Satu Setengah Jam Di Malioboro (Dalam versi yang berbeda)

Namanya juga pacaran jarak jauh Jogja-Malang, ga ada waktu buat ketemuan. Sumpah, rasanya (pada saat itu) kangen banget. Gue sampe iri ampe nangis bedarah-darah kalo ngeliat orang pacaran di depan gue. Pengen gue bunuh aja tuh pasangan. Giliran mereka asyik-asyiknya pegangan tangan, gue cuman bisa pegang hape mencet-mencet tombolnya. Serasa pacaran ama hape.

Gue cuma senyam-senyum cengengesan ketika anak HMJ ngadain studi banding ke Jogja, hhmm (ga perlu dijelasin, lu pasti udah tau pikiran kotor gue). En well akhirnya gue berangkat ke Jogja.

Gue ga nemu cerita lucu dari kisah gue saat itu. Karena virus lope-lope masih menyerang gue, maka segala tulisan buruk pun akan terlihat penuh cinta ketika gue menuliskannya. Daripada berbasabasi ntar nasinya jadi ga enak buat dimaem, mending gue tampilin aja ya cerita yang udah gue posting di-blog gue beberapa bulan yang lalu.

Begini ceritanya, (dengan judul : satu setengah jam di malioboro)


Aku berdiri di depan Mall Malioboro. Masih berkutat dengan hape. Membalas pesan singkat. Melihat ramainya Jogja malam hari, amat berbeda dengan kota Malang. (*komentarku ketika baca tulisan ini untuk kesekian kalinya = jelas beda lah. Jogja kota pelajar, Malang kota apel)

Ku gerak-gerakkan kakiku yang kedinginan dalam sepatu kets yang basah. Merapatkan jaket coklat yang kebesaran. Itu jaket milik temanku yang ia tukar dengan jaketku. (*lu tau, tuh sepatu udah berkali-kali gue cuci tapi baunya ga ilang-ilang. Lu pasti bisa nyium gimana bau ikan asin dikeringin yang berhari-hari nempel di kaki gue. Udah deh ga pake tutup idung)

Hai. Sapanya ketika datang menghampiriku. Aku cuma tersenyum. Aku tak tau harus melakukan apa ketika pertama kali bertemu dengannya malam ini. Teringat cerita Mbak Hani – teman kosku – ketika bertemu pacarnya yang berada di Jogja, ia mencium tangan dan bercipika cipiki. Apakah itu yang harus ku lakukan? (*idih idih. Gue sendiri juga ogah kale)

Lalu, teringat lagi kelanjutan cerita Mbak Hani yang kini sudah putus dengan pacarnya itu. ia kebingungan harus bagaimana ketika pertama kali bertemu dengan seseorang yang kini menjadi mantan pacarnya itu. (*tuh kan. Dibilangin juga apa. Ga usah aneh-aneh kalo pacaran)

Akhirnya aku tak jadi melakukan ritual-ritual semacam itu. Ritual yang akan membuatku merinding dan tak bisa tidur nyenyak nanti malam. Bahkan aku tak menjabat tangannya sama sekali. Dan aku langsung mengajaknya berjalan memutari jalan Malioboro. (*enaknya punya pacar anak jogja, bisa dibuat tourist guide pas di malioboro)

Rencanaku, aku membeli oleh-oleh berupa kaos pada adikku. Namun aku membatalkannya karena ia tak bisa mengajakku ke Bromo minggu depan, jadi perjanjiannya batal, aku tak membelikannya kaos. Naluri belanjaku pun mendadak hilang, aku tak berminat membeli gelang warna-warni yang sangat menarik hati itu. Benar-benar tidak ingin. Apa karena aku ingin berjalan-jalan berdua dengannya malam ini tanpa ada aktifitas belanja? (*no comment dah)

Kami pun menyusuri jalanan Malioboro. Kaki yang basah ,lelah, dan kedinginan ini ku paksakan terus berjalan. Kami terlarut dalam cerita-cerita panjang. Bercengkrama tentang pelajaran kuliah, politik organisasi, dan update hal-hal baru di perkuliahan sepertinya bukan tema yang tepat untuk dibicarakan di malam minggu pertama ini. Namun jika aku sendiri yang disuruh mengganti topik pembicaraan pun aku angkat tangan. Jadi seperti ini ya rasanya berbulan-bulan tidak pernah bertemu dan sekali bertemu jadi salah tingkah dan tak punya bahan pembicaraan. (*bener-bener dah ga romantis blas)

Dulu, ia pernah berjanji padaku akan mengajakku bejalan-jalan mengelilingi Jogja jika aku datang kesana lagi. Kini aku memintanya untuk menepati janjinya. Ia sudah membawa motor yang ia pinjam dari temannya. Untung motor itu bukan miliknya, jadi aku bisa mengkritik habis-habisan tentang motor itu. Bukan motornya, tetapi helm-nya yang benar-benar tidak standart. Tapi lucu, membuatku ingin tertawa ketika tau seperti apa tampangku saat memakai helm itu. Seandainya ia punya vespa, aku akan memintanya selalu mengantarku kemanapun. I love vespa. (*siapapun yang punya vespa, bonceng gue. Bisa dipastikan gue bakal jatuh cinta ama elu)

