Parodi Mipa Cup

Gue bersama temen-temen lagi bikin APeM – Asosiasi Pers Matematika. Baru satu kali tayang, tulisan gue udah bikin ribut ampe disobek-sobek. Gue ga tau apa yang jadi masalah di tulisan gue. Makanya, gue tampilin tulisan-tulisan gue yang ampe tiga jilid itu disini biar lu pada ngerti seperti apa tulisan-tulisan gue yang sampe mengundang hasrat para petinggi BEM untuk merobeknya. Tapi yang terbit baru satu jilid, dan itupun udah hilang dari peredaran karena dicekal ama pihak-pihak tertentu. Okeh, gue liatin khusus buat lu-lu pada tentang tulisan-tulisan gue yang jadi kontroversi se-matematika.

messi-marcelo-livesey

Jilid I.
Galon Air Mineral Tanpa Pompa Tanpa Gelas
Analisis Pendahuluan :
Kami dengan susah payah menggotong sekardus air mineral ke lapangan voli depan A3. Untuk apa membawa air minum sendiri, padahal kan panitia sudah menyediakan air minum sendiri. “Itu lihat”, kata seorang teman. Kami melihat satu galon air mineral disana. Masih penuh, sepertinya masih baru. Namun, tanpa ada pompa dan gelas. Kalo yang mau minum anak cowok sih ga masalah, toh mereka kuat nyungging galon seberat itu. Lah ini kan pertandingan voli anak cewek. Ga ada gelas pula. Bagaimana bisa mengambil air? Diwadahi helm? Begitukah?!
Tiba-tiba Ketua BEM datang dari kejauhan. Ia nampak lelah (mungkin) karena kebanyakan tugas. Ia kemudian mengambil satu air mineral gelasan yang berada di kotak kardus milik kami. Ia meminumnya sampai habis sambil berbincang-bincang dengan panitia. Uwew. Kami langsung menjauhkan kardus air mineral itu dari jangkauan tangannya sebelum tangan-tangan panitia yang lain ikut-ikutan menjangkaunya.

Saran :

  1. Sebaiknya galon air itu diberi pompa agar peserta lebih mudah mengambil airnya. Bukankah pompa adalah salah satu alat yang memudahkan aktivitas manusia? (kata anak fisika sih begitu) Kenapa tidak dimanfaatkan? Jika panitia tidak bisa memfasilitasinya, jangan sungkan-sungkan meminjamnya dari HMJ kami. Urusan harga sewa dapat kita bicarakan dibelakang ($_$).
  2. Sebaiknya disediakan juga gelas. Satu saja sudah cukup kok. Ga apa-apa gantian gelasnya. Dengan konsekuensi kalo yang satu sariawan, lainnya juga ikut ketularan sariawan  Apakah panitia ga punya gelas? Sepertinya lagi-lagi anda harus berurusan dengan sie kewirausahaan HMJ kami. Jika anda menjadi langganan tetap untuk meminjam alat-alat (seperti pompa dan gelas), kami akan memberikan penawaran untuk anda, sewa 10 kali gratis piring cantik. Oke banget khan!
  3. Sebaiknya sebelum mengambil barang (maksudnya disini adalah mengambil air mineral) mohon ditanyakan dulu, siapa yang punya dan berapa harganya. Kami akan memberikan diskon 75% pada anda jika anda membeli air mineral kami sebanyak 100 buah.


