Asal Usul

–Adalah DEWASA, yang seharusnya mampu menjaga ucap dan tingkah laku pribadi dari kepolosan anak di bawah umur.

“Mana Ayahmu?”, tanya El.

Aku diam.

“Kau tak punya Ayah!”, ucap El diiringi tawa teman-temannya.

Aku tetap diam.

“Anak haram!”.

Julukan baruku sekarang adalah anak haram. Sebelumnya aku dijuluki si comber karena katanya kulitku sehitam air comberan. Dan sebelumnya lagi aku dijuluki si kentut karena katanya bauku tak pernah harum seperti bau anak-anak perempuan lainnya. Sekarang aku dijuluki si anak haram.

Aku tetap diam saja.

Aku sudah diajari Ibu bagaimana menjadi anak perempuan yang kuat. Aku tak lagi menangis karena ejekan El, aku tak lagi menyela kata-katanya, dan aku tak mau lagi takut untuk melawannya. Melawannya dengan diam. Itu pesan Ibu padaku.

Sebetulnya aku juga tak mengerti apa arti anak haram sesungguhnya.

“Anak haram itu anak yang tidak jelas siapa orang tuanya”. Begitulah jawab Pak Mul, penjual gorengan langgananku ketika aku bertanya padanya sepulang sekolah.

“Memangnya siapa yang anak haram?”, tanya Pak Mul heran.

“Kata anak-anak, aku yang anak haram”, aku melihat Pak Mul mengerutkan alis dan mulutnya menganga mendengar jawabanku. Memangnya ada yang salah ya dengan jawabanku?

Aku mempunyai orang tua yang jelas. Ibuku membuka usaha panti pijat di pinggir kota sedangkan Ayahku bekerja serabutan di luar Jawa. Itu kata Ibuku.

“Bagaimana rupa Ayahmu?”, dulu El pernah menanyakannya padaku.

Bola mataku berputar-putar dan berhenti ketika sampai di putaran 450­0, lalu ku jawab, “Aku tidak tahu. Yang jelas rupanya seperti laki-laki”.

Aku tak pernah ingat bagaimana rupa Ayahku. Aku rasa aku tak pernah bertemu dengannya. Kata Ibu, Ayah pergi bekerja ke luar Jawa ketika aku masih berada di dalam kandungan Ibu. Jadi aku tak pernah bertemu dengannya, bahkan aku tak pernah mengenalnya.

Ibu tak pernah menunjukkan foto-foto Ayah padaku. Sudah hilang, begitu jawab Ibu. Rumah kami pernah terbakar ketika aku masih berumur dua tahun. Mungkin api itu yang membakar foto-foto Ayahku. Sehingga sampai sekarang aku berumur sepuluh tahun, aku tak tahu bagaimana rupa Ayahku. Apakah ia memiliki rambut keriting seperti aku? Apakah ia berwajah kotak dengan garis tegas di tulang pipinya seperti wajah Pak Mul? Apakah ia berkumis dan berjambang lebat seperti buronan yang ku lihat di TV? Apakah ia mempunyai kutil di wajahnya? Aku tidak tahu.

“Ibumu berbohong!”, kata El diiringi anggukan dari teman-temannya.

Ibuku tidak mungkin berbohong. Aku selalu percaya padanya. Ia selalu bilang aku adalah anaknya yang paling cantik karena Ibuku tak punya anak lagi selain aku. Ia selalu berkata bahwa aku pintar meskipun raportku bertebaran angka merah. Ia selalu berkata benar dan aku mempercayainya.

El hanya geleng-geleng kepala ketika aku menyela ejekannya. “Kau harus menyelidiki apakah Ibumu berkata jujur atau tidak”.

Aku harus menyelidikinya dari mana?

Aku tahu El hanya ingin membuatku ragu dan tidak mempercayai Ibu. Aku tahu ini adalah alat El untuk membuatku kalah oleh semua ejekannya. Aku tahu itu. Namun sampai suatu ketika aku menemukan sebuah jawaban.

“Al. Ibu berangkat kerja dulu”, pagi itu hari Sabtu Ibu pamit padaku sama seperti hari-hari yang lain. Hari ini sekolah libur karena semua guru sedang rapat di luar kota. Aku berencana mengikutinya hari ini.

Ibu berada di kantor tempat usahanya. Aku sendiri tidak tahu usaha seperti apa kantor Ibu. Yang aku tahu dari sanalah Ibu memperoleh uang untuk menyekolahkanku. Tempatnya di sebuah gang kumuh dan jauh dari kesan baik. Aku menemukan beberapa orang mabuk di dekat kantor Ibu. Ada beberapa pria yang mengenakan busana wanita. Bajunya sedang dicuci, dia memakai baju istrinya, menurutku.