Ia memboncengku. Tas punggung besar berada di tengah-tengah kami. Aku tertawa-tawa sendiri. Karena aku teringat akan tingkahku ketika dibonceng teman-teman lelakiku, kalau tak ada tas sebagai penegahnya, aku akan duduk di jok paling belakang sehingga bisa dihitung jarak duduk antara aku dan teman lelakiku. Tak jarang, teman-temanku banyak yang ngomel karena ketika mereka tak sengaja mengerem mendadak, bukan dada yang mendarat di punggung mereka, tetapi gumpalan tanganku. (*sebenernya juga kalo dada gue yang nempel ke punggung lu, ga bakalan berasa. Jadi sama aja)

Bukannya aku sok alim tak mau dekat-dekat, tapi aku tak terbiasa duduk berboncengan seperti yang dilakukan muda-mudi lainnya. Satu-satunya pria yang pernah ku peluk ketika berboncengan adalah Ayahku (selain itu juga Mbah Kakungku yang sudah meninggal). Sebenarnya aku ingin memeluknya ketika ia memboncengku. Tapi karena kebiasaan itu, aku malu melakukannya. Untung saja ada tas punggung besar itu diantara kami. Aku pun bisa memeluknya tanpa ada rasa malu, karena aku sudah cukup puas dengan hanya memeluk tas punggungnya. (*untung ga sampe menyentuhnya. Bisa-bisa dia teriak di tengah jalan sambil nunjuk-nunjuk gue, “bukan muhrimnya, bukan muhrimnya”)

Waktu satu setengah jam sudah terlewati. Kurang, menurutku. Ya. Benar-benar kurang untuk bertemu dengannya. Andai bisa memperpanjang waktu. Ah .. hanya berandai-andai. (*kontradiksi dengan yang diketahu, pengandaian salah)

Ia mengantarku sampai bus yang ku naiki sepanjang perjalanan tadi. Ia memberikanku hadiah, baju batik abdi dalem kesukaanku yang sering ku ceritakan padanya. Ia membelikanku batik itu, namun dengan model cewek. Sepertinya ia belum benar-benar mengerti tentangku yang mempunyai separuh jiwa laki-laki. Aku tak menyalahkannya karena aku sendiri pun benar-benar belum mengerti dan memahaminya. (*Apa gue ini cewek yang berkepribadian cowok? Apa gue berjiwa cowok yang terperangkap dalam tubuh cewek? Gue jadi bingung)

Aku memberikannya bintang-bintang kertas yang ku masukkan dalam botol plastik, juga secarik surat bebentuk hati. Dan kau tak boleh tau apa isi yang tertulis di dalamnya. Rahasia. (*kalo lu bener-bener pengen tau, tanya aja ama yuan. Itupun kalo yuan mau ngasih tau ke lu lu pada)

I wanna I wanna I wanna touch you .. You wanna touch me too .. Sepenggal lagu The All American Rejects mendayu-dayu di telingaku. Sampai detik ini aku belum menyentuhnya. Meskipun status ini bisa mamperkuat alasanku menyentuhnya, namun aku tak berani melakukannya. Ketika waktuku telah habis untuk bertemu dengannya, ku beranikan diri mengulurkan tangan, memintanya bersalaman denganku untuk salam perpisahan. Tangannya terasa hangat ketika menyentuh tanganku. Kami belum saling melepaskan. Bahkan kami masih saling memberikan nasehat-nasehat dan petuah-petuah yang menurutku sebaiknya tak usah diucapkan karena cuma membuang waktu. Tetapi karena pada saat itu waktu yang tepat untuk membuang waktu, sehingga nasehat-nasehat dan petuah-petuah itu jadi lebih berarti. (*pas SMA yuan dipanggil ‘sesepuh’ oleh temen-temennya. Sepertinya gue baru menyadari kalo panggilan itu bener-bener tepat untuknya)

Sedikit demi sedikit ku lepaskan ikatan tanganku. Ia masih memegang tanganku erat. Kami saling bertatapan. Sepuluh detik terdiam dalam pandangan dan genggaman, mampu memunculkan pelangi dalam gelapnya malam. Mungkin benar kata Maliq and D’Essential : “ Tanpa buah kata kau curi hatiku. Dia tunjukkan dengan tulus cintanya. Terasa berbeda saat bersamanya . Aku jatuh cinta “. (*no comment)

Kami pun berpisah. Ku tinggalkan dia dan masuk ke dalam bus. Bus pun melaju meninggalkan Jogja membawa sejuta kenangan antara aku dan dia yang terangkum hanya dalam satu setengah jam. Aku duduk disamping teman lain, karena tempat yang seharusnya aku duduki disebelah sahabatku telah ditempati orang lain. Ku pakai sarung yang telah ku pinjam darinya tadi. Badanku terasa hangat tertutupi sarung. Sesekali tercium aroma tubuhnya yang tertinggal pada selembar kain sarung itu. Ku sandarkan kepalaku pada bahu teman lelakiku. Menutup mata dan berharap dia yang berada disampingku. (*thanks to mas su’eb yang tiba-tiba nyerobot tempat duduk gue, mungkin karena dia pengen deketan ama nini. Karena gara-gara mas su’eb gue bisa jadi deket ama bangyos. Hahaha. Dapet durian runtuh  tengkiu juga buat bangyos yang mau meminjamkan bahunya untuk sandaran kepala gue. Tapi gue ga berani cerita ke yuan kalo setelah kita ketemuan gue malah (dengan sengaja) tidur di samping cowok lain. Oh no. Pas gue cerita kalo sarung itu dipenuhi bau tubuhnya, dia malah bilang, “ya pantes ae di sarung itu ada bauku, kan sarungnya udah lama belum dicuci”. Sialan)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s