Review Perahu Kertas

Well. Dua hari gue menenggelamkan diri dalam leptop demi membaca novel digital bajakan yang gue donlod sebulan yang lalu, judulnya Perahu Kertas. Bohong juga rasanya, gue yang mengaku penganut aliran Dee tapi novel yang diterbitin taun 2009 itu baru gue baca tiga taun sesudahnya. Oh men! Gue ga berani ngaku jadi fans beratnya Dee akibat kejadian ini. Mana ini adalah novel kedua –dari enam novel yang seharusnya gue baca DAN GUE MILIKI. Tragis emang. Mengaku fans berat tapi ga punya duit buat beli.

Novel Supernova: Petir adalah yang pertama kali gue baca. Entah gue baca dimana, yang jelas ga minjem dari temen, dan ga nyolong dari rental buku, entah di perpus .. tapi di perpus mana ya, gue lupa. Bisa dibilang bacaan yang berat, karena selain berisi tentang cinta dan keluarga juga memuat unsurunsur fisika yang benerbener ngebuat gue mengambil tombol replay satu paragraf sebelumnya demi memahami maksud dan tujuan penulis mengapa memasukkan hukumhukum fisika dan meniadakan rumus logaritma matematika sebagai queen of science. Its not fair, you know?

Dan kesukaan gue adalah mengutip. Bukan mengutip orang mandi di kali, bukan juga mengutip pembicaraan ibuibu pekaka. Katakata Dee yang terlontar sangat membuat gue tergerak untuk menulis di buku catatan sejarah bahasa sastra aldilalala. Ajegile! Keren abis bro. Alis gue sampe capek banget saking banyaknya yang kudu ditulis.

Berbekal ingatan jangka pendek yang seringkali menghilang tanpa sebab dan buku catatan yang terpakai untuk membungkus sisa permen karet. Alhasil .. tulisantulisan itu terbuang entah berada dimana. Ya amplop! Gue musti merelakan gaji pertama –dari kerjaan yang serius, untuk beli novelnovel Dee, Supernova: Ksatria, Puteri, dan Bintang Jatuh, Supernova: Akar, Supernova: Petir, Filosofi Kopi, Rectoverso, Perahu Kertas, semuamuanya, selengkaplengkapnya, demi menjaga kehormatan memori ingatan otak gue yang kena penyakit akut *IQ lu berapa sih al?

Kutipan favorit gue –yang gue inget, dalam novel Supernova: Petir adalah ..

Bahwa akan tiba saatnya orang berhenti menilaiku dari wujud fisik, tapi dari apa yang aku lakukan.

Super sekali! Dari kutipan sesingkat itu, gue berusaha dengan sekuat tenaga untuk mencapai apaapa yang gue pengen dengan meniadakan faktor penampilan, yang gue rasa amat sangat tidak masuk akal dalam dunia fana seperti ini. Tapi gue yakin .. suatu saat .. entah kapan .. orang akan menilai aldilalala .. bukan sebagai orang matematika yang ga bisa ngerjain soal limit dan trigonometri .. bukan sebagai orang yang cacingan yang memelihara naga di perutnya .. dan bukan sebagai orang yang ngupil pake jempol kaki. Yeah!

Perahu Kertas. Well. Banyak kutipan, lebih tepatnya paragraf berharga layaknya harta karun katakata, yang gue temukan dari penulis kreatif Dee. Cekidot.

  • Berputar menjadi sesuatu yang bukan kita demi menjadi diri kita sendiri.
  • Dalam dongengnya ia bercerita untuk memuaskan dirinya sendiri, sementara dalam cerpennya ia bercerita untuk memuaskan oranglain.
  • Dari pertama kita jadian, gue selalu berusaha ngejar dunia lu. tapi lu bukan Cuma lari, lu tuh terbang. Dan lu suka lupa, gue masih di bumi. Kaki gue masih di tanah. gimana kita bisa terus jalan kalo tempat kita berpijak aja beda.
  • Memangnya kamu pikir aku enggak tau kalo kamu sebenernya sedang berusaha mengubah aku jadi dia. Kamu gagal. Karena aku bukan dia dan ga akan mau jadi dia.
  • Tidak mudah menjadi bayangbayang oranglain. Lebih baik tunggu sampai hatinya sembuh dan memutuskan dalam keadaan jernih. Tanpa bayangbayang siapapun.
  • Susah payah ia berusaha bangkit, tertatihtatih, mencari sesuatu yang baru untuk menggantikan bintang hatinya, inspirasinya. Kini ia sudah kembali berdiri tegak. Namun ia sadar, bintang yang sama tak akan pernah kembali untuk kedua kalinya.
  • Kamu sudah pernah ada juga sudah cukup untukku
  • Buat apa dia kembali? Buat apa muncul sejenak lalu menghilang kembali?
  • “Saya mau bantu kamu. Boleh?” Keenan lantas meraih tangan Kugy. “Empat tahun saya kepingin bilang ini: Kugy Karmachameleon, saya cinta sama kamu. Dari pertama kali kita ketemu, sampai hari ini, saya selalu mencintai kamu. Sampai kapanpun itu, saya enggak tau. Saya enggak melihat cinta ini ada ujungnya”.
  • Sebagai orang yang mencintai kamu, saya bahagia karena kamu berhasil memilih yang terbaik untuk hidupmu.
  • Di tempat yang sama, Kugy menangis bisu. Ia berjanji inilah tangisan terakhirnya untuk Keenang. Ia bahagia sekaligus patah hati pada saat yang bersamaan. Saat ia tau dan diyakinkan bahwa mereka saling mencintai dan selamanya pula mereka tidak mungkin bersama.
  • Carilah orang yang enggak perlu meminta apaapa tapi kamu mau memberikan segalagalanya.
  • Hati tidak pernah memilih. Hati dipilih. Jika engkau telah mengatakan bahwa telah memilihku, selamanya engkau tidak akan pernah tulus mencintaiku. Karena hati tidak perlu memilih. Ia selalu tau kemana harus berlabuh

Nyesek. Jleb jleb jleb dalam hati, peredaran darah langsung bocor. Gue pun masuk wc sambil ngetik di leptop *euch

Untuk versi lengkapnya, khusus buat orangorang kayak gue –ga punya duit buat beli, gengsi mau pinjem temen, apalagi baca gratis di gramed, nah sok atuh donlod versi digitalnya di link berikut ini. Klik disini.

Banyak cewek, termasuk gue, ngerasa menjadi bagian dari dalam diri Kugy. Sebagian hidup gue ada disana. Mulai dari hobi nulis -yang ga serius, ngajar di sekolahan kumuh, sampe punya pacar kayak ojos yang benerbener ga ngerti sama sekali yang namanya sastra. Pacar, eh, mantan gue juga gitu. Dia ga pernah tuh kasih komentar apaapa tentang tulisantulisan gue. Ga pernah bilang bagus, ga pernah bilang jelek, tiap kali gue kasih naskah, baru dibaca satu paragraf trus dikembaliin. Pusing katanya liat tulisan gue acakadut kayak ceker ayam. Ga kayak Keenan😦 Jatuh cinta yang sedalamdalamnya deh buat Keenan. Lu mau ga baca tulisantulisan gue? *pasang tampang melas

Novel sebagus itu kenapa lu baru baca sekarang al?

Itu gue berminat membongkar datadata dalem leptop juga karena filemnya bakal tayang akhirakhir ini. Jadi sebelum nonton filem, wajib harus baca novelnya terlebih dahulu. Karena biasanya –seringkali malah orang selalu membandingbandingkan filem dengan novel asli. Kebanyakan pemirsa sekalian menganggap filemnya lebih jelek, halhal yang menurut pembaca itu hal yang seru untuk divisualisasikan namun akibat keterbatasan waktu penayangan maka penulis memadatkan cerita dan membuang halhal tersebut. Dan ngebuat filem jadi basi dan ga layak ditonton lagi.

Persis seperti novel sang pemimpi andrea hirata yang versi filemnya terlihat aneh dan gue lebih suka versi novelnya. Karena lewat membaca dalem hati dengan penuh penghayatan, gue bisa membangun imajinasi gue. Mau plotnya gue setting di atas genteng atau di bawah jembatan, mau buang ariel dan pasang muka fauzi baadillah untuk wajah arai juga sukasuka gue. Selama dalam imajinasi, guelah yang jadi produsernya. Huahahaha.

Setelah membaca novel Perahu Kertas tersebut, gue jadi mikir .. hhmm .. lama banget mikirnya .. hhmm .. suatu pertanyaan yang sulit sekali untuk dijawab .. hhmm .. gue tadi di dalem wc udah berapa jam ya?

Aneh aja ya. Kenapa novel bestseller selalu menjual ending yang bahagia. Seperti kisah dongeng itik buruk rupa yang dibantu ibu peri untuk menemukan pangeran kodok yang rupawan. Akhirnya mereka saling mencintai dan hidup dengan damai. Huft. Katakata seperti itulah yang membuat gue berkata –ga sepantasnya untuk diucapkan .. omongkosong.

Sama halnya yang dipikirkan Kugy. Ini dunia nyata. Kenyataan bakal lebih berat dari dari cerita fiksi manapun. Teorinya salah dan menyimpang. Karena cewek jelek ga mungkin ketemu cowok cakep kaya raya yang mencintainya setulus hati. Karena cewek cakep ga selamanya berjodoh dengan cowok cakep juga, malah lebih sering jodohnya mentok di cowok jelek tapi pinter dan punya mobil. Itu kenyataan yang ga bisa dipungkiri. Dongeng terasa amat menyesakkan dalam dada. Karena penuh dengan harapan palsu dan penyakit khayal tak berkesudahan.

Tapi .. kebayakan .. penulis yang tulisannya selalu happy ending maka di hidupnya bakal happy ending juga. Ga peduli seberapa berat masalah yang dihadapi, dia selalu melihat segala sesuatu dari sudut pandang positif dan berharap agar segala sesuatu berjalan ringan. Dan Tuhan menjawab doanya, karena sebuah tulisan adalah sebuah pengharapan. Maka dari itu mereka yang menamatkan akhir yang bahagia dalam tulisannya akan berakhir bahagia pula. Beda halnya dengan orang yang selalu memberikan suguhan ending yang tragis berdarahdarah *kemudian bercermin .. gue dong?

Udah pernah baca tulisantulisan gue yang super duper serius belum? Kalo ada waktu sok atuh baca sebagian ..

Yang sebagian besar udah menang dalam beberapa perlombaan panjat pinang. Gue sendiri enggak tau kenapa karya gue masuk favorit para juri. Apa karena para juri setuju bahwa cerita dikatakan bagus jika endingnya berakhir tragis-menyedihkan-sekaligus membingungkan? Itu sih pendapat gue aja dari beberapa pengalaman. Hehehe.

Masalahnya kalo dikaitkan dengan kenyataan hidup. Gue nyaman berada dalam zona sad-ending yang kebanyakan enggak dipilih penulis karena pasti dihantui pangeran kodok berkolor merah dan bisa terbang, tapi ga selamanya juga gue bakal hidup dengan berakhir menyedihkan, dikurung di menara dan punya hidung panjang. Garagara mengambil zona ini, asli sumpah, gue memandang peristiwa nyata dengan banyak menambahkan unsur “jika .. seandainya ..” dan itu membawa dampak buruk dalam sudut pandang gue yang selalu melihat kesedihan-ketidakadilan-dan penyiksaan secara mendalam lahir batin .. mati bunuh diri dengan menjadi pengayuh becak yang ga pernah dibayar hingga rela enggak makan dua windu .. padahal konflik nyata yang dihadapi adalah .. cuman berantem garagara rebutan permen. Lebai banget ga sih imajinasi liar gue?

Berada dalam tagline fiksi ilmiah, gue serasa dikunci mati oleh Jules Verne untuk mengawinkan cerita fiksi dan sains sekaligus menjadi peramal masa depan. Gue jadi seringsering baca berita dan nongkrongin channel national geography untuk lebih mendalami anatomi tubuh manusia alias pedekate dengan bumi beserta isinya sekaligus galaksi yang mendadak berubah mendekati kiamat. 2012? Mungkin. Meskipun bangsa Maya udah mengklarifikasi bahwa 2012 bukan kiamat, tapi kalo Tuhan menghendaki .. yaaa .. mau gimana lagi dong. Tinggal pasrah, berdoa, dan bawa kipas. Karena di neraka pasti panas banget.

Nah. Inti dari review Perahu Kertas ini adalah BAGUS dan ratingnya BINTANG SEJUTA. Wajib lu baca sebelum nonton filemnya. Dan jika lu mengaku sebagai penulis –seperti kata Kugy dan Keenan, TURUTI KATA HATI LU. Seamburadul apa tulisantulisan yang lu bikin, pamerin aja ke tementemen, kirim aja ke penerbit. Kalo untung ya pasti dimuat dan dapet honor, kalo apes ya pasti kertas lu bakal dibuang ke tempat sampah .. TAPI UNTUK DIDAUR ULANG JADI BARANG YANG BERMANFAAT. Artinya .. lu bisa gagal TAPI GA ADA KATA MENYERAH UNTUK SELALU MEMPERBAIKI TULISAN DAN SUDUT PANDANG CERITA AGAR MENJADI LEBIH BAIK. Karena gue, elu, kita semua, HARUS YAKIN .. BAHWA AKAN TIBA SAATNYA ORANG BERHENTI MENILAI KITA DARI WUJUD FISIK TAPI DARI APA YANG KITA LAKUKAN.

Oke. Sekarang giliran siapa yang minta tandatangan dalam novel terbaru gue? *masih terjebak di dalam dunia khayal

2 thoughts on “Review Perahu Kertas

  1. kabutpikir berkata:

    seriusan, aku dah lama gak pernah bener2 “baca” novel akhir2 ini… biasanya aku cuman baca tanpa meresapi ceritanya… tapi Perahu Kertas beda.
    udah lama gak pernah ketawa, terharu, dan kecewa pas baca sebuah novel. dan aku rasain semuanya di novel tersebut…
    jadi inget jaman dulu, waktu aku masih “polos” dan memandang dunia dari beragam warna.
    aku kasih rating semiliyar bintang!!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s