Faktor W

Hari ini. Jum’at 25 November 2011 tepat jam 10.00 WIB. Gue dan nini mendapatkan kejutan seru di pagi hari. Ada dua cewek jilbabers tibatiba mendatangi kami berdua. Mau apa coba? Nraktir kita makan? Mau sebenernya, tapi mereka ga melakukan itu. Mereka datang menawarkan untuk memberi kita ceramah di kajian jumat pagi.

o.O toeng?!

Gue nglirik nini. Nini nglirik gue. Gue dan nini lirik-lirikan. Kami ga tau mau ngomong apa. Opsinya cuma dua, menerima dan menolak. Kalo menolak kasian juga mereka, datang dengan berbaju lusuh dan wajah terlipat dua, kami ga tega. Akhirnya kami nerima untuk mendengarkan ceramah mereka.

Sepanjang sepuluh menit kami dijejali cerita tentang penolakan obama datang ke indonesia.

Apa gunanya coba buat gue mikirin hal kayak gitu? Apa manfaatnya? toh obama ga make duit gue buat ke Indonesia.

Mbaknya= Kenapa ktt di agendakan di bali? Kenapa ga di mojokerto kota saya? Ya itu karena bali punya APBN paling besar dan banyak turis mancanegara yang kesana. Jadi dia pinter banget milih tempat buat promosiin amerika.

Nini= Lah nyapo nang mojokerto. Neng mojokerto ga enek hotel’e.
Gue= Gue udah telpon obama dan gue suruh mampir lumajang. Eh dianya ga mau, malah milih bali.

Mbaknya= Garagara amerika yang membuat kita dijajah hingga meraup keuntungan dari sumber alam indonesia. Kenapa kita mau? Seharusnya kita demo ke mereka dan menolak bantuan dari mereka. Kita dijajah. Kita harus merdeka!

Nini= Faktor SDM lah. Lah sing pinter wong amerika kok.
Gue= Garagara kakean tempe.

Akhir cerita gue dikasih nomer hape oleh mbaknya. Gue simpen lalu gue hapus lagi. Dia maunya biar setiap jum’at kita bisa diceramahi oleh dia.

o.O toeng?!

Selama sepuluh menit itu di kepala gue cuma ada satu pertanyaan yang mbulet dalam otak. Kenapa coba mbaknya milih nyeramahin gue dan nini, bukan pada orang-orang yang lain? Padahal disana itu loh banyak orang selain kita berdua.

Ini garagara faktor W. Faktor WAJAH. Wajah kami berdua yang inosen hingga mudah untuk dikasih bujuk rayu, juga karena di wajah kami terbentuk kalimat “TIDAK TERMASUK ORANGORANG YANG BERADA DI JALAN YANG LURUS”. Hingga mbaknya mau meluruskan jalan kami berdua.

Oemji. Nini. Kenapa dengan wajah kita? Apakah sesuram itu? Apakah sangat terlihat bahwa kita emang termasuk orangorang yang ga bener?

Karena mbak itu melihat kami berdua dengan pandangan “KEDUA ORANG GA JELAS INI HARUS DIRUKYAH”.

Kesimpulan dari cerita hari ini adalah : setiap hari jum’at jangan nongkrong di tempat duduk antara gedung matematika dan gedung fisika.

4 thoughts on “Faktor W

  1. Nia berkata:

    kalo begitu ayo qt oplas aja… requestx bkan menjadi cantik spt yg lain… tp menjadi wanita dgn wajah yg terlihat lurus.. hahahaha

    • aldilalala berkata:

      .seperti apa itu kongkritnya? ngomong ke dokter beda plastik dan tidak menginginkan wajah seperti jesica esenesde tapi menginginkan wajah lurus dan datar seperti jalan beraspal? ohno .enggak mau sayaaaa

  2. Nia berkata:

    kalo mau wajah lurus, tinggal di rebonding ae… gampang khan??? hahahah..

    tampang lurus kuwi implisit… ——-> mgkn tampang kayak alim iso digunakan.. hahah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s