Satu Hari Bersama Ayah

Liburan selama dua minggu di rumah benar-benar tidak terasa. Hari ini jadwalku untuk kembali ke Malang. Kota dimana aku menuntut ilmu. Ternyata aku tidak sendirian dalam perjalanan kali ini, Ayah akan menemaniku. Bukan karena aku takut pergi sendirian, tetapi dikarenakan Ayah ada urusan di Malang.

Pagi hari. Aku dan adikku masih sibuk di depan televisi. Ayah menuju dapur dan membuka tudung saji. Kau tau, apa yang selalu Ayah katakan ketika membuka tudung saji? Ia selalu berkata, “Siapa yang belum makan?”. Ayah selalu makan terakhir. Selalu.

Jam telah menunjuk angka delapan. Aku berebut remot televisi dengan adikku. Sekarang jadwalku menonton Avatar The Legend of Aang, kartun kesukaannku. Meski telah ku lihat beberapa kali, tetapi tetap saja tidak membosankan. Senangnya berada di rumah, karena aku selalu menang dalam kompetisi apapun dengan adikku. Sama halnya dengan sekarang, aku yang berhasil menguasai remot. Hahaha.

Disaat yang sama, Ayah kedatangan tamu, salah seorang temannya saat ia menjadi takmir masjid. Menurut cerita Ibu, teman Ayah tadi baru saja curhat karena minggu depan seluruh anggota takmir masjid akan mengadakan kunjungan ke makam Gus Dur yang menelan biaya @ Rp 150.000,00. Teman Ayah yang satu ini mempunyai profesi yang bermacam-macam, dari tukang tagih TV kabel sampe tukang sapu masjid. Karena terlalu mahal, beliau ingin menolak. Tetapi si ketua takmir terus saja mengajak. Ku kira teman Ayahku ini mendapat subsidi sehingga hanya membayar separuhnya saja, namun nyatanya ongkos tersebut gratis dengan syarat gaji setiap bulan harus dipotong. Dunia benar-benar semakin gila. Orang tidak punya uang selalu dibikin susah.

Ketika beliau bertanya pada Ayahku, apakah Ayahku ikut atau tidak, Ayah cuma tersenyum. Ia bilang kalo ia tidak punya uang. “Lihat situasi dulu”, katanya. Aku melihat matanya berkaca-kaca.

Ibu selalu mengingatkan pada semua anggota keluarga ketika pergi keluar rumah. Yang ku ingat, setiap Ayahku pergi ke kantor dulu, kata-kata yang terucap darinya adalah, “Dompet, kacamata, hape, sapu tangan”. Begitu seterusnya sampai sekarang meskipun Ayah tak bekerja lagi.

Naek sepeda motor, berboncengan dengan Ayah menuju Terminal Wonorejo. Kami tau dari televisi bahwa Jembatan Grobokan kini ditutup untuk kendaraan roda empat, namun kami tidak memutar arah. Kami pikir, kami akan menemukan bus untuk ditumpangi sampai Probolinggo. Namun, sekarang Ayah bingung mau menitipkan sepeda motor dimana. Daripada bingung mencari penitipan sepeda motor yang ku pikir mustahil di temukan disini. Akhirnya kami melanjutkan perjalanan dengan sepeda motor sampai ke Terminal Bayuangga. Di sepanjang perjalanan, kami saling bercerita mengomentari aktivitas manusia di kanan kiri jalan. Tak mudah menemukan topik yan pas untuk mengobrol dengan Ayah. Yang ku tau, setiap kali aku ingin mengobrol dengan Ayah, topik yang ku angkat biasanya tentang masalah komputer, printer, kertas, nama-nama jalan sampe nama kecamatan di Lumajang.

Lama sekali perjalanan Lumajang-Probolinggo ini menurutku. Karena aku yakin sepeda motor ini berjalan tak lebih dari 40. Ayah selalu hati-hati. Dan yang paling ku rasakan adalah .. badanku benar-benar kaku. Baru kali ini ku rasakan tak enaknya dibonceng sejauh ini. karena kami berpapasan dengan mobil dan truk maka tak jarang angin berhembus kencang sekali menerpa wajahku. Khawatir terjatuh, ku pegang bahu Ayahku. Keras. Tak ku sangka Ayah sekurus ini.

