*Manusia Hujan

Mereka menyebutku manusia hujan. Ya. Aku memang terbuat dari hujan. Aku hidup ketika hujan tiba. Aku mati ketika hujan berhenti.

Aku tak punya kawan. Karena aku tak pernah bisa menjabat tangan mereka dengan tangan hujanku. Aku punya banyak musuh. Petani bawang, petani garam, bahkan anak sekolah. Semuanya membenciku. Mereka berkata bahwa aku hanya merepotkan mereka kalau aku ada.

Kenyataannya aku tak berguna bagi mereka. Aku sedih mendengarnya. Aku akhirnya pergi dan bersembunyi. Aku tak mau bertemu dengan mereka lagi. Hujan pun berhenti, kemudian aku mati.

Musim panas ini lebih lama dari biasanya, penduduk kehilangan sawah mereka. Semua sawah mati karena kekurangan air. Ibu-ibu kebingungan mencuci pakaian keluarga mereka karena sungai mulai mengering. Begitu pula ikan-ikan yang kehilangan habitatnya.

Penduduk berkumpul ramai di tengah lapangan. Mereka mulai berdoa dan melakukan tarian-tarian memanggil hujan.

Tapi aku terlanjur sakit hati. Aku tak mau datang lagi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s