Wasit Yang Tidak Bersertifikat Resmi
Analisis Pendahuluan :
Diakhir pertandingan babak pertama, tiba-tiba wasit meniupkan 3 kali peluit panjang. Tanda permainan telah berakhir. Padahal itu adalah waktu istirahat dan masih akan dilanjutkan ke pertandingan babak kedua.
Ditengah pertandingan pun banyak peserta (apalagi pelatih) berteriak-teriak offset, namun wasit tidak menggubrisnya, walaupun salah satu hakim garis telah mengangkat bendera.
Sempat juga terjadi perdebatan antara wasit dengan hakim garis tentang bola yang katanya masuk lah, yang katanya offset lah. Untung saja kedua orang itu tidak sampai berkelahi walaupun tadi sempat terjadi ketegangan karena beda pendapat.
Saran :

  1. Sebelum memilih wasit untuk memimpin pertandingan sepak bola sebaiknya diadakan open recruitment calon-calon wasit dengan syarat bersertifikat resmi menjadi seorang wasit berlisensi A. Agar jalannya pertandingan dapat berjalan dengan lancar.
  2. Sebelum menjadi wasit sebaiknya calon wasit dilatih terlebih dahulu. Kami menyarankan agar BEM menambahkan program kerja pelatihan wasit dan hakim garis agar menjadi wasit dan hakim garis yang baik dan benar. Jika anda tidak punya koneksi pemateri, kami punya pemateri yang handal sekaligus pelatih yang hebat. Mas Miftah dari Matematika. Jika anda berminat silahkan mengontak kami.
  3. Agar wasit dan hakim garis mempunyai pendapat yang sama tentang offset dan lain-lain, kami sarankan untuk (sebelumnya) menyatukan hati keduanya. Dengan menempelkannya dengan double tape atau lem kayu. Agar terjadi ikatan batin dan bisa punya pendapat yang sama. Maka perselisihan seperti itu tidak akan terjadi.
  4. Taukah anda, pertandingan tadi itu dilihat oleh anak-anak PJKR. Apakah anda tidak malu dengan tingkah wasit dan hakim garis yang tidak profesional? Kami sarankan untuk menyewa wasit yang lebih baik. Misalnya saja berkoordinasi dengan mahasiswa FIK yang (jelasnya) lebih tau dan paham tentang dunia perbolaan. Daripada memakai wasit yang tidak berpengalaman, ga bersertifikat pula.


Anak Gawang Anak Malang
Analisis Pendahuluan :
Bola keluar lapangan kesana kemari. Utara, timur, utara lagi, selatan, barat, timur lagi, selatan lagi, kemana-mana wes pokoknya. Panitia pengambil bola a.k.a anak gawang yang terjun malah Syihab seorang diri berada di pojok stadion. Kalo bukan dia, yang biasanya mengambil bola ya pemainnya, kadang hakim garisnya, juga malah wasitnya. Sungguh malangnya dirimu, mas. Apalagi ketika pemain dari fisika menendang bola keras sekali (mungkin karena terlalu bersemangat) sampai-sampai bola keluar stadion. Bayangkan betapa kuatnya anak fisika itu. Ckckckck. Dan tak terlihat ada panitia yang berniat mengambilnya. Panitia ternyata punya bola satu lagi. (jadi bolanya cuma dua?)
Saran :

  1. Sebaiknya diadakan open recruitment lagi selain open recruitment wasit, yaitu open recruitment anak gawang. Biar anak gawangnya banyak, jadi ga kesulitan untuk mengambil bola. Kasian Syihab tuh jadi kurus gitu ga ada yang bantuin. Kalo ga ada yang berminat, tenang aja. Ntar bilang aja kalo yang ketrima jadi anak gawang, nilai kalkulusnya bisa diubah jadi A. Pasti banyak yang ndaftar.
  2. Kayaknya duit BEM banyak tuh. Cuil sedikit dunkz buat beli bola sepak. Ya paling enggak nyewa yang banyak lah. Biar punya persediaan kalo-kalo bolanya keluar jauh dari lapangan.