Di Terminal Bayuangga. Dulu setiap kali turun di terminal, Ayah selalu membawa kami (aku dan adik-adikku) ke toilet umum. “Ayo pipis dulu”, begitu katanya di setiap terminal yang kami singgahi. Setelah dari toilet, “Maem?”, pertanyaan itu yang muncul. Aku geleng-geleng kepala. Aku tidak lapar. Ayah tetap berjalan. Kemudian ia berdiri di depan warung. “Ayo maem”. Ayahku memang keras kepala. Akhirnya aku berkata iya meskipun aku tidak lapar. “Tapi aku maem bakso”, pintaku. Kemudian ku tunjukkan warung bakso yang sering ku kunjungi ketika singgah di terminal itu. Ayah pun sudah pesan nasi campur, namun sang pelayan berkata bahwa baksonya habis. Ayah menoleh padaku. Dan Ayah membatalkan pesanannya, ia memilih keluar dan mencari warung lagi yang ada baksonya. Begitulah Ayah.

Jadi teringat ketika adikku ingin dibelikan makanan. “Kalo titip makanan, jangan ke Mama, tapi ke Papa ae Mbak”, sarannya. “Kok gitu?”, tanyaku. “Kalo titip ke Mama biasane ga dibelikan, Mama kan pelit. Lek titip ke Papa pasti dibelikan. Percoyo wes”, katanya yakin. Memang, Ibu selalu perhitungan terhadap apapun. Jika adikku meminta apapun yang berlebihan dan Ibu menganggapnya hanya buang-buang uang, maka jangan harap Ibu mau membelikannya untukmu. Lain halnya dengan Ayah, apapun pintamu pasti Ayah memberikannya untukmu. Begitulah Ayah.

Kami pun melanjutkan perjalanan menuju Malang menaiki bus umum. Di dalam bis selalu saja ada penjaja makanan, Ayah selalu menawariku. “Melon?”. Aku tidak suka. Aku menggeleng. “Permen?”. Udah bawa. “Kacang?”. Aku menggeleng sebentar dan memalingkan muka dari si penjual kacang. Aku tidak ingin Ayah menghamburkan uangnya untukku meski cuma seribu rupiah, dan meskipun aku sangat suka kacang. Aku tidak ingin merepotkan Ayah.

Sesekali ku lihat wajah Ayah yang berada di sampingku. Garis tulang di wajahnya semakin menonjol, begitu pula urat di tangannya. Keriput-keriput berhamburan di wajahnya. Rambut putih bermunculan di rambut hitamnya. Ayahku sudah semakin tua.

Aku teringat cerita Ibu tentang masa lalu Ayah. Ayah telah yatim ketika masih kecil. Ayahnya Ayahku seorang polisi saat itu. Ayah mempunyai satu adik laki-laki. Karena Ibu dari Ayahku tidak sanggup memberi nafkah pada dua anaknya sekaligus maka Ayah dititipkan pada salah satu saudara Nenek yang tidak mempunyai anak. Ayahku pekerja keras. Di kala kecil, ia beberapa kali gonta-ganti profesi demi sesuap nasi. Jadi buruh bangunan, sales sampe jadi tukang sapu. Dan ia akhirnya menjadi seorang PNS. Seiring dengan cerita-cerita Ibu tentang Ayah, yang tak pernah Ayah ceritakan langsung padaku. Aku bisa menyimpulkan bahwa Ayahku adalah orang paling sabar sedunia.

Urusan Ayah ke Malang sebenarnya adalah untuk menemui keluarga sahabatnya dulu. Meskipun intinya cuma satu, ikut berbela sungkawa, namun Ayah tetap saja ingin mengucapkannya secara langsung. Ya, salah satu sahabat Ayah telah meninggal dunia. Meskipun beliau bukan saudara Ayah, tetapi Ayah menganggapnya sebagai saudara. Cerita Ibu dulu, ada seseorang yang menyewa sebuah kamar di rumah Ayah. Orang itu tidak punya siapa-siapa di Lumajang. Ibu tiri Ayah menyayangi orang itu seperti beliau menyayangi Ayah. Ketika sedih, ketika sakit, mereka berdualah yang menjaganya. Tak heran, orang itu menganggap Ayah sebagai saudaranya. Begitu pula Ayah.

Hujan begitu lebat membanjiri bumi Malang. Aku dan Ayah terjebak di Terminal Arjosari. Menunggu hujan reda.
“Papa naik apa kesana?”, tanyaku.
“Jalan kaki”.
“Memangnya dekat?”.
“Ya jauh. Ga ada angkutan yang lewat sana”.
Aku terdiam. Aku tau maksud Ayah. Ia mengirit ongkos pemberian Ibu tadi pagi. Ku keluarkan uang pemberian Ibu tadi, “Pakai dulu uang ini”. Aku pikir Ayah lebih baik berangkat sekarang naik taxi, keburu malam.
Ayah tidak mau, “Ga usah. Uangnya cukup kok”.
Ayah tetap tidak mau menerima.

