Jangan Jadi

Ketika jaman ababil, tahun pertama kulia, gue-nini-putri adalah sahabat karib yang terbentuk sejak jaman pkpt/ ospek. Dari sanalah kita dekat dan merasa telah menjadi satu saudara di tengah tempat perantauan yang asing.

Ketika hari pertama ospek jurusan, kita bertiga sudah menginkrarkan janji seperti Bung Karno dan Bung Hatta tentang proklamasi. Bedanya kita disini mengikrarkan janji untuk tidak menjadi seseorang yang sudah kita blacklist dari daftar cita-cita.

Satu. Jangan jadi presidium.
Wot is presidium? Menurut kertas ospek jurusan yang gue temukan di bawah kolong kasur dengan penulisnya adalah ketua hmj matematika 2007-2008, definisi presidium adalah orang yang dipilih oleh peserta sidang untuk memimpin dan mengatur jalannya sidang, alias pimpinan sidang.

Kita diperkenalkan tentang organisasi dan tetek-bengeknya, salah satunya adalah teknik persidangan. Menjadi presidium amatlah sangat sulit. Karena repot dengan mengatur segitu banyak orang yang bersuara macam-macam seperti “previleg presidium!”, “order presidium!”, “informasi presidium!”, “justifikasi presidium!”, “klarifikasi presidium!”, dan mereka semua ngomongnya berbarengan. Kira-kira kalo lu yang jadi presidium lu bakal kerepotan ga? Apalagi ga ngerti istilah-istilah bahasa planet bin aneh tersebut.

Yang namanya presidium itu dipilih oleh peserta sidang. Gue yang pada saat itu masih kecil-cupu-jelek-bodoh amat sangat bersyukur sekali karena orang-orang ga memperhatikan gue. Sehingga peluang untuk menjadi presidium amatlah sangat kecil sekali, paling-paling hanya 1% dari 1000%.

Jangan salah, yang mencalonkan diri sebagai presidum juga ada loh. Gue jadi mikir, apa juga enaknya jadi presidium? Cuma nampang di depan meja yang menghadap ke semua peserta sidang, hanya memperlihatkan kebodohan kita yang ga bisa memimpin sidang dengan baik, ga digaji malah dijadiin bahan tertawaan satu ruangan.

Pokoknya jangan jadi presidium deh.

Dua. Jangan jadi ketua hmj.
Jangan bilang lu semua ga ngerti apa itu ketua hmj? Wah. Parah bodohnya😛 ketua hmj, ketua himpunan mahasiswa jurusan. Ya sama dan kongruen dengan ketua osis di jaman sekolah dulu.

Keuntungan jadi ketua hmj adalah lu dikenal banyak orang dengan titel lu. Yang perlu diperhatikan disini adalah jangan dikira titel menjadi ketua hmj mampu menggaet pacar. Buktinya ada salah satu ketua hmj yang bernama mas hafidh, satu tahun kepengurusan hmj sebagai ketua hmj terbukti ga mampu menggaet wanita. Gue juga ga tau kenapa mas itu ga laku. Udah ketua hmj … mungkin keren, pinter … gue ga tau, ganteng … gue malah ga setuju. Dipikir-pikir kalo udah punya titel ketua hmj, segala urusan cinta pun dapat terselesaikan dengan baik. Tetapi kenyataannya? Tidak. Untuk mas hafidh yang sedang mencari jodoh (terkena penyakit gila semester tua) bersabarlah ya mas, karena hari kemenangan akan segera tiba.

Lu pikir jadi ketua hmj keren gitu? Ih. Ga banget. Dengan lu dijadiin ketua hmj itu berarti lu harus siap untuk dinilai. Dinilai apakah lu bisa mengamalkan pancasila apa belum, apa lu bisa ngejalanin organisasi namun dengan IP yang stabil dan juga bisa pacaran? Karena lu bakalan dijadiin tauladan bagi semua orang di jurusanmu, ga terkecuali ibu kantin.

Kalo lu ga bisa menyeimbangkan porsi organisasi-akademik-romantis di dalam kehidupan lu, lu ga bisa dikatakan sebagai ketua hmj yang baik dan benar. Mati aja deh lu.

Karena kita bertiga ga mau mati duluan gara-gara ga bisa membagi waktu, jadi kita putuskan untuk ga mau jadi ketua hmj.

Pokoknya jangan jadi ketua hmj deh.

Ketiga. Jangan jadi asdos.
Asdos adalah asisten dosen. Mahasiswa terpilih karena IP dan keberuntungan, yang dipaksa untuk menjadi jembatan antara dosen dan mahasiswa selama satu semester.

Semester satu gue kenal salah satu asdos matakuliah kalkulus, matakulia yang abstrak dan penuh dengan nilai C. Namanya mas huda. Pria pertama yang gue denger darinya kata bahasa jawa kulonan “cah” untuk menggantikan kata “rek” dalam bahasa jawa wetanan. Setiap kali gue inget mas huda, gue jadi ketawa gimana repotnya mas huda menjadi asdos.

Ga enaknya jadi asdos adalah ketika lu dihadapkan pada soal yang rumit dan lu ga bisa menjawabnya langsung atau ketika lu njelasin suatu teorema dan itu dijelaskan dengan sangat-sangat ruwet dan mbulet, bisa dipastikan lu bakal malu di kelas. Selain itu lu bakal dicemooh dan digunjingkan mahasiswa yang lu asdosi, mereka bakal berpikir bahwa lu ga bisa apa-apa untuk jadi asdos. Nyelekit banget toh. Makanya jadi asdos kudu tahan banting. Apalagi kalo menghadapai mahasiswa nakal dan sering mbolosan ketika jam matakuliah asistensi yang kita ajar. Bisa-bisa dari 40 orang, lu hanya menemukan 15 orang yang setia menunggu lu masuk kelas dan mengajari mereka.

Cara menyiasatinya adalah lu harus bisa membaur dan bekerjasama dengan baik pada mahasiswa yang lu kasih asistensi. Kalo kita udah dianggap sebagai ce-esan mereka, mereka pasti bisa kompromi kalo seandainya lu ga bisa jawab soal ato lu ijin bolos asistensi karena milih pacaran dulu.

Keuntungannya adalah lu jadi dikenal dosen sebagai asisten yang baik. Contoh langsungnya adalah mas huda. Dia adalah salah satu diantara dua orang mahasiswa pendidikan matematika yang lulus tepat waktu 3,5 tahun. Udah pinter, rajin pula, hayo siapa mau daftar? Kata temen-temen sih dia sekarang lagi kulia S2 di UB.

Tapi tetep kita berpikiran, pokoknya jangan jadi asdos deh.

Namun seiring dengan berjalannya waktu, tepatnya di semester tiga. Gue dan nini mengingkari janji yang udah kita buat. Kita ketrima jadi asdos, dan putri juga mengikuti di semester berikutnya.

Gue sampe sekarang masih mikir, apa enaknya jadi asdos? Gajinya dikit. Bayangkan satu semester cuma digaji 102.000 rupiah. Kalah ama gaji satu bulan ngelesi anak esde. Kalo lu pingin jadi asdos karena duitnya, mending mundur aja. Duitnya cuma bisa dipake sekali shopping. Apalagi katanya sekarang gaji asdos Cuma 80.000-an. Huidih. Kejamnyoooo pemerintah.

Kalo pengen gaji yang lebih tinggi, lu kudu memberikan asistensi pada kelas-kelas khusus, kalo di matematika itu seperti kelas aru-nunukan-depag yang emang kelas khusus yang kuliahnya dibiayai pemerintah. Gajinya lumayan gede, sekitar 300.000-400.000, cukup buat bayar kosan.

Intinya tujuan gue-nini-putri melanggar ikrar janji kita adalah kita pengen dapetin sertifikatnya jez. Sertifikat asdos bagaikan pengakuan dosen, terutama ketua juruan, bahwa kita bisa dan berpeluang untuk menjadi dosen nantinya. (amiiiiiiiiinnnn).

Ga ada salahnya sih kita melanggar salah satu ikrar janji kita. Biar jadi pengalaman yang berharga dalam kehidupan. Dan yang jelas gue tetep ogah jadi presidium dan ketua hmj.

Saran : ada kalanya lu harus sabar dan saabbbaaaarrrrr beeyyyuuuuddddd ketika menemukan fakta bahwa nilai lu dapat cuma B sedangkan mahasiswa yang lu asistensiin dapet nilai A. Itu berarti hasil kerja keras lu benar-benar berhasil walaupun akhirnya lu harus nangis darah bernanah-nanah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s