Hakim Garis Cuma Dibuat Pajangan
Analisis Pendahuluan :
Terjadi konflik ditengah pertandingan ketika hakim garis melihat suatu pelanggaran dan mengangkat tinggi-tinggi bendera itu sampai-sampai ia mengibaskannya kesana kemari agar wasit melihatnya. Namun apa yang terjadi sodara-sodara .. wasit ngeyel. Dan permainan tetap harus dilanjutkan. Kibasan bendera hakim garis tidak diperdulikannya. Dia hanya dibuat pajangan berjalan. Nasib-nasib.
Dari 100 (dikurangin banyak) responden di lapangan mengatakan bahwa alasan wasit tidak mematuhi apa yang diisyaratkan oleh hakim garis, diantaranya karena :

  1. Wasitnya kurang tinggi. Makanya dia tidak melihat hakim garis itu mengibaskan benderanya. Kami menyarankan agar wasit memakai egrang agar bisa melihat tingkah polah hakim garis. Atau cukup dengan mengganti sepatu wasit dengan highheels. Agar anda terlihat tinggi dan bisa melihat hakim garis mengibaskan benderanya. Jika anda tidak punya highheels, HMJ akan membawakannya khusus bagi anda. Anda bisa memesannya langsung kepada HMJ kami jika anda menginginkan warna yang sesuai dan cocok dengan warna kostum anda. Apakah anda berminat?
  2. Hakim garisnya kurang menarik perhatian sang wasit. Coba aja kalo hakim garisnya cewek-cewek cantik. Pasti wasit akan selalu memperhatikannya. Ayo mbak Siro dan Mbak Nindya turun ke lapangan gantikan hakim garisnya. Hehehe.


Medis .. Tolong!! Eh Yang Datang Kok Wasit? Lagi?!
Analisis Pendahuluan :
Yang namanya sepak bola tak lepas dari yang namanya cedera. Dalam pertandingan sore itu beberapa pemain terlihat mengeluh kesakitan. Entah karena dijegal lawan, jatuh karena ulah sendiri, ato gara-gara encoknya kumat. Lucunya, sebanyak apapun pemain yang cedera, tak ada satupun medis yang turun ke lapangan. Malah wasit (lagi-lagi) yang datang dan merangkap jabatan sebagai medis (alias juru pijat).
Saran :

  1. Apa guna KSR? Sewa satu orang dari sana + obat-obatan lengkap udah bisa tuh ngobatin segitu banyaknya pemain yang cedera. Apalagi ada panitia yang juga anggota KSR. Bisa dimanfaatkan ilmu kedokterannya. Sangat berguna sekali, bukan?!
  2. Sebaiknya sewa mobil PMI. Kalo ada yang cedera di tengah lapangan kan enak bisa dijemput mobil itu, ga perlu capek gotong-gotong. Nah, sekalian aja kalo ada pemain yang cedera yang juga mau mendonorkan darahnya saat itu juga. Jadi tidak perlu repot-repot ke PMI untuk mendonorkan darahnya.


Fotografer Yang Tersembunyi
Analisis Pendahuluan :
Entah karena ingin jadi fotografer misterius, kami bahkan tak melihat sie dokumentasi riwa-riwi mendokumentasikan jalannya pertandingan. Mungkin karena si juru foto menginginkan semua foto yang ia hasilkan di dapat dari satu sudut pandang saja (meja panitia). Mungkin juga karena si juru foto kakinya lagi keseleo jadi ga berminat foto-foto sambil jalan-jalan. Atau mungkin karena ga punya kamera?
Saran :

  1. Sebaiknya sewa mobil golf untuk dinaiki sang juru potret. Agar dia tidak capek jalan kesana-kemari untuk mendokumentasikan semuanya. Ditambah lagi kalo ada supirnya juga. Pasti kerja sie pubdekdok akan maksimal.
  2. Kalo ga punya kamera, HMJ kami juga menyediakan kok buat disewakan. Anda kan sudah menjadi langganan tetap kami, pasti akan kami kasih potongan harga yang besar plus selusin piring cantik. Eh. Jangan piring cantik deh, tapi gelas cantik. Biar gelasnya bisa dipake pemain-pemain yang ingin minum dari galon air mineral yang tak diberi pompa air 


