*Nilai Merah

Ia datang tergesa-gesa menuju ruang kerjaku. Setengah menggebrak meja, ia tunjukkan nilai merahnya padaku. “Saya tidak terima. Pokoknya saya tidak terima!”.

Lagi-lagi ia datang mencari masalah. Aku mendengus kesal. Melirik belahan dadanya dan nilai merahnya. “Terserah apa maumu. Keputusan tetap berada di tangan saya”.

“Katamu kau berjanji untuk mengubah nilaiku. Aku sudah melakukan apa yang kau minta”.

Masih teringat di kepala, minggu lalu di ruangan ini. Kecupannya, bentuk tubuhnya, dan desahannya yang sangat mirip dengan wanita yang ku kenal.

“Tapi nyatanya … Kau benar-benar …”, ia mengacungkan telunjuknya di ujung hidungku, tepat di tengah-tengah kedua bola mata.

“Akan ku laporkan kau pada jurusan. Biar mereka memecatmu!”, ia berbalik menuju pintu. Sebelum keluar, ia mengacungkan jari tengahnya padaku, “Dasar dosen biadab!”.

Aku tidak suka Ibumu dan aku benci padamu. Jadi jangan salahkan aku jika aku tetap tak mau mengubah nilai merahmu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s