Setaun yang lalu, sejak surat pensiun itu telah keluar. Mendadak perekonomian keluargaku berubah. Ayah mendadak kurus, Ibu mendadak banting tulang cari pekerjaan sampingan. Kedua adikku yang masih tidak tau apa-apa, masih tetap berkeinginan seperti keinginannya dulu ketika Ayah masih punya pekerjaan tetap. Meskipun masih ada uang pensiun, tetap saja tak 100% dapat memenuhi segala kebutuhan yang ada.

Dan aku? Aku tetap saja boros seperti ini. Tetap tak mau berubah. Bukan tidak mau, tapi belum bisa. Mengapa aku seperti ini? Menyusahkan keluarga saja. Tetapi aku akan berusaha, benar-benar akan berusaha mensejahterahkan keluargaku. Dan aku pasti bisa!

Hujan masih belum berhenti. Aku duduk disamping Ayah. Duduk di terminal dengan beralaskan koran. Melihat suasana terminal yang masih saja ramai. Dipenuhi orang-orang yang berteduh dari hujan. Ayah memandang lurus ke depan, ia membelakangiku. Desah nafas yang terlihat dari gerakan punggungnya seperti mengalir ke punggungku.

Rintik-rintik hujan tak sederas tadi. Ayah menyarankanku untuk naik angkutan. “Duluan saja, Ayah tidak apa-apa disini. Kalau hujannya reda, Ayah akan naik ojek”. Ayah menyuruhku pergi.

Kembali teringat pesan yang pernah dikirimkan sahabat padaku.
Papa, Ayah, Bapak, atau Abah kita…
Adalah sosok yang harus selalu terlihat kuat…
Bahkan ketika dia tidak kuat untuk tidak menangis…
Dia harus terlihat tegas bahkan saat dia ingin memanjakanmu. .
Dan dia adalah yang orang pertama yang selalu yakin bahwa “KAMU BISA” dalam segala hal..

Ayah. Aku tak sanggup meninggalkanmu sendirian. Hanya kau laki-laki yang paling ku cintai di dunia ini. Dalam hati aku berjanji, akan mengabdi pada keluargaku, pada Ayahku. Bukan untuk keluarga lain, atau keluarga yang baru.

Kami pun berpisah.

Sesampainya di kamar kos. Ku baringkan badan yang basah oleh hujan. Melihat langit-langit yang ikut menjadi mendung. Tak lupa, ku kabarkan pada keluargaku bahwa aku tiba di kosan dengan selamat. Lalu ku tanyakan bagaimana keadaan Ayahku, apakah ia sudah sampai pada tempat yang dimaksud? Beliau menjawab, “Sudah ke rumahnya, tetapi tutup. Ayah pulang saja”. Meskipun ia berkata dalam SMS, namun aku dapat merasakan kepedihan hatinya. Teringat akan sayu sorot mata dan kesabarannya. Ia tak bisa menemui keluarga sahabatnya untuk yang terakhir kali.

Ayah yang sabar, pekerja keras, perhatian, dan keras kepala. Kini pulang ke Lumajang sendirian tanpa ku temani. Semoga ia baik-baik saja.

Lagu untuk Ayah, Lirih – Ari Lasso.
“Kesunyian ini. Lirihku bernyanyi. Lagu indah untukmu. Aku bernyanyi.”
“Engkaulah cintaku. Cinta dalam hidupku. Bersama rembulan. Aku menangis. Mengenangmu. Segala tentangmu. Ku memanggilmu. Dalam hati lirih.”
“Engkaulah hidupku. Hidup dan matiku. Tanpa dirimu. Aku menangis. Mengenangmu. Segala tentangmu
Ku memanggilmu. Dalam hatiku.”
“Aku bernyanyi. Mengenangmu. Segala tentangmu. Ku memanggilmu. Dalam hati lirih.”
“Ku memanggilmu. Dalam hati lirih.”
“Ku kenang dirimu.”
*) terima kasih pada Uthe’ untuk pencarian lirik ini.
**) Kamar 17 Teram 12. 24 Januari 2010. 16.25 – 18.38. Aku ditemani Olil, menulis tentang Ayah.

***

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s