Pembangunan DOME UM Terhambat
Analisis Pendahuluan :
Kalian pasti bertanya-tanya apa hubungannya pembangunan DOME UM terhambat dengan MIPA-CUP. Itu dikarenakan para bapak-bapak tukang yang bekerja membangun DOME itu juga ikutan nonton sepak bola MIPA-CUP.
Saran :
Sebaiknya acara sepak bola diadakan di tempat tertutup biar bapak-bapak tukang tidak ikut nimbrung. Bukannya mau melarang bapak-bapak itu untuk melihat, tetapi kalo mereka melihat sepak bola terus, ga kerja-kerja, pembangunannya benar-benar akan terhambat. Kalo rektor memarahi para pekerjanya karena DOME ga jadi-jadi dan bapak-bapak tukang itu ngasih alasan ‘gara-gara liat sepak bola MIPA-CUP’. Gimana hayo? Anda yang akan disalahkan oleh bapak rektor.

Well. Itulah kenyataan yang kami lihat. Pertanyaannya sekarang, AKAHKAH PANITIA MENGULANGI LAGI KESALAHAN YANG SUDAH MEREKA BUAT? (Fitri Tropica : mode on)

Btw. Kami ingin mengucapkan SELAMAT atas kemenangan FISIKA (yang melawan MATEMATIKA sore itu). Mari kita bermain secara sportif, jujur, kompak dan profesional. Karena MIPA BERSATU TAK MUDAH DIKALAHKAN. Lah kalo panitianya yang ga profesional? .. lain lagi urusannya. Iya kan, Pak Ketua BEM?!

 

Baru Jilid I udah disobek-sobek. Gue bayangin kalo Jilid II dan III terbit, HMJ gue mungkin bakalan dibakar.

Jilid II.
DIKETAHUI :
Kritik dan saran dari berita ‘Headline News Parodi Mipa-Cup Jilid I’.
DITANYA :
AKAHKAH PANITIA MENGULANGI LAGI KESALAHAN YANG SUDAH MEREKA BUAT? (Fitri Tropica : mode on)
JAWAB :
Sebagian besar .. YA.

Wasitnya?! Lagi-lagi ?!
Analisis Pendahuluan :
Hari Rabu sore kemarin, pertandingan pertama antara Fisika vs Biologi masih saja ditengahi oleh wasit yang sama seperti kemarin. Wah-wah. Semoga saja dia bisa lebih adil dan lebih bijaksana dari yang kemarin. Banyak pemain dari fisika (yang pada saat itu telah selesai bertanding) nyerocos tak karuan tentang kebijaksanaan wasit dan hakin garis. Ckckck. Ternyata sama saja  Dan pada waktu pertandingan antara Matematika vs Kimia, wasitnya ganti. Hore !!
Dari survei lapangan, didapatkan alasan mengapa wasitnya ganti. Ternyata wasitnya yang tadi, sekarang lagi bertanding. Dan digantikan oleh wasit (yang sebenarnya adalah salah satu pemain dari fisika) yang baru saja selesai bertanding, tanpa istirahat terlebih dahulu, langsung turun tangan menjadi wasit di pertandingan kedua. Ga capek ya mas? Untung saja kali ini panitia bisa memilih wasit yang tepat, dikarenakan wasit kali ini adalah pengurus dari KOMIPA. Yang jelas terpercaya keprofesionalan wasitnya.
Saran :
Masih sama seperti yang kami utarakan di jilid I (silahkan membacanya lagi).

Panitia (Jangan Mau) Dianggap Main Politik
Analisis Pendahuluan :
Teriakan-teriakan para suporter dapat menambah semangat bertanding para pemainnya. Tak terkecuali para suporter dari Matematika sendiri B-) Tiba-tiba dari tempat khusus panitia terdengar teriakan, “Ayo Matematika!!”. Lalu ada celetukan salah satu penonton, “Kok panitia mendukung salah satu pihak? Wah. Pasti main politik nih”. Nah loh. Apakah benar-benar ada unsur politik?
Saran :