Aku mengendap-endap mengintip kantor Ibu yang menurutku lebih cocok dikatakan sebagai rumah biasa. Karena bangunannya jelek sekali. Dindingnya berwarna bagus karena selalu dicat sayangnya hampir roboh karena betonnya sudah harus diganti. Disana juga banyak pekerja yang rata-rata wanitanya berpakaian seksi.

Aku baru mengetahui bahwa kebanyakan pelanggan yang masuk di kantor Ibu adalah laki-laki. Mungkin Ibu menjual pakaian kerja laki-laki atau salon khusus laki-laki. Aku semakin penasaran saja.

Tak ada seorang pun disana yang merasakan kehadiranku. Ini semakin memudahkanku dalam menyelidiki Ibu. Dan aku menemukan Ibu tengah mengobrol dengan beberapa pria. Pakaian Ibu ketat sekali. Aku tak pernah tahu Ibu punya baju seperti itu. Sesekali Ibu berbicara sambil memainkan bandul kalung yang berada di belahan dadanya. Lalu Ibu dan pria-pria itu berpindah ruangan yang lebih dalam di kantor itu.

Aku tersentak kaget ketika mengetahui Ibu setengah telanjang di kerumuni pria-pria dewasa. Aku berlari keluar. Menangis pulang. Aku tak tahu apa yang harus aku lakukan. Apakah seperti ini hasil penyelidikan yang aku harapkan? Tidak. Sebenarnya apa pekerjaan Ibuku?

“Al. Ibu pulang telat malam ini. Hati-hati di rumah ya”, kata Ibu di telepon.

“Ibu mau kemana?”, tanyaku.

“Ibu ada rapat dengan teman-teman kerja Ibu”.

“Em …”, aku ingin menanyakan padanya, “… Ibu mengerjakan apa saja di kantor hari ini?”.

“Seperti biasa, Ibu sibuk dengan urusan administrasi. Seharian berkutat dengan buku-buku tebal dan pembukuan yang rumit. Sesekali Ibu harus istirahat karena terlalu pusing dengan pekerjaan. Ibu harap kau bisa bekerja lebih baik dari Ibu”.

Tangisku meledak ketika ku tutup telepon itu. Aku teringat kata-kata El. Ya. Ibu tidak selamanya benar. Ibu berbohong. Ia berbohong padaku. Berbohong tentang segalanya. Aku baru tahu itu. Kemudian yang ada di dalam pikiranku adalah Ayah. Bukan wajah Ayah karena aku tak pernah tahu wajahnya. Namun tentang sosok Ayah atau orang tuaku sebenarnya. Mungkin saja dia bukan Ibuku.

Mungkin saja aku anak orang kaya yang sengaja ditukar. Ibuku yang menukarnya dengan bayi lain. Dan Ibu memilikiku sedangkan orang tua kayaku memiliki bayi lain itu. Hah! Beruntung sekali anak itu menjadi anak dari orang tua kaya padahal sebenarnya akulah anak kandung mereka. Em … tapi itu tidak mungkin. Kalaupun mereka benar-benar orang tuaku pasti mereka akan berusaha mendapatkanku kembali. Karena sampai sekarang orang tua kayaku tak pernah sekalipun mencariku.

Mungkin saja aku anak orang miskin dan aku sengaja dibuang karena mereka tidak bisa membiayaiku. Lalu menyerahkannya pada Ibuku sekarang. Setelah aku sukses nanti ketika dewasa, seorang suami istri miskin muncul dan mengaku sebagai orang tua asliku. Mereka dan Ibuku yang sekarang mulai memperebutkanku dan kekayaanku. Aku akan memilih siapa? Aku akan memilih tinggal dengan hartaku saja.

Mungkin saja aku anak dari saudara Ibu. Atau mungkin saja aku diangkat oleh Ibu dari sebuah panti asuhan dan kini aku harus mencari siapa orang tua asliku. Atau mungkin saja aku mempunyai sepasang orang tua gila yang tak mengakuiku sebagai anaknya. Atau mungkin saja orang tuaku adalah terpidana mati dan menyerahkanku pada Ibu.

Ah. Aku letih dengan semua pemikiran ini. Kemungkinan aku anaknya siapa tak bisa dijawab oleh pikiranku. Aku harus menanyakan langsung pada Ibu. Lalu aku teringat El. Mungkin saja aku memang tidak punya Ayah. Aku pun menangis sejadi-jadinya. Ayah di dalam pikiranku kini tak berbentuk. Ayahku benar-benar tidak punya wajah!

