Tiga Ratus Enam Puluh Lima Hari Bersamamu

Aku mendongak ke atas, menatap langit. Melihat malaikat-malaikat rupawan berterbangan di angkasa. Satu-satu turun ke bumi dan bergandengan dengan manusia-manusia sepertiku. Seorang manusia berpasangan dengan malaikat bersayap. Aku ingin seperti mereka, berpasangan dengan malaikat.

Aku berdiri di tanah lapang, melihat angkasa yang dipenuhi malaikat. Aku di bawah sini membawa sebuah jaring, melompat kesana kemari berharap ada seorang malaikat yang masuk ke dalam jaringku.

Tak ada seorang malaikat pun yang masuk di dalamnya.

Aku tertunduk sedih di bawah langit. Jaringku tetap kosong. Aku tersadar mengapa aku tak pernah mendapat seorang malaikat, karena aku tak pernah memintanya. Meskipun aku ingin, tapi tak pernah sekalipun aku memintanya. Aku tak pernah meminta pada Tuhan untuk memberikan seorang malaikat sebagai pendamping hidupku.

Ketika gelap malam menyelimuti bumi. Tiba-tiba ada satu bintang berpendar di utara. Kau muncul, seorang malaikat bersayap. Datang dan menyapaku. Menghangatkan hatiku yang sudah membeku.

Kau mengajakku bermain, bercanda bersama, dan berjalan-jalan mempelajari segalanya. Belajar tentang kehidupan, pengetahuan, kebahagiaan, kesedihan, dan cinta. Kau mengajarkan tentang segalanya padaku.

Kebekuan hati ini mulai mencair. Kau yang membuatku bahagia. Kau yang membuat kehidupanku menjadi lebih baik. Kau yang membuatku jatuh cinta padamu untuk yang kesekian kalinya.

Sekarang tiba waktumu untuk pergi ke angkasa, meninggalkanku sendirian lagi disini. Ku genggam erat tanganmu, sayapmu terus saja terkepak serasa segera ingin pergi. Kau memandangku penuh arti. Aku tahu ada cinta di hatimu. Kau juga tahu ada cinta di hatiku. Namun aku harus merelakanmu pergi, demi kehidupan kita masing-masing.

Dari bawah sini aku melihatmu terbang ke atas. Terus melihatmu sampai kau menghilang dan terlihat seperti cahaya bintang di langit yang luas. Separuh hati ini menghilang bersamamu, lenyap tanpa kehadiranmu, dan aku akan selalu menanti kedatanganmu disini untuk menjemputku.

Suara kepakan sayap yang tak asing ku dengar, datang mendekatiku. Kau malaikat bersayap, lagi-lagi datang di hadapanku. Memelukku dengan hangatnya sayapmu. Katamu kau tak sanggup pergi meninggalkanku. Hati ini mulai terpaut dan tak ingin lepas. Aku ingin menjagamu dan menjadi malaikat pelindungmu, katamu.

Kau berteriak kesakitan ketika kau merobek sayap sebelah kirimu. Memberikan dengan suka rela kepadaku. Untuk apa kau korbankan separuh sayapmu yang begitu berharga padaku yang tak berharga? Katamu, kau hanya ingin terbang ke langit jika bersamaku. Kau memasangkan sayap kirimu di punggungku.

Kau dan sayap sebelah kananmu. Aku dan sayap sebelah kiri hadiah darimu. Sayap-sayap malaikat itu mengepak. Tangan kita saling menggenggam erat dan tak ingin terlepas. Kita berdua terbang ke angkasa yang dipenuhi oleh cinta.

Untuk pertama kalinya aku meminta. Meminta pada Tuhan dengan kesungguhan hati. Ku pinta pada Tuhan agar jangan pernah memisahkan kita berdua.

Hari ini adalah hari ke tiga ratus enam puluh lima.
Teruntukmu malaikatku, Willy Bayu Erlangga.
Aku menyayangimu, cinta.

2 thoughts on “Tiga Ratus Enam Puluh Lima Hari Bersamamu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s