  1. Siapapun panitianya, darimana mereka berasal (yang dimaksud disini adalah dari jurusan mana dia berasal), sebaiknya kalau ingin mendukung jurusannya diharapkan keluar dulu dari tempat khusus panitia. Kalau bisa minta ijin dulu pada Ketupelnya, biar Ketupelnya ikhlas melepas anda menjadi suporter salah satu tim. Selanjutnya, bergabunglah dengan para suporter dari jurusan masing-masing dan silahkan berteriak sekeras-kerasnya untuk mendukung penuh jurusan anda. Karena pada dasarnya panitia harus netral dari pendukungan jurusan manapun.
  2. Kalau panitia tidak mau dianggap melakukan suatu politik di dalam ajang pertandingan olahraga ini, kami menyarankan agar panitia mengadakan suatu konferensi pers dimana panitia bisa membeberkan kebenaran yang sesungguhnya. Sehingga penonton tidak akan menggunjing panitia (dari belakang) lagi. Dan jika panitia benar-benar melakukan politik, cuma satu saran dari kami yaitu … insyaflah 


Ketika Adzan Berkumandang, Permainan Tetap Dilanjutkan
Analisis Pendahuluan :
Menurut jadwal pertandingan, seharusnya Matematika bertanding jam 16.00 WIB namun nyatanya sampai jam telah menunjukkan pukul 17.00 WIB pertandingan antara Biologi vs Fisika masih belum berakhir. Menurut saksi mata mengatakan bahwa kali ini pihak panitia tidak memulai pertandingan tepat waktu. Entah karena panitia tidak punya jam atau karena tengah menunggu pemain menyelesaikan tugas praktikumnya. Sehingga ketika pertandingan Matematika vs Kimia dimulai, saat itu surya hampir tenggelam. Keadaan lapangan menjadi gelap gulita. Hanya ada satu lampu yang memancarkan cahaya ke tengah lapangan. Meskipun lampu itu bersinar terang sekali namun karena jaraknya yang terlalu jauh dari lapangan tidak memberi efek penerangan yang jelas. Semuanya berbaur dalam kegelapan. Yang terlihat cuma kaos tim Matematika yang (kebetulan) berwarna oranye menyala dan gigi para pemain bersinar-sinar dalam kegelapan. Bahkan kiper tidak tahu kemana arah bolanya pergi. Maka ketika Matematika mencetak gol, para suporter yang keheranan hanya ikut-ikutan berteriak girang ketika salah satu pemainnya berlari sambil mengangkat tangan tanda kemenangan. Jika kiper saja tidak bisa melihat bola dalam kegelapan, bagaimana dengan wasit? Begitu terburu dengan waktu (karena takut kemalaman dan takut tidak bisa melihat dalam kegelapan) maka saat adzan berkumandang pun permainan tetap dilanjutkan. Bukankah hal itu tidak diperbolehkan, Ustadz?
Saran :

