Senyum Adnan

Sepertinya, dua kali ini dia mengajakku keluar untuk sekedar jalan-jalan. Keluar dari rutinitas sehari-hari yang membosankan. Kami berdua sepaham dalam hobi travelling, jalan-jalan kemana pun yang kami suka. Ia juga sering menelepon dan mengirimiku pesan. Kalau hape tiba-tiba berbunyi di tengah malam, pasti dia. Sungguh tidak tahu waktu. Dasar. Akhir-akhir ini dia sering juga mengunjungiku meskipun hanya untuk sekedar bertanya bagaimana keadaan di Lumajang sekarang.

Hobi travellingnya itu menyita waktunya sampai-sampai ia jarang pulang ke rumah. Berbagai tempat sepertinya sudah ia kunjungi. Membuatku penasaran akan semua yang diceritakannya, tentang pekerjaan dan nikmatnya jalan-jalan. Kadang-kadang aku sering berkata agar sesekali aku bisa ikut dalam perjalanannya itu. Mungkin ia tahu kesukaannku, sering kali ia menawariku ikut dalam acaranya, jalan-jalan.

Ketika kami sama-sama di Lumajang, di tengah malam ia menelepon, ia menawariku untuk berboncengan dengannya menuju kota Malang. Aku tersenyum kecut. Aku masih merasakan bagaimana rasanya pantatku ini ketika beberapa hari yang lalu aku dibonceng Ayah ke Probolinggo. Ke Probolinggo saja sudah kemeng minta ampun, ndanio ke Malang. Dasar bocah dudul, dia masih saja mengajakku. Katanya, enak kalo dibonceng terus, ga capek. Alah .. ngapusi. Aku loh wes ngerti ya’opo rasane😛

Pertama kali kami keluar untuk jalan-jalan bersama, pada saat itu aku merasa kesepian dikosan karena teman-teman pada pulang kampung semua. Dan aku langsung teringat dia. Karena jarang pulang, mungkin saja dia juga ada di Malang dan bisa mengajakku jalan-jalan. Pucuk dicinta ulam pun tiba. Dia mau menemaniku jalan-jalan. Ke Payungan katanya. Tempat apa itu, aku tak tahu.

Ternyata Payungan itu tak lebih dari tempat nongkrong di atas bukit. Persis seperti Piket Nol di Gunung Semeru, hanya saja di Payungan tempatnya rame karena jalannya lebih besar. Sehabis makan jagung, kami pun pulang. Jalan-jalan yang ku rasa belum puas, karena itu bukan jalan-jalan menurutku. Sepertinya saat itu kami juga mengunjungi Sotam, ya.. itupun kalau aku tidak salah mengingat.

Waktu dia menawariku untuk menemaninya mencari buku, aku tak keberatan. Karena ia sudah banyak membantuku selama ini. Rabu sore ini kami memulai perjalanan ke Wilis. Berjalan kaki tentu saja. Memang tidak jauh, namun jika naik angkutan umum pun ku rasa terlalu dekat. Ia mencari buku Mikrokontrol, seperti itulah buku anak teknik. Dan kau tau, tak ada buku semacam itu disana. Langka sekali. Kasihan sekali anak teknik semacam dia, mencari satu buku saja susahnya minta ampun. Kemudian ia menawariku melanjutkan perjalanan ke Toga Mas, berjalan kaki. Ku iyakan saja karena aku benar-benar tak tau lewat jalan mana. Dan tak tau sedekat apa Wilis dengan Toga Mas.

Ternyata jauh juga😛 tak ku sangka aku berjalan sejauh itu. Dan untungnya perjalanan kami tak sia-sia, ia menemukan buku yang ia cari disini. Kakiku sudah cenat-cenut tak karuan. Ia mengajak mampir sebentar ke Plasa Dieng, cuma memutar sekali saja kemudian kami pulang. Biasanya jika aku (sendirian) berjalan-jalan, berangkatnya jalan kaki, pulangnya naik angkutan. Ya.. bukannya sok-sok manja ga kuat jalan, tapi ya emang capek. Hehe.

Aku sarankan untuk naik angkutan saja. Ia menyarankan untuk membeli makan dulu di sekitar sini. Ya aku setuju saja. Mungkin ia kelaparan. Aku kira dekat, ternyata jauh juga. Dari Plasa Dieng kami berjalan sampai jalan Galunggung. Dengan kaki cenat-cenut dan kepala pusing karena terkena gerimis aku terus saja mengomel, “Jauh . .”, namun dengan sabarnya ia masih saja berkata padaku, “Tenang saja, sebentar lagi sampai”. Aku rasa jalan itu benar-benar jauh, ia tetap meyakinkanku bahwa tempatnya sudah dekat. Ia terus saja meyakinkanku. Akhirnya kami sampai di gerobak nasi goreng langganannya di perempatan Galunggung. Aku langsung duduk, menyelonjorkan kaki dan sesekali senam agar badanku tidak ikut-ikutan linu seperti kaki ini.

Dulu, ia juga yang membayarkan jagung bakarku. Sekali lagi, ia yang membayarkan nasi gorengku. Aku memaksa membayar, ia tetap tidak mau. Katanya, itu hadiah karena aku sudah menemaninya. Ya sudah. Aku dapat nasi goreng gratis  terima kasih ya ..

Perjalanan masih dilanjutkan, masih berjalan kaki. Yang jaraknya lumayan jauh menuju kosanku. Ia kira aku sakit (aku berjalan kesakitan seperti itu dengan muka pucat), aku tidak apa-apa sebenarnya, cuma kaki ini perlu istirahat saja. Ia tertawa-tawa. Ia pikir aku anak rumahan yang tak bisa melakukan perjalanan dengan jalan kaki jarak jauh. Aku cemberut saja.

Kemudian ia menoleh, “Gendong a? ayo ..”, ia tersenyum.

Aku melihatnya berkata benar-benar dari hati. Aku bisa merasakannya. Merasakan senyuman Adnan dalam senyumannya. Aku yang sedang pusing karena kelelahan atau memang kenyataan, tiba-tiba aku menemukan sosok Adnan di dalam dirinya.

Aku melihat sepasang sayap keluar dari punggungnya. Ia menoleh dan tersenyum lagi padaku, senyuman Adnan masih berada disana.

***

One thought on “Senyum Adnan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s