Tengah malam aku terbangun. Di sebelahku terdapat sesosok wanita cantik. “Ibu …”, aku menangis padanya.

“Jangan menagis Alia. Ada apa?”.

“Ibu. Sebenarnya aku berasal darimana?”.

Ibu menghela napas panjang, “Mungkin kau harus tahu cerita yang sebenarnya. Kau sudah besar sekarang”.

Ibu pun mulai menceritakan kisahnya. Tentang Ayah. Ayah di dalam pikiranku pun mulai terbentuk kembali. Mulai dari kepala, wajah, hidung, tangan, kaki … .Aku pun tertidur dalam pelukan Ibu.

Hari ini adalah hari yang besar. Mungkin aku harus mencatatnya dalam kalenderku dan memperingatinya setiap tahun. Karena hari ini adalah hari kemenanganku. Aku akan mengalahkan El hari ini. Aku akan berkuasa di atas El selamanya!

“Jadi sekarang kau tahu bagaimana Ayahmu?”, tanya El, “Jangan menangis kalau kau mengetahui bahwa Ayahmu ternyata adalah seorang alien, zombie, atau malah drakula”, tawa mereka meledak. Aku hanya tersenyum mendengarnya. Kini aku sudah mempunyai jawaban atas segala pertanyaan El.

“Jadi sekarang kau tahu darimana kau berasal?”.

“Ya!”, ucapku agak sedikit sombong, “Aku adalah anugerah terindah yang Tuhan berikan pada Ayah dan Ibuku”.

El dan teman-temannya terdiam mendengar jawabanku. Hahaha. Sebentar lagi aku akan menang.

Kemudian aku melepas rok merah dan celana dalamku. Menunjukkan alat kelaminku,”Lihat ini!”. Wajah El pucat. Lalu aku membuka resleting celana El dan menunjuk alat kelaminnya. Wajah teman-temannya berubah.

“Aku ada karena ini dan itu bersatu!”, teriakku bangga atas jawabanku sendiri.

“ALIA!!!”, Ibu guru meneriakkan namaku. Teman-teman El berlari berhamburan kesegala arah. Aku dan El diam di tempat dengan celana dalam jatuh di lantai.

“Apa yang kamu lakukan?! Ayo semua ikut ke ruang kepala sekolah sekarang!!”, Ibu guru berang seperti kerasukan setan.

Aku dan El hendak berjalan mengikuti beliau, “Pakai celana dalam kalian sekarang!!”, teriak Ibu guru. “Ibu akan panggil orang tua kalian!”.

El mendadak sakit. Wajahnya memucat. Ia tak berani melihatku.

Aku tersenyum dalam hati, “Apakah aku sudah menang sekarang?”.

Stop Bullying!

Diikutsertakan dalam 

19 thoughts on “Asal Usul

    • aldilalala berkata:

      Ibunya ini ngajarin ga bener😛 Wkwkwk. Nah, itu dia pak guru. Alia harusnya sekolah di sekolahnya pak sulung biar dapet sex education yang baik dan benar😀 *tadi baru singgah di blognya si bapak guru*

  1. Falzart Plain berkata:

    Ya, sekarang Alia menang. Coba saja El, tanyakan lagi pertanyaan itu ke Alia!😆
    Alianya terlalu polos! Tapi dasar penulisnya terlalu cerdas, terlalu banyak kemungkinan muncul di kepalanya (saya nggak kepikiran kalau tempat itu bisa salon atau tempat penjualan pakaian pria). Belum lagi tentang anak siapa. Orang kaya? Orang miskin? Saudara orangtuanya? Orang gila? Narapidana? Waaah… kebanyakan nonton sinetron nih Alianya… *terharu*

    • aldilalala berkata:

      Hihihi. Begitulah pikiran anak kecil .. kemanamana😀 *termasuk pikiran pengarangnya juga*
      Dilanjutin sekuelnya pasti seru deh bang :-S hhmm *diem dipojokan gigitin pensil*

  2. 'Ne berkata:

    hahaha busyeett dah berani bener si Alia, tapi di jamin si El bakalan kapok ya..

    suka deh gayamu bercerita hehe.. asyik ayo lanjutkan dan semoga sukses ya GAnya😀

    • aldilalala berkata:

      Terinspirasi dari sosok anak kecil yang pengen tau segalanya tapi belom dapat memahami kehidupan secara mendalam🙂 Salam sukses untuk kita semuaaa \^^/ yippi!

    • aldilalala berkata:

      Begitulah anak kecil dengan pemahaman yang salah,eh, yang aneh😛
      Makasih juga buat abang yang udah ngasih sayembara semacam ini. Jadi giat nulis😉

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s