  1. Yang menjadi sebab dari semua akibat ini adalah jam dimulainya pertandingan. Andai panitia tepat waktu, maka kejadian seperti ini tak akan terjadi. Kami menyarankan agar BEM memberikan subsidi kepada setiap panitia yaitu jam tangan. Jam tangan yang bukan berdasarkan Waktu Indonesia Barat, namun berdasarkan Waktu PKPT. Jadi, selain berfungsi agar panitia bisa datang tepat waktu juga bermanfaat untuk PKPT bulan depan. Selain itu jika panitia memiliki jam tangan kembaran maka panitia terlihat lebih kompak, bukan?! Apalagi memakai jam tangan berbentuk doraemon yang ada bonekanya itu, pasti bagus sekali. Jika anda tidak tahu dimana bisa memesan jam tangan doraemon, sekali lagi anda harus menghubungi sie kewirausahaan HMJ kami. Kami akan menawarkan contoh-contoh jam tangan lucu selain berbentuk doraemon. Ada spongebob, ada dora, bahkan berbentuk pesawat terbang pun ada. Buruan beli, persediaan terbatas!!
  2. Pemain kimia juga mengeluhkan kondisi lapangan yang gelap gulita, kata salah satu pemainnya, “Mata kami agak bermasalah karena mata kami telah terkontaminasi zat-zat kimia. Jadi kami sulit melihat dalam kegelapan”. Nah loh. Pihak kimia yang merasa dirugikan atas pertandingan malam itu. Kami menyarankan agar panitia berkoordinasi dengan jurusan kimia untuk melumuri bola dengan cairan fosfor agar dapat menyala dalam gelap. Dan gawang juga dilumuri zat yang sama. Pasti terlihat keren sekali, glow in the dark.
  3. Tidak mungkin kan lapangan itu ditambah lampu-lampu besar mirip dengan lampu-lampu stadion? (Kami tau panitia tidak punya uang untuk membeli lampu-lampu besar). Maka kami menyarankan agar panitia menyewa helm bersenter milik orang pencari kodok untuk dipakai para pemain agar lapangan menjadi terang. Selain berguna untuk menyinari lapangan, helm itu berfungsi untuk melindungi kepala para pemain dari cedera. Atau jika panitia kekurangan dana untuk menyewa helm bersenter seperti itu, kami (pihak suporter) dengan senang hati meminjami anda dengan senter yang kami punya. Mau berapa buah?
  4. Satu alasan mengapa ketika adzan berkumandang permainan tetap dilanjutkan adalah (kata panitia) dalam buku perundang-undangan sepakbola dunia (dalam hal ini FIFA) tidak sebutkan bahwa ketika adzan berkumandang permainan harus dihentikan. Yaiyalah bos. Disana masak ada adzan?! Ya jelas, tak akan ada bab ataupun subbab yang mengatakan tentang adzan. Kita bisa mempelopori peraturan FIFA untuk menetapkan peraturan baru, yaitu ketika adzan berkumandang permainan dihentikan sejenak. Saran yang bagus. Bukan begitu, Ustadz?
  5. Bahkan gara-gara langit gelap, ketika wasit meniupkan peluit tanda istirahat, pemain buru-buru keluar lapangan pengen pulang karena takut kehabisan waktu sholat maghrib. Dan ada salah satu pemain kimia yang telah kehilangan sendal gara-gara kejadian itu. Siapa yang akan bertanggung jawab? Saran kami, selain dijadikan tempat duduk istimewa, tempat panitia juga dijadikan tempat penitipan barang agar pemain tidak lagi kehilangan barang-barangnya. Toh. Panitia juga banyak yang nganggur disana. Ga ada salahnya kan menjaga barang-barang pemain sekalian menunggu permainan berakhir?!


Peluit Pramuka
Analisis Pendahuluan :
Prit .. prit .. prrriiittt .. tanda pertandingan telah selesai. Tapi kok suara peluitnya malah mirip dengan suara peluit tukang parkir? Dan mirip dengan suara peluit pramuka anak-anak SD pada waktu baris berbaris.
Saran :
Daripada wasit dianggap jadi tukang parkir ato jadi pelatih baris-berbaris anak SD, sebaiknya panitia membeli peluit khusus pertandingan olahraga. Memang lebih mahal sih dari peluit PKPT, tapi kan quality is number one. Atau panitia masih saja kekurangan dana untuk membeli peluit? Tenang saja, HMJ kami akan membantu meminjami anda uang. Mau berapa juta?

Dan lagi-lagi :

  1. Panitia kekurangan anak gawang.
  2. Wasit dan hakim garis tidak kompak.
  3. Minus pubdekdok (tukang potret).

Saran :
Parodi Mipa-Cup Jilid I dibaca lagi ya ..

Jilid III.
Sampah Yang Berserakan Dimana-mana
Analisis Pendahuluan :
Pertandingan antara Kimia vs Fisika telah berakhir. Tiap tim kembali ke tempatnya masing-masing. Ada yang meminum air mineral gelasan, bahkan ada yang memakan pisang. Tetapi sampahnya itu loh dimana-mana. Kami melihat tak ada panitia yang memperingatkan pemain yang buang sampah sembarangan. Mungkin panitia punya sie kebersihan sendiri. Dan siap bersih-bersih.
Saran :
Sebaiknya pada saat TM dijelaskan pula peraturan bahwa siapa pun juga tidak diperbolehkan membuang sampah sembarangan. Memang sebaiknya sikap seperti itu ditanamkan sejak dini pada masing-masing individu. Untuk ada tidaknya peraturan seperti itu sebaiknya pemain tidak membuang sampah sembarangan. Tetapi, namanya juga manusia, kalau tidak ada peraturan tertulis entah dikenai hukuman seperti apa, mereka tidak akan mematuhinya. Peraturan tertulis saja sering dilanggar apalagi yang tidak tertulis. Dan terima kasih kepada panitia karena sie kebersihan telah menjalankan tugas sebaik-baiknya di akhir pertandingan.

Pemain Angkatan Tua
Analisis Pendahuluan :
Di dalam aturan pada waktu TM, telah disepakati bahwa pemain angkatan tua (tahun 2006 ke atas) tidak diperbolehkan ikut bermain. Deal! Nyatanya kemarin dalam tim Biologi terdapat seorang pemain tua yang ikut. Kami punya bukti yaitu KTM orang itu (benar-benar) tertulis disana dia adalah angkatan 2006. Ketika kami (official Matematika) melakukan protes karena adanya ketidak adilan yang diberikan oleh panitia. Pihak panitia malah menyuruh kami bermusyawarah untuk menentukan kesepakatan apakah pemain tua itu diperbolehkan ikut main apa tidak? Loh. Bukankah sudah ada disana peraturan bahwa angkatan tua tidak diperbolehkan ikut? Ini peraturan kok jadinya tergantung kesepakatan pemain? Panitia plin-plan ah.
Saran :

  1. Jika angkatan tua diperbolehkan ikut bermain, sebaiknya pada waktu TM panitia memberikan aturan seperti ini = angkatan berapa pun (entah 2006, 2004, 2000 sekali pun) diperbolehkan bermain tergantung kesepakatan pemain. Bukan seperti ini = angkatan 2006 tidak diperbolehkan ikut bermain (kenyataannya seperti ini peraturan yang diberikan oleh panitia pada waktu TM). Lalu ada yang melanggar dan panitia tau. Apa yang anda lakukan? Memberikan penawaran musyawarah? Sepertinya tingkat intelektual BEM lebih dari mahasiswa biasa, tetapi mengapa anda memberikan penawaran seperti itu? kami tidak tau, apakah ada unsur politik didalamnya. Sebaiknya anda harus membuat konferensi pers untuk mengklarifikasinya.
  2. Kami juga tidak tau mengapa panitia memperbolehkan tim Biologi memasukkan pemain tua ke dalam timnya. Apakah tim Biologi tidak punya pemain muda lagi? Ow. Sebaiknya anda harus menghubungi Official kami, kami mempunyai banyak sekali pemain-pemain handal dari dalam negeri maupun luar negeri. Ada Honda dari Jepang, ada Messi dari Argentina, dan lain sebagainya, tinggal pilih saja  Untuk kesepakatan harga, silahkan bertanya pada manager kami.


Nasi Pecel Untuk Konsumsi Wasit
Analisis Pendahuluan :
Di tengah jalannya pertandingan, tiba-tiba wasit keluar lapangan. Menuju tim Kimia dan meminta pisang (yang memang pada saat itu Kimia sangu pisang untuk sarapan). Wasit ternyata kelaparan.
Saran :

  1. Kalo boleh tau, bayaran untuk wasit berapa ya? Kok sampe wasit tidak bisa membeli sarapan sendiri (?_?) Sebaiknya sebelum dimulai pertandingan, panitia menyediakan sarapan (paling tidak cemilan atau gorengan) biar wasit mempunyai banyak energi untuk meniup peluit. Kalo wasit kelaparan sampai pingsan, siapa yang akan menggantikannya? Panitia lain yang tidak punya sertifikat (wasit) resmi? Anda akan memperburuk keadaan. Lagi.
  2. Kami tau panitia sangat sibuk sehingga tidak memikirkan makanan untuk wasit. Jika anda mau, sie kewirausahaan HMJ kami akan membawakan nasi pecel untuk wasit. Spesial. Mau nasi pecel apa nasi padang? Tinggal pesan saja pada kami. Jangan lupa biaya kena pajak 10% dan ditambah ongkos pengiriman.


Kekurangan anak gawang (*again*)
Bukti :
Foto ketika kiper mengambil bola jauh di belakang gawangnya sendiri (*sensor*). Foto dapat dilihat di kamera manager kami. Silahkan datang kesini untuk melihatnya secara langsung.
Saran :

  1. Masih sama dengan sebelumnya. Silahkan baca kembali Parodi Mipa-Cup Jilid I.
  2. Entah karena takut item ato takut matahari. Panitia masih saja santai di singgasananya. Disana terdapat 1 SC dan 2 panitia (ketiganya adalah laki-laki) yang asyik-asyik cangkruk’an melihat jalannya pertandingan. Padahal kiper tengah mengambil bola keluar lapangan (ditunjukkan dengan bukti). Saran kami, jika panitia wegah jadi anak gawang karena takut item, panitia sebaiknya memakai payung dan membeli sun-block agar mencegah iritasi kulit karena kepanasan cahaya matahari. Apakah anda kesulitan mendapatkan sun-block dan juga payung? Sie kewirausahaan HMJ kami selalu siap sedia untuk membantu anda*. (*dengan syarat dan ketentuan yang berlaku)


Wasit Menyuruh Panitia Untuk Mengganti Angka Papan Skor
Analisis pendahuluan :
Entah karena memang kekurangan panitia atau sengaja mengurang-ngurangkan panitia. Ketika Matematika berhasil memasukkan bola ke gawang (lagi) wasit malah menyuruh panitia untuk mengganti (menambah) angka di papan skor itu. Kenapa harus disuruh dulu sama sang wasit?
Saran :
Yang sudah berlalu biarlah berlalu. Tidak apa-apa deh skor Matematika dikurangi dua, yang penting kemarin Matematika menang.

En then. Inilah pengumuman hasil pertandingan Mipa-Cup 2010 :
Juara Sepak Bola : Fisika. (untuk taun 2011, Matematika).

  • Juara Voli : Matematika.
  • Juara Basket : Matematika (*again*).
  • Juara Umum : Matematika (*again*again*).

Dan yang patut diperhatikan disini adalah .. yang namanya penyerahan piala itu DIANTARKAN, bukan DIAMBIL sendiri. 14042 ajah yang tempatnya jauh disana bisa nganterin. Masak BEM – Matematika yang hanya dibatasi ruang DMF keberatan mengantar piala itu ke ruang Matematika? Kekurangan panitia laki-laki untuk mengangkatnya? Lagi-lagi mungkin anda harus berurusan dengan sie kewirausahaan HMJ kami 

*bersambung ke Mipa-Cup 2011*

Gue pikir tulisan-tulisan gue ga ngritik BEM deh, tapi langsung membunuh. Kan ada pepatah mengatakan, fitnah lebih kejam dari pembunuhan, jadi lebih baek gue bunuh aja daripada gue fitnah.

Karena permintaan pembaca, gue berencana bakal ngelanjutin sekuel cerita parodi mipa ini sampe terbitan tak terhingga. Resikonya mungkin ga hanya dibakar, ruangan HMJ gue pasti bakalan di-BOM ATOM ampe rata ama tanah. Tapi itu masih mending daripada kru APeM diculik dan dimutilasi ampe jadi makan malem genderuwo.

4 thoughts on “Parodi Mipa Cup

  1. Dewi berkata:

    Like this Di…
    bacanya bikin aku ketawa2 sendiri, konyol tapi itu fakta…
    hahaha…

    tak tunggu Parodi MIPA Cup selanjutnya, hehehe

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s