Stoicheon N

Juara 1 Lomba Cerpen Sains 2011 yang diselenggarakan oleh Himpunan Mahasiswa Departemen Kimia Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia

Asmi mengamatinya lagi. Hanyalah segumpal tanah dalam pot. Tanpa tanaman, kering dan retak-retak. Hanya segumpal tanah yang selalu ia siram dengan air setiap hari. Tetap kering, tetap retak-retak dan tetap tanpa tanaman.

Kelangsungan hidup makhluk hidup dipengaruhi oleh adaptasi, seleksi alam, dan perkembangbiakan. Segumpal tanah. Bukan makhluk hidup dan tak dapat berkembangbiak juga beradaptasi, namun harus mengalami seleksi alam agar kehidupannya tetap berlangsung.

Asmi memandang ke luar jendela. Bangunan tinggi yang ia tinggali. Dari tempat ia berdiri, ia tak menemukan sejengkal tanah pun yang melekat pada bumi. Semuanya tertutup aspal putih. Kemacetan ruas jalan terlihat di bawah. Klakson-klakson mobil terdengar menderu-deru.
Semua orang berdesakan untuk pergi ke selatan. Ke tempat teraman menyelamatkan nyawa sebelum kota ini hancur. Terlalu banyak perkembangbiakan hingga sejengkal tanah harus dihuni tiga manusia sekaligus. Tak ada lagi habitat. Manusia tak mampu lagi beradaptasi dengan keadaan seperti ini. Keadaan kota yang semakin memburuk ditambah hujan yang sudah empat pekan tak kunjung datang.
Badannya bergetar seiring dengan gempa yang baru saja terjadi. Retakan di dinding muncul lagi. Asmi merapat ke dinding. Merasakan retakannya yang semakin parah. Ia menangisi kepedihan bumi yang sekarat. Sekarat tanpa unsur N.

Ayah memeriksa berton-ton pupuk dalam gudang. Menghitung setiap ons-nya. Asmi berdiri di depan pintu, mengamati Ayah.

“Mengapa Ayah membeli pupuk banyak sekali?”.

Ayah tersenyum, “Ayah ingin mengujinya”.

“Menguji? Bukankah pupuk yang dijual di pasaran telah teruji kualitasnya mampu menyuburkan tanaman dan membuat hasil produksi tanaman semakin banyak”.

“Ya. memang seperti itu. Namun Ayah masih berpikir bahwa pupuk-pupuk ini sangat bermanfaat bagi tanaman tetapi bagaimana dengan tanah? Ayah ingin tahu”.

“Bagaimana dengan tanah?”, Asmi berpikir, “Tanah tak ada hubungannya dengan ini Ayah. Tanah hanyalah benda mati yang tak ada pengaruhnya dengan penambahan ataupun pengurangan pupuk. Tanamanlah yang dipengaruhi”.

Ayah terkekeh, “Logikamu memang benar anakku. Sekarang coba pikirkan bagaimana jika kau tak lagi menemukan tanah?”.
Ayah meninggalkan Asmi yang masih berdiri di depan pintu. Asmi terdiam dan memandangi tumpukan pupuk yang tak tahu akan dibuat apa.

Asmi memandangi sertifikat dan piagam yang jatuh satu persatu dari dinding-dinding yang bergetar. Tanda jasa itu tak lagi ada artinya. Jatuh berserakan dan terluka terkena pecahan kaca.

Tak mudah menjadi seorang ahli bioteknologi. Belajar bertahun-tahun di luar negeri, hingga ia lihai memanfaatkan prinsip-prinsip ilmiah yang menggunakan makhluk hidup untuk menghasilkan produk dan jasa.

Sekarang Asmi mampu menjawab pertanyaan Ayahnya. Ia mampu menumbuhkan tanaman tanpa tanah. Melalui penanaman secara hidroponik maupun aeroponik. Ia juga telah beberapa kali melakukan rekayasa genetika untuk memanipulasi gen hingga menghasilkan makhluk hidup baru dengan sifat yang diinginkan.

“Panggil aku Tuhan bioteknologi”, tegasnya di dalam tangis. Diiringi dentingan pecahan kaca yang menghancurkan piagam-piagam berharganya.

Kegiatan pemupukan menggunakan pupuk kimia seringkali dilakukan secara tidak terkendali dan menimbulkan dampak buruk terhadap produktifitas lahan. Ayah melingkari kata-kata dalam kalimat koran hari ini.

“Apa yang Ayah lakukan!?”, teriak Asmi masuk ke ruang kerja Ayah tanpa permisi.

“Apa maksudmu? Duduklah dulu”, ajakan Ayahnya yang tak digubris Asmi.

“Ayah hancurkan setengah ladang padi yang hampir menguning hanya untuk menanam tanaman tak bermanfaat itu!”.

“Namanya tanaman legum Crotalaria juncea L.”.

“Tak peduli apa namanya dan disebut seperti apa!”, kemarahannya tak terbendung. “Lima tahun lalu Ayah membeli berton-ton pupuk tak berguna hingga sekarang teronggok tak bernyawa di gudang, aku tak peduli. Aku tak peduli Ayah habiskan uang untuk itu. Tapi untuk yang ini aku tak terima! Ayah mengambil setengah keuangan keluarga secara percuma”.

“Pupuk itu bukan tidak berguna, hanya saja belum Ayah manfaatkan. Ayah masih menelitinya”.

“Omong kosong! Meneliti apanya? Apa yang selama ini sudah Ayah lakukan? Apakah Ayah benar-benar melakukan sesuatu yang bermanfaat?”, Asmi menatap lekat mata Ayahnya, “Tidak! Tidak satupun pekerjaan yang Ayah lakukan bermanfaat!”.

Hal terindah yang dialami Asmi adalah berada di pematangan sawah yang tengah menguning, bersama Ayahnya.

Asmi kecil berlari-lari di pinggir pematang sawah. Hampir saja terjatuh, ia dipeluk Ayahnya.

“Asmi lihat! Padi ini telah matang”.

Alis Asmi mengkerut, “Bagaimana disebut matang Ayah? Padi ini belum menjadi nasi”.

Ayah tertawa-tawa, “Fase petamatangan padi didaerah tropis umumnya memerlukan waktu 25-35 hari dan terjadi pada umur 90 hari. Pada fase ini terjadi dimana terjadi pematangan isi gabah dan daun-daun bawah mengalami kekuningan karena menua. Serta berat biji semakin bertambah. Itulah yang disebut pematangan”.

Asmi mengangguk-angguk tanda mengerti.

“Ayah memakai pupuk apa?”.

“Ya pupuk NPK yang selama ini Ayah gunakan”.

“Apakah ada perbedaan jika Ayah menggunakan pupuk jenis lain?”
Ayah terdiam, “Entahlah. Ayah belum pernah menggantinya dengan yang lain”.

“Lain kali Ayah harus menggantinya. Mungkin saja nanti batang padinya akan tumbuh setinggi ini dan berasnya sebesar ini”, Asmi kecil melebarkan tangannya sejauh mungkin. Membayangkan bentuk padi sesuai dengan imajinasinya.

“Apakah beras bisa mengecil ukurannya, Ayah?”.

“Hhmm. bisa saja. Setiap makhluk hidup pasti mengalami proses adaptasi. Makhluk hidup yang berhasil selamat adalah makhluk hidup yang adatif dan berhasil menjuarai seleksi alam. Sama halnya dengan padi. Bisa saja padi malah menghilang dari muka bumi”.

“Apa? Menghilang?”, Asmi terkejut. Ia hampir terperosok ke dalam pematang sawah. “Apakah ada alien yang mencurinya?”.

Ayah tersenyum dan menggeleng, “Padi akan menghilang jika kau tak mampu merawatnya dengan baik”.

Terdengar suara gemuruh di luar. Gedung setinggi sepuluh meter itu kehilangan keseimbangan akibat pergeseran lempeng bumi. Membuat manusia-manusia di bawahnya berlari kocar-kacir. Menambah keributan dimana-mana.

Asmi masih terjaga disana. Di sudut ruangan memegangi sertifikat-sertifikat bioteknologi yang berhasil ia selamatkan. Memilih menyelamatkan barang-barangnya ketimbang menyelamatkan dirinya sendiri.

Ia melihat secarik kertas lusuh pengganjal pigora yang dibuatnya sebagai pemberat agar tidak terjatuh ke depan.

Penggunaan kompos Crotalaria juncea L. Serta kombinasinya dengan urea dapat mengurangi kehilangan N dan meningkatkan pertumbuhan serta produksi padi dibandingkan hanya dengan menggunakan pupuk urea. Hal in terjadi karena mikroba bisa berfungsi sebagai tempat penyimpanan N melalui proses imobilisasi. Sedangkan mineralisasi dari pupuk urea memenuhi kebutuhan N pada masa vegetatif tanaman sedangkan mineralisasi dari kompos yang berjalan lebih lambat daripada urea dapat memenuhi kebutuhan N pada masa generatif tanaman.

Tangis Asmi semakin menjadi. Air matanya keluar dan tak ada satu kata pun keluar dari mulutnya. Dunia bergetar. Lempengnya bergeser sejauh lima derajat ke arah utara. Ia merasa tubuhnya rata dengan tanah. Ya. Ia masih merasakan kasarnya tanah yang ia genggam. Tanah terakhir yang ada di bumi.

Ayah berlari-lari menuju kamar Asmi. Napasnya tersengal-sengal. “Asmi! Asmi! Lihatlah!”, dipanggilnya nama Asmi yang tak kunjung datang.

“Ayah berhasil membuat unsur N dalam tanah meningkat karena pupuk yang terbuat dari tanaman legum. Kau lihat kan?! Tanaman itu sangat bermanfaat untuk kita dan semua makhluk hidup di bumi”, Ayah berhenti dari larinya. “Pupuk anorganik yang tak baik untuk perkembangan tanah sekarang dapat kita ganti dengan pupuk tanaman legum yang ramah lingkungan”, Ayah masih terduduk di halaman, “Meskipun tidak kita gunakan untuk padi, setidaknya bisa digunakan untuk menyuburkan tanah dan menyeimbangkan unsur N. Demi bumi kita di masa depan”.

Ayah masih tertunduk disana. Tak berhenti bicara sendiri tentang pupuk temuaannya. Berharap Asmi mendengar ucapannya.

Asmi berada di ladang. Mengambil segenggam tanah dan dimasukkannya ke dalam pot. Ia menenteng sebuah tas dan berjalan menuju utara.

Terdengar suara sirine polisi dan suara empat tembakan dari arah rumah. Lima belas menit yang lalu, Asmi menelepon polisi dan memberitahu bahwa ada seorang tua yang mencurigakan. Menimbun pupuk dan melakukan percobaan pembuatan bom.

2 thoughts on “Stoicheon N

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s