo Tengger Semeru. Jadi hutan yang gue lewatin tadi, yang bikin pantat gue trepes tadi, itu termasuk taman nasional. Hanya saja .. jalanannya yang perlu diperbaiki lagi. Ga enak toh kalo ada turis asing lewat sono tapi kena jalan makadam –jalan yang terbuat dari tanah dan batu, saking lancipnya batu, bisa bikin pantat meletus ketika lu duduk di atasnya :O

Tapi yang paling terkenal disini ya Ranu Kumbolo.

Ranu Kumbolo
Lokasi :  Desa Ranu Pane
klik gambar3 (tiga) Ranu/danau ini terletak di lereng G. Semeru. Para pendaki yang akan ke puncak Semeru pasti melewati 3 danau ini. 2 Danau yaitu Ranu Pane dan Ranu Regulo terletak di desa Ranu Pane lereng bawah dan merupakan awal pendakian, sedang Ranu Gumbolo terletak di lereng atas setelah perjalanan 5 jam dari Ranu pane.

Hanya saja yang bisa menikmati ranu kumbolo adalah para hiking sejati. Yang sukanya mendaki gunung. Karena kawasan tertinggi di lumajang yaitu gunung semeru. Itu tuh, gunung yang tertinggi di jawa. Masih aktif pula. Yang kalo meletus –benarbenarmeletus, akan membuat ga hanya lumajang bahkan jawa timur HILANG DARI PERADABAN DUNIA.

Menurut wikipedia

Gunung Semeru atau Sumeru adalah gunung berapi tertinggi di Pulau Jawa, dengan puncaknya Mahameru, 3.676 meter dari permukaan laut (mdpl). Kawah di puncak Gunung Semeru dikenal dengan nama Jonggring Saloko.

Semeru mempunyai kawasan hutan Dipterokarp Bukithutan Dipterokarp Atas,hutan Montane, dan Hutan Ericaceous atau hutan gunung.

Posisi gunung ini terletak di antara wilayah administrasi Kabupaten Malang dan Lumajang, dengan posisi geografis antara 8°06′ LS dan 120°55′ BT.

Pada tahun 1913 dan 1946 Kawah Jonggring Saloka memiliki kubah dengan ketinggian 3.744,8 M hingga akhir November 1973. Disebelah selatan, kubah ini mendobrak tepi kawah menyebabkan aliran lava mengarah ke sisi selatan meliputi daerah Pronojiwo dan Candipuro di Lumajang.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Gue?

Gue seumurumur di lumajang, enggak pernah mendaki puncak mahameru😀 Hehehe. Bukannya gue ga cinta gunung semeru lumajang. Tapiii .. karena gue .. yang pertama sih alasannya, gue sakitsakitan. Kalo gue ikut hiking, trus ditengah jalan pingsan, lalu siapa yang mau nyeret gendong? Gue kan anaknya ga mau merepotkan orang lain😉 Alasan kedua yaitu karena gue .. ga bisa lepas dari selimut kesayangan yang penuh umbel itu. Gue kalo ikut hiking, trus tidurnya di tenda ga pake selimut sendiri, ga bisa tidur. Kalo selimutnya dibawa juga bakal menuhmenuhin tas. Beraaat. Lebih baik bawa makanan yang banyak. Begitulah. Sampe segede upil gini gue baru pertama kalinya singgah di ranu pane.

Sayang sekali, ketika gue kesana pas ga musim hujan. Karena dinginnya amat sangat membekukan hati. Sangat cocok untuk yang lagi patah hati, karena hati lu bakal cepat dipadatkan dan ga galau lagi😉 Pernah suatu ketika terjadi hujan salju saking dinginnya. Hingga membuat bunga tulip juga merekah disini. Tapi gue enggak menemukannya T-T Huwaaaa *nangis gulingguling*

Karena disini dataran tinggi berbukitbukit, maka mata pencaharian sebagian besar penduduk adalah petani. Petani bawang, wortel, kubis, dan sayursayuran lainnya. Meskipun daerahnya masih termasuk desa di lumajang, tapi karena keterbatasan jalan yang ga mendukung, hasil pertanian penduduk malah lari ke kota sebelah seperti probolinggo dan malang, karena jalannya bagus.

Yang gue heranin disini adalah tanah bidang tanamnya. Karena berbukitbukit, maka kebanyakan tanahnya miring. Yang gue tau, kalo nanem di tanah miring itu harus dibuat terasiring atau sengkedan, yang bisa mambuat tanah terpetakpetak seperti anak tangga hingga memudahkan untuk menanam sesuatu. Tapi ini enggak. Tanamannya ditanam begitu aja. Ga ada yang seperti terasiring. Bahkan ada bukit yang curam hingga 30 derajat pun, tanahnya digunakan untuk menanam.

Gimana cara petaninya nanem ya?

Hanya Tuhan dan spiderman yang tau.

8 thoughts on “Pura Mandara Giri Semeru Agung dan Ranu Pane

    • aldilalala berkata:

      Kalo lama jam-nya, saya ga tau pasti. Karena banyak mampirnya (sering berenti untuk pipis di kali) Hahaha. Kalo ke pura masih ada angkutan umum. Tapi kalo ke ranu pane, ga ada. Kalo mau, abang ikut aja sama supir truk *kalo ada yang lewat* Hohoho. Hutannya hutan hijau, karena banyak tanaman hijau *ngeles*😆

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s