*Semur Daging

Pasar dibuat ribut dengan stok daging yang terus berkurang dan itu menyebabkan harga daging yang semakin hari semakin melonjak.

Semua pedagang dibuat kebingungan, tak terkecuali Ayah.

Hari ini Ayah pulang tanpa membawa makanan, bahkan tanpa membawa uang sepeser pun. Ibu melontarkan caci maki yang diiringi raungan perutku.

Aku berlari ke dapur dan membuka tutup panci. Aku mendapati lima buah batu dan air mendidih di dalam panci itu. Kurasa Ibu sudah mulai gila. Aku tertidur dengan menahan tangis juga menahan lapar.

Aku terbangun karena mencium aroma sedap dari dapur. Ku tengok Ayah sedang memasak disana.

“Sebentar lagi matang”, Ayah tersenyum padaku.

Ketika makanannya telah siap, aku hanya mendapati Ayah yang bersamaku di meja makan. Saat aku menyuap sesendok penuh ke dalam mulutku, aku merasakan aroma tubuh Ibu berada di semur daging itu.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s