*Gadis Sedih

Rumahnya berada di seberang jalan dari rumahku. Aku tak mengenal gadis itu. Tapi aku selalu tahu apa yang ia lakukan.

Gadis itu selalu bersedih. Ia selalu menangis memegang pipinya yang lebam kemerahan di setiap pagi. Ia sering memangku tangan di dagunya ketika malam tiba dari balik jendela kamarnya.

Gadis itu tak pernah keluar dari rumahnya. Namun di suatu malam aku menemukan dia berada di depan pintu rumahku, raut wajahnya dingin menatapku. Matanya menerawang. Sepuluh detik kemudian ia pergi menuju utara.

Ia mungkin tak tahu jalan. Jadi aku terus mengikuti kemana ia akan pergi. Nanti aku akan mengantarkannya pulang kembali.

Gadis itu menuju sebuah taman tak berpenghuni. Sepi. Kemudian ia duduk di sebuah ayunan tua hampir koyak. “Maukah kau mendorongnya untukku?”, tanyanya padaku.

Entah berapa lama kami berada disana. Yang aku tahu, dibalik raut wajah dinginnya ia terus saja tersenyum sepanjang malam.

Pagi harinya aku melihat bendera warna hijau dengan dua garis putih yang berpotongan berada di depan rumah